Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
PPA 85# Omes


"Jangan perdulikan apa yang dipikirkan oleh orang lain. Mereka punya hak untuk menentukan jalan pikiran mereka sendiri dan berkubang di dalamnya, meski itu keliru. Tapi kita juga berhak untuk tidak memperdulikan apa yang orang lain pikirkan. Karena diantara kita hanya ada aku dan kamu, tidak ada mereka," ucap Ravka saat menyadari Alea mulai menundukkan wajah, menatap ujung sepatunya yang bergesekan dengan lantai.


Ravka mengeratkan genggaman tangannya pada Alea, memberi kekuatan melalui sentuhan jari-jari tangannya yang saling berkaitan erat dengan jemari tangan gadis itu.


Alea mengangkat kepalanya, memutar lehernya hingga menghadap tepat ke wajah Ravka yang sedang mengulas senyum tulus untuknya. Alea membalas senyum suaminya dengan tak kalah manis. Ia lalu menegakkan punggungnya, menerbitkan kepercayaan diri dari dalam hati. Tak seharusnya ia membiarkan apa yang dipikirkan orang lain membuat ia lemah. Alea mengayunkan kakinya dengan ringan, berjalan sejajar di samping Ravka. Tanpa memperdulikan, apakah orang-orang sedang memperhatikannya atau tidak. Bahkan saat kedapatan bersitatap dengan pengunjung mall yang lain, Alea justru mengumbar senyum.


"Kamu tunggu disini yah, aku pesan makanan dulu," ujar Ravka menghampiri sebuah kursi yang terletak agak dipojokan, di dalam gerai McD yang mereka sambangi.


Ravka melepas gandengan tangannya dan menarik sebuah kursi untuk Alea tempati. Namun, secepat kilat Alea menyambar lengan Ravka seraya menggelengkan kepalanya.


"Aku ikut," ucap gadis itu manja.


"Kamu ga liat, itu ngantrinya panjang banget? Mending kamu duduk manis tungguin aku disini," ucap Ravka berniat melepaskan genggaman tangan Alea pada lengannya.


"Aku ga mau ditinggal sendiri," seru Alea sembari merangsek mendekati Ravka hingga mereka hampir menempel.


Alea masih tak berani di tinggal seorang diri di tempat umum seperti ini. Bulu kuduknya seakan merinding membayangkan hal buruk kembali ia alami. Ketakutan tercetak jelas pada raut wajah Alea, membuat Ravka menyadari apa yang membuat istrinya itu tak mau ditinggal seorang diri. Ia kemudian menggamit lengan Alea dan membawa gadis itu menuju konter pemesanan.


"Kamu mau makan apa?" tanya Ravka sembari melongok papan berisi daftar menu.


"Hmmm .... " gumam Alea seraya mengetuk-ngetuk jemarinya di dagu. "Sundaes coklat, Double Cheeseburger, french fries, sama mocca float," ucap Alea sembari membayangkan makanan yang ia sebutkan.


Liurnya seakan mau menetes saking lamanya ia tak menyantap menu kesukaannya itu.


"Ngeliatinnya biasa aja, sampe ngences gitu," ucap Ravka seraya manampilkan raut wajah jijik.


Spontan Alea mengangkat tangannya menutupi mulutnya yang disambut tawa terbahak dari Ravka.


"Mas .... kamu iseng deh," ucap Alea seraya menyikut dada suaminya.


"Aduh .... " seru Ravka sembari meringis.


"Pura-pura sakit tuh. Ga mau ketipu dua kali aku," ucap Gadis itu memberengut.


Ravka langsung merangkul istrinya seraya mencubit hidung gadis itu gemas. Tingkah Alea dan Ravka layaknya remaja yang sedang kasmaran membuat orang disekitarnya berjengit malu akan tingkah polah pasangan suami istri itu. Namun, keduanya justru tak menyadari bahwa mereka menjadi pusat perhatian.


*****


"Dulu aku selalu iri ketika melihata anak-anak yang dibawa orang tuanya makan disini," ucap Alea disela-sela kunyahan kentang goreng di dalam mulutnya.


