
Alea merapatkan tubuhnya pada Ravka. Bisingnya suara baling-baling bercampur dengan cipratan air akibat gesekean lambung kapal yang menempel pada kaki pesawat, menghadirkan sensasi tersendiri bagi Alea yang tak pernah menggunakan moda transprotasi jenis amphibi.
Saat pesawat kecil itu mulai menukik tajam, Alea sontak memeluk erat sang suami. Goncangan dari pesawat kecil itu, saat pilot menyeimbangkan badan pesawat, menghadirkan denyutan di jantungnya.
Gadis itu tak mampu membalas kekehan sang suami yang menertawakan ketakutannya. Ia hanya membenamkan kepala di balik dada Ravka sembari melingkarkan tangannya dengan erat di pinggang lelaki bertubuh kekar dengan otot-otot kuatnya.
"Kamu ga mau liat keluar? Pemandangan dari atas sini bagus banget loh. Nyesel entar kalau ga liat," bisik Ravka di telinga Alea tatkala pesawat sudah terbang lurus.
Alea menggelengkan kepala dalam dekapan Ravka. Meski pesawat tak lagi terasa miring, tapi tiupan angin pantai yang kencang tetap membuat pesawat kecil itu terguncang.
Ravka memutar tubuh istrinya menghadap ke depan. "Lihatlah keluar, pasti rasa takutmu akan tertutupi dengan keindahan alam di luar sana. Aku juga akan tetap memelukmu dengan erat," bisik Ravka lagi.
Alea yang sedari tadi hanya memejamkan matanya, perlahan mulai mengerjap. Ia dapat merasakan rengkuhan erat lengan Ravka melingkupi tubuhnya, menghadirkan rasa aman dan nyaman.
"Wow, indah banget, Mas," ucap Alea saat kedua bola matanya melebar dengan sempurna.
Kerlip cahaya matahari yang memantul diatas permukaan laut membentang di bawah sana. Membias bak permata yang berkilauan diatas hamparan laut biru, dengan air sejernih kristal menjorok ke pantai berpasir putih. Dari atas pesawat yang ditumpanginya, Alea menikmati pemandangan indah dibawah sana yang menyajikan gradasi warna yang kontras menyejukkan mata.
Lama kelamaan gadis itu mulai bisa melepaskan ketegangan yang menggerayangi raga. Ia menyandarkan tubuhnya pada dada Ravka yang semakin mempererat pelukannya, seraya melempar tatapan sejurus ke depan. Menyaksikan keindahan lukisan ciptaan Sang Maha Kuasa. Di luar sana langit cerah bermentari. Membuat suasana hati ikut menari ceria, meneriakkan berjuta kebahagiaan. Menerbitkan senyum yang terlukis di wajah pasangan yang tengah di mabuk asmara.
"Aw .... " pekik Alea saat pesawat menukik tajam ke bawah setelah tiga puluh menit mengudara.
Alea terkekeh pelan, diikuti suara tawa Ravka yang terdengar renyah di telinga.
Hempasan badan pesawat saat menyentuh permukaan air, kembali mencipratkan air yang menghempas di jendela pesawat. Namun, kali ini tak ada ketakutan yang menghujan, justru gelak tawa yang Alea hadirkan. Meresapi pengalaman baru yang turut mengguncangkan tawa di dalam pesawat.
"Kamu, menyukainya?" bisik Ravka sesaat sebelum pesawat itu menghentikan lajunya di sebuah dermaga kecil yang telah dipersiapkan oleh pihak R**esort untuk menyambut kedatangan para pelancong di destinasi wisata yang mereka tawarkan.
Alea menggumam seraya menganggukkan kepala cepat. "Suka banget," imbuh gadis itu.
"Aku akan memberikan kejutan yang lebih menyenangkan daripada ini," bisik Ravka saat pintu pesawat mulai dibuka.
Alea tak menanggapi janji tersirat yang diucapkan suaminya. Ia fokus pada goyangan pesawat yang terombang ambing saat berusaha melangkah keluar kapal.
