
Ditatap intens oleh suaminya membuat Alea salah tingkah. Hatinya berdebar tak karuan, seakan hendak berhamburan meloncat dari peraduannya.
Keheningan mengusik kedua insan yang saling menikmati ciptaan sempurna sang khalik dalam wujud keindahan fisik, hingga menghadirkan kecanggungan.
Dengan segera Ravka mengalihkan tatapan matanya pada mata indah yang menggetarkan jiwa. Ia menatap pipi yang mulai tampak biru kelam menonjolkan tulang pipi sang empunya, layaknya blush on yang sering dipakai gadis itu. Jantungnya kembali serasa diremas saat melihat kulit putih mulus yang melambai minta dijamah, kini ternoda akibat kelakuan kejam seorang anak manusia tak bermoral. Seseorang yang akan membuat harinya tak tenang sebelum melihat pemuda bengis itu menghiba memohon ampun pada istrinya.
Kembali ia kompres pipi itu dengan gerakan sehalus mungkin, meminimalisir rasa sakit yang dapat mendera Alea. Ia dapat merasakan gadis itu berusaha memasang wajah datar agar tak memperlihatkan kesakitan yang Alea rasakan akibat sentuhannya.
"Mas, aku bisa mengompresnya sendiri. Berikan saja padaku kompresnya," ucap Alea dengan suara bergetar. Suara getaran yang ia tahan bukan karena sakit fisik yang menyiksa, tapi sakit pada jiwa yang tak kasat mata. Ia begitu hanyut pada perhatian yang diberikan pemuda tampan nan rupawan yang duduk hampir menempel padanya.
"Sudahlah kamu diam saja. Bagaimana kamu mau mengompres pipimu sendiri? memangnya kamu bisa melihat bagian mana yang terluka?" jawab Ravka tak terusik sedikitpun dengan keengganan yang diperlihatkan gadis itu. Ravka bisa memahami kalau Alea mungkin tak menginginkan berada didekatnya, mengingat sikap dirinya yang telah lalu. Namun, ia akan membuktikan pada Alea, bahwa ia juga bisa menjadi pria baik yang disukai oleh istrinya itu. Bahkan lebih dari kata suka. Ia ingin Alea mencintainya, seperti hatinya yang kini menyimpan rasa cinta yang begitu besar untuk sang istri.
"Mas, sudahlah. Aku mohon jangan seperti ini," ucap Alea seraya menahan tangis. Alea sekuat tenaga menahan perasaan yang bisa begitu mudahnya hadir dalam balutan ekspresi di wajahnya. Ia tak ingin Ravka menyadari apa yang ia rasakan sekarang.
"Apa maksudmu jangan seperti ini? Apa aku menyakitimu?" Ravka terperangan mendengar penuturan Alea. Tangannya menggantung di udara tepat dihadapan gadis manis yang terlihat seperti menyimpan luka.
"Bukan begitu Mas, hanya saja kamukan suamiku. Seharusnya aku yang melayani dan mengurusmu, bukan sebaliknya. Aku bisa mengurusi diriku sendiri," jawab Alea tergugu.
"Apa hanya seorang istri yang berkewajiban melayani suami?" tanya Ravka seraya melemparkan tatapan tajam pada gadis dihadapannya.
Alea hanya menundukkan wajahnya saat melihat sorot mata Ravka yang menjadi sendu. Ia pikir Ravka akan merasa kecewa dan marah pada sikapnya. Namun, pemuda itu tampak berbeda. Membuat Alea jadi semakin salah tingkah.
"Kamu tahu, sudah seharusnya suami dan istri saling menjaga satu sama lain," ucap Ravka saat tak mendapati Alea membuka mulutnya. "Bukankah kamu sendiri yang mengatakan, selama aku menjadi suamimu, selama itu pula tanggung jawab seorang suami melekat pada diriku. Dan aku sudah memikirkannya dengan baik. Jadi mulai sekarang, aku juga akan melakukan tanggung jawabku sebagai seorang suami selama kita masih terikat dalam pernikahan," ucap Ravka lambat-lambat. Berusaha meyakinkan Alea bahwa ia kini sudah berubah. Ia bukan lagi seorang suami egois yang melampiaskan kemarahannya akan jalan takdir pada sang istri.
"Aku mohon Mas, biarkan kita seperti kemarin-kemarin. Aku tidak keberatan dengan segala sikapmu selama ini," ucap Alea bergetar. Ia sudah tak sanggup lagi menahan semua perasaan yang memenuhi setiap sudut hatinya. Akan semakin sulit bagi gadis itu menjalani perannya sebagai seorang istri jika Ravka terus bersikap baik padanya. Ia tak ingin semakin terluka dikemudian hari. Saat ini saja hatinya sudah perih bak luka yang tersiram cuka. "Akan lebih mudah bagiku jika kamu bersikap dingin padaku. Aku lebih menyukai sikapmu yang dingin seperti selama ini. Sikap lembut mu justru membuat aku semakin susah menjalani semua ini Mas," ucap Alea akhirnya. Ia menghembuskan nafas kasar demi mengenyahkan segala perasaan yang mengaduk-aduk kalbu.
