
Tak hanya membuat Alea terkaget, gelegar suara Ravka membuat semua yang ada disana menciut. Wajah berang diselimuti aura mencekam, terpancar jelas pada manik Ravka yang menggelap.
"Tidak ada apa-apa, Mas," jawab Alea lembut, tapi tak dapat menutupi kegugupan dalam suara gadis itu.
Ia meyakini Ravka pasti melihat saat Zai menarik tangannya dan tak mau jika hal tersebut menimbulkan kesalah pahaman diantara mereka.
"Bukankah sudah hampir waktunya jadwal keberangkatan kita?" imbuh Alea lagi seraya menarik lengan Ravka.
Berharap sentuhan itu dapat menurunkan tensi sang suami yang nampak meninggi.
"Apanya yang tidak apa-apa? Aku melihat saat Kania menggebrak meja dari jauh. Dan setelah itu Zai menarik tanganmu. Ada yang mau kamu jelaskan soal itu?" Ravka menatap ke kedalaman mata Alea.
Mengintimidasi melalui tatapan itu agar istrinya berkata jujur. Alea telihat menarik nafas panjang saat kepalanya tak dapat menemukan kata yang tepat untuk menjelaskan situasi yang telah terjadi.
"Apa yang sudah kamu lakuakan pada istriku Zai?" hardik Ravka tajam pada temannya.
Wajah Zai menegang seketika saat mendengar ucapan yang terlontar dari mulut sahabatnya itu. Tentu ia bisa melihat dengan jelas siapa yang dimaksudkan istri oleh lelaki itu. Dua fakta yang memukulnya dengan satu tamparan. Ia tak tahu mana yang lebih membuatnya terkejut, Ravka yang ternyata sudah menikah? ataukah Alea yang ternyata istri Ravka?
Tak hanya Zai yang di dera gelombang kejut atas informasi tersebut, semua yang ada disana ikut membelalakkan mata. Terutama dua perempuan yang telah menyebabkan kekacauan yang terjadi. Keduanya saat ini sedang duduk gemetar di tempatnya. Menahan rasa takut yang menghantam dada dengan telak.
"Jawab Zai," seru Ravka dengan nada naik satu oktav.
"Bukan Kak Zai, Mas. Tapi dua wanita itu yang bikin ulah," ucap Kania menunjuk pada Hesty dan Diva dengan cepat.
Ravka menoleh pada dua wanita yang dimaksud oleh Kania, seraya melempar tatapan bak pembunuh keji yang siap mengeksekusi.
"Apalagi ulah kalian, ha?" ucap Ravka pelan, tapi penuh penekanan.
Ditatap dengan kilat amarah yang membara serta nafas memburu, membuat Hesty tak mampu mengangkat kepala. Perempuan itu tertunduk dalam seraya menahan debaran jantung yang tak mau berhenti menghentakkan rongga dadanya dengan kencang.
Sementara Diva tergugu dan ikut tertunduk dalam. Bahkan melirikpun tak berani perempuan itu lakoni. Ia hanya bisa menautkan kedua tangannya menahan kegugupan yang memenuhi sanubari.
"Kalian tidak punya mulut?" hardik Ravka dengan nada mulai meninggi, membuat keduanya tersentak kaget dan hampir terjengkang dari kursi. "Atau kalian sudah kehilangan lidah kalian untuk bisa bicara?"
"Mas, aku mohon tenanglah. Mereka hanya sedikit menyingung Aku dan Kania tadi. Tidak usah diperpanjang oke?" bujug Alea membuat semua yang hadir disana semakin membulatkan kedua bola matanya atas sikap Alea.
Bukannya mengambil kesempatan untuk mengadu pada Ravka, gadis itu justru berusaha melindungi kelakuan dua orang yang sudah menghinanya.
"Mas, aku mohon. Ini honeymoon kita. Bolehkah kita membuatnya menjadi sesuatu yang indah untuk dikenang?" Alea menatap Ravka dengan mata penuh permohonan.
Alea menarik tangan Ravka dan membawanya ke dalam genggaman tangannya. Menggenggam erat tangan itu agar Ravka hanya melihat padanya, melihat permohonan yang terpancar di matanya.
"Aku rasa, mereka berdua sudah menyadari kesalahannya. Bukan begitu, Mbak .... maaf aku tidak tahu siapa nama kalian," ucap Alea lembut, tapi begitu menusuk karena memperlihatkan bahwa keduanya tidaklah penting untuk dikenal.
