Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 112# Kata Sederhana


"Love you my little wife," bisik Ravka seraya menatap manik hazel milik sang istri dengan perasaan mendalam.


"Love you too, my childish hubby," balas Alea seraya terkekeh di pelukan sang suami.


"Jahat banget ih. Akunya udah manis begini, malah dikatain childish," ucap Ravka seraya menjawil hidung Alea yang menumpangkan kepala di atas lengannya yang kekar.


"Iya deh suamiku yang paling manis sedunia. Kamu tuh dewasa banget. Kalo lagi kerja doang tapinya," kekeh Alea lagi seraya memainkan jemari di atas dada Ravka yang bidang.


Jemari Alea bergerak gemulai, bermain-main pada dada Ravka yang polos tanpa sehelai benang membalutnya. Menciptakan sengatan yang mengirimkan sinyal ke ribuan saraf lelaki itu.


"Itu tangannya dikondisikan deh. Nyentuhnya disitu, tapi yang lain ikut bereaksi," ucap Ravka dengan kerling menggoda.


"Ih, kamu mah ga ada puasnya," cebik Alea seraya memukul dada sang suami.


"Habis kamunya lezat," goda Ravka lagi.


"Dikira aku es krim, lezat."


"Kamu lebih yummy, creamy, dan manis dibanding es krim," ucap Ravka membuat wajah Alea kembali tersipu-sipu.


Gadis itu langsung menyembunyikan wajah di balik dada Ravka. Meski sudah seringkali ia mendengarnya, tapi hati Alea tetap saja bergetar setiap kali Ravka menyanjung dan menggodanya. Hingga perasaan itu tercetak jelas pada wajah putihnya yang mudah sekali memerah.


Pun dengan hatinya menghangat seketika, saat tangan Ravka membelai kepalanya yang menempel di dada lelaki itu. Ia juga dapat merasakan kecupan yang mendarat di puncak kepalanya. Rasa bahagia diperlakukan sedemikian lembut membuat ia merasa dicintai dan dipuja.


"Makasih yah Mas, untuk semua yang udah kamu lakuin buat aku," ucap Alea bersungguh-sungguh seraya mendongakkan kepala menatap suaminya dengan penuh cinta.


"Udah ratusan kali kamu bilang terimakasih. Kita ini suami istri, ga perlu berterimakasih."


"Perlu dong. Biar kamu selalu tahu betapa aku bahagia sama semua sikap kamu. Meski kita sudah tua nanti, aku akan tetap mengucapkan ribuan terimakasih untuk kamu," balas Alea yang disambut senyum oleh pemuda itu.


Ravka menyadari meski terdengar sepele, tapi hatinya menghangat setiap Alea mengucapkan kata sederhana itu. Ia merasa usaha yang ia lakukan dihargai sepenuh hati oleh istrinya. Pun ia berjanji dalam hati akan selalu mengucapkan kata maaf jika melakukan salah. Kata yang juga sederhana, tapi bisa dengan mudahnya meluluhkan hati perempuan di pelukannya itu.


Ravka masih membayangkan uniknya hati seorang perempuan. Kaum hawa dengan segala kerumitan dan amarahnya bisa luluh hanya dengan sebuah kata maaf. Mereka juga memiliki hati seluas samudra yang mampu memaafkan setiap kesalahan. Bahkan Alea seolah tak pernah hirau akan sikapnya yang keterlaluan selama ini. Gadis itu bahkan membalas semua kelakuan buruknya dengan perhatian dan kasih sayang tulus.


"Aku juga mau berterimakasih kepada istri cantikku ini, karena sudah bersedia menjadi belahan jiwaku," ucap Ravka dengan tekad dalam hati akan membalas semua kebaikan Alea dengan cinta dan kasih sayang melebihi kemampuannya mencintai dirinya sendiri.


Wajah Alea sumringah mendengar ucapan lembut sang suami. "Kamu itu ternyata jago gombal yah, Mas?!"


"Kok malah gombal sih?" Ravka mengerucutkan bibirnya tak senang.


"Awas loh ya. Jangan suka ngegombalin cewek lain. Aku itu sebenarnya, cemburuan Mas orangnya."


"Aku malah suka kalau dicemburuin sama kamu. Ga sabar liat kamu jadi singa betina gara-gara cemburu," ledek Ravka.


