Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 88# Bahagia


Alea mengerjapkan matanya perlahan. Tak ada bias cahaya yang menembus ke dalam kamarnya melalui jendela kaca yang dilapisi gorden putih tipis. Ia dapat melihat susana diluar masih tampak gelap, menandakan sang surya belum keluar dari persembunyiannya. Ia meliukkan tubuhnya menggeliat, tapi gerakannya tertahan sebuah lengan kokoh yang memeluk erat. Ia mendongak menatap jam weker di atas nakas yang masih menunjukkan pukul tiga dini hari.


Perlahan Alea membalikkan tubuhnya menghadap sang suami yang masih tertidur lelap tanpa memindahkan lengan Ravka yang masih menghimpitnya.


Sebersit senyuman tersungging di bibir mungil, tapi berisi milik gadis itu. Menatap betapa sempurnanya ciptaan tuhan yang ditakdirkan untuk memenuhi relung hati.


"Mas .... bangun yuk. Kita sholat malam berjamaah," seru Alea seraya membelai lembut pipi Ravka.


Dengan jemari lentiknya, Alea menulusuri tiap inchi wajah Ravka yang terlihat begitu damai dalam tidurnya. Gadis itu begitu menikmati pergerakan jemarinya yang bergerak lembut membelai wajah Ravka. Menyentuh hidungnya yang bangir, bibirnya yang bisa begitu memabukkan, dagu runcing yang dipenuhi rambut-rambut halus, membuat Alea teringat keintiman mereka sebelum jatuh tertidur ke alam mimpi. Menerbitkan senyum bak madu yang sudah siap panen.


"Mas bangun .... " ucap Alea saat Ravka bahkan tak terusik sedikitpun dengan apa yang dilakukan istrinya.


Alea kemudian mengangkat lengan Ravka berusaha menyingkirkan lengan itu dari tubuhnya. Namun, Ravka malah semakin mempererat pelukannya.


"Hmmm .... bentar lagi, aku masih ngantuk," gumam Ravka.


"Yasudah kalau begitu aku mandi duluan yah," ucapan Alea yang langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh lelaki yang masih memejamkan matanya itu.


Ravka masih terus memeluk istrinya dengan erat, tak membiarkan gadis itu memberi celah bagi kulit mereka yang saling bergesakan. Keduanya memang tertidur tanpa sehelai benangpun yang melekat di tubuh mereka setelah saling melebur dalam kenikmatan tiada tara.


Hati Alea diliputi rasa bahagia yang membuncah. Dadanya turun naik merasakan degup jantung yang berirama kencang. Meski ia dikurung dalam lengan suaminya hingga tak mampu menggerakkan badannya meski satu milimeterpun, tapi ia justru tersenyum bahagia mendapati perlakuan yang ia rasa begitu manis dari suaminya itu.


Alea menghitung waktu, detik demi detik hibgga menit berlalu. Jarum jam terus memutari porosnya hingga belasan menit telah berlalu. Namun, Ravka masih membenamkan tubuh Alea dalam kungkungannya.


Kalau begini aku bisa melewatkan sholat malamku - Gerutu Alea mulai tak sabar menunggu Ravka bergeming.


Ia pernah mendengar sebuah cara sederhana membangunkan seorang suami. Ia kemudian memberanikan diri membenamkan bibirnya di bagian tubuh Ravka yang bisa membuatnya selalu serasa terbang. Ragu-ragu ia menyapukan bibirnya sekilas pada bibir lembut Ravka hingga suaminya merasa terusik.


"Hmmm .... Kamu mulai belajar nakal, yah," senyum Ravka seraya memicingkan sebelah matanya. Masih merasa enggan untuk membuat kedua kelopak matanya terjaga.


"Aku mau mandi, Mas. Tar keburu subuh," ujar Alea lembut.


"Kamu mau mandi, tapi menciumku?" Ravka membuka kedua matanya sempurna.


"Habis kamunya ga bangun-bangung. Aku ga bisa gerak," ucap Alea manja.


"Apa kamu tidak sadar, kalau yang kamu lakukan barusan ikut ngebangunin yang lain?" Ravka mengerling nakal.


Wajah Alea langsung memerah menyadari apa yang dimaksudkan oleh suaminya. Ia tak menyangka kalau pria yang mulai mencumbu rayu dirinya dengan belaian tangan dan bibirnya seakan tak pernah merasa puas akan percintaan yang mereka lakukan. Alea kembali ditenggelamkan pada kidung yang bersenandung di dalam hati hingga menggetarkan seluruh nadi.


