Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 87# Boomerang


"Lu tau sendiri cewek-cewek di rumah ini ga ada yang suka di suruh tinggal di dalam rumah. Untuk sehari dua hari yah ga masalah, tapi kita ga tau berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyeret lelaki kurang ajar itu ke penjara," ucap Ravka geram.


"Ya udah biarin aja kalau mereka mau ke luar rumah," jawab Nino cuek.


"Lu ga liat seberapa bahayanya ba**ngan itu?"


"Sabar Boss .... maksud gue, kasih aja mereka pengawal kan beres. Dia udah babak belur lu hajar. Ga akan sanggup kalau melawan pengawal profesional yang lu hire buat ngejaga keluarga lu. Ga usah di bikin ribet lah,"


"Ya lu enak tinggal ngomong. Mereka itu keluarga gue,"


"Come on .... Lu tau sendiri, dari dulu semua anggota keluarga lu juga udah gue anggep seperti keluarga gue sendiri. Ga mungkinlah gue sembarangan mikirin keselamatan mereka," oceh Nino mulai kesal.


"Cukup .... untuk apa kalian bertengkar? Yang dikatakan Nino itu tidak salah Rav. Kakek rasa itu jalan keluar terbaik,"


"Kalau Sandra tidak akan jadi masalah. Tapi bagaimana dengan Mama, Tiara, dan juga Alea? Mereka akan marah kalau tahu Ravka menyiapkan pengawal yang akan mengganggu privacy mereka,"


"Kamu tenang saja, biar Kakek yang membicarakan masalah ini sama mereka. Kakek yakin mereka akan mengerti kalau keputusan ini untuk kebaikan mereka sendiri. Apalagi setelah apa yang menimpa Alea hari ini, mereka tidak akan menyulitkan kamu," ujar Kakek Bayu menenangkan Ravka.


Ravka menghela nafas pasrah, tak dapat membantah perkataan Kakek Bayu. Mereka kemudian fokus membahas rencana yang akan diambil untuk menguak para pengkhianat di dalam tubuh perusahaan. Beruntung Kakek Bayu adalah orang yang baik semasa memimpin perusahaan. Jadi tak heran jika sebagian besar dari dewan direksi serta dewan komisaris perusahaan masih setia pada pria yang sudah berumur tersebut. Ketiganya meyakini bahwa seseorang di balik Alex saat ini adalah seseorang dengan kekuatan yang besar, hingga mampu membuat Aleax berniat menghancurkan keluarganya sendiri.


"Rav, Farash sudah tiba disini," ujar Nino di tengah diskusi mereka.


"Yasudah. Lu ajak dia langsung kesini,"


"Lu yakin Rav? Kalau dia ketemu Mas Alex gimana?"


"Yah bagus. Gue ga ada niat nutupin kalau gue sekarang sedang merangkul Farash untuk berada di pihak kita,"


"Tapi kan .... "


"Dia akan ketar ketir pas nyadar gue udah tau kalau dia punya niat jahat. Itu akan ngebuat dia panik dan menurunkan kewaspadaan. Akan jauh lebih mudah memprediksi langkah dia selanjutnya kalau dia sedang panik. Dan satu hal yang pasti, Mas Alex ga tahu kalau Farash memegang bukti penting," jelas Ravka panjang lebar saat ia memotonv ucapan Nino.


Nino hanya menganggukkan kepala berulang kali selama mendengar penjelasan Ravka. Tidak sedikitpun bantahan keluar dari mulutnya. Ia mempercayai sepenuhnya dengan intuisi yang dimiliki oleh Ravka.


"Okay i see. Kalau gitu, gue temui Farash dulu," ucap Nino kemudian.


*********


"Ada urusan apa kamu kesini?" Alex yang sedang berjalan sambil mengayunkan kunci mobilnya, mengerem langkahnya ketika melihat Farash tengah duduk di ruang tamu.


"Saya lihat kamu masih punya mulut. Kenapa ga jawab?" sindir Alex yang sudah berjalan menghampiri Farash.


