
"Mas Ravka sebetulnya kemana sih, No? Dari semalem pergi sampe sekarang aku ga tau dia kemana" Tanya Alea seraya melirik Nino di sebelahnya.
"Entahlah. Gue cuma diminta nganterin lu pulang secepetnya. Soalnya mau ada acara makan malam keluarga, dan lu udah harus sampai rumah sebelum makan malam dimulai,"
"Makan malam keluarga untuk apa?"
"Mana gue tau. Gue kan hanya orang luar. Mestinya kan lu lebih tau," Jawab Nino cuek dibalik kemudi mobil.
"Kok aku?" Tanya Alea heran.
"Gini yah, mau lu ngelak gimana juga. Gue tau pasti kalau ada apa-apanya antara lu sama Ravka. Kalo ga ada, ga mungkin lu sekamar sama dia, bahkan sekarang lu tinggal di rumah keluarga Dinata dan diminta hadir di acara makan malam keluarga,"
"Kamu kenapa penasaran banget sih sama hubungan aku dan Mas Ravka?" Alea balik bertanya.
"Yah, supaya gue ga salah menentukan sikap aja,"
"Maksudnya?"
"Yah, sejujurnya sih gue tertarik waktu pertama kali ngelihat lu di dermaga. Lu kelihatannya baik dan polos, tipe-tipe gue lah. Gue berniat ngedeketin lu, kalau lu masih bebas tentunya. Tapi Feeling gue bilang, kalu lu mungkin aja udah nikah sama Ravka"
"Kenapa kamu bisa berpikiran begitu?"
"Lu pikir gue bisa jadi asprinya Ravka karena apa? Jadi aspri cowok introvert kaya dia, gue mesti pinter-pinter baca suasana hati dan situasi yang terjadi disekeliling dia," Ucap Nino yang dibalas kebungkaman oleh Alea. "Jadi benerkan tebakan gue?" Nino memperhatikan perubahan raut wajah Alea dari sudut matanya.
"Yah ga ada bedanya juga sih kamu bener atau salah,"
"Ya adalah. Kalau lu emang beneran udah nikah sama Ravka, gue mesti jaga sikap sama lu yang berstatus sebagai Istri dari Boss Gue,"
"Yah ga gitu juga kali No. Aku lebih suka sama sikap kamu yang seperti ini. Aku jadi ngerasa kaya punya temen,"
"Jadi bener, lu udah nikah sama Ravka?" Selidik Nino.
"Cuma di atas kertas," Jawab Alea dengan wajah murung. Di sebelahnya Nino menautkan kedua alisnya, melemparkan raut wajah penuh tanya kepada Alea. Namun, Alea sedang asik melemparkan tatapan pada pohon-pohon yang seolah berlarian meninggalkannya dari dalam mobil. Sehingga ia tidak memperhatikan pertanyaan yang dilemparkan Nino melalui tatapan matanya.
"Maksudnya cuma di atas kertas?" Akhirnya Nino memberanikan diri menanyakannya langsung kepada Alea.
"Seperti yang kamu lihat, bagaimana sikap Mas Ravka dan keluarganya terhadap ku. Aku seakan tidak bisa menjadi bagian dari keluarga mereka, meski Aku sudah menikah dengan Mas Ravka," Ucap Alea seraya menghela nafas pasrah.
Jawaban Alea semakin membuat pemuda itu penasaran. Akan tetapi dia tahu batasan diri, samapai dimana dia bisa memenuhi rasa keingintahuannya dan kapan saatnya dia berhenti untuk ikut campur terlalu dalam kepada sesuatu yang bukan menjadi urusannya.
"No, kita masih bisa berteman kan? Aku lebih suka kamu bersikap biasa, itu membuatku lebih nyaman," Ucap Alea saat menyadari Nino membungkam sedari tadi. Tidak banyak bicara ataupun mencecar dirinya dengan berbagai pertanyaan seperti sebelumnya.
"Yah bagaimanapun, kamu tetap istri atasan saya,"
"Nino, please. Kamu kan juga temennya Mas Ravka. Anggap aja aku istri temen kamu, bukan istri atasan kamu. Kita juga bisa bertemankan?!"
"Baiklah, mulai sekarang kita berteman. Okay," Ucap Nino akhirnya dengan senyum yang merekah.
