
"Mas Ravka, terimakasih banyak yah sudah mengizinkanku untuk ikut acara bulan madu kalian." Kania mengumandangkan rasa terimakasih yang entah untuk ke berapa kalinya sejak dia bertatap muka dengan Ravka.
Kania sangat bersemangat dari tadi malam setelah Alea menghubunginya dan mengajak gadis itu ikut berlibur ke Maldives. Salah satu tujuan wisata yang Kania impikan sejak lama. Ia pernah berikrar berdua Alea, suatu hari nanti mereka akan pergi berlibur ke Maldives bersama. Ia tak menyangka hari itu hanya tinggal menghitung jam. Mereka akan menginjakkan kaki di negara kecil yang diburu oleh banyak masyarakat dunia untuk menikmati keindahan alam berpadu dengan kehebatan tangan-tangan manusia.
"Mau berapa kali kamu mengutarakan rasa terimakasihmu itu?" ucap Alea pada Kania yang duduk di kabin depan mobil.
Kania memutar tubuhnya menghadap Kakak sepupunya yang duduk di kabin belakang bersama suaminya sembari menaikkan salah satu kakinya di kursi.
"Habis aku bener-bener seneng, Kak. Kek berasa dapet durian runtuh," cengir Kania memperlihatkan deretan gigi yang terawat.
Sementara Ravka hanya melempar senyum pada adik sepupu istrinya itu. Gadis lugu yang energik, tak jauh berbeda dengan sang istri. Bedanya Alea tampak jauh lebih dewasa dari umurnya. Mungkin keadaan yang memaksa gadis belia itu berpikiran jauh melampaui umur sebelum waktunya.
"Udah gitu aku bakalan naik private jet, oh my god, i'm so excited." Kania mengipas-ngipaskan kedua tangannya di depan wajah tak dapat menutupi kegugupan yang bercampur kegembiraan yang meledak-ledak.
Alea tergelak melihat kelakuan Kania. Rasa bahagia turut merambat di hati tatkala ia melihat wajah bahagia yang terpancar dari kedua mata Kania, sosok yang sangat berarti dalam hidupnya. Ingatannya kembali melayang saat semalam ia mencoba meminta izin pada Ravka untuk mengajak Kania turut serta pada acara bulan madu mereka.
"Mas, kamu beneran akan mengajak teman-temanmu ke Maldives?" tanya Alea ragu.
"Hm-hem," gumam Ravka seraya menatap istrinya.
Menilisik apa yang menjadi keraguan yang menggelayut di wajah cantik tersebut.
"Kenapa? Apa kamu kebereatan?" tanya Ravka lagi saat mendapati Alea hanya terdiam membisu, tak melanjutkan kata.
"Bukan begitu, Mas. Hanya saja apa boleh kalau aku juga mengajak seseorang untuk ikut kesana?"
Ravka menatap Alea lebih intens. Sesungguhnya tak ada yang salah dengan permintaan Alea itu. Ia bisa saja mengajak teman-temannya untuk turut serta dalam pesta kecil-kecilan dalam bentuk liburan. Hanya saja pikirannya melayang pada sosok pria yang masih membuatnya tak suka.
"Memangnya siapa yang mau kamu ajak?" desis Ravka tajam.
"Kania Mas," jawab Alea cepat.
"Aku tidak ada masalah kalau kamu ingin mengajak saudaramu itu untuk ikut. Hanya saja aku tidak akan suka kalau kamu mengajak kakak nya turut serta."
"Kamu masih cemburu sama Kak Farash? Apa kamu tidak bisa melihat dia sebagai saudara ku juga? Bukan sebagai seorang saingan." Alea berdecak sebal. "Tapi ya, kamu tidak usah khawatir aku hanya akan mengajak Kania," lanjut Alea dengan wajah ditekuk.
"Sayang, kamu bisa mengajak siapapun yang kamu mau. Sebanyak apapun teman yang kamu ajak, tidak akan jadi masalah untuk ku. Selama lelaki itu tidak termasuk diantaranya. Bagaimanapun, aku sudah dua kali memergoki dia menyatakan cinta padamu. Dan dia sangat membuatku kesal saat mendesakmu membalas cintanya," dengus Ravka seraya membuang tatapannya dari Alea.
Insting Alea bergerak cepat menyadari kecemburuan Ravka mulai memenuhi jiwa. Alea tak mau bertengkar dengan Ravka sesaat sebelum perjalanan Honeymoon mereka. Apalagi yang menjadi masalah adalah seorang pria diantara mereka.
Dengan cepat gadis itu melancarkan serangan, demi melumerkan hati yang tengah memanas. Alea langsung memeluk suaminya dengan manja seraya mengecup lembut pipi Ravka. Cara ampuh yang sudah sangat dikuasai oleh Alea. Suami posesifnya itu, memang mudah sekali terbakar api cemburu. Namun, mudah pula bagi Alea memadamkan bara api yang mulai terpercik hanya dengan satu kecupan lembut.
"Lagi mikirin apa sih, istriku ini," bisik Ravka membuayarkan lamunan Alea, saat nafas hangat sang suami menggelitik di telinga.
"Kamu ngagetin aja sih, Mas," Alea memberengutkan bibir.
