Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 90# Minta Maaf


Alea menghempaskan tubuhnya ke kursi putar di bilik kerjanya. Meski pada akhirnya dia bisa membuat Debora mendengarkan perintahnya, mood Alea sudah terlanjur berantakan sepagi ini.


"Kenapa lu? pagi-pagi muka udah lipet seribu?" desis Vika yang sudah lebih dulu sampai di kantor.


"Lagi bad mood," jawab Alea acuh.


"Tumben .... Bisa bad mood juga lu?" ledek Vika.


"Ah .... Mbak Vika, ngeledek doang ih," Alea memajukan bibirnya.


"Kenapa emang?" tanya Vika kalem.


"Tuh ..... aku di intilin CCTV berjalan sekarang," Alea menunjuk Deborah yang sedang memasang mata mengawasi dirinya dan Vika yang sedang berbincang.


"CCTV berjalan?" Vika menyipitkan matanya bingung menatap ke luar, menembus kaca transparan. "Maksud lu cewek di luar itu?"


"Hmmmm .... " Alea mengedikkan bahunya malas.


"Siapa dia?"


"Orang suruhannya Mas Ravka,"


"Jadi sekarang lu kemana-mana dikawal gitu?"


"Ya gitu deh. Gimana ga bete coba? Mana orangnya kaku lagi. Ga bisa diajak kompromi. Kan aku jadi tengsin Mbak, jadi pusat perhatian," keluh Alea panjang lebar.


Vika tergelak mendapati Alea mencak-mencak menahan kesal. Selama hampir satu bulan mengenal gadis dihadapannya itu, baru kali ini Alea menampakkan wajah kesalnya.


"Yah itu artinya suami lu mau ngeajagain elu. Seneng dong harusnya, suami lu perhatian," imbuh Vika.


"Yah iya sih Mbak. Cuma aku risih kalau harus di ikutin mulu. Kaya berasa anak TK tau ga, kemana-mana harus ditemenin sama baby sitter,"


"Ga ada gunanya lu ngeluh. Dia bakal tetep melototin elu," kekeh Vika seraya melemparkan pandangan pada Debora yang masih memasang tampang waspada. "By the way, sorry yah Al,"


"Sorry buat?" Alea menyipitkan matanya.


"Yah .... karena gue udah sempet mikir lu yang enggak-enggak. Gue pikir lu maen serong sama Pak Ravka. Taunya dia suami elu," ucap Vika seraya meringis malu.


"Gapapa Mbak. Lagian salah aku juga kok. Kalau dari awal aku ngomong ke Mbak Vika, kan ga mungkin sampe Mbak Vika mikir yang macem-macem," ucap Alea memaklumi.


"Yah tapi emang bener sih, kita tidak seharusnya su'udzon sama orang lain. Kalau udah begini kejadiannya kan rugi double gue. Malu sama lu iya, dosa juga iya,"


"Udah ga usah dipikirin. Aku udah maafin kok," ucap Alea menenangkan Vika.


"Oh iya, itu pipi lu gimana jadinya? Parah?"


"Kata dokter sih lukanya ga parah. Hari ini aku jadwal chek up lagi. Kata dokter kalau lukanya ga ada masalah dan ga sampe infeksi, mudah-mudahan ga bakalan ninggalin bekas permanen,"


"Syukurlah kalau begitu. Gue serem banget kemaren liatnya. Gue udah kepikiran terus dari kemaren, takut muka lu kenapa-napa,"


"Aku malah sampai sekarang Mbak masih kepikiran. Muka bakal balik kaya semula apa enggak ya?"


"Udah tenang aja. Kalau kata dokter ga apa-apa berarti itu ga bakal kenapa-napa,"


"Makasih yah Mbak," ucap Alea seraya menggantungkan senyum tulus dibibirnya.


"Gitu doang pake makasih segala," ucap Vika seraya mengibaskan tangannya.


"Makasih, karena Mbak Vika tetep mau temenan sama aku," ucap Alea tulus.


"Ya maulah. Rugi dong gue kalau ga mau temenan ama lu. Kan elu bini Boss. Siapa tau gue bisa cepet naik jabatan," kekeh Vika mengerling jahil.


"Ngarep .... " ucap Alea ikut tertawa.


Bicara dengan Vika mampu membuat mood Alea sedikit membaik. Setidaknya ia masih bisa berteman dengan orang sebaik Vika. Mereka kemudian memulai pekerjaan sembari sesekali berbincang. Mengalihkan pikiran Alea dari keberadaan Debora yang masih terus mengawasinya, hingga tak terasa waktu berlalu begitu cepat.


"Permisi Al," ucap Firda membuat Alea mendongakkan kepala.


Ia melihat Firda tampak canggung dan salah tingkah. Hingga menghadirkan kerutan di dahi Alea. Begitu pula dengan Vika yang sudah mengernyit heran dengan perubahan sikap Firda yang begitu lembut menyapa.


"Iya Mbak?" tanya Alea sejurus kemudian.


"Gue mau ngasih ini. Ini data yang gue ambil dari meja kerja lu beberapa hari lalu. pak Farash minta gue kerjain ini sampe lu balik kantor lagi. Udah gue kerjain semua kok, lu tinggal periksa doang," ucap Firda masih terlihat salah tingkah seraya menyerahkan satu bundel berkas kepada Alea.


"Eh .... enggak kok. Ga apa-apa," sambar Firda cepat. "Hmm .... Gue juga mau minta maaf sama lu, Al," tambah Firda ragu-ragu.


"Minta maaf untuk apa, Mbak?" tanya Alea heran


"Maaf atas segala sikap gue ke elu selama ini," Firda menggigit bibir bawahnya takut-takut.


