
"Hai Al, gimana kabar kamu? udah baikan?" sapa Vika saat melihat Alea menduduki kursi tempatnya biasa bekerja.
"Alhamdulillah udah Mbak," jawab Alea lembut. "Tumben Mbak Vika sudah di kantor sepagi ini?" tanya Alea heran melihat Vika yang sudah sibuk dengan layar komputernya.
"Iya nih, nyebelin banget dari kemaren aku terpaksa lembur gara-gara pak Farash minta aku ngerubah hasil riset pasar,"
"Ngerubah gimana Mbak?" tanya Alea sekadar berbasa basi.
"Aku lagi tes pasar soal perusahaan yang mau kerjasama dengan perusahaan kita. Hasilnya sih negatif. Udah aku buat laporannya, detail banget. Eh malah disuruh rubah. Aku diminta rubah angka-angka kuantitatifnya. Yah intinya sih supaya perusahaan itu kelihatan oke dan menguntungkan perusahaan kalo kita kerjasama dengan mereka," jelas Vika panjang lebar seraya memijat keningnya.
"Pusing aku. Susah tau bikin angka-angka fiktif," keluh Vika.
Alea terheran dengan penjelasan Vika. Mana mungkin membuat laporan seperti itu. Bukankah hal itu justru bisa merugikan perusahaan? pikir Alea.
"Heh, kemana aja lu? Enak banget yah anak baru udah bisa minta izin ga masuk kerja. Tiga hari lagi," hardik Firda yang baru sampai di kantor.
Bentakan Firda tiba-tiba mengurungkan niat Alea untuk mencari tahu lebih terperinci apa yang disampaikan oleh Vika tadi. Ia terlebih dahulu harus meladeni seniornya yang satu ini. Entahlah, Alea merasa seharusnya tak ada senioritas di sebuah perusahaan. Lain halnya jika ini masa ospek di sekolah atau kampus. Namun, Alea tidak mau persoalan yang tidak penting, menyita perhatiannya.
"Maaf Mbak. Kondisiku emang lagi gak memungkinkan buat ke kantor," jawab Alea kalem.
"Pantes lu ngedeketin boss yah, ternyata biar lu bisa kerja seenak jidat lu," sembur Firda tambah sewot.
Alea menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia tak mau kalau sampai Firda merusak harinya. Ia sepertinya lebih memilih untuk mendiamkan seniornya yang masih terlihat kesal.
"Jadi elu yang sewot sih Fir, Alea ga masuk kerja? Kenapa? Jadi ga ada yang bisa lu suruh-suruh buat ngerjain, kerjaan elu?" sambar Vika membungkam mulut Firda. Wanita itu melengos begitu saja dari kabinet tempat meja kerja Vika dan Alea.
"Lu tu sekali-kali mesti lawan tuh nenek lampir. Biar dia ga semakin ngelunjak," ucap Vika menasehati Alea.
"Biarin aja lah Mbak. Suka-suka dia. Males aku nambahin kerjaan ngeladenin orang model begitu,"
"Iya juga sih, bener kata lu. Buang-buang waktu doang ngeladenin orang ga jelas kaya dia,"
"Oh ya Mbak, mau aku bantuin ngerjain datanya?" Alea menawarkan diri.
Sesungguhnya Alea sangat ingin meminta file yang tengah dikerjakan oleh Vika secara langsung, tapi ia tak punya alasan untuk itu. Bagaimanapun perusahaan ini milik kakek suaminya, jadi membuat rasa penasarannya mencuat.
"Beneran kamu mau bantuin? aku udah dua hari ngerjain ini ga kelar-kelar,"
"Yaudah sini aku bantuin. Lagian kerjaan aku emang ga banyak kok," ucap Alea seraya menggiring kursinya mendekati meja kerja Vika.
Jadilah berjam-jam lamanya ia berkutat dengan file-file yang diberikan oleh Vika. Semakin lama dia mempelajari berkas tersebut, maka semakin dalam kerutan di dahinya. Apa yang dilakukan oleh vika sungguh tak masuk akal. Bagaimana mungkin Farash meminta bawahannya melakukan hal buruk seperti ini. Ini sama saja dengam mencurangi perusahaan yang telah memberi mereka penghasilan.
"Al, lu istirahat duluan gih sana. Udah jam istirahat loh. Ini juga tinggal dikit kok, gue bisa kerjain sendiri," ucap Vika seraya meregangkan otot-otot tubuhnya yang mulai terasa kaku.
"Seriusan Mbak, ga apa-apa aku tinggal nih?"
"Ga apa-apa, udah sana,"
Alea bergegas merapikan berkas di atas meja kerjanya dan flashdisk berisi data riset tersebut, kemudia memberikannya kepada Vika. Untung tadi dia sempat meng-copy data aslinya di dalam Hard Disk komputer miliknya. Dengan tergesa Alea menuju ruangan Farash, mengetuk pintu ruangan itu tak sabar saat sudah berada persis di depan ruangan Farash.
"Masuk," jawab sebuaj suara di dalam sana.
Alea membuka pintu itu sembari menahan amarah yang mulai memuncak.
