
Flashback.
Hari sebelum Alan menyuruh Denis datang ke hotel xx jam 8, sebenarnya Ray sudah mengabari Alan lebih dulu.
Ray bertemu dengan Alan ditempat biasa mereka ketemuan.
"Al, Minggu ini Maya sudah memesan kamar di hotel xx" kata Ray, sambil melipat kedua tangannya ke dada.
Alan tersenyum senang.
"Akan Aku bongkar semua kebusukanmu salama ini" gumam Alan.
"Bagaimana Kamu tau semuanya?" tanya Alan.
"Yang punya hotel tersebut kebetulan kekasihku Al. jadi Aku meminta bantuannya Dia juga" jawab Ray.
Alan tidak tau ternyata Ray adalah kekasih dari pemilik hotel tersebut.
"Kekasihmu?" tanya Alan.
"Iya, waktu Maya memesan kamar hote itu, kekasihku langsung mengabariku" jawab Ray.
"Tapi untuk mengulur waktu, kita harus buat Denis dan Risa tidak tau dengan rencana kita" kata Alan, sambil berpikir.
Alan terdiam, lalu dia menemukan jawabannya.
"Makan malam romantis!" kata Alan.
"Didekat hotel tersebut, ketika mereka makan malam kita atur rencana kita sebaik mungkin" saut Ray, dengan sorot matanya yang begitu tajam.
"Kamu benar" Alan setuju dengan pendapat Ray.
Ketika makan malam.
Ketika makan malam, Alan sengaja meninggalkan Denis dan Risa.
Karena Alan menemui Ray dan kekasihnya Ray didalam kamar hotel.
"Bagaimana?" tanya Alan.
"Alat penyadap sudah Kamu pasang Ray?" tanya Alan lagi.
"Ray ini kunci kamar hotel Maya, kalian lanjutkan saja! Aku masih ada urusan soalnya" kata kekasih Ray, sambil memberikan kunci kamar hotel Maya pada Ray.
"Baiklah, terimakasih sayang" jawab Ray, sambil menerima kunci kamar hotel tersebut dari tangan kekasihnya.
Belum sempat Alan berkenalan, dengan kekasihnya Ray. wanita itu langsung meninggalkan Alan dan Ray.
"Semuanya sudah siap, kita tinggal jalankan misi kita selanjutnya" jawab Ray.
Alan dan Ray sudah memasang alat pendengar ditelinga, masing-masing karena itu untuk mempermudah mereka dalam berkomunikasi, mereka pun memasang alat penyadap didalam kamar Maya untuk mengetahui apa saja yang sedang dilakukan oleh Maya.
Setelah semuanya siap, Alan langsung menelpon orang suruhannya untuk menyiapkan kejutan yang sesungguhnya untuk Denis dan Risa.
Menelpon Orang suruhannya.
"Siapkan semuanya malam ini, setelah semuanya selesai Aku akan segera kesitu dengan Tuan Denis dan Nona Maya" kata Alan pada orang suruhannya.
"Siap" jawab Orang suruhan Alan.
Alan langsung mematikan saluran teleponnya.
Ntah apa yang sebenarnya disiapkan oleh Alan untuk Denis, kalo semua ini hanya sebagian dari rencananya.
Of flashback.
"Seperti itu Den ceritanya" kata Alan.
"Terus kenapa Kamu bisa tau semua tentang Maya sampai sedetail itu?" tanya Denis, sambil melihat kearah Alan.
"Aku memasang mata-mata dimana-mana, untuk mencari bukti tentang Maya, karena Aku tau suatu saat Aku akan membutuhkannya untuk membuka matamu yang begitu buta karena mencintai wanita murahan seperti Maya" jawab Alan, yang kali ini dengan begitu tegas.
Risa tersenyum pada Alan, lalu mengacungkan kedua jempolnya.
"Sekretaris Alan hebat sekali" puji Risa.
"Jangan memuji laki-laki lain dihadapan Suamimu" omel Denis karena merasa tidak terima Risa memuji kehebatan Alan dihadapannya.