"Kenapa iri?" Ravka menatap istrinya sembari menyeruput latte.


"Mereka terlihat asik bermain bareng sama saudara mereka. Entah kakak atau adik mereka," Alea menghela nafas ketika sekelabat bayangan masa kecilnya menyeruak dari cerebrum yang selama ini tersimpan di bagian terdalam. "Dulu aku sempat minta Ibu untuk memberikanku adik, suapaya aku punya teman bermain. Tapi belum sempat mereka mewujudkan keinginanku, mereka malah meninggalkan aku sebatang kara. Bahkan Paman dan Bibi yang bersedia merawatkupun tak memiliki hubungan darah denganku. Karena itu aku tak kecewa karena mereka tidak menginginkan kehadiranku. Mereka bersedia menampung dan mengakuiku sebagai kerabat saja aku sudah bersyukur," ucap Alea tersenyum kecut.


Ravka meraih tangan gadis itu ke dalam genggamannya. Ditatapnya kedua manik hazel yang terlihat nanar dihadapannya. Membayangkan betapa tegarnya Alea melewati jalan hidup yang tak berpihak padanya. Ia bahkan menjadi seorang yang juga turut menggoreskan pedih di hati gadis ayu itu pada awal pernikahan mereka. Dibelainya dengan lembut tangan Alea sembari berjanji dalam hati, bahwa ia akan membayar semua luka yang pernah ia goreskan dengan menciptakan senyum yang mampu menyinari hari mereka nantinya.


"Kalau begitu, kita harus sering-sering bikin anak supaya bisa punya anak yang banyak. Biar kamu ga kesepian lagi," ucap Ravka dengan senyum menggoda.


"Ish kamu tuh sekarang kenapa jadi mesum gini sih Mas?" semburat merah muda menjalar di wajah gadis itu.


Meski ia sudah tak terlalu canggung saat suaminya menyentuhkan tangan di sekujur tubuhnya, tapi ia masih merasa risih saat harus membicarakannya secara terbuka apalagi di tempat umum seperti saat ini.


"Kalau sama istri sendiri itu bukan mesum namanya sayang .... Tapi ibadah," Ravka menjawil hidung Alea.


Membuat Alea tertunduk malu. Tak dipungkiri kalau ia sebetulnya merasa senang saat suaminya bermesraan dengannya. Hanya saja ia masih belum terbiasa untuk mengungkapkannya secara gamblang.


"Kamu gemesin kalau lagi malu-malu gitu. Bikin pengen langsung nerkam," goda Ravka seraya mengulum senyum.


"Tar aja lah Al pulangnya. Tar kita maghrib disini aja. Cari mushola sekitar sini," ucap Ravka yang masih belum siap menghadapi drama yang akan menyambutnya.


"Kenapa kita gak langsung pulang aja sih Mas,"


"Aku masih pengen ajak kamu jalan-jalan,"


"Aku capek Mas. Pengen langsung pulang aja," ujar Alea.


Tubuh gadis itu seolah meronta minta diistirahatkan. Hari ini begitu melelahkan fisik dan juga batinnya. Melihat Wajah kuyu Alea, Ravka akhirnya tak punya alasan untuk menahan istrinya itu berlama-lama di luar rumah.


"Yaudah habisin makan nya. Setelah itu kita sholat maghrib dulu disini. Nanggung kalau pulang sekarang. Takut kena macet malah ga keburu," Alea hanya mengangguki perkataan suaminya.


"Mas .... kamu kenapa sih ga mau langsung pulang aja tadi?" tanya Alea karena rasa penasaran yang masih menggelitik di hati.


"Ga apa-apa. Udah makan aja," jawab Ravka acuh.


"Aku pengen loh, kamu kalau ada apa-apa itu cerita sama aku. Ga disimpen sendiri semuanya," desak Alea yang dapat merasakan ada hal yang mengganggu suaminya.


