
Alea meregangkan tubuhnya diatas kursi putar di meja kerjanya. Hari ini adalah hari pertama ia melakukan tugasnya sebagai staff Analys Bussines di BeTrust setelah tiga hari melewati masa training.
Tiga hari ini ia dijejali dengan company profil serta job desk-nya sebagai analys bussines di perusahaan yang baru saja menjadi tempat Alea bernaung untuk mulai meniti karir. Semua teori selama training serta semasa kuliah seolah hanyut entah kemana. Ketika ia dihadapkan pada dunia kerja sesungguhnya, ternyata cukup menguras pikirannya. Menganalisa berbagai data dari lapangan merupakan pekerjaan yang cukup rumit. Jangankan membuat laporan, membaca hasil survey di lapangan saja sudah membuat kepalanya berputar-putar.
"Alea, sudah jam istirahat. Kita cari makan yuk. Laper nih," suara salah satu rekan kerja yang duduk di sebelah meja kerja Alea menyapa.
"Ayo deh Mbak. Aku juga laper. Kerja kok bisa bikin laper gini yah?" cengir Alea kepada Vika yang tadi menyapanya. "Tunggu bentar yah, aku beresin ini dulu," lanjut Alea merujuk berkas di atas meja kerjanya.
"Ada yang mau ikut kantin ga?" teriak Vika kepada seluruh staff analys bussines yang berada satu ruangan dengannya.
"Gue nitip aja yah," teriak salah satu staff.
"Gue juga nitip,"
"Duluan deh, tar gue nyusul bareng irma. Ma, lu tungguin gue yah, nanggung banget ini," teriak staff yang lain lagi.
Keriuhan terjadi seketika saat mendengar teriakan Vika. Seolah teriakan Vika adalah alarm jam istirahat bagi anak sekolah. Kesibukan desk analys bussines belakangan ini membuat sebagian besar staff memilih untuk tinggal dan melanjutkan pekerjaan mereka.
"Yuk Mbak, aku udah selesai nih," ucap Alea kepada Vika.
Mereka kemudian berjalan beriringan menuju lift. Ruangan mereka terletak di lantai delapan, sementara kantin terletak di luar gedung kantor. Sehingga mereka terpaksa antri untuk menuruni lift menuju lantai dasar.
"Eh Al, gue kebelet nih. Tungguin bentar yah," ucap Vika saat mereka baru saja keluar lift di lantai dasar.
"Yaudah, aku tunggu di pintu depan aja yah Mbak," ucap Alea merasa enggan menunggu Vika di toilet, lantaran ia sangat tahu kalau disana pasti penuh sesak disaat jam-jam istirahat seperti sekarang.
Saat tengan berjalan, mata Alea menangkap siluet wanita yang seperti pernah ia kenali. Sosok yang selama ini menjadi mimpi buruknya. Matanya terus mengawasi wanita itu dari kejauhan seraya berjalan cepat mengejar wanita itu.
"Hey, punya mata ga sih? Jalan tu lihat-lihat," hardik seorang wanita yang tidak sengaja ditabrak Alea. "Kamu? Kenapa bisa ada disini?" ucap wanita itu semakin naik pitam.
"Sherly? Maaf tadi aku sedang ngejar seseorang, jadi ga sengaja nabrak kamu,"
"Kamu belum jawab pertanyaanku. Kenapa bisa ada disini?" Sherly memelankan suaranya tapi tetap dengan nada yang mengintimidasi Alea.
"Aku kerja disini," jawab Alea tergesa. Matanya masih mencari sosok yang tadi dikejarnya. Namun sayang sosok itu sudah menghilang tak tentu rimbanya.
Sherly meraih identitas kantor yang menggantung di leher Alea. Matanya menyipit melihat name tag yang berada di genggamannya.
"Pasti kamu sudah memaksa tante Dilla buat memasukkan kamu kerja di perusahaan ini kan?!" ucap Sherly seraya menghempaskan identitas yang digenggamnya begitu saja.
"Aku ada disini karena kemampuanku sendiri. Bukan karena siapa-siapa," Alea membalas tatapan Sherly, menolak intimidasi yang dilayangkan Sherly.
"Kamu pikir aku percaya begitu saja? Kamu pasti hanya mencari-cari cara untuk mendekati Ravka," Decakan menghias ucapan Sherly kepada Alea. "Jangan kamu pikir aku tidak tahu, kalau sampai sekarang Ravka masih sangat membencimu. Sebaiknya kamu tidak usah bermimpi bisa menaklukkan Ravka," Sherly melemparkan tatapan meremehkan Alea. Wanita itu berlalu begitu saja meninggalkan Alea yang mematung ditempatnya berdiri.
