Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 41# Tanggung Jawab Istri


"Baiklah, kalau begitu sekarang kita deal?" tanya Ravka seraya menggantungkan tangannya di hadapan Zai.


"Deal," jawab Zai dengan enggan sambil menyambut jabatan tangan Ravka, sebagai simbol kesepakatan diantara mereka.


Ah si*al. Tahu begini, gue ga akan maksa Nino buat kesini - rutuk Zai dalam hatinya.


Saat mengetahui bahwa yang akan menghadiri rapat dengannya adalah seorang menejer, membuat Zai langsung menghubungi Nino dan memaksanya agar menghadiri rapat bersama Ravka. Zai memang selalu menghindari rapat dengan pegawai BeTust. Rapat bersama anak buah Ravka biasanya berlangsung alot karena mereka hanya memikirkan untung dan rugi. Beda halnya dengan Ravka yang lebih memahami bahwa perusahaan milik Zai masih baru berkembang.


Akan tetapi, kali ini Ravka sulit sekali ditaklukkan. Membuat Zai menyesali keputusannya menghadiri rapat seorang diri, demi meyakinkan Ravka agar lebih lunak kepadanya. Namun, ia tak mungkin menolak kerjasama dengan perushaan sebesar BeTrust yang sudah terjalin beberapa tahun belakang dan selalu menguntungkan bagi Perusahaaannya.


"Kalau begitu saya rasa sudah tidak ada lagi yang perlu kita bahas. Sampai bertemu lain kali," ucap Ravka menyudahi pertemuan mereka dan bersiap meninggalkan area restoran.


"Kebetulan karena perusahaanku tidak sebesar BeTrust, aku masih punya waktu luang untuk mengantar anda Nona cantik," ucap Zai langsung kepada Alea.


Walaupun dia tidak berhasil meyakinkan Ravka seperti harapannya, setidaknya masih ada Alea yang bisa memperbaiki suasana hatinya.


"Eh? Maaf Pak Zai. Saya masih harus kembali ke kantor. Jadi saya balik ke kantor bersama Pak Farash saja," tolak Alea dengan tak enak hati.


Farash langsung menyunggingkan senyum saat Alea lebih memilih kembali ke kantor bersama dengannya.


"Mas? Eh Pak Ravka mau ngapain?" Alea tersentak kaget saat tiba-tiba Ravka meraih jemari gadis itu dan membawanya ke dalam genggaman tangannya.


"Kamu kembali ke kantor bersamaku," ucap Ravka impulsif.


Pemuda itu berlalu begitu saja dari hadapan Zai dan Farash yang terbelalak kaget menatap kepergiannya sambil menggandeng erat tangan Alea. Nino hanya mengedikkan bahu seraya tersenyum senang melihat sikap arogan Ravka terhadap istrinya. Setidaknya pria yang dianggap Nino sok gengsi itu sudah berani mengambil sikap.


*****


Alea terpaku di kursi penumpang. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah melalui kaca mobil. Dorongan untuk menoleh kepada pria yang tengah fokus mengemudikan mobil disampingnya sangatlah besar. Namun keberaniannya tidaklah sebesar itu.


Setelah menggeret Alea keluar dari restoran, Ravka masih saja membisu. Pemuda itu hanya menyuruh Alea masuk ke dalam mobil yang tidak berani di bantah oleh gadis itu. Dan sekarang lagi-lagi keduanya hanya menghabiskan waktu dalam diam.


"Mas, kenapa kamu tadi bersikap seperti itu di depan Pak Zai dan Kak Farash? Aku harus jawab apa kalau mereka bertanya?" Alea akhirnya tak dapat menahan diri untuk bertanya pada Ravka.


"Memang apa pentingnya mereka? Kamu tak perlu meladeni mereka. Jauhi mereka," jawab Ravka cuek.


"Kenapa kamu tiba-tiba memintaku menjauhi mereka, Mas? Apa salahnya jika aku berteman dan dekat dengan mereka?" tanya Alea lagi dengan penuh selidik.


"Tentu saja salah bagi seorang wanita yang sudah bersuami dekat-dekat dengan pria lain," jawab Ravka dengan santainya.


Alea menautkan dua alisnya merasa heran. Kenapa tiba-tiba suaminya jadi seolah menyadari statusnya? bukannya selama ini pemuda itu bahkan tak pernah menganggapnya ada? Bahkan pria itu lebih sering mengabaikannya ketika ia mengajaknya bicara ataupun berinteraksi.


