Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 74# Bersabar Lagi


Alea merapihkan meja saat melirik jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul dua belas tepat. Saatnya ia mengantarkan makan siang untuk sang suami tercinta.


"Al, makan siang bareng yuk. Perasaan gue ga pernah liat lu makan siang di kantin?!" ucap Sasya mengagetkan Alea.


Gadis mungil itu mendongakkan kepala memperhatikan rekan kerja yang sudah berdiri di balik kubikelnya.


"Maaf Mba aku bukannya ga mau, tapi aku udah ada janji," jawab Alea meringis karena merasa tak enak hati menolak tawaran Sasya.


"Tumben lu ngajak makan siang Alea? Ga bareng Firda ama Irma?" sambar Vika disebelah Alea.


"Elah Mba .... Gue mah ga sirikan ama orang, kaya Firda," ucap Sasya membalas pertanyaan Vika. "Walau rada penasaran sih, kok bisa Al lu deket sama Pak Farash ama Pak Nino? Mereka tuh cowok rebutan tau di kantor ini. Boleh lah lempar satu buat gue," Sasya menatap Alea dengan wajah penuh harap seraya memainkan alisnya naik turun.


"Barang .... kali Mba, maen lempar aja," jawab Alea bercanda.


"Ih lu tuh Al. Seriusan gue. Emang lu tega ngeliat gue jadi jones mulu. Udah hampir dua puluh tuju tahun, gue masih ngejomblo aja. Ni yah Al, gue sih rela yang mana aja limpahan elu. lu pilih dulu dah, gue sisaan lu juga ga pa-pa," lanjut Sasya dengan tampang dibuat serius.


"Ambil deh Mbak dua-duanya juga. Aku mah ogah,"


"Lah, emang kenapa? bukannya mereka masih single?"


"Yah mereka sih emang masih single, Mbak. Tapi aku-nya yang udah married,"


"Seriusan lu Al, udah married?" ucap Sasya sembari memelototkan kedua matanya.


"Udah yah Mbak, aku duluan. Udah ditungguin soalnya. Aku duluan yah Mbak Vika," ucap Alea seraya berlalu dari hadapan Sasya yang masih terbengong-bengong.


"Beneran dia udah nikah, Mbak?" suara Sasya bertanya ke Vika masih dapat ditangkap oleh Alea.


Apapun yang menjadi jawaban Vika sama sekali tak membuat Alea penasaran. Dengan langkah ringan ia menuju ruangan kerja suaminya.


Sesampainya di depan ruang kerja Ravka, Alea menarik nafas lega karena tak menemui Bella di kursi depan yang biasa ditempati sekretaris suaminya itu. Segera Alea mengetuk pintu lebar yang terpampang di depannya, hingga terdengar sahutan dari dalam. Alea membuka pintu itu perlahan, melongok ke dalam dan mendapati suaminya seorang diri disana.


"Mas, aku bawain makan siang nih," ucap Alea lembut seraya berjalan ke sofa di dalam ruangan tersebut.


Ravka mengangkat kepalanya dari tumpukan berkas yang sedang ditandatanganinya. Melihat sang istri yang berjalan melintas di hadapannya, Ravka menghentikan semua pekerjaannya.


"Mas .... " jerit Alea kaget saat menyadari dua lengan kokoh milik suaminya sedang merengkuh pinggannya.


Beruntung ia sudah meletakkan bekal makan siang di atas meja dengan sempurna, sehingga tak perlu mengkhawatirkan bekal itu tumpah akibat ulah Ravka yang mengagetkannya.


"Ngapain pakai teriak sih?!" ucap Ravka seraya membalik tubuh Alea menghadap kepadanya.


Diciumnya ujung hidung Alea beralih ke pipi dan belum sempat sampai ke bibir Alea, istrinya itu sudah memundurkan kepalanya. Menghadirkan mimik kesal diwajah Ravka.


"Mas, gimana kalau ada yang liat? Ini di kantor," Alea mengingatkan.


"Ga akan ada yang berani masuk ke ruangan aku sebelum meminta izin," ucap Ravka ketus.


"Tadi pagi aja aku udah malu banget sama Nino, Mas," sanggah Alea.


"Cuma dia doang, orang yang berani keluar masuk ruangan aku sesuka hati. Sekarang kamu ga usah khawatir, dia ga akan ganggu kita lagi. Dia sedang ada meeting dengan rekan bisnis di luar kantor," seru Ravka seraya mengalihkan tangannya di pinggang Alea.


