
"Ma, sampai kapan aku tidak boleh keluar rumah seperti ini?" keluh Sherly naik pitam.
"Sabar sayang. Mama juga tidak tahu. Tapi kata Papa semua demi kebaikanmu sendiri." Shinta mencoba menenangkan putri bungsunya.
"Papa mana pernah memikirkan kebaikanku? Aku ini hanya alat yang dipakai Papa untuk membalas dendam. Aku capek Ma, mengkuti semua permainan gila ini. Kapan aku bisa punya kehidupan ku sendiri?" keluh Sherly semakin kesal.
Shinta hanya menghembuskan nafas pasrah. Bagaimanapun ia tak tega melihat kebahagian anak perempuan satu-satunya harus dikorbankan karena kegilaan sang suami. Namun, ia juga tak punya daya untuk melawan seorang suami yang tak berperasaan seperti Ferdy. Pria itu hanya diliputi ambisi yang memenuhi hati dan pikirannya. Tak pernah mementingkan perasaan istri dan anak perempuannya.
"Sudahlah Ma, aku perlu sendiri. Aku bosan menghadapi ini semua," ucap Sherly saat melihat Ibunya hanya diam membisu.
Hal yang selalu membuat hati Sherly semakin bertambah perih. Tak seorangpun di rumah ini yang bisa membantunya lepas dari tuntutan Ayahnya yang tak masuk akal. Sang Kakak juga selalu memenuhi semua keinginan Ayahnya. Sementara Ibunya hanya bisa diam membisu menerima segala titah sang penguasa rumah dan juga seluruh kehidupannya.
"Kalu Vanya datang, suruh dia langsung masuk ke kamar ku," seru Sherly saat melihat Ibunya berdiri di ambang pintu kamarnya bersiap melangkah pergi.
Sherly sadar jika tak ada gunanya ia marah pada Ibunya. Karena hal itu hanya akan semakin membuat Shinta tambah gusar tanpa bisa berbuat apa-apa. Akan tetapi, ia juga butuh pelampiasan untuk mengeluarkan segala keluh kesah yang tak tahu harus kemana melampiaskannya.
Sepeninggalan Shinta dari kamarnya, Sherly kembali melamun. Lebih dari empat tahun, kemerdekaannya direnggut paksa. Ia begitu membenci keluarga Dinata yang menjadi penyebab ini semua. Namun, berapa bulan tinggal disana membuat ia menyadari, bahwa nasibnya lah yang buruk karena memiliki oang tua yang rela mengorbankan putri mereka sendiri hanya untuk alasan yang tidak sepenuhnya ia mengerti.
"Bahkan sudah dua hari aku menghilang dari rumah keluarga Dinata. Tapi tak seorangpun sepertinya yang mencari keberadaanku," gumam Sherly sedih.
Berkali-kali ia mengecek ponselnya. Namun, tak satu pun pesan atau chating yang masuk dari seseorang yang sangat dinantikannya.
"Bahkan Mas Alex juga tidak mencariku sama sekali," keluh Sherly dengan sorot mata sendu. "Apa mungkin mereka sudah tahu yang sebenarnya? Sehingga aku sampai harus bersembunyi seperti ini?" Sherly memainkan ponselnya sembarang.
Mengutak atik ponsel tanpa ia tahu apa yang sebenarnya ia cari. Matanya mulai berkaca-kaca saat matanya menangkap sebuah foto yang terpampang di layar ponselnya. Foto yang sengaja ia jadikan background ponselnya untuk meyakinkan sandiwara yang sedang dimainkan selama ini.
"Hey, ngelamunin apa lu?" tanya Vanya yang sudah berdiri di sebelah kasur yang ditempati oleh Sherly.
Mendengar suara temannya, Sherly tak lantas menjawab. Ia langsung memeluk Vanya dan menumpahkan tangis sejadi-jadinya. Vanya hanya membiarkan Sherly meluapkan kesedihan yang menyemat di dada seraya menggosok punggung perempuan yang menjadi sahabatnya itu.