"Bagaimanapun jika di luar rumah kamu harus tetap menjaga reputasimu sebagai bagaian dari keluarga Dinata. Jangan membuat malu keluarga dengan menciptakan skandal," imbuh Ravka kemudian.


"Aku bisa saja menjauhi Pak Zai. Tapi aku ga mungkin menjauhi Kak Farash," ucap Alea akhirnya.


"Kenapa tidak mungkin?" Ravka menolehkan wajahnya sekilas kepada Alea. Melemparkan tatapan mengintimidasi sebelum kembali fokus kepada jalanan dihadapannya.


"Bagaimanapun, Kak Farash itu kakakku. Aku mengenalnya hampir seumur hidupku. Lagipula dia adalah atasan ku di kantor. Jadi akan terasa aneh kalau aku sengaja menjauhinya," jelas Alea panjang lebar. Gadis itu sudah membalikkan badannya menghadap kepada Ravka sepenuhnya.


"Apa perlu aku mengembalikannya ke kantor cabang?" ucap Ravka membuat Alea mendelik kesal kepada suaminya itu.


"Susah payah Kak Farash bisa mendapatkan posisinya yang sekarang. Kamu tidak bisa mutasikan dia begitu saja tanpa alasan yang jelas," ucap Alea jengah.


"Kalau begitu jauhi dia," Ravka mengultimatum.


"Baiklah, aku hanya akan berinteraksi dengan Kak Farash soal pekerjaan saja. Tidak lebih dari itu," Alea mendesah pasrah. Ia memberengutkan wajah tak mengerti, bagaimana caranya mendebat pria disampingnya ini tanpa mempengaruhi posisi Farash di kantor.


"Satu lagi. Mulai besok jangan cuma siapkan aku sarapan dan makan malam saja. Tapi siapkan aku makan siang juga," ucap Ravka tanpa memalingkan wajahnya dari balik kemudi.


"Tapi Mas, siang kan aku di kantor. Aku tidak mungkin menyiapkan makan siang untuk kamu,"


"Apa kamu tidak mendapat jam makan siang di kantor?" tanya Ravka sinis.


"Ya adalah Mas jam istirahatnya. Tapi kan...." Alea menggantung kalimatnya, bingung menemukan kata yang tepat untuk menjelaskan maksudnya.


"Jadi kamu tidak bersedia menyiapkan makan siang untuk ku? Lantas mana tanggung jawab mu sebagai istri yang selalu kamu elu-elukan?" pertanyaan menusuk Ravka layangkan untuk Alea.


Kenapa sekarang kamu jadi perduli dengan tugasku sebagai seorang istri? Maumu sebenarnya apa sih Mas? - Lagi-lagi Alea hanya bisa mendesah pasrah.


Bagaimanapun tanggung jawab utamanya adalah menuruti perintah suaminya. Tapi bukankah Ravka sudah mengizinkan ia untuk bekerja? Kenapa jadi seribet ini sih? pikir Alea.


"Yasudah kalau kamu keberatan," ucap Ravka seraya menahan kesal.


"Bukan begitu Mas, aku tentu saja dengan senang hati menyiapkan makan siang untukmu. Tapi...."


"Kalau kamu memang bersedia tidak perlu ada kata tapi. Mulai besok bawa makan siang ke ruangan ku. Kamu makan siang bersamaku," seru Ravka tegas.


"Iya Mas," jawab Alea tak berniat membantah.


Gadis itu kembali melayangkan tatapannya keluar kaca mobil. Memperhatikan pepohonan di tepi jalan yang meneduhkan. Andai saja hidupnya seperti batang pohon itu, begitu indah dipandang mata.


Ah, tapi kehidupan pohon itu tak seindah kelihatannya. Semakin besar pohon maka akan semakin besar pula angin yang mengguncangnya. Belum lagi berbagai hama yang menghampiri batangnya - gumam Alea dalam hatinya.


Gadis itu mencoba mensyukuri apa yang terjadi dalam hidupnya. Kalau pohon itu tak seindah kelihatannya. Begitupula hidupnya, tak seburuk yang ia bayangkan. Masih banyak hal baik yang terjadi dalam hidup yang patut ia syukuri.