"Alea, kamu gila ya? Aku sarankan sebagai orang yang lebih dulu bekerja di perusahaan ini, agar kamu sebaiknya menghindari masalah," ucap Irma senior Alea di bagian Analys Bussines mengagetkan Alea. Alea tak menyadari kalau ternyata dua seniornya sudah berdiri disebelahnya.
"Bukan hal yang mudah untuk bisa mendapatkan pekerjaan dsini. Aku saja harus bersaing dengan ribuan pelamar untuk bisa berada disini," imbuh Sasya.
"Apa maksud Mba Irma sama mba Sasya?" tanya Alea bingung.
"Apa kamu tau siapa wanita yang kamu ajak berantem tadi?" tanya Sasya yang melihat dari kejauhan bahwa Alea seperti sedang adu mulut dengan Sherly.
"Dia itu Bu Sherly, istri dari CEO perusahaan ini. Cucu menantu pemilik perusahaan," sambar Irma saat melihat Alea hanya membisu.
"Apa?" Alea hampir saja memekik lantaran kaget mendengar informasi yang baru saja didapatnya.
"Makanya kalau mau cari ribut itu lihat-lihat dulu orangnya," celetuk Irma yang mengira Alea kaget karena telah mengajak ribut orang yang salah. "Lagipula kamu itu staff baru disini, masa iya udah cari masalah sih?!" lanjut Irma yang membuat Alea menjadi tidak nyaman.
"Sudahlah Ir, sebaiknya kita ke kantin aja deh. Biarin ajalah dia. Ga usah ikut-ikutan cari masalah deh," Sasya menyeret lengan Irma meninggalkan Alea yang masih terlihat syok.
"Lu kenapa Al?" tanya Vika yang baru saja kembali dari toilet membuyarkan lamunan Alea. "Mereka ngapain Lu?" tanya Vika menunjuk Sasya dan Irma.
"Ga kok Mbak, mereka ga ngapa-ngapain aku," jawab Alea seraya melemparkan senyuman yang ia paksakan menghiasai bibirnya.
"Kalau mereka ngomong macem-macem, ga usah di dengerin. Mereka emang begitu kalo sama anak baru. Suka sok senior," ucap Vika menenangkan Alea yang masih tampak syok.
Alea memang tidak pernah mencari tahu secara detail mengenai perusahaan. Ia hanya mencari tahu mengenai profil perusahaan tanpa mencari tahu siapa yang berada di balik perusahaan tersebut. Salah satu alasan ia menerima tawaran pekerjaan ini, karena Farash bekerja di perusahaan yang sama. Ditambah lagi Farash yang mengatakan akan pindah ke jakarta, membuat ia berharap bisa bekerja bersama Farash dalam satu kantor. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa ia bahkan akan satu kantor juga dengan Ravka.
Ya Allah, takdir apakah yang sedang kamu rancang untukku. Kenapa aku harus selalu berada disekitar Mas Ravka? - Alea merasa kehilangan semangatnya dalam sekejap.
"Alea ayok jalan," ajak Vika.
"Mbak duluan aja boleh, ke kantinya? Aku tiba-tiba kehilangan selera makan. Aku akan kembali ke atas saja," ucap Alea tanpa semangat.
"Lu kenapa Al?"
"Aku ga apa-apa kok, Mbak,"
"Yakin lu ga apa-apa?" tanya Vika cemas.
"Aku bener ga apa-apa kok Mbak. Maaf yah, Mbak Vika jadi harus sendiri ke kantinnya," ucap Alea merasa tak enak hati.
"Udah santai aja. Ga usah dipikirin. Kalau gitu gue duluan yah," ucap Vika berlalu meninggalkan Alea.
Baru saja hendak berbalik menuju lift, tangan Alea dicekal oleh seseorang.
"Alea, kamu ngapain disini?"
"Kak Farash," ucap Alea senang. "Aku kerja disini sekarang," imbuh Alea dengan senyuman yang menunjukkan rasa bangga kepada dirinya sendiri.
Melihat kehadiran Farash membuat perasaan kacau yang menggelayuti hati Alea sedikit memudar. Sejak dulu Farash memang mampu menjadi mood booster bagi Alea.
"Pantes dari minggu kemaren kamu nanya-nanya mulu tentang perusahaan ini. Taunya kamu ngelamar kerja disini," seru Farash sambil menjawil hidung Alea.
"Kak Farash, akukan bukan anak kecil lagi," Alea memanyunkan bibirnya pura-pura cemberut.
"Masih jam makan siang nih, kita ngopi di depan yuk," Farash menggandeng tangan Alea menuju coffe shop yang terletak di sudut lobby kantor.
Dengan riang Alea berjalan mengiringi langkah kaki Farash. Tanpa disadarinya sepasang mata menatap dengan geram sikap manja Alea kepada Farash.