"I-iya," jawab Diva gugup.
Ia menyadari bahwa ia melakukan kesalahan besar terhadap gadis yang tadi sempat dihina oleh nya. Sementara Hesty masih terdiam dan menyimpan gengsi mengakui kesalahannya secara gamblang.
"Mungkin mereka terlalu lelah, Mas. Sehingga tidak menyadari kesalahan yang telah mereka lakukan. Jadi sebaiknya kita kasih mereka waktu buat beristirahat dan menenangkan diri. Tidak apa-apa kan Mas, kalau mereka menolak undangan mu berlibur bersama kita?" ucap Alea masih dengan kelembutan, tapi sanggup menghadirkan perih di hati Hesty dan Diva.
"Aku harap kalian tetap mau berteman dengan ku meski aku harus membatalkan liburanku bersama kalian," ucap Diva memahami apa yang Alea inginkan.
Bagi Diva, pergi dari sana sesegera mungkin, jauh lebih baik daripada harus berkata jujur pada Ravka apa yang telah ia ucapkan hingga membuat istrinya tersinggung dan marah. Ia tidak tahu bagaimana murkanya pria itu, jika mengetahui apa yang sudah ia katakan. Jadi jalan yang paling tepat adalah ambil langkah seribu dari tempat itu secepatnya.
"Kania, apa yang sudah membuatmu sampai semarah itu? Aku bisa melihat bahwa tadi kamu sangat emosi," tanya Ravka pada Kania.
Ravka menyadari kebaikan istrinya pada orang lain, meski orang itu sudah berbuat jahat padanya. Namun, sayangnya Ravka tidak sebaik itu dan membiarkan siapa saja yang menyinggung ia ataupun istrinya lolos begitu saja. Apalagi pemuda itu tahu betul bagaimana tabiat Hesty dan juga Diva.
"Mereka hanya mengatakan bahwa aku ini masih kecil dan tak pantas berlibur bersama kalian. Itu saja kok, Mas," jawab Kania terbata saat melihata pelototan Alea yang memberi kode agar tidak mengatakan hal yang sebenarnya.
"Kamu tidak akan semarah itu, kalau hanya itu yang mereka katakan," ucap Ravka masih tidak mempercayai adik sepupu istrinya itu.
Pengalaman di dunia bisnis yang mengharuskan Ravka bertemu banyak orang setiap harinya, membuat pemuda itu tahu saat seseorang berbicara bohong, atau sedang menutupi informasi yang sebenarnya dengan mengatakan informasi yang hanya mengambang dipermukaan.
"Mas, sudah waktunya kita berangkat. Jangan sampai masalah sepele merusak kebahagiaan yang sedang menunggu untuk kita gapai. Aku mohon, sudahi ini semua. Biarkan mereka pulang dan kita masuk ke pesawat sekarang," Alea masih berusaha membujuk suaminya.
"Dengar, mulai hari ini aku tidak mengizinkan kalian berdua untuk berkeliaran disekitarku dan istriku. Sebaiknya kalian menghilang dari kehidupan kami atau aku akan mengungkit masalah ini untuk diselesaikan sebagaimana mestinya," tegas Ravka pada Hesty dan Diva yang diangguki oleh keduanya.
Beregas keduanya angkat kaki dari hadapan Ravka, tak mau ambil resiko dengan masalah yang lebih pelik jika mereka berkeras. Lagipula tak ada harapan untuk masuk dan menetap ke dalam hati Ravka. Jadi mereka berfikir untuk memupuskan harapan itu.
Setelah Hesty dan Diva menghilang di balik punggung Ravka, Rasa kesal pemuda itu belum surut dari wajahnya. Ia masih menyimpan satu persoalan yang membuatnya tadi sempat naik darah. Ia melirik Zai dengan pandangan menusuk. Membuat lelaki itu menciut di temoatnya dan menjadi serba salah. Hampir saja Ravka melontar kata mengkonfrontasi temannya itu, tapi panggilan petugas bandara yang meminta mereka untuk segera naik pesawat untuk kesekian kalinya, membuat Ravka terpaksa menunda urusan yang satu itu. Saat ini ia harus menahan rasa cemburu yang berlebih demi mewujudkan honeymoon indah bagi kekasih hati.