Ravka menghela nafas mendengar ucapan Alea. Ia tak bermaksud menutupi apapun dari Alea. Akan tetapi, ia hanya tak terbiasa menceritakan apa yang ada di dalam hati pada orang lain. Ravka sempat mengerutkan alisnya berpikir, sebelum akhirnya memutuskan untuk memberi tahu Alea apa yang membuatnya tak langsung mengajak istrinya itu pulang ke rumah.


"Setiap rumah yang tampak baik-baik saja pasti menyimpan masalahnya sendiri-sendiri, sama seperti keluarga ku yang selalu di elu-elukan oleh orang luar," jelas Ravka sembari menghembuskan nafas berat. "Terlalu banyak drama di dalam rumah yang sekarang kita tempati. Mama dan Tante Erica selalu saling sindir. Aku yakin, apa yang terjadi hari ini tak akan luput dari perhatian mereka. Tante Erica pasti akan menjadikanmu bulan-bulanan untuk menjatuhkan Mama. Aku tidak mau, kamu merasa semakin tertekan dan tidak nyaman berada di rumah karena pertengkaran mereka,"


"Memangnya ada masalah apa Mama dengan Tante Erica Mas?"


"Entahlah Al, aku tidak tahu ada masalah apa diantara mereka. Tapi semenjak Tante Erika tinggal di rumah, ada saja pertengkaran diantara Mama dan Tantw Erica. Mama sempat minta pindah sama Papa dari sana. Tapi Kakek melarangnya. Kakek bahkan memintaku berjanji untuk tidak pernah keluar dari rumah meski aku sudah menikah,"


"Memangnya dulu Tante Erika tidak tinggal di rumah Kakek?"


"Dulu keluarga Om Dika tinggal di Amerika. Mereka pulang ke Indonesia waktu Mas Alex sudah mau masuk kuliah dan aku masih SMU waktu itu. Tak lama setelah itu, Om Dika meninggal karena penyakitnya. Sejak itu Tante Erika dan Mas Alex tinggal bersama kami. Tapi aku tidak pernah bisa dekat dengan Mas Alex meski kami tinggal satu atap. Dia membawa gaya hidup bebasnya di Amerika kesini, membuat Kakek sering marah. Kakek sering membandingkan aku dengan Mas Alex di depan Tante Erica. Sepertinya itu menjadi salah satu penyebab Tante Erica tidak bisa akur sama Mama," Ravka menutup ceritanya bersamaan dengan tegukan terakhir mocca float di tenggorokan Alea.


Wajah Alea sempat berjengit membayangkan apa yang akan ia hadapi sepulang nanti di rumah.


"Sudah makannya?" tanya Ravka saat melihat semua tempat makan yang terbuat dari kertas di atas meja sudah tandas tak bersisa, termasuk gelas plastik berisi es krim dan micca float. "Ga nafsu makan aja kamu bisa ngehabisin semua ini? gimana kalau lagi kepengen yah?" sindir Ravka seraya tersenyum meledek.


"Ih Mas .... Aku tuh lama ga nemuin makanan kaya begini. Kan kangen aku,"


"Yaudah yuk pulang, kita bikin anak yang banyak. Tar kalau kita udah punya banyak anak, aku janji bakalan ngajak kamu sama anak-anak makan disini,"


"Dasar suami omes," seru Alea dengan senyum bahagia membayangkan bisa kemari bersama anak-anaknya kelak.


"Gantengan aku kali dari Omesh,"


"Ish .... siapa yang bilang Omesh yang itu. Ge Er," ucap Alea tergelak.


Mereka masih saling bercanda tawa seraya meninggalkan gerai McD tersebut.


**********************************************


Makasih yah untuk semua doa kalian.. Mudah2an kita semua selalu diberi kesehatan.. aku bisa nulis, kalian bisa terus baca karya aku... jangan lupa mainkan jempolnya yah.. like dan komen kalian bikin semangat aku loh untuk terus nulis... makasih yah sekali lagi... luv u all...


sambil nunggu up selanjutnya bisa mampir ke karya ini yah.... seru juga loh ceritanya...