Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 40# Meeting 2


Nino tersenyum senang setelah melihat tanda contreng dua berubah warna pada pesan wahatsapp yang dikirimnya. Itu artinya sang penerima pesan sudah melihat foto yang baru saja ia kirim. Ia bisa membayangkan bagaimana Ravka saat ini sedang gelisah ditempatnya.


Mister Momoto adalah orang yang sangat taktis dan cepat ketika membahas bisnis. Bisa dipastikan Ravka dan Mister Momoto sudah selesai dengan rapat mereka. Hanya saja Nino tahu dengan jelas rekan bisnis Ravka dari Negri Sakura itu suka sekali berbincang. Apalagi Mister Momoto sejak lama berniat menjodohkan Ravka dengan putri bungsunya yang memilih menetap di Indonesia. Tentu saja lelaki paruh baya itu tak akan melepaskan Ravka begitu saja.


- Mau ngapain lu kirim foto begitu? ga penting. Kerja yang bener kalau masih betah kerja sama gue -


Sebuah pesan balasan dari Ravka semakin membuat Nino meringis lucu. Bibirnya menertawakan ucapan Ravka yang tidak sejalan dengan tindakannya. Kalau memang tidak penting, pasti akan dibiarkan begitu saja oleh temannya itu, tapi ia justru menyempatkan diri membalas pesannya.


Makan tuh gengsi. Istri lu di samber orang baru tau rasa lu - Nino bergumam di depan ponselnya.


Nino sengaja tidak membalas pesan Ravka. Membiarkan pemuda itu frustasi karena gengsinya sendiri. Nino bisa menangkap dengan jelas perubahan sikap Ravka ketika mendengar nama Alea disebut. Apalagi semenjak ia memergoki Ravka menunjukkan gelagat cemburu saat Alea bersama pria lain, membuat Nino semakin yakin kalau Ravka sudah jatuh hati kepada istrinya itu.


"Jadi kamu sekarang jadi staff di kantor Ravka?" tanya Zai di sela makannya.


"Iya, aku baru beberapa hari ini kerja jadi staff disini," jawab Alea lembut.


"Kok bisa dari asisten jadi staff? Kamu ada bikin salah apa sama Ravka, sampe dilempar jadi staff?" tanya Zai lagi.


"Memang kamu pernah jadi asistennya Pak Ravka, Al?" sambar Farash terkaget disebelah Alea.


"Hmm....?!" Alea meringis bingung harus menjawab apa.


"Dari pada cuma jadi staff, mending kamu pindah kerja ke kantorku. Banyak posisi yang lebih pantas untuk kamu di perusahaanku," tawar Zai tiba-tiba.


Disatu sisi tawaran Zai memyelamatkan Alea dari pertanyaan Farash yang tak tahu harus ia jawab apa. Akan tetapi membuat Alea semakin salah tingkah tak mengerti bagaimana harus menanggapi tawaran dari teman suaminya itu.


"Heeh, nyabotase karyawan orang juga ada etikanya. Ga terang-terangan begini," sindir Nino menghadirkan kelegaan di hati Alea karena tak perlu menanggapi tawaran dari Zai.


"Namanya juga usaha No. Kalau Nona cantik ini mau bekerja satu kantor denganku, peluang aku untuk mendekatinya juga semakin besar," ungkap Zai blak-balakan.


Farash tersentak mendengar pengakuan Zai yang terbuka. Namun, mengingat posisi Zai sebagai pimpinan perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaan tempatnya bekerja, membuat Farash tak berani mengkonfrontasi pemuda itu secara terang-terangan.


"Tapi sayangnya sebagai karyawan baru, Alea terikat kontrak dengan BeTrust. Sehingga tidak mudah bagi Alea untuk berhenti bekerja dari BeTrust begitu saja," Farash menanggapi.


"Kalau Alea bersedia pindah ke perusahaanku, tentu aku juga bersedia untuk membayar penalti kepada BeTrust,"


"Kenapa jadi kalian berdua yang berdebat?" Nino tergelak melihat kelakuan dua pria yang bersitegang memperebutkan wanita yang bahkan sudah sah jadi istri pria lain.


Nino memperhatikan Alea. Siapa yang tak jatuh hati dengan wanita berwajah lembut nan cantik jelita. Untung saja ia sudah tahu sejak awal status gadis itu, sehingga tak sempat menumbuhkan perasaan lebih terhadapnya.


Namun, sayangnya dua pria yang saling mengirim sinyal persaingan itu tak tahu kondisi yang sebenarnya, hingga mereka terus berusaha menarik perhatian Alea dan membuat gadis itu jadi salah tingkah.


