Pernikahan Paksa Alea

Pernikahan Paksa Alea
Part 103# Hadiah Tak Terduga


Derai tawa membahan di dalam kamar Alea. Senyuman bahagia tampak lekat dan tak pernah surut dari wajah gadis itu. Baru kali ini ia merasakan kebahagiaan utuh setelah menjadi bagian dari keluarga Dinata. Kehangatan sebuah keluarga memeluknya erat. Ditambah cinta suami membuat hidup Alea terasa sempurna. Tak ada lagi yang perlu ia khawatirkan. Beribu syukur ia panjatkan pada jalan takdir yang memeluknya, meski harus melewati jalan terjal berliku untuk bisa menikmati indahnya padang bunga yang bermekaran di hati.


"Pasti lagi ngelamunin Mas Ravka yah? Senyum-senyum sendiri gitu?" ledek Tiara menarik Alea kembali dari lamunannya.


Alea tak membalas atau menjawab ledekan Tiara. Ia justru memandang wajah gadis itu dengan penuh haru. "Makasih yah, kalian udah mau nerima aku sebagai bagian dari keluarga ini," ucap Alea membuat keharuan turut merayapi hati Tiara begitupula Sandra.


"Ga perlu terimakasih kali Kak. Kita yang harusnya minta maaf sama kamu karena udah salah paham selama ini," ucap Tiara seraya merangkulkan tangannya pada tubuh mungil kakak iparnya.


"Aku juga mau minta maaf karena sikap aku yang udah keterlaluan sama Kak Al," Sandra ikut mendekap erat tubuh kedua perempuan dihadapannya.


"Kok kita jadi melow gini, sih?" ucap Alea seraya terkekeh geli. Namun, sudut matanya sudah basah tergenang butiran bening yang merembes karena rasa haru yang membuncah.


Deringan telepon memecah keharuan yang sedang melingkupi ketiga gadis itu. Dengan segera Alea meraih ponselnya. Nama yang tertera di kayar ponsel membuat Alea seketika panik.


"Mas Ravka video call," ucap Alea menularkan kepanikan pada Tiara dan Sandra.


Dengan gerakan secepat kilat keduanya membersihkan tempat tidur yang bertaburan bungkus snack. Begitu pula nakas di sebelah tempat tidur yang sudah dienuhi gelas minuman mereka. Untung saja Service Trolley masih ada di dalam kamar. Tanpa dikomando, Alea turut membantu kedua adik iparnya merapihkan kamar yang sudah berantakan akibat ulah mereka bertiga. Baik tempat makanan yang bersisa maupun yang sudah tandas mereka tumpuk jadi satu tanpa mereka pilah.


Sementara dering telpon masih terus meraung-raung, memacu degup jantung berdetak tak beraturan.


"Kak, kamu cuci muka sana," titah Tiara dengan tangan terus bergerak.


"Kok cuci muka sih?" tanya Alea heran.


"Itu telpon ga diangkat-angkat, tar yang ada Mas Ravka ngoceh-ngoceh. Kalau kamu bilang baru bangun tidur, mukamu masih seger. Tapi kalau basah, bisa bilang kamu lagi di kamar mandi makanya angkat telpon lama," jelas Tiara.


"Ketauan yah, kamu sering ngeles sama Mas Ravka. Bisa aja akalnya. Cepet gitu mikirnya," sergah Alea seraya menggelengkan kepala, tapi tak urung ia melangkahn kaki dengan segera menuju kamar mandi.


Saat Alea keluar dari kamar mandi, kedua adik iparnya tengah duduk di sofa dengan terengah-engah. Tempat tidur yang tadi acak-acakan kini terlihat bersih dan rapi. Service trolley juga sudah mereka letakkan di sudut kamar. Alea bergegas meraih ponsel dan merebahkan diri bersandar pada kepala dipan.


"Assalamualaikum Mas," sapa Alea setelah ia menggeser icon berwarna hijau pada layar ponsel.


"Waalaikumsalam," jawa Ravka dengan ketus. "Kamu dari mana aja? kok baru angkat telpon aku sekarang?" seru Ravka setelah menjawab salam Alea.


"Hmm ... tepat seperti kata Tiara. U tung aku langsung cuci muka," keluh Alea dalam hati.


"Dari kamar mandi Mas. Nih habis cuci muka," ucap Alea seraya menunjukkan wajah yang masih digenangi air.


"Aku ga bohong loh Mas, aku beneran dari kamar mandi dan habis cuci muka." Alea mencoba meyakinkan dirinya sendiri.


"Jam segini kok baru cuci muka? Kamu habis dari mana?" Ravka menyipitkan matanya dari layar ponsel.


"Ga dari mana-mana Mas. Tadi habis makan malem, aku ngobrol sama Sandra dan Tiara ampe lupa waktu."


"Yakin habis ngobrol sama mereka? Bukan asik ngonrol sama yang lain?"


"Yakin lah Mas. Kalau ga percaya kamu telpon aja Tiara apa Sandra, tanya sama mereka aku ngapain aja pulang kerja. Bila perlu tanya Debora, habis kerja aku kemana aja," oceh Alea sebal.