"Apa maksud kamu bikin data fiktif soal perusahaan yang akan jadi rekanan BeTrust?" sembur Alea tanpa tedeng aling.
"Kamu kenapa sih Al? Baru dateng langsung marah-marah?" tanya Farash tak suka.
"Aku baru aja habis ngeliat Mbak Vika ngerjain file yang kamu minta. Kamu bener-bener ga masuk akal Kak," omel Alea lagi.
Pandangannya sama sekali tak beralih dari layar komputer di hadapannya. Pemuda itu sengaja terlihat sibuk untuk menghindar dari hujan pertanyaan yang pasti akan Alea layangkan bila ia meladeninya.
"Ga usah pura-pura ga ngerti Kak. Ga usah juga pura-pura sibuk dengan pekerjaanmu," ucap Alea tajam.
"Mau kamu apa sih, Al?" Farash akhirnya melepas tatapannya pada layar komputer dan membalas tatapan gadis yang terlihat menahan marah dan kecewa.
"Aku mau penjelasan,"
"Ga ada yang harus aku jelasin sama kamu. Justru aku yang sedang menunggu penjelasan kamu dari kemarin,"
"Ga usah mengalihkan pembicaraan. Bagaimana kamu bisa minta Mbak Vika untuk membuat laporan fiktif seperti itu? Apa kamu tahu, yang kamu lakukan itu bisa merugikan perusahaan? Meski aku hanya karyawan baru disini, tapi bukan berarti aku tidak bisa membaca dan mengerti laporan yang sedang dibuat oleh Mbak Vika,"
"Dengar Al, aku bukan siapa-siapa di perusahaan sebesar ini. Aku bisa ada disini itu karena bantuan dari manajer personalia yang mendapat dukungan dari direktur keuangan disini. Aku melakukan ini semua hanya sebagai balas jasa yang mereka minta kepadaku. Apapun yang mereka minta aku lakukan, itu bukan urusanku. Itu sudah jadi urusan orang atas di perusahaan ini," ucap Farash lugas.
"Tapi kamu tidak bisa ikut terlibat hal-hal buruk seperti ini. Ini bisa jadi bumerang bagimu, Kak,"
"Ini tidak akan mungkin menimbulkan masalah. Aku mendengar sendiri bahwa apa yang sedang aku lakukan ini adalah permintaan pak Alex,"
"Pak Alex? Itu ga mungkin Kak," ucap Alea merasa heran kalau Alex bisa terlibat dengan kecurangan di dalam BeTrust.
Bagaimanapun dia adalah cucu tertua Kakek Bayu. Jadi tidak mungkin kalau sampai ia berniat merugikan perusahaan.
"Tapi kenyataannya seperti itu. Aku mendengarnya sendiri waktu Pak Alex berbicara dengan Niko dan Pak Bambang," ucap Farash menyebutkan nama menejer personalia dan Direktur keuangan di BeTrust.
"Tetap saja apa yang kamu lakukan itu salah Kak. Aku tidak menyangka, hanya sebuah jabatan kamu menggadaikan integritas?!" ucap Alea tajam.
"Aku lakukan semua demi kamu Al. Hanya untuk kamu aku kembali ke jakarta meski aku harus menggadaikan integritasku," jawab Farash tak kalah tajam.
"Aku tidak pernah meminta itu semua dari kamu Kak. Lagipula, sudah tidak ada jalan untuk kita bersama. Jadi aku mohon, buang semua anganmu agar kita bisa bersama. Aku ingatkan agar kamu tidak terlibat dalam hal yang justru akan merugikan untukmu nantinya,"
"Dengar Al, aku tidak akan pernah menyerah terkait perasaanku padamu,"
"Aku mohon hentikan semua omong kosong soal perasaan ini. Kita sudah pernah membahasnya dulu. Kita sudah berjanji akan menjadi saudara seutuhnya,"
"Tapi aku tidak bisa Al. Aku mohon beri aku kesempatan,"
"Maaf Kak, itu sudah tidak mungkin," ucap Alea kemudian berbalik meninggalkan Farash yang mematung melihat sikap dingin Alea padanya.
Sementara di luar ruangan manajer analys bussines, Nino tampak terengah-engah berlari menuju ruang kerja Alea.
"Alea kemana?" tanya Nino pada Vika yang masih sibuk menekuni pekerjaannya.
Vika menengadahkan kepala melihat siapa orang yang tiba-tiba menanyakan keberadaan Alea. Ia terperangah ketika menyadari orang itu adalah Nino, asistenpribadi Direktur Operasional BeTrust.
"Ga tau Pak, mungkin sedang makan siang," jawab Vika terbata.
"Kalo liat dia suruh langsung ke ruangan Pak Ravka," ucap Nino seraya berlalu.
Selang beberapa menit kemudian, Alea kembali ke meja kerjanya.
"Al, lu tadi dicari Pak Nino. Lu disuruh keruangannya Pak Ravka," ucap Vika gugup.
"Astaghfirullahaladzim," ucap Alea seraya melirik jam dipergelangan tangannya.
Bergegas Alea mengambil bekal di atas meja kerjanya dan berlari menuju ruangan Ravka.