
"Sudah siap?" Ravka bertanya seraya memperhatikan istrinya yang terlihat serius dengan apa yang tengah dikerjakan pada wajah cantiknya itu.
Gadis itu saat ini sudah tampak lebih segar dan ceria. Tak ada lagi ketakutan membayangi wajahnya akibat kejadian yang mereka alami kemarin. Semalaman Ravka berusaha meyakinkan istrinya, bahwa tak ada lagi yang perlu ia takutkan. Mereka akan membuat kenangan indah selama di Maldives, hingga mengusir semua ingatan akan kejadian buruk kemarin dari dalam cerebrum Alea.
Ravka kemudian menghampiri Alea, menyelipkan lengannya ke pinggang gadis itu dari belakang. Bibirnya tak kuasa menahan keinginan menyapu leher Alea tepat di bawah daun telinga gadis itu, hingga menggirim getar yang membuat Alea seolah tersengat aliran listrik.
Rambut Alea yang di tata model twisted hair membuat leher bagian samping gadis itu ter-ekspose yang menggoda Ravka untuk menyentuhnya.
"Mas, kita kan udah mau berangakat. Kasian yang lain nanti nungguin," ucap Alea seraya menggeliat di pelukan Ravka, membuat sang suami semakin mengetatkan pelukannya.
Alea berusaha mengabaikan apa yang tengah di lakukan lelakinya yang sedang di mabuk kepayang. Ia masih sibuk memoles make up di wajahnya yang hampir selesai. Jemarinya tampak lihai menarikan kuas di atas wajah. Setelah itu, ia memperhatikan dengan teliti bagian pipi yang masih menyisakan bekas luka. Kepiawaiannya memainkan beragam kuas dan spons setelah berlatih selama bertahun-tahun, membuat gadis itu dengan mudahnya menyamarkan bekas luka tersebut.
Alea tampak puas dengan hasil kerjanya yang memakan waktu, tak kurang dari satu jam lamanya. Bibirnya menyeringai senang dan bangga pada dirinya sendiri. Setelah melepaskan kuas di tangannya, Alea menepuk punggung tangan sang suami yang masih ditumpangkan di atas perutnya.
"Ayo Mas, aku udah selesai," ungkap Alea seraya berdecak sebal.
Dimasukkannya semua peralatan make up -nya ke dalam pouch di atas meja sebelum ia menyimpannya ke dalam tas tangan yang akan ia bawa.
"Tapi aku belum," jawab Ravka yang sudah selesai bermain-main dengan leher jenjang sang istri. Ia kini menumpangkan dagunya diatas bahu gadis yang terlihat semakin sempurna di matanya. Menatap kagum wajah cantik Alea melalui cermin di hadapan mereka.
Sorot mata penuh kekaguman yang dilayangkan sang suami, membuat perona wajah di pipi Alea terlihat semakin pekat.
"Mas, Kania sudah menunggu di bawah dari tadi. Kita jadi berangkatkan?!" Alea menatap lurus ke dalam cermin dari meja riasnya.
Tatapan dengan sorot mata setajam silet ia layangkan pada sang suami melalui cermin dihadapannya itu.
"Memangnya ga boleh, kalau aku masih mau mengagumi kecantikan istriku yang sempurna ini?"
"Kesempurnaan milik Allah, Mas. Bukan makhluk-Nya."
"Astaghfirullah hal adzim. Maaf sayang, aku tidak bermaksud menyamakan Tuhan dengan ciptaan-Nya. Aku hanya mensyukuri nikmat Allah karena mengirimmu sebagai jodohku," ralat Ravka cepat.
"Kamu semakin pandai menggombal, Mas," decih Alea.
Namun tak dipungkiri, hatinya diliputi kebahagiaan tiada tara mendapat puja puji dari suami tercinta. Lelaki yang membuat hatinya begitu menghangat dan semakin yakin akan kebesaran ilahi. Sabar dan tawakal yang selama ini gadis itu lakoni, menghantarkan balasan setimpal yang pantas ia genggam.
"Hey, kalau memuji dengan ketulusan, itu bukan menggombal namanya," jawab Ravka menghadirkan cebikan di wajah Alea.
"Yakin, pujianmu tidak mengharapkan imbalan?" Alea menaikkan sebelah alisnya yang dijawab cengiran oleh lelaki itu. "Lagipula, apa kamu tidak lelah berdiri membungkuk seperti itu dari tadi?" tanya Alea merujuk pada posisi sang suami yang berdiri setengah membungkuk dengan lutut ditekuk, demi mensejajarkan kepalanya dengan Alea yang duduk di kursi meja rias.
"Kamu yakin sudah selesai?" tanya Ravka sembari melepaskan pelukannya dan menegakkan tubuh yang memang sudah mulai berasa pegal.
"Memang masih ada yang kurang yah, Mas?" tanya Alea mendekatkan wajahnya ke cermin, mencari kealpaan yang mungkin terlewatkan olehnya tanpa ia sadari.
Alisnya mengerut heran tak menemukan kesalahan tercetak di wajahnya. Ia sudah memoles wajah sebaik yang bisa ia lakukan. Begitu pula rambutnya yang sudah tertata rapi. Dandanan maupun tata rambutnya tidak tampak mencolok ataupun berlebihan. Namun, tak pula terlihat asal-asalan.