"Habis, kamu kayanya anteng-anteng aja aku tinggal ke luar kota. Ga ada kangen-kangennya gitu?" seru Ravka kesal.


"Ya kangen lah Mas," jawab Alea menahan risih berbicata seperti di hadapan kedua adik iparnya.


"Kok ga telpon aku?" cecar Ravka lagi.


"Yah kan aku ga mau gangguin kamu kerja. Makanya aku ngobrol sama Sandra dan Tiara biar ga terlalu mikirin kamu. Udah sih, video call cuma buat ngomelin aku doang nih," Alea mulai memajukan bibirnya.


"Ya enggaklah, aku kan kangen sama kamu," ucap Ravka melembutkan suaranya.


Alea menahan senyum yang hampir terbersit di bibirnya menyadari Sandra dan Tiara berusaha saling membekap mulut keduanya. Kedua gadis itu hampir tak bisa menahan tawa lantaran mendapati betapa posesif dan manja Kakak mereka pada istrinya.


"Kerjaannya udah kelar?" tanya Alea mengalihkan perhatian Ravka.


"Yaudah buruan selesein kerjaannya biar cepet pulang. Jangan nakal loh disana,"


"Hmmm... oh ya, kamu udah liat hadiah yang aku kasih?" tanya Ravka dengan tak sabar.


"Belom," ucap Alea polos.


"Aku tuh simpen kotaknya di lemari tadi pagi, masa belom liat?"


"Bentar yah Mas, aku ambil dulu," ucap Alea seraya bergegas turun dari kasur menuju ke lemari.


Tiara dan Sandra menggeser tubuhnya ke ujung sofa agar tak sampai tertangkap kamera video. Sementara Alea kembali ke kasur dan duduk bersila diatas kasur. Sebelah tangannya masih memegang ponsel yang terhubung dengan sang suami. Sebelahnya lagi, bekerja dengan susah payah membuka bungkusan kado demi melihat isi hadiah yanh dibelikan Ravka untuknya.


Alea mengangkat hadiah yang berada di dalm kotak dengan wajah memerah karena malu. Gelagatnya jadi canggung dan salah tingkah.


"Ini kamu belii buat aku Mas?" tanya Alea terbata.


"Iyah sayang itu khusus buat kamu. Aku pilihin sendiri loh," ucap Ravka seraya tersenyum lebar.


Alea mendelik pada suaminya. Ia mengangkat isi dalam bungkusan kado itu dan memperlihatkannya di depan kamera agar suaminya dapat melihat dengan jelas.


"Kamu pilihin ini buat aku?" tanya Alea lagi seraya membuka lebar hadiah tersebut.


"Apa itu?" tanya Ravka heran.


"Loh kok malah nanya balik sih Mas? Kan kamu bilang kamu yang pilihin ini buat aku?" Alea masih tampak tak oercaya dengan hadiah pemberian suaminya.


"Tapi bukan itu hadiah yang aku beli buat kamu." ucap Ravka mengernyitkan dahi.


Tiba-tiba gelegar tawa dari Tiara dan Sandra memekakkan telinga Alea. Kedua gadis yang sedari tadi bersembunyi dari kamera ponsel, membuka persembunyian mereka dengan tawa yang menggema. Keduanya tampak terpingkal-pingkal seraya memegang perut. Air mata sudah mengalir saking tak tahannya melihat wajah polos Alea yang sudah memerah karena hadiah sang suami.


"Siapa itu?" tanya Ravka tiba-tiba.


"Alea memutar kamera ponselnya memperlihatkan Tiara dan Sandra yang sudah berhamburan menuju kasur.


Tiara dengan cepat merebut hadiah yang dipegang oleh Alea. Ia kemudian membuka lebar hadiah itu dan mematutnya pada tubuh jenjangnya. Sebuah lingerie berbahan renda tembus pandang berwarna merah cerah menempel pada tubuh Tiara yang berpose bak model. Sementara di sebelahnya Sandra maaih terbahak-bahak.


"Wooww ... Mas Ravka emang too. Tau aja lingerie bagus. Ini Victoria's Secret loh," ledek Tiara seraya menahan gelak tawa.


"Al .... " suara bariton Ravka membuat Alea dengan segera memutar kamera menghadap padanya. "Kenapa mereka ada disana?" tanya Ravka saat wajah Alea kembali memenuhi layar ponel.


"Mereka nginep disini Mas. Nemenin aku," senyum kaku Alea perlihatkan.


Ada perasaan takut jikalau sang suami akan marah. Apalagi insiden lingerie itu sepertinya membuat wajah Ravka tak hanya memerah, tetapi seakan ingin menelan dirinya bulat-bulat.


"Aku akan hubungi kamu lagi setelah ini untuk meminta penjelasan, kenapa mereka bisa ada disitu dan kamu tidak memberitahuku dari tadi? Sekarang aku harus menemui Nino terlebih dahulu untuk menyelesaikan soal kado yang kubeli untukmu," ucap Ravka penuh penekanan.


"I-iya Mas," balas Alea dengan takut-takut.


"Kalian udah buat masalah untukku," ucap Alea lemas setelah sambungan video call dengan suaminya terputus.


**********************************************


sambil nunggu up selanjutnya bisa intip karya ini dulu yah gaes...