Ravka membuang tatapannya dari wajah Alea yang menunjukkan tekad baja. Wajah yang membuat dadanya sesak seolah baru saja dihantam godam. Sangat perih dan menyiksa. Diletakkannya kembali kompres ditangannya ke atas nakas. Kemudian berbalik mendapati Alea yang sudah tertunduk kembali. Namun, Ravka dapat melihat sudut mata gadis itu mulai basah.
Ia kembali menghampiri Alea, mendekatkan dirinya hingga menempel pada tubuh gadis yang masih duduk di atas ranjang seraya meremas seprai ditangannya. Diraihnya dagu Alea hingga gadis itu menengadahkan kepala menghadap dirinya. Manik hazel itu tak dapat lagi menghindar, dipaksa mentap mata kelam Ravka dengan binar redup penuh kecewa dan luka.
"Kamu tahu aku sudah membulatkan tekadku untuk bersikap baik padamu. Bahkan akupun sudah merelakanmu. Aku bersedia melepaskan mu dari kewajiban sebagai seorang istri yang membebanimu selama ini. Agar kamu bisa terbang bebas meraih impianmu, mengejar kebahagiaanmu sendiri," ucap Ravka pelan. Pemuda itu menghela nafas pasrah setelah mengucapkan kata yang sungguh menyisakan perih.
Tanpa Alea sadari tangis yang berusaha ia tahan, kini lepas kendali. Tangis itu tak mampu lagi dibendungnya manakala ia mendengar ucapan Ravka. Hal inilah yang mengusiknya sejak kemarin. Kenyataan bahwa ia harus pergi dari pria yang sudah menggoreskan namanya di hati terdalam.
"Sebegitu benci kah kamu terhadapku, Al?" tanya Ravka demi melihat air mata gadis itu jatuh membasahi wajahnya.
Alea menggelengkan kepalanya cepat. Ia tidak tahu bagaimana harus memberitahu suaminya bahwa tak setitik pun rasa benci mengalir dalam nadinya. Justru sebaliknya, ia begitu mencintai pemuda di hadapannya itu.
"Lantas mengapa kamu menangis?" ucap Ravka seraya menghapus air mata diwajah Alea. "Aku tak akan memaksamu lagi Al. Kamu bisa bebas memilih jalan hidupmu sendiri," ucap Ravka seraya menahan sesak di dada.
Ucapan yang membuat hatinya serasa diremukkan hingga tak berbentuk. Ditatap nya wajah cantik yang semakin dibanjiri air mata yang menderas di kedua pipi putih nan mulus milik Alea. Direngkuhnya tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.
"Jangan menangis Al, kumohon maafkan sikap ku selama ini. Aku tahu aku bersalah padamu," suara Ravka bergetar ditelinga Alea.
"Aku sangat ingin bersikap egois padamu Al. Aku sangat ingin. Tapi aku tak mau melukai mu untuk kesekian kalinya,"
"Tidak Mas. Sikap egoismu tak akan melukaiku. Justru kebaikanmu lah yang melukai ku," rintih Alea pasrah di dalam pelukan Ravka.
"Aku tentu dengan senang hati akan melakukannya, Al. Aku sungguh ingin bersikap egois padamu. Memaksamu untuk menerima pernikahan kita untuk selamanya, meskipun kamu tidak menginginkannya. Memaksamu untuk selalu berada disisiku, mencintaiku sepenuh hatimu," Ungkap Ravka membuat Alea terbelalak.
Dada Ravka naik turun dengan nafas memburu. Pria itu sudah mengeluarkan isi hatinya. Ia hanya ingin Alea menyadari, betapa ia menginginkan gadis itu terus mengisi harinya. Menemani perjalan panjang dalam hidupnya. Ravka melepaskan rengkuhannya atas gadis itu. Ditatapnya penuh damba wajah yang kini terperangah tak dapat berkata. Wajah manis yang terus mengusik tidurnya di kala malam. Berharap bisa merengkuhnya dalam kesyahduan cinta yang menggelora di dalam dada.
Mengikuti dorongan hati yang begitu kuat, Ravka merengkuh wajah Alea dalam genggaman tangannya. Mengusap lembut sudut mata yang digenangi air mata.
"Aku mengingkanmu untuk terus menemani hariku. Merajut mimpi bersama, dalam naungan cinta yang bersemai dalam jiwa. Aku mencintaimu Alea," bisik Ravka lembut.
Deru nafas Ravka menghantarkan getaran dalam diri Alea. Menghipnotis gadis itu dalam buaian yang dialunkan oleh sang kekasih hati. Membuat ia terdiam meresapi setiap kata yang mendayu di telinga. Hatinya menghangat seketika, menghadirkan segala bahagia yang menyapa.
**********************************************
Maaf yah segini dulu.. pasti bakalan bilang gantung.. ya tapi apa boleh buat, situasi ga memungkinkan untuk dilanjut sekarang soalnya..
happy reading all...