Setelah mereguk kenikmatan bersama istrinya tadi malam, membuat Ravka selalu membayangkan Alea dalam pelukannya. Membuatnya terkadang sulit berkonsentrasi pada pekerjaannya. Al hasil, ia melimpahkan banyak pekerjaan pada Nino yang membuat asistennya itu ngedumel tiada henti.


Suami mana yang tahan berjauhan dengan istri setelah merasakan nikmatnya memadu kasih bersama sang istri yang kini menempati palung hati.


"Aku kangen," bisik Ravka lembut setelah membebaskan bibir Alea.


Alea menyeruak dibalik dada sang suami. Menenggelamkan wajahnya yang merona bahagia mendengar ungkapan Ravka yang juga dirasakannya. Ciuman Ravka yang menggelitik lembut membangkitkan hasratnya yang menginginkan lebih. Namun, ia sadar betul dimana mereka berada saat ini. Ia wanita yang masih menjunjung moral dan tak mungkin membiarkan sang suami berlaku lebih dari sekedar ciuman mesra di tempat umum seperti ruang kerja kantor tempat mereka saat ini berada.


"Kita makan aja yuk," Alea mencoba mengalihkan pikirannya kepada kegiatan normal lainnya di dalam kantor.


"Perutku ga laper Al, tapi yang dibawahnya yang laper," goda Ravka.


"Mas .... " Alea memukul dada bidang sang suami di dalam pelukannya.


Wajah Alea kini sudah sama persis dengan tomat yang matang di pohonnya.


"Kayanya Mama bener deh, mending kita kabur dulu yuk dari kantor,"


"kabur gimana?" Alea mendongakkan kepala menatap mata Ravka yang dipenuhi kabut.


"Kita bulan madu. Tinggalin pekerjaan kepada mereka yang otaknya masih waras dan bisa dipakai untuk bekerja,"


"Memangnya kamu udah ga waras?" tanya Alea seraya menyeringai lebar dengan kekehan pelan berhasil lolos dari sela-sela giginya.


"Sekarang sih masih. Tapi lama-lama aku bisa gila kalau ngejauh terus dari kamu," ucap Ravka dengan nafas memburu.


Bibirnya sudah kembali membungkam bibir Alea sebelum gadis itu membalas perkataannya. Kali ini tangannyapun tak tinggal diam, ikut beraksi menjelajahi tubuh molek istrinya. Cukup lama Ravka tenggelam dalam asiknya bercumbu rayu dengan pujaan hati. Namun, hal itu justru membuat Ravka semakin tersiksa karena gairah yang membumbung di dada.


"Kita pulang aja yuk," ucap Ravka dengan nafas yang terus memburu.


"Lantas ngebiarin seseorang tertawa senang karena bebas mengacak-acak kantor?" sindir Alea yang masih menyisakan kewarasan di dalam kepalanya.


Gadis itu juga hanyut dalam cinta yang disuguhkan oleh suaminya. Namun, akal sehat masih memenuhi isi kepala. Hingga tak mungkin abai pada sekitar.


Ravka mengusak kasar rambutnya. Melepas Alea dari pelukan dan beranjak ke dalam kamar mandi yang berada di dalam ruangannya. Menundukkan kepalanya di bawah keran dekat westafel di kamar mandi. mencoba menyegarkan wajah dengan kucuran air yang mengalir dari kepala. Meninggalkan Alea dengan wajah pias karena khawatir telah mengecewakan sang suami.


"Kamu marah yah Mas sama aku?" tanya Alea sesaat setelah Ravka keluar dari kamar mandi.


Melihat wajah Alea yang tertunduk lesu, Ravka segera menghampiri istrinya itu. Memberikan ciuman lembut di puncak kepala gadisnya.


"Aku ga marah kok. Kamu bener, kita masih punya banyak waktu berduaan nanti malam. Sekarang kita harus fokus pada urusan kantor biar cepat selesai dan bisa pergi berlibur berdua saja, tanpa ada yang mengganggu," ucap Ravka penuh janji yang tersirat.


"Kamu bener ga marah Mas?" tanya Alea seraya mengulas senyum ragu.


Ravka menjawab pertanyaan istrinya itu dengan senyum manis yang menggembung di pipi seraya menggelengkan kepala. Membuat Alea menarik nafas lega.


"Sekarang ayo kita makan," ajak Ravka meyeret Alea duduk disebelahnya.


Membuka bekal yang sudah disiapkan Alea setiap pagi untuk mereka berdua. Seraya menahan gejolak yang susah sekali padam saat melihat tubuh mungil itu berada disekitarnya.