Cukup lama Sherly memeluk Vanya dan menumpahkan segala sesak di dada. Vanya masih mengelus punggung Sherly yang memeluk pinggangnya dan membasahi bajunya dengan tangisan.
"Lu kenapa?" tanya Vanya saat Sherly sudah dapat menguasai diri dan melepas pelukannya di pinggang Vanya.
Vanya menghempaskan tubuhnya disebelah Sherly kemudian memiringkan badannya hingga ia dapat menatap lurus ke dalam mata coklat milik sahabatnya itu.
"Gue udah ga tahan sama semua sikap bokap, Nya. Gue ga tau lagi apa yang bokap mau sebenernya?" jawab Sherly masih terisak.
"Emang kenapa lagi bokap Lu?" tanya Vanya dengan nada sinis terselip di dalamnya.
"Udah dua hari gue disini dan ga boleh kemana-mana," jawab Sherly ketus.
"Suami Lu ga nyariin?" Kerut di dahi Vanya terlihat jelas.
Sherly menjawab dengan gelengan lemah tanpa semangat. Ia juga tak mengerti kenapa tiba-tiba Alex seolah tak perduli akan keberadaannya. Padahal sebelum ini, lelaki itu selalu perhatian dan menanyakan keberadaannya setiap saat.
"Gue rasa Mas Alex udah tau semuanya. Mungkin dia udah tau niat gue yang sebenarnya, saat meminta dia nikahin gue. Makanya dia sekarang udah ga perduli sama gue," ucap Sherly berkaca-baca.
"Bagus dong. Bukannya itu yang lu mau? Cepet lepas dari Mas Alex?" sambar Vanya bersemangat.
"Bukannya lu selalu bilang, kalo lu udah ga betah ngejalanin pernikahan pura-pura itu? Semakin cepat semua ini terbongkar maka semakin baik buat Lu," imbuh Vanya.
Hanya Vanya sebagai tempat berkeluh kesah Sherly semenjak ia dipaksa mengikuti aturan Ayahnya. Saat ia sedang menikmati indahnya jatuh cinta, ia dipaksa untuk memutuskan kekasihnya. Ayahnya dengan sangat memaksa meminta ia mendekati lelaki dingin bernama Ravka. Ia sebagai seorang gadis yang digilai banyak pria harus berusaha mengejar cinta Ravka dan menjeratnya. Beruntung Ravka pria yang tampan dan mempesona, hingga pada akhirnya meski diawali dengan keterpaksaan, ia bisa mencintai Ravka dan melupakan Deryl cinta pertamanya.
Namun, ternyata perjodohan yang ia kira sebagai perjodohan bisnis harus dipaksa kandas melalui skenario penjebakan yang sudah disiapkan oleh Ayahnya. Barulah setelah itu, ia mengetahui maksud sebenarnya dari perjodohan yang ia jalankan. Semua itu hanya demi membalaskan dendam serta berniat merebut paksa perusahaan milik keluarga Dinata.
"Gue benci sama hidup gue sendiri Vanya. Gue benci," jerit Sherly membuat Vanya tersentak.
Sekelabat wajah Alea melintas begitu saja dihadapannya. Gadis yang begitu membuatnya iri karena telah merebut posisinya. Ia sama sekali tak menyangka bahwa jebakan itu berakhir dengan pernikahan Ravka dan Alea. Ia pikir pernikahannya denga Ravka yang batal terlaksana, bisa dirajut kembali setelah semua urusan keluarganya selesai. Namun, gadis itu malah masuk ke dalam keluarga Dinata. Mendapat cinta tak hanya dari Ravka tapi juga keluarganya. Sementara dirinya harus berakhir disini dengan menelan pil pahit. Ia sangat ingin menjadi seperti Alea. Dihujani dengan begitu banyak cinta.
"Ada apa Sher, lu kenapa jadi begini? semua ini akan berakhir sebentar lagi. Dan lu bisa bebas nentuin jalan hidup lu sendiri," ucap Vanya meyakinkan Sherly.