"Kamu tambah cantik kalau lagi cemberut gitu. Jadi pengen nyosor."
"Iya, tenang saja. Aku masih sabar kok sampai nanti malam," ucap Ravka penuh janji tersirat di dalamnya membuat wajah Alea bersemu merah.
"Mau diturunkan dimana, Den?" tanya Dito membungkam mulut Ravka yang berniat menggoda Alea.
Kegiatan yang sekarang menjadi salah satu daftar favorite seorang Ravka Mahendra. Dia menyukai wajah merona sang istri setiap kali digoda.
"Di depan situ saja, Pak." Tunjuk Ravka pada posisi tak jauh dari pintu masuk area keberangkatan Bandara.
Dimana disana sudah berjejer troly yang bisa penumpang pesawat gunakan saat hendak masuk ke dalam ruang tunggu Bandara untuk mengangkut barang bawaan mereka.
Setelah turun dari mobil, Ravka meminta sopir langsung kembali ke rumah. Tanpa menunggu waktu lama, mereka memasuki Area Bandar Udara Halim Perdana Kusuma yang terletak di wilayah timur Jakarta. Tangan kirinya dengan enteng menggeret koper berisi peralatan ia dan sang istri. Sementara tangan kanannya menggenggam erat jemari Alea. Dibelakang mereka, Kania setia mengekori dua sejoli itu.
Tanpa kendala, mereka melewati pemeriksaan di pintu depan Bandara. Lalu Ravka mengajak Alea dan Kania ke sebuah private lounge yang dikhususkan bagi penumpang pesawat carteran.
"Al, kamu masuk duluan yah bareng Kania. Cari tempat senyamannya kamu. Aku mau ke restroom dulu," ucap Ravka saat mereka sudah berada persis di depan pintu masuk lounge.
"Yaudah sini tasnya biar aku bawain," ucap Alea seraya mengulurkan tangannya hendak mengambil alih koper dari tangan Ravka.
"Udah ga apa-apa, aku aja yang bawain." Ravka menepis tangan Alea.
"Kamu mau ke toilet geret-geret tas begitu apa ga ribet? Udah sih, Mas sini aku bawain. Biar kecil gini tenaga ku kuat loh." Alea mengulurkan tangannya kembali meraih koper yang di bawa Ravka.
"Iya deh, wonder women ku," kekeh Ravka seraya mencubit hidung Alea gemas.
Alea memasuki ruang tunggu khusus yang disediakan bagi penumpang pesawat carteran atau penumpang pesawat komersil untuk first class. Ia mengedarkan pandangan mencari tempat yang sekiranya kosong dan nyaman untuk mereka tempati sembari menunggu jadwal keberangkatan dua puluh menit mendatang. Lounge itu cukup luas dengan segelintir orang di dalamnya. Hingga begitu banyak tempat kosong tersedia yang bisa Alea pilih.
"Hi, Alea," teriak sebuah suara menarik perhatian gadis yang namanya disebut.
Alea celingukan mencari asal suara. Dari kejauhan dia melihat sebuah tangan melambai padanya. Melihat gesture tubuh lelaki itu, Alea seperti mengenalnya. Ia melangkah menghampiri pria yang masih melambaikan tangan dengan Kania masih setia mengikuti.
"Pak Zai," sapa Alea ketika ia sudah sampai di tempat lelaki itu duduk bergerombol dengan beberapa pria lainnya. Sementara di meja sebelahnya terlihat beberpa perempuan melirik tak suka sembari berbisik.
"Oh, ayolah, Al. Berapa kali aku bilang jangan panggil aku dengan embel-embel, Pak," sungut Zai sebal.
"Maaf, Zai. Aku akan ingat setelah ini."
"Nah, begitu dong." Zai mengembangkan senyum termanis yang bisa ia suguhkan, "Gabung sini aja yuk," ucap Zai cepat seraya mendorong Dandi agar bergeser meninggalkan kursi yang tengah didudukinya.
Belum sempat Dandi beranjak, Alea menggelengkan kepala menolak permintaan Zai. "Aku duduk disebelah aja deh," ucap Alea menunjuk meja kosong yang terletak persis di sebelah meja yang di tempati oleh Zai.
Alea mendaratkan tubuhnya di kursi paling ujung meja itu agar tidak terlalu dekat dengan Zai. Ia meyakini bahwa pria dan wanita yang bergerombol di meja sebelah itu adalah teman-teman Ravka. Karena selain Zai, Alea mengenali dua diantara empat orang wanita yang memilih duduk di meja paling ujung. Dua wanita itu adalah teman sang suami yang dulu sempat membuat Alea bergidik geli melihat tingkah polah keduanya.
Sekelabat ucapan Ravka tadi malam meniup telinganya. Tak boleh ada ramah tamah dengan teman-temannya, begitu ultimatum yang dapat ditangkap oleh Alea dari rentetan larangan yang dilontarkan oleh sang suami. Membuat gadis itu merasa risih dan tidak tahu bagaimana harus bersikap dihadapan Zai yang kini sudah memindahkan duduknya persis di sebelah Alea, diikuti seorang lagi teman pemuda itu yang tidak Alea kenal, memilih duduk di sebelah Kania.