Alea tak ingin alpa bertemu Sang Khalik di sepertiga malam terakhir. Hanya Kebesaran-Nya lah yang membuat Alea mampu bertahan menghadapi segala kemelut dan rintangan hidup. Saat ia terpuruk dan berteman sepi, Alea selalu meneteskan air mata di hadapan-Nya. Kini, ia tak ingin menjadi lupa diri saat kebahagiaan menyambut dengan tangan terbuka, memeluk erat hingga ia lupa rasanya terluka.


******


"Mas .... apa tidak bisa kamu bicara sama Kakek untuk mengubah keputusannya?" rengek Alea manja.


"Sayang .... Aku tidak mungkin bisa membantah omongan Kakek. Terutama jika itu adalah kebaikan untuk kita semua. Ini demi keselamatan kamu sendiri, Al," jawab Ravka yang langsung memahami kemana arah pembicaraan yang dilontarkan oleh istrinya.


Dalam hati, Ravka bersyukur Kakek Bayu lah yang membicarakan perihal pengawal yang akan selalu menempel pada gadis itu. Jika saja ia yang harus mengutarakan hal tersebut, dapat dipastikan Alea tak akan berhenti merengek untuk mengubah keputusan itu. Namun, karena ia mengetahui bahwa pendampingan pengawal pada setiap perempuan di dalam keluarga suaminya itu adalah perintah Kakek Bayu, membuat Alea mengkerut untuk memprotes.


"Hmmm .... " desah Alea pasrah.


Hari ini adalah hari pertama ia masuk kantor setelah tiga hari tidak diizinkan oleh suaminya keluar rumah. Dada Alea sudah cukup bekerja keras menahan debaran jantung yang seolah sedang ditabuh kencang layaknya genderan perang. Ia tak tahu bagaimana mengahadapi rekan kerjanya setelah insiden penyanderaan itu. Ditambah sekarang seorang pengawal pribadi akan selalu menempel kemanapun ia melangkah. Bahkan ke kamar kecil sekalipun, ia tak akan luput dari pengawasan. Karena Ravka telah menyiapkan seorang pengawal perempuan yang terlatih.


"Aku tidak mungkin bekerja, ditemani oleh seorang bodyguard yang selalu menempel," keluh Alea seraya menekuk wajahnya.


Alea sudah mendapat penjelasan secara terperinci saat para wanita di rumah itu dikumpulkan termasuk Tante Erica dan juga Sherly. Setiap orang dari mereka akan mendapat satu pengawalan khusus sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Mereka tak bisa membantah apalagi menolak. Bahkan di dalam rumah sekalipun para pengawal itu akan tetap berjaga. Para pengawal itu kini telah menempati dua paviliun yang terletak di bagian belakang rumah utama. Satu paviliun untuk para pengawal perempuan, serta satu paviliun lagi untuk para pengawal pria. Selangkah saja mereka menapaki kakinya keluar pintu rumah, maka para pengawal itu akan sigap mendampingi.


"Yasudah, kalau begitu kamu tidak usah berangkat kerja," sambar Ravka.


"Mas .... masa aku udah harus berhenti kerja? Bahkan gaji pertama pun belum pernah aku cicipi," wajah Alea semakin kusut.


"Aku akan tetap mengirimkan gajimu setiap bulan, walaupun kamu ga pernah dateng ke kantor," balas Ravka lagi.


"Bukan itu maksudku, Mas," Alea memutar bola matanya malas.


Tak ada gunanya ia berdebat dengan suaminya. Lelaki itu selalu bisa membalas perkataannya. Alea akhirnya memilih menutup rapat mulutnya, dari pada ia berakhir dengan tak boleh berangkat ke kantor.


Alea masih ingin merasakan dunia kerja yang selalu membuatnya terpana saat maaih melewati masa kuliah dulu. Hingga bertekad akan menjadi bagian dari para wanita karir yang bersinar memukau mata. Setidaknya itulah yang akan ia lakukan sampai ia memiliki seorang anak kelak. Tentunya atas izin seorang yang kini mengimaminya. Alea tak mau ambil resiko kalau Ravka sampai melarangnya untuk bekerja. Jadi lebih baik ia menyudahi aksi merengeknya yang sama sekali tak membuahkan hasil.


**********************************************


sambil nunggu up bisa mampir kesini dulu yah guys...