"Ngapain jadi cewek bar-bar?! Aku mah kalau liat kamu godain cewek lain ga bakalan marah lah, cuekin aja. Mending aku juga godain cowok lain, biar impas. Dari pada capek-capek buang tenaga, kamunya malah besar kepala, berasa direbutin," jawab Alea membuat Ravka membulatkan mata.


"Pokoknya kalau kamu godain satu cewek, aku bakalan godain dua cowok sebagai balasannya." Alea menaikkan satu alisnya, membuat Ravka terkekeh geli.


Kembali dikecupnya bibir mungil yang selalu mengeluarkan perkataan lembut, tapi mampu mengancam dengan kelembutan serupa. Sialnya, ancaman itu justru membuat Ravka mati kutu.


"Oh ya, kamu udah liat kan kado yang aku pilihin buat kamu?" tanya Ravka setelah puas menyecap kelembutan bibir Alea.


"Udah kok. Bagus banget, aku suka. Terimakasih sekali lagi untuk kadonya. Cantik banget," ucap Alea tersenyum manis.


Sekali lagi kehangatan begitu terasa mengalir di hati Ravka ketika melihat senyum tulus gadis itu saat mengucapkan terimakasih. Membuat Ravka berniat menghamburkan lebih banyak uang yang dia miliki, untuk menyenangkan istrinya.


"Itu aku pesan khusus buat kamu," ucap Ravka menciptakan binar-binar di kedua bola mata istrinya.


"Tapi maaf yah, aku ga mungkin pake perhiasan semewah itu tiap hari. Apalagi ke kantor. Itu terlalu mencolok Mas," ucap Alea dengan wajah sendu.


"Aku memang beliin kamu perhiasan itu buat dateng ke acara nikahan temen aku minggu depan. Kalau buat sehari-hari, nanti kita ke tokonya langsung aja yah, biar kamu bisa pilih sendiri yang kamu suka."


Ravka menautkan alisnya heran, saat Alea menarik diri menjauhi sang suami. Menjatuhkan kepalanya diatas bantal, kemudian menarik selimut hingga menutupi dada. Wajahnya terlihat kaku tanpa ekspresi.


"Kamu kenapa? Bukannya tadi bilang suka sama hadiahnya?" Ravka memiringkan badannya menghadap Alea yang sedang memejamkan mata kemudian mengerjap perlahan.


Ravka menumpangkan kepala pada tangan yang disanggah oleh siku hingga sebagian tubuhnya terangkat. Memperhatikan perubahan raut wajah istrinya dengan seksama.


"Apa kita harus, menghadiri acara temen kamu?" tanya Alea gusar.


"Tentu saja, Sayang. Soalnya ini acara privat di Maldives. Dia hanya mengundang teman dekat dan juga rekan bisnis saja. Aku tidak mungkin melewatkannya. Kamu tahu, Alexander itu bukan hanya temanku, tapi beberapa proyek Dinata group melibatkan perusahaan properti milik Malik Corporation," jelas Ravka, berharap Alea tidak menolak ajakannya.


"Tapi Mas, apa kamu tidak malu mengajakku ke acara sepenting itu?" tanya Alea meragu.


Selama pernikahan mereka, belum pernah Ravka mengenalkannya ke publik. Bahkan Alea tidak pernah tahu pergaulan Ravka sebelum menikah seperti apa. Bagaimana sosok teman-teman disekeliling sang suami. Ini pertama kalinya Ravka mengajak Alea menghadiri acara temannya, membuat hati gadis itu kelu.


"Kenapa harus malu Al? Sudah saatnya orang-orang tahu tentang pernikahan kita." Ravka mengubah posisinya jadi bersandar pada kepala dipan.


Kemudian menyanggah tubuhnya dengan tumpukan bantal yang diletakkan di punggung. Pemuda itu tampak menghela nafas, tak mengerti akan jalan pikiran Alea.


Pemuda itu memang pernah meminta Alea menyembunyikan satus pernikahan mereka. Akan tetapi, bukankah sekarang situasinya sudah berbeda? Bukankah kini Ia dan Alea sudah sama-sama menerima pernikahan mereka dengan ikhlas? Lantas apa yang membuat Alea merasa, ia seakan malu akan keberadaan istrinya? Pikiran Ravka berkecamuk. Banyak pertanyaan melintas begitu saja dibenaknya, menunggu Alea memberikan alasan yang mampu menjawab semua pertanyaan yang berkelabat.


**********************************************


mau promo karya temenku lagi yah...