"Sebaiknya kita mulai saja rapatnya. Kalian kesini mau bekerja atau mau memperebutkan Alea?" imbuh Nino lagi.


"Yah kurasa memang sudah waktunya kita memulai rapat," timpal Zai.


Pria itu kemudian memanggil pelayan untuk membersihkan meja mereka. Meski itu adalah restoran seperti pada umumnya, tapi Zai sengaja memilih restoran yang memiliki sekat antara meja satu dengan yang lainnya. Hal itu memberikan kesan privacy dan membuat mereka lebih nyaman membicarakan pekerjaan dengan lebih santai.


Deringan telpon membuat Nino mengangkat tangannya meminta waktu sejenak kepada Zai dan yang lainnya untuk menunda rapat mereka. Sikap Nino masih terlihat santai, tapi tampak lebih serius saat menekan tombol hijau di layar ponselnya.


"Ya Boss?" ucap Nino saat telpon pintarnya sudah terhubung dengan sang penelpon.


"Dimana lu? Gue udah di Dinasty," ucap si penelpon memyebutkan nama restoran tempat Nino sekarang berada.


"Di dalem, kita baru aja mau mulai rapat," ucap Nino seraya menautkan kedua alisnya.


"Tunggu gue, baru mulai rapatnya," ucap Ravka yang langsung mematikan sambungan telpon tanpa menunggu Nino menjawab perintahnya.


"Pak Ravka sudah di depan, dia minta rapat dimulai setelah dia sampai sini," ucap Nino memberikan pengumuman kepada tiga orang yang tengah meperhatikannya dengan seksama.


"No problem, bagus malah kalau Ravka jadi ikut rapat," jawab Zai santai.


Tepat sedetik setelah Zai berucap, Ravka tampak berjalan menghampiri mereka.


"Maaf saya terlamabat. Mari kita memulai rapatnya," ucap Ravka menempati kursi kosong satu-satunya yang terletak tepat diseberang Alea.


Dia sempat mendesis tak suka saat melihat gadis itu duduk di apit oleh dua pria predator yang siap memangsa Alea hidup-hidup. Namun dengan angkuhnya ia memasang wajah datar tanpa ekspresi seolah tak terusik dengan kenyataan yang membuat wajahnya memerah saat memasuki restoran tadi.


Saat rapat di mulai, baik Ravka, Zai, maupun Farash seperti sedang bersaing dengan argumentasi mereka masing-masing. Mereka seolah mengerahkan semua kemampuan terbaik mereka demi mendapat perhatian dan sanjungan dari seorang gadis yang duduk tanpa menyadari apa yang tengah dilakukan ketiganya. Gadis itu memperhatikan jalannya rapat dengan serius dan membuat catatan-catatan kecil dari ide-ide yang saling berebutan di lontarkan oleh tiga pria yang terlihat penuh semangat.


Sementara Nino memilih untuk jadi penonton. Dia bersedekap seraya menahan gelak tawa yang rasanya sudah tak sanggup ia tahan, demi melihat kekonyolan tiga pria dewasa di hadapannya itu. Ia kemudian meraih ponselnya. Mengalihkan perhatiannya pada ponsel tersebut dan mengirim pesan kepada gadis polos di depannya.


- Lu bener-bener hebat Al. Bisa ngebuat cowo-cowo ini jadi konyol - tulis Nino pada pesan yang dia kirimkan untuk Alea.


Alea mengerutkan dahinya bingung mendapati notifikasi pesan yang dikirimkan oleh Nino. Ia sempat melemparkan tatapan yang menyiratkan tanya pada pria yang duduk hanya berjarak satu meter dari tempatnya duduk. Namun, pria itu hanya melemparkan isyarat untuk membaca pesannya.


- Hmm?? Maksudnya apaan sih No? - balas Alea yang masih belum memahami kemana arah pembicaraan pria itu.


Berbalas pesanpun akhirnya terjadi. Nino menggerakkan jemarinya diatas layar ponselnya selancar tiga pria yang sedang sibuk menarik perhatian Alea. Tapi justru ia yang mendapat perhatian gadis itu, membuat Nino hampir saja meloloskan gelak tawa dari bibirnya yang tersungging angkuh.


**********************************************


terimakasih untuk semua dukungan kalian unyuk author yah.. like, komen, dan vote kalian ngebuat aku jadi tambah semangat.. tadi hampir aja aku nyerah nulis gegara susah konsen.. tapi pas inget komen kalian yang sampe 100 lebih ngebuat aku jadi semangat lagi sampe akhirnya selesai juga satu bab.. heheee satu bab dulu yah.. tar kalo laptopnya udah bener lagi siapa tau bisa nulis lebih dari satu bab tiap harinya...


sekali lagi arigato... kamsa hamida..