*************
"Kak, kenapa Kak Sherly nikahnya sama Mas aAlex? Bukannya Kak Sherly tunangan Mas Ravka?" Tanya Sandra sembari tidur-tiduran di ranjang empuk sambil tengkurap dan mengayunkan kedua kakinya ke atas.
"Ga ngerti dek, bingung Kakak juga. Tapi kata Mama, Mas Ravka juga udah nikah sama orang lain," Jawab Tiara seraya mengenakan baju yang baru saja ia ambil dari lemari pakaiannya.
"Tapi kok kita ga ngehadirin pernikahan abang kita satu-satunya? Aku kan pengen juga ngehadirin pernikahannya Mas Ravka. Lagipula kenapa pernikahan mereka ga dibuat resepsi yang besar seperti Mas Alex dan Kak Sherly sih?"
"Kita ga usah ikut campur masalah orang dewasa,"
"Tapi kan Kak...."
"Udahlah dek, ga perlu dibahas lagi. Yang penting sekarang, kondisi rumah adem ayem. Ga ada lagi pertengkaran di dalam rumah ini. Aku bosen kalau harus denger para orang tua bertengkar,"
"Aku ga yakin kondisi keluarga kita bakalan adem ayem setelah ini. Aku ga ngebayang kak, gimana perasaan Mas Ravka melihat tunangannya menikahi sepupunya sendiri,"
"Siapa tau Mas Ravka malah lebih bahagia dengan wanita yang menjadi istrinya?" Balas Tiara seraya melempar tatapan tajam kepada Sandra sembari menaikkan kedua alisnya.
"Aku penasaran, siapa sih cewek yang dinikahi Mas Ravka?"
"Bentar lagi kita juga bakalan tau," Ucap Tiara merapihkan pakaian yang baru saja dikenakannya. Ia memoles sedikit bedak dan lipstik di wajahnya, hanya agar terlihat segar dan rapih.
"Ngapain dandan sih Kak? Orang cuma makan malem di rumah doang,"
"Yah walaupun cuma makan malam di rumah seperti biasa, tapi kata Mama ini makan malam resmi menyambut anggota baru keluarga kita. Setidaknya kita menunjukkan rasa hormat dan menghargai orang lain dengan berpenampilan rapi dan tidak asal-asalan kaya kamu," Ucap Tiara merujuk pada penampilan adiknya yang hanya menggunakan kaos dan celana pendek, tanpa polesan make up diwajahnya serta rambut yang hanya dikuncir kuda.
"Ih, Kak Ara lama-lama kaya Mama deh. Ribet. Udah kan dandannya? Yuk buruan turun," Sandra menarik tubuhnya beranjak dari kasur yang ditempatinya. Menggandeng paksa Kakaknya untuk segera keluar dari kamar.
Kedua Kakak beradik itu tertegun saat berpapasan dengan seorang gadis ketika keluar kamar. Mereka memperhatikan dengan seksama Gadis yang belum pernah mereka jumpai. Gadis itu melayangkan senyum ramah kepada keduanya. Dengan spontan Tiara membalas senyuman ramah Alea.
"Kamu siapa? kenapa bisa ada disini?" Seru Sandra tanpa basa basi.
"Kenalkan, Aku Alea," Ucap Alea sembari menyodorkan tangannya.
"Tiara," Ucap Tiara menyebutkan namanya seraya menyambut jabatan tangan Alea.
"Sandra," Hal serupa dilakulan oleh Sandra mengikuti apa yang dilakulan oleh Tiara.
"Terus ngapain disini?" Tanya Sandra yang selalu to the poin.
"Sopan dikit dek," Tegur Tiara. Meski sebetulnya gadis itu sama penasarannya dengan Sandra.
"Aku tinggal disini sekarang," Jawab Alea lembut. "Oia, aku tinggal dulu yah, mau ganti baju," Alea beranjak dari tempatnya berdiri menuju kamar yang kini ia tempati bersama Ravka.
Baik Sandra maupun Tiara mengikuti arah perginya Alea melalui sorot matanya. Mereka kemudian terperanjat ketika menyadari kamar yang hendak dimasuki oleh Alea. Bergegas mereka menyusul gadis itu sebelum ia menghilang di balik pintu.