Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
Part 117# Gagal


Ravka berdecak saat matanya menangkap tiga orang yang ia kenal dengan sangat baik, berjalan mendekat ke arah ia dan Alea yang tengah menikmati pagi mereka.


"Kamu ngapain ngajak mereka kesini sih?" seru Ravka tak dapat menyembunyikan nada tak suka dalam suaranya.


"Lah emang merekanya yang lagi pengen lari pagi kok. Aku ga ngajak-ngajak," elak Alea.


"Tapi ga usah pake manggil mereka buat gabung kesini juga."


"Loh, emang kenapa Mas? Mereka kan adek-adek kamu?" tanya Alea heran.


"Mereka itu tukang rusuh. Aku kan juga pengen nikmatin waktu berdua kamu doang. Kita tuh jarang-jarang punya waktu pacaran kaya begini."


Alea menggeleng kepala seraya berdecak. "Kamu tuh Mas ... Mas .... Cemburu kok ya sama adek sendiri."


"Jangankan sama mereka, sama iketan rambut kamu juga aku cemburu."


"Iketan rambut?" Alea menautkan alisnya menatap sang suami yang memasang wajah serius.


"Ya habis, dia bisa nempel-nempel kamu mulu. Akukan juga pengen, nempel-nempel sama kamu tiap waktu tiap saat," ujar Ravka membuat Alea tergelak hingga tersedak bubur yang tengah dikunyahnya.


Ravka buru-buru menyambar botol mineral di dekatnya, lalu menyodorkannya ke bibir Alea. Sembari memegang tengkuk gadis yang masih terbatu-batuk tersebut, Ravka menuntun Alea meminum mineral water yang disodorkannya.


"Makanya kalau lagi makan itu jangan ketawa," ujar Ravka setelah Alea sudah meloloskan makanan yang tersangkut di tenggorokannya.


"Habis kamu receh banget sih, Mas," ucap Alea sembari mengelap sudut matanya yang berair.


Ravka mengambil tisu dibatas meja yang dapat dijangkau tangannya, kemudian mengelap bibir istrinya yang basah setelah minum.


"Cie ... cie ... sok-sok an romantis nih ye," ucap Sandra seraya menghempaskan tubuhnya di kursi depan Ravka dan Alea.


"Halah, romantis kok ya ga modal. Masa romantisan dipinggir jalan?!" sambar Tiara ikut mendaratkan tubuhnya di kursi sebelah Sandra.


"Salut gue sama lu, Al," ucap Nino seraya mengacungkan dua jempolnya ke arah Alea.


"Kenapa lu? Mau caper ama bini gue?" sambar Ravka mendelik tajam pada Nino.


"Santai aja Boss, ga usah ngegas. Mana berani gue saingan ama lu. Ambil dah Alea buat lu. Kekepin bila perlu," oceh Nino menghadirkan tawa di bibir dua gadis yang melirik Alea dengan ekspresi mengejek.


"Gue cuma salut. Seorang Alea bisa ngebut lu jadi ga punya malu. Lu bisa makan dipinggir jalan aja udah top. Ditambah sok romantis pula. Pake suap-suapan sama lap-lapan segala. Udah kaya sinetron aja," ledek Nino seraya duduk di kursi tak jauh dari kursi tempat Ravka dan Alea duduk.


"Resek emang lu. Bilang aja ngiri," sambar Ravka.


"Ih, amit-amit gue ngiri ama lu," balas Nino lagi.


Ketiga muda-mudi itu lantas memesan masing-masing satu mangkok bubur Ayam.


"Pak tambah dua lagi yah. Anterin buat dua orang yang lagi disana," tambah Alea setelah Mamang tukang bubur ayam mengulang pesenan Nino dan kedua adik iparnya seraya menunjuk dua bodyguard adik iparnya yang sudah bergabung dengan Debora.


Ketiga bodyguard itu terlihat asik berbincang di bawah pohon rindang tak jauh dari tempat mereka makan.


"No .... " ucap Ravka menggantungkan ucapannya.


Nino dapat memahami isyarat yanh dilayangkan oleh atasannya itu meski hanya dua huruf yang keluar dari mulut Ravka.


"Kasusnya sekarang sudah sampai tahap lidik Boss. Ga lama lagi berkas udah bisa lempar ke kejaksaan. Cuma sekarang, Rama masih DPO. Tapi orang kita sudah mencium dimana keberadannya. Seharusnya tidak lama lagi semua bisa berjalan sesuai rencana," jelas Nino panjang lebar.


