
"Mau kemana kamu?" Tanya Dilla kepada Ravka yang sedang memainkan kunci mobil di tangannya.
"Mau keluar sebentar, Ma," Jawab Ravka sekadarnya dan berniat melanjutkan berjalan keluar rumah.
"Keluar bagaimana? Kita harus menghadiri pernikahan Alex sekarang," Ucap Dilla.
"Yang benar saja Ma. Bagaimana mungkin bisa Mama memintaku untuk menghadiri pernikahan Mas Alex dengan Sherly? Kalau Mama lupa, seharusnya aku yang bersanding dengan Sherly disana," Ucap Ravka dengan nada tinggi.
Selama hidupnya Ravka hampir tidak pernah berucap kasar kepada wanita yang ia sayangi dengan sepenuh hatinya. Namun, untuk kali ini laki-laki itu sudah tidak bisa lagi menahan emosi yang sudah sampai pada puncaknya. Dia hanya ingin secepatnya pergi dari rumah ini. Menjauh sejenak dari hingar bingar yang nanti akan memenuhi segala penjuru rumahnya setelah acara resepsi pernikahan Alex dengan Sherly.
Ravka butuh waktu untuk menenangkan diri dan menyiapkan mentalnya sebelum bertemu Sherly nantinya. Karena bagaimanapun juga, setelah ini dia tidak akan bisa menghindar untuk tidak bertemu mantan tunangan yang akan segera menjadi iparnya.
"Itu salahmu sendiri, kamu harus terima resikonya. Masih untung Alex bersedia menggantikan posisimu. Kalau tidak, masalah ini bisa merusak hubungan kekerabatan kita dengan keluarga Sherly. Dan tentunya itu akan sangat berpengaruh kepada keberlangsungan perusahaan. Kontribusi keluarga mereka cukup besar di perusahaan, Ravka. Kamu tau sendiri itu," Ucap Dilla panjang lebar.
"Sudahlah Ma. Percuma bicara dengan anak tidak tahu malu ini, biarkan dia melakukan apa yang dia inginkan. Kita harus berangkat sekarang, jangan sampai kita terlambat gara-gara anak liar ini," Ketus Derry menusuk hati Ravka.
Bagaimana bisa sikap keluarganya berubah drastis hanya dalam waktu hitungan hari. Dadanya terasa sesak menyadari bahwa saat ini dirinya tak lagi menjadi anak yang berharga dan membanggakan bagi orang tuanya.
"Terserah Papa mau bilang apa, tapi yang pasti aku sama sekali tidak melakukan apapun yang membuat kalian malu. Aku bahkan tidak mengenal wanita j*alang itu. Berkali-kali sudah kukatakan kalau aku dijebak. Kalian justru memintaku untuk menikahinya," Dengus Ravka kesal.
"Kami melihat dengan mata kepala kami sendiri, apa yang terjadi disana. Apapun alasanmu, kamu harus belajar bertanggung jawab atas segala perbuatan yang telah kamu lakukan," Ucap Dilla tegas.
"Arghh...." Teriak Ravka seraya meninggalkan orangtuanya. Dia bergegas beranjak dari rumah itu sebelum pertengkaran semakin melebar antara ia dengan Ibunya. Dia tidak ingin hubungan antara ia dengan Ibunya rusak hanya karena wanita terkutuk itu.
Dasar cewek kurang ajar. Aku pasti akan membalas semua perbuatanmu yang telah menghancurkan hidupku - Maki Ravka dalam hati.
Pemuda itu bergegas menuju tempat mobilnya terparkir. Ia segera melesatkan Maserati Grand Turismo merah kesayangannya memecah jalanan Ibu kota. Selama di perjalanan tidak henti-hentinya Ravka mengumpat. Selama beberapa hari terakhir umpatan dan makian seolah menjadi kesehariannya.
Pemuda itu membelokkan mobilnya di sebuah Mall di kawasan Jakarta Selatan. Setelah memarkirkan mobilnya, ia menuju sebuah pusat kebugaran yang berada di dalam Mall tersebut.
"Ravka?! Kok lu disini? Ngapain?" Tanya sebuah suara yang sudah sangat familier dikuping Ravka.