"Gue .... gue .... " Sherly menggigit bibirnya kencang tak tahu bagaimana harus mengatakan apa yang ia rasa saat ini.
"Lu jatuh cinta sama Mas Alex?" sambar Vanya yang selalu bisa mengetahui dan merasakan isi hati sahabatnya itu.
"Gue ga tau Vanya. Tapi akhir-akhir ini gue ngerasa nyaman sama Mas Alex," desis Sherly.
"Lu udah taukan dari awal pernikahan lu, ini bukan pernikahan seperti orang-orang lain di luaran sana. Pernikahan lu ini hanya sebuah permainan. Bagaimana bisa lu malah terjerat sama permainan lu sendiri? Dan lagi bukannya lu masih cinta sama Ravka? Bukannya lu masih mau ngejar cinta Ravka kalau semua ini sudah selesai?" rentetan oertanyaan keluar dari muluy Vanya dengan berapi-api.
"Gue ga ngerti Nya. Gue juga bingung. Masalahnya lu tau sendiri, Deryl hanya cinta sama tubuh dan uang gue. Sementara Ravka menghargai tubuh gue, tapi dia laki-laki yang dingin. Mas Alex beda Nya. Gue bener-bener ngerasa dihargai sebagai seorang perempuan bersama Mas Alex. Gue .... " Sherly menggantungkan ucapannya. Bulir bening mulai kembali merambat di pipinya.
"Lu jangan gila Sher. Lu pikir setelah Mas Alex tahu semua akal bulus keluarga Lu, dia masih bisa nerima Lu? Ga mungkin Sherly. Wake up girl," sergah Vanya frustasi.
"Masih masuk akal kalo lu mau ngejar cinta Ravka kembali. Tapi ga mungkin kalau itu Mas Alex. Gue ga ngerti, apa yang ngebuat Mas Alex bisa maafin lu," ucap Vanya tajam membuat denyutan yang begitu menyakitkan di hati Sherly.
Vanya tak salah. Tak mungkin seorang Alex yang sudah ia jebak sedemikian rupa mampu memaafkannya. Sedari awal Alex sudah dipersiapkan untuk menjadi kambing hitam atas segala kekacauan yang dibuat oleh ia dan keluarganya. Saat ini bisa saja Alex sedang terpuruk seorang diri. Membuat ulu hatinya seakan dicengkram ketika membayangkan Alex dalam kondisi menyedihkan. Tangis Sherly semakin pecah hingga mengirimkan kepiluan di hati Vanya.
"Apa yang bisa gue lakuin buat Lu?" tanya Vanya membuat Sherly menghentikan tangisnya seketika.
Sherly mendongakkan wajah menghadapa perempuan yang sudah seperti saudaranya sendiri. Menatap wajah itu sendu.
"Katakan apa yang bisa Gue lakuin buat Lu. Gue ga bisa ngeliat lu hancur begini. Setidaknya kali ini berjuanglah untuk kebahagiaan Lu sendiri," ucap Vanya membuay sebersit harapan kembali tumbuh di hati Sherly.
"Gue ga berani berharap banyak Nya. Gue tahu hubungan gue sama Mas Alex sudah hancur sebelum dimulai. Tapi Gue berharap bisa dapat kesempatan meminta maaf langsung dari dia. Sekali .... Sekali saja... Gue mau jujur sama Mas Alex. Tapi itu kayanya ga bakalan mungkin bisa terjadi, Nya" ucap Sherly menyuarakan isi hatinya.
"Lu jangan khawatir, gue akan buat kesempatan itu mungkin," janji Vanya dengan oenuh keyakinan. "Gue akan cari cara supaya Lu bisa ketemu Mas Alex," imbuh Vanya lagi dengan penuh tekad.
**********************************************
sabar yah guys nunggu up nya.. sebisa munhkin aku usahain up tiap hari.. tapi emang sinyal deket rumahku lagi ga bersahabat.. susah buka aplikasi.. loadong doang.. biar ga bosen nunggu boleh intip karya temenku dulu...