Ravka meletakkan sendok ke mangkok yang sudah kosong. Kemudian memusatkan perhatiannya pada Nino.


"Ada kabar dari Deven?" Ravka menautkan alisnya saat menyebutkan nama orang suruhan yang sudah sangat dipercaya oleh Ravka.


Wajah Nino tampak meragu. Tak yakin apakah ia harus menjawab pertanyaan Ravka dengan gamblang. Ravka memindahkan posisi duduknya di hadapan Nino yang berada di meja yang bersebelahan dengan meja yang kini ia tempati. Mereka berdua kemudian terlibat perbincangan serius.


Sandra yang mendengar nama Rama disebut-sehut dalam perbincangan Ravka dan Nino, memilih menulikan pendengarannya. Ia lebih baik tak mengetahui apapun yang masih ada kaitannya dengan Rama, dengan begitu ia bisa memendam ingatan akan kejadian buruk di Cisarua waktu itu ke cerebrum terdalamnya.


Melihat raut wajah Sandra yang berubah saat mendengar nama Rama tercetus dari mulut suami beserta asistennya, membuat Alea memahami apa yang tengah dirasakan oleh gadis itu.


"Jadi gimana San, berhasil deketin Nino?" bisik Alea yang mencondongkan tubunya ke depan wajah Sandra, agar suaranya tak dapat ditangkap oleh pemuda yang namanya tengah disebut-sebut.


"Yah, Kakak bisa liat sendiri kan. Boro-boro ngedeketin, yang ada jadi judul sinetron. Semakin ku kejar kau semakin menjauh," sambar Tiara memahami umpan yang dilempar Alea.


Sontak Tiara dan Alea tergelak yang hanya dibalas memanyunkan bibir oleh Sandra.


"Kamu masih mending, San. Nino masih mau balik nyamperin kalian. Lah aku dulu lebih parah, ditinggal gitu aja sama Mas Ravka tiap kali nemenin dia lari pagi disini. Tiap hari loh itu," ucap Alea mengibaskan tangannya di hadapan Sandra.


"Seriusan Kak?" mata Sandra membulat seketika. Pun dengan Tiara yang langsung meneguk air mineral milik Alea di atas meja saking kagetnya.


"Dulu aku selalu dicuekin sama Kakak kalian. Tiap habis lari pagi, aku pasti ditinggal. Bubur inilah yang bikin aku kuat menghadapi kenyataan," kekeh Alea seraya mengingat bagaimana ia berusaha sejajar dengan Ravka, tapi selalu membuat pria itu semakin kencang berlari.


Alhasil Alea harus rela berlari di belakang pemuda itu. Menemani dalam diam, menunggu kesempatan yang tak kunjung datang, agar bisa dekat dengan sang suami. Sampai akhirnya ia hampir menyerah. Namun, Allah berkehendak lain. Suaminya justru menyatakan cinta disaat ia berniat pasrah.


"Hai Nona manis. Lama ga keliatan," sapa seorang pria menghampiri Alea. "Boleh gabung kan?!" lanjut pria itu seraya menduduki kursi yang tadi ditempati oleh Ravka tanpa dipersilahkan terlebih dahulu.


Ketiga gadis yang tengah asik berseda gurau itu, hanya bisa terbengong dengan kedatangan pria yang tak mereka kenal.


Tidak sepenuhnya sesungguhnya. Meski tak mengenali pria yang duduk disampingnya, Alea menyadari siapa pria itu. Pria yang selalu menghampiri Alea setiap dia memutuskan menghambiskan waktu di taman sejenak setelah lelah mengejar Ravka. Entah hanya sekedar duduk mengusir lelah atau menyantap sarapan di pinggir jalan.


**********************************************


Si emak2 ini lagi galau.. kalian komennya yang bagus2 aja dulu ya... yang protes dan punya unek2 sama ceritanya simpen buat besok.. bair hati emak seneng dan semangat liat komen kalian.. tapi kalo krisan tetep dipersilahkan dengan syarat pakai bahasa yang santun...


sabar nunghi episode selanjutnya.. besok aku pasti up.. karena tau kalian pasti bilang part ini gantung.. yang penting kangen keuwuan Alea Ravka terobati sementara..


btw seperti biasa daku mau rekomen cerita temenku yah...