Perempuan itu berdiri dibalik dinding kubikel setinggi pinggang dengan wajah penuh harap. Ia harus bisa mendapatkan maaf dari Alea. Jangan sampai sikap sok seniornya pada Alea selama ini justru menjadi penghambat karirnya.


"Ga perlu minta maaf kok Mbak. Lagipula banyak yang aku pelajari kok dari Mbak Firda. Aku anggep, itu sebagai cara untuk menempa aku memasuki dunia kerja," ujar Alea santai.


"Iya .... tapi gue tetep aja ga enak dan ngerasa salah sama lu," imbuh Firda.


"Kemaren-kemaren kemana aja Fir? Kok baru sekarang nyadar lu itu salah," sambar Vika dengan tampang jengah mendengar penuturan Firda.


"Yang udah lewat mah udah, ga usah dibahas lagi," ucap Alea menengahi saat Firda akan membalas perkataan Vika.


"Hei .... Gimana kondisi lu? udah baikan Al?" tanya Sasya yang menghampiri mereka dengan wajah bergidik ngeri.


"Udah kok Mbak. Aku baik-baik aja,"


"Masih sakit ga?" tanya Sasya lagi seraya memegang pipinya sendiri. Sangat terlihat kengerian di wajah Sasya saat menanyakan kondisi Alea.


"Masih sih, kadang-kadang masih ada rasa perihnya gitu. Yah kaya jari ke gores piso gitulah," ujar Alea tampak acuh.


"Ish lu mah .... Bisa yah santai gitu? Kalo gue udah nangis tujuh hari tujuh malem, ga bakalan keluar kamar kalo sampe kejadian di gue," cerocos Sasya.


"Sekarang Mba, bisa nyantai. Kemaren-kemaren juga aku masih kebayang-bayang. Udah ah jangan dibahas lagi," ujar Alea tiba-tiba bergidik ngeri saat sekelabat wajah Rama melintas dibenaknya.


"Makan siang yuk," Irma ikut mengerubungi para wanita yang tengah berkumpul.


"Duluan deh, Mbak. Aku ga ikutan dulu," ujar Alea.


"Gue juga ga ikutan deh," ujar Sasya.


"Yaudah yuk Fir, kita aja," ajak Irma pada Firda.


"Yaudah deh yuk," ucap Firda mengiyakan ajakan Irma. "Makasih yah Al, kita duluan," imbuh Firda lagi.


"Hati-hati loh Sya, dia istri direktur tapi malah jadi staff biasa. Jangan-jangan cepu lagi," bisik Irma pada Sasya sebelum pergi.


"Lu nya aja yang su'udzon mulu sama orang," ujar Sasya pada Irma yang sudah berlalu dari hadapannya.


"Kenapa Irma, sya?" tanya Vika setelah tak lagi melihat punggung Irma dan Firda.


"Biasalah Mbak. Namanya juga orang sirik. Cuekin ajalah," ucap Sasya cuek. "Eh ga pada makan siang nih?" tanya Sasya seraya mengutak atik ponselnya.


"Lu ga makan siang bareng suami lu, Al?" tanya Vika pada Alea.


"Ga Mbak. Orangnya jug lagi ga di kantor ini,"


"Yaudah bagus kalau begitu. Gue traktir kalian deh. Ini lagi ada menu baru yang lagi hits tau," tambah Sasya seraya memperlihatkan deretan gambar makanan di ponselnya. "Kita nge gofood aja lah. Makan disini sambil gosip-gosip," tambah Sasya dengan antusias.


"Curiga gue sama lu, tiba-tiba mau traktir kita," ucap Vika menatap Sasya tajam.


"Elah Mba, sekali-sekali ini. Habis ini kan kita bisa minta ditraktirin Bu Boss," kerling Sasya pada Alea yang hanya dibalas senyum oleh gadis itu.


"Halah, gue tau banget pasti lu ada niat laen kan tiba-tiba mau traktir kita segala. Secara ini kan masih bulan tua. Gajian masih minggu depan," cecar Vika.


"Mbak Vika bisa aja," kekeh Sasya malu-malu. "Gue kan pengen denger cerita dari orangnya langsung Mba," Sasya melemparkan tatapannya pada Alea.


Sasya memiringkan wajahnya seraya mengulum senyum dengan mata berbinar penuh antusias. Ditatap sedemikian rupa membuat Alea mengernyit bingung.


"Gue lagi nungguin lu gosipin laki lu," cengir Sasya tanpa dosa.


Alea menaikkan dua alisnya terperangah melihat sikap Sasya yang ceplas ceplos apa adanya.


"Gila lu Sya .... Ketahuan Pak Ravka dipecat tau rasa lu," sambar Vika.


"Kalau yang ngegosipinnya istri sendiri sih ga apa-apa kali Mba. Anggep aja istrinya lagi curhat. Emang Mbak Vika ga penasaran? Dari kemaren kan kantor heboh mulu ngomongin Pak Ravka sama Alea. Dari pada kita ikutan gosip mending denger langsung dari sumbernya," ucapan Sasya disambar tawa oleh Vika yang akhirnya menularkan tawa yang sama pada Alea.


Meski Sasya seolah ingin mengulik privacy nya, tapi Alea justru merasakan ketulusan dari nada bicara Sasya yang blak-blakan. Entahlah, mungkin karena Alea lebih suka orang membicarakan tentang dirinya secara langsung daripada harus membicarakannya di belakang. Obrolan akhirnya mengalir begitu saja diantara ketiganya sembari diselingi tawa.