Seorang Guest Relation Officer yang biasa menanangani tamu VIP, menyambut kedatangan mereka dan mengantarkan keduanya ke kamar yang mereka pilih. Keasrian menyambut Ravka dan Alea sepanjang jalan. Tampak deretan pepohonan hijau yang memberikan kesan damai dan menyejukkan sejauh mata memandang. Four Season Resort di Landaa Giraavaru memang menawarkan konsep hutan sebagai daya tarik tersendiri. Membuat destinasi keasrian dari hutan dan laut melebur menjadi satu kesatuan.
Mereka berjalan menuju sebuah kamar di dekat pantai yang menjadi pilihan Ravka untuk mereka tempati malam ini.
"Kamu tahu, kamu menyempurnakan semua keindahan disini," bisik Ravka di telinga Alea.
Lelaki itu sudah menyelipkan lengan di perut Alea seraya menumpangkan dagunya di bahu gadis itu. Alea tersentak kaget dan tersenyum saat menyadari bahwa suaminya sudah merengkuhnya erat. Ia meletakkan tangannya di atas tangan Ravka yang melingkar di perutnya.
"Dan kamu membuat semua keajaiban ini menjadi nyata, Mas," ucap Alea dengan senyum yang ia tepis di bibirnya yang merekah.
Alea merebahkan kepalanya bersandar pada kepala Ravka di bahunya. Menyesap semua rasa yang tertanam dalam hati. Rasa syukur tiada tara memiliki cinta dari suaminya.
"Berenang yuk, Mas," ucap Alea termakan bujuk rayu air jernih yang berkilau dikejauhan seolah minta dijamah.
"Masih panas, Al. Kamu ga liat matahari sudah siap membakarmu hidup-hidup?" seru Ravka menunjukan cahaya menyengat yang dipancarkan sang surya.
Di atas sana, mentari memang sedang berdiri kokoh di singgasananya. Siap menerkam siapa saja yang berani menantang, seakan sanggup ******* habis kulit-kulit putih dengan sinarnya yang terik.
"Kita berenang nanti sore saja sambil menunggu sunset, pasti lebih menyenangkan," bisik Ravka lagi.
"Aku hanya sudah tidak sabar bermain dengan jernihnya air laut."
"Aku punya kegiatan yang lebih menyenangkan untuk kita nikmati sambil menunggu sore," ucap Ravka dengan suara serak mendominasi.
Ravka lantas menyelipkan tangan di lekuk lutut Alea dan pinggangnya. Membawa gadis mungil itu ke dalam gendongan ala bridal style. Ia kemudian memagut bibir mungil itu dengan perasaan membara seraya berjalan memasuki kamar yang didominasi warna putih bersih.
Alea mengalungkan lengannya di leher sang suami, mengimbangi pagutan lembut yang menuntut. Kehangatan yang diciptakan bibir penuh Ravka membuat Alea tak menyadari bahwa lelaki itu telah berhasil mencapai tempat tidur berukuran besar dan meletakkan tubuhnya disana. Melanjutkan kegiatan menyenangkan yang dijanjikan oleh suaminya.
Hingga sore menjelang, kedua sejoli itu masih menikmati waktu mereka berdua di dalam kamar.
"Kita jadi berenang?" tanya Ravka setelah menyelesaikan makan siang mereka yang sangat terlambat yang dikirimkan oleh room srevice ke kamar mereka.
"Perutku sudah kekenyangan, menghabiskan semua menu yang kamu pesan. Lagipula setelah ini kita harus bersiap untuk menghadiri acara nanti malam," jawab Alea merapikan meja bekas makan mereka.
Gadis itu lalu menumpuk piring yang telah tandas tak bersisa dan meletakkannya di ujung meja, sambil menunggu room service mengambil piring-piring yang tadinya berisi berbagai macam masakan mediterania yang menjadi andalan hotel tersebut.
Setelah itu, Alea menikmati teduhnya langit sore dengan pasir putih memenuhi sela-sela jemari kakinya yang telanjanh. Bergandengan tangan dengan Ravka ia menyusuri bibir pantai saat hari sudah mulai temaram. Meski tak jadi berenang, Alea tetap menikmati jernihnya air laut dengan memainkan riak-riak air di tepi pantai sambil menyaksikan langit jingga yang mulai meredup di ujung cakrawala.