Ravka bersedekap melihat wajah heran Alea. "Bukan ada yang kurang. Kamu justru terlihat terlau cantik dengan dandanan seperti itu," ungkap Ravka memperhatikan wajah bersahaja sang istri.
Tampak lembut nan anggun, tanpa berusaha tampil mencolok. Membuat perempuan itu justru memiliki daya pikat sendiri. Ia sungguh menyukainya. Sayangnya, di luaran sana, pastilah tidak hanya ia seorang yang berpendapat serupa, pikir Ravka. Membuat lelaki itu jadi kesal sendiri memperhatikan kecantikan Alea yang tak rela ia bagi dengan siapapun.
Alea berdecak sebal ketika mendengar penuturan sang suami. "Terus letak salahnya dimana, Mas?" tanya Alea kesal.
"Aku hanya heran, kamu mau menarik perhatian siapa sih dandan cantik begitu?" ucap Ravka sengit.
"Aku dandan begini untuk kamu, bukan untuk orang lain," balas Alea tak kalah sengit.
"Kalau kamu dandan cantik untuk aku, berarti hanya aku yang boleh lihat. Dan kamu tidak boleh keluar dari kamar."
"Jangan bercanda, Mas. Ayolah kita berangkat sekarang. Bisa-bisa kita terlambat kalau aku harus meladeni kekonyolanmu," ujar Alea mulai tak sabar.
"Kita tidak akan ketinggalan pesawat," balas Ravka.
"Kita memang tidak mungkin ketinggalan pesawat, Mas. Tapi kamu akan membuat Nino mengoceh karena harus mengurus izin terbang baru, kalau kita melewatkan jadwal yang sudah disiapkan oleh pihak bandara. Dan itu tidak mungkin sebentar, Mas. Kamu mau kita memundurkan jadwal dan datang terlambat pada acara kolega kamu?" pertanyaan Alea membuat Ravka akhirnya mengalah pasrah.
"Baiklah, kita berangkat sekarang. Dengan satu syarat." Mata Ravka memaku tatapan jengah Alea yang sudah mendesah pasrah.
Bukan Ravka namanya, kalau lelaki itu akan menyerah dengan mudah. Apapun yang keluar dari mulut lelaki itu, harus ia iyakan dengan segera. Kalau tidak mau berakhir dengan perdebatan panjang untuk kesekian kalinya setiap laki-laki itu mulai meunjukkan kecemburuannya.
Saat ini, Alea tak punya waktu banyak untuk membujuk sang pangeran hati yang keposesifannya terkadang menyesakkan dada walau terasa begitu manis.
"Jangan pernah memberikan senyum manismu itu di hadapan teman-temanku nantinya. Menempelah selalu dengan ku, dan jangan pernah jauh-jauh dari ku. Jangan hiraukan teman-temanku yang pasti akan memggodamu. Satu lagi, jangan merasa risih dan menolak sikap mesraku di tepan teman-teman nantinya. Kamu mengerti?" tanya Ravka membuat Alea memutar bola mata jengah.
Tak habis pikir dengan apa yang sebenarnya lelaki itu simpan di dalam kepalanya hingga bisa-bisanya ia membuat aturan tak masuk akal seperti itu. Kalau saja tak mengingat waktu yang sudah mepet, Alea pasti sudah akan mendebat habis-habisan sang suami yang sedang memasang tampang serius dengan apa yang baru saja ia lontarkan.
"Baiklah, aku akan memasang mode patung saat bersama teman-temanmu nanti," sindir Alea sarkas.
"Itu lebih baik," jawab Ravka seraya mengembangkan senyum yang membuat Alea menarik nafas panjang.
Maksud hati ingin menyindir lelaki yang masih betah bersidekap di hadapannya itu, tapi justru membuat Alea semakin geleng-geleng kepala. Bagaimana dengan mudahnya Ravka berkata iya dengan omongan tak masuk akal darinya. Mana ada orang bisa bersikap seperti patung berjam-jam lamanya? Batin Alea mulai menjerit
"Harusnya kamu tidak usah mengajak teman-teman mu, kalau justru membuat kamu jadi tak masuk akal seperti ini, Mas," Batin Alea sebal.
Tentu saja ia tak mungkin melontarkan pikirannya pada sang suami. Bisa-bisa lelaki posesif dihadapannya ini menanggapi serius ucapannya. Alea tak bisa membayangkan teman-teman Ravka yang sudah menyiapkan waktu atas ajakan liburan dadakan darinya, malah harus dikecewakan lantaran liburan mewah itu di batalkan pada detik-detik terakhir. Alea sadar terkadang suaminya mempunyai kegilaan yang tak bisa ia tangani. Jadi akan lebih baik ia meredamnya dari pada menuangkan bensin pada bara api yang masih menyala.
"Masih ada yang lain?" tanya Alea menahan geraman lolos dari bibirnya.
"Sementara ini sudah cukup," Ravka mengembangkan senyuman innocent yang semakin membuat Alea tambah sebal. "Ayo kita berangkat." Ravka mengulurkan tangannya menarik Alea bangkit dari kursi yang tengah didudukinya.
Tanpa rasa bersalah karena telah membuat istrinya kesal, Ravka menggandeng Alea dengan senyuman terus tersungging di bibirnya. Beriringan keluar kamar sambil menggeret sebuah koper yang cukup besar yang sudah disiapkan oleh Alea sejak dari subuh tadi.
*********************************************
seperti biasa, sambil nungguin up bisa dikepoin yah karya temenku