Wajah Alex tiba-tiba memucat saat melihat keberadaan Farash di rumhanya. Hanya ada dua kemungkinan yang membuat pemuda itu duduk di ruang tamunya. Yang pasti apapun itu alasannya, akan berakibat buruk baginya.


Apa dia berniat memerasku? atau mau melaporkan aku pada Ravka? - pertanyaan itu menggelayut di hati Alex.


"Saya hanya ingin mengetahui keadaan Alea, Pak" ucapan itu meluncur begitu saja dari mulut Farash saat Alex menatapnya semakin tajam.


Farash tak menyangka akan menemukan Alex disini. Ia sama sekali tak mengetahui bahwa Ravka dan Alex tinggal di kediaman yang sama. Ia datang kesini berdasarkan alamat yang diberikan oleh Nino tadi siang melalui pesan singkat.


"Ada urusan apa kamu menanyakan istri Ravka?" tanya Alex ketus.


"Saya tadi belum sempat melihat kondisinya saat kejadian penyanderaan tadi siang. Jadi saya kesini untuk menanyakan keadaannya," ucap Farash seraya berharap Alex tak lagi mencecarnya. Meski ia menyadari bahwa tak mungkin Alex akan berhenti mencecarnya dengan lebih banyak pertanyaan.


"Apa perlunya kamu mengetahui keadaan Alea? Ada hubungan apa kamu sama Alea?"


"Dia adik sepupu saya, Pak," jantung Farash mulai berdegup kencang. Ia berharap jawaban yang ia berikan akan cepat menyelamatkannya dari situasi yang tidak mengenakkan ini.


"Sepupu?" Alex terperangah mendengar informasi yang baru sampai ke telinganya.


Bagaimana mungkin dia bisa memerintahkan seseorang mengkhianati perusahaan, sementara orang tersebut ternyata memiliki hubungan kekerabatan erat dengan istrinya Ravka? Dia sudah sangat ceroboh menyeret Farash ke dalam pekerjaan yang hanya ia anggap sepele. Seharusnya sejak awal ia memeriksa latar belakang Farash. Meski Alex beranggapan bahwa apa yang ia lakukan hanyalah hal sepele dan tidak akan berdampak besar pada perusahaan, tapi tetap saja ia menyadari bahwa ia sudah melakukan kesalahan. Apa yang dia lakukan sudah tentu akan mendapat tanggapan negatif dari kakeknya dan semakin memperburuk citranya dihadapan lelaki tua yang tak pernah percaya akan kemampuannya.


"Sudah lama menunggu?" tanya Nino di balik punggung Alex.


Spontan Alex memutar tubuhnya menghadap Nino. Begitu pula dengan Farash yang menengadahkan kepala menatap Nino. Keringat dingin mulai membanjiri dahi Farash. Ia tak menyangka bahwa alasan yang ia lontarkan kepada Alex akan sia-sia belaka. Nino justru secara terang-terangan memperlihatkan bahwa mereka sedang ada janji temu, membuat Farash semakin gelisah di tempatnya.


"Ikut saya, kamu udah ditungguin sama Ravka dari tadi," ucap Nino seolah tak terganggu akan kehadiran Alex yang memasang wajah tak suka. Matanya mendelik tajam pada Farash, mencoba mengintimidasi pemuda itu.


Nino berlalu begitu saja diikuti Farash di belakangnya. Menyisakan Alex dengan wajah pucat pasi. Ia membayangkan apa yang telah ia perintahkan pada Farash adalah hal sepele. Akan tetapi, ternyata itu menjadi boomerang baginya. Alex mengarahkan langkahnya dengan gontai ke luar rumah. Ia masih memikirkan apa yang harus ia katakan pada Kakeknya mengenai hal ini. Ataukah ia harus membatalkan semua janji yang sudah terlanjur ia ucapkan pada seseorang yang sangat ingin ia dapatkan hatinya. Sejak awal ia memang tak memikirkan dengan serius apa akibatnya jika ia menyetujui permintaan yang terlihat tak maauk akal. Sayangnya matanya dibutakan oleh ego dan mimpi yang merusak kredibilitasnya.


**********************************************


yang suka fantasy bisa coba baca cerita yang ini yah manteman...