"Yah nge-gym lah. Mau ngapain lagi kesini?" Jawab Ravka ketus tanpa menoleh ke asal suara.
"What's wrong, Bro?" Tanya Dandi lagi saat Ravka tidak menggubris pertanyaan yang keluar dari mulutnya. Dandi tak hanya trainer bagi Ravka, usia yang sebaya membuat mereka mudah untuk berteman. Ditambah lagi Dandi sudah menjadi personal trainer buat Ravka selama hampir sepuluh tahun. Karena itu tidak heran Ravka memiliki perawakan gagah dengan otot tubuh yang menonjol.
Bentuk tubuh Ravka memang bisa membuat iri para kaum adam dan membuat para perempuan menjerit histeris, apalagi saat melihat perut sixpack-nya.
Diperhatikannya Ravka yang masih setia dengan kebungkamannya. Ia kemudian mengekori Ravka berjalan menuju loker tempat pemuda itu menyimpan baju-baju untuk berolahraga di pusat kebugaran tersebut.
"Rav, ini serius?" Tanya Dandi masih menuntut jawaban Ravka. Bagaimana tidak membuatnya jadi begitu kepo, seperti ibu-ibu komplek yang suka berkerumunan di tukang sayur keliling. Hari ini seharusnya menjadi hari yang penting bagi seorang Ravka. Namun pemuda itu malah dengan santai melenggang di pusat kebugaran.
"Lu ga bisa ngomong apa Rav?" Tanya Dandi mulai kesal tidak mendapat reaksi dari Ravka.
Ravka hanya membisu mendengar berondongan pertanyaan Dandi. Ia sama sekali tidak berniat membicarakan apapun yang berkaitan dengan pernikahan hari ini. Terserahlah seberapa besar rasa keingintahuan temannya itu tidak diperdulikannya.
"Lu bener-bener kacau emang," Ucap Dandi menyerah menemukan jawaban atas segala rasa penasarannya akan kondisi Ravka. Ia hanya memperhatikan Ravka dari kejauhan dan mulai mengotak-atik telpon pintar yang selalu tersimpan di sakunya.
Sementara Ravka sudah membawa baju dari dalam loker menuju ruang ganti pakaian. Setelah berganti pakaian, ia menyimpan baju yang tadi dikenakannya ke dalam loker dan berjalan menuju ruang cardio.
Di depan sebuah treadmil Ravka memulai sesinya dengan pemanasan. Ia melakukan gerakan upper body twsit selama beberapa saat, setelah itu memutar kedua lututnya secara bergantian. Barulah ia menyalakan mesin yang digunakan untuk lari ditempat. Ia mengatur jarak tempuh dan kecepatan yang diinginkannya dan mulai menggerakkan kakinya diatas mesin lari tersebut.
Disebelahnya Dandi ikut menyalakan mesin treadmil dengan kecepatan rendah. Tidak berniat berolahraga, hanya sekedar menemani wajah yang suram disebelahnya.
"Kalau ada masalah itu dibicarakan Rav, jangam dipendam sendiri. Gue tau banget pasti masalah yang lu hadepin bukan masalah ringan," Ucap Dandi disebelahnya mencoba membuat pemuda itu sekadar mengeluarkan kata dari mulutnya.
"Tapi ga sekarang, Dan. So please jangan bahas apapun dulu hari ini," Ucap Ravka.
"Yah terserah lu lah. Tapi yang pasti gue selalu siap mendengar segala unek-unek lu. Yah anggap aja gue tempat sampah. Buat ngebuang segala beban yang udah layak dianggap sampah buat tubuh lu,"
"Tenang aja, gue ga bakalan berbuat nekad juga kok seberat apapun masalah yang gue hadapin. Tapi okay, gue bakalan nyari lu kalau gue butuh ngebuang sampah," Ravka mencoba berkelakar. Mengurangi stress yang sudah menderanya hingga berhari-hari.
"Sialan lu, gue bukan tempat sampah secara harfiah yah," Ucap Dandi mencoba tersenyum. Ia sadar Ravka memang tipikal orang yang tertutup untuk segala urusan pribadinya. Sebagai seorang teman ia hanya perlu menemani Ravka untuk mencairkan ketegangan yang membebani pikirannya .