Alan dan Ray saling bertos ria, karena misi dari rencana mereka berhasil dan mata Denis yang buta karena cinta sudah terbuka lebar dengan bukti-bukti yang begitu akurat.
"Oh iya Ray, mana kekasihmu?" tanya Alan.
"Dia sedang menuju kesini, itu Dia" kata Ray, sambil melihat kearah kekasihnya.
Kekasih Ray duduk disamping Ray.
"Ini adalah time sukses kita juga, Den" kata Alan.
"Kenalkan saya Raya Andriana, Saya pemilik hotel ini dan sekaligus kekasih dari Raesyah Mananta" Raya memperkenalkan dirinya pada semua yang ada situ.
"Kenalkan Aku Alan" Alan memperkenalkan dirinya.
"Aku Risa, Istrinya Denis" Risa memperkenalkan dirinya.
Setelah memperkenalkan dirinya masing-masing, mereka semua duduk disofa.
"Terimakasih Nona Raya, sudah membantu Kami dalam hal ini" Alan mengucapkan terimakasih pada Raya.
"Sama-sama Al, maaf tadi Aku meninggalkan kalian berdua soalnya Aku ada metting penting" kata Raya yang merasa tidak enak pada Alan dan Ray.
"Tidak apa-apa Nona" jawab Alan.
Karena semuanya sudah selesai, akhirnya Ray dan Raya berpamitan pada mereka bertiga.
"Al, Den, Ris, Kita pamit dulu ya! mau pacaran dulu" pamit Ray yang diiringi tawanya.
"Baiklah, nanti Aku transfer" jawab Alan.
"Siapp, kabari saja jika ada apa-apa lagi" kata Ray, yang langsung berjalan pergi meninggalkan kamar hotel tersebut.
Ray dan Raya meninggalka mereka bertiga keluar dari kamar tersebut.
Sekarang di dalam kamar hotel tersebut tinggal mereka bertiga.
"Terimakasih sudah membuatku sadar dan membuka mata bahwa Maya tidak pantas untukku, nanti Aku akan berikan bonus untukmu" kata Denis, yang sangat berterimakasih kepada Alan.
Alan tersenyum pada Denis.
"Aku melakukan ini sebagai sahabat, jadi Aku tidak perlu bonus darimu bodoh" jawab Alan, yang diiringi dengan tawanya.
Denis beranjak dari tempat duduknya, lalu menghampiri Alan dengan jailnya langsung memeluk Alan.
"Kamu memang sahabat terbaikku" kata Denis, yang terus memeluk erat tubuh Alan sebagai sahabatnya.
Alan meronta-ronta, lalu mendorong tubuh Denis hingga terjatuh.
"Den, dasar mesum! sudah tau Istrinya ada didepannya" omel Alan, yang merasa kesal.
"Dasar sekertaris kurang ajar, berani sekali Kamu mendorongku hingga terjatuh" omel Denis, yang langsung bangun dari tempatnya terjatuh.
Risa hanya menggelengkan kepalanya, melihat suaminya dan sahabatnya beradu mulut seperti biasanya.
"Kalian berdua itu memang sangat bodoh biar adil" gumam Risa.
"Kamu memelukku seperti bantal guling" kata Alan, sambil menggelengkan kepalanya.
"Sudahlah, kenapa kalian ribut terus" kesal Risa.
Akhirnya Denis dan Alan diam dalam sekejap.
"Kita pulang sekarang ya" ajak Risa, karena sudah sangat lelah.
Denis yang duduk disamping Risa, lalu memeluknya.
"Iya ayo" jawab Denis.
Alan terus melihat Denis dan Risa, Alan merasa bahagia karena sekarang Denis mencintai wanita yang tepat.
Denis dan Risa beranjak dari tempat duduknya, namun Alan tiba-tiba menghentikannya.
"Tunggu..." kata Alan.
"Ada apa?" tanya Denis.
"Ini belum selesai, tadi semuanya itu bagian dari rencanaku dan Ray dan sekarang Aku sudah menyiapkan kejutan yang sesungguhnya untuk kalian berdua" kata Alan, sambil melihat kearah Denis dan Risa.
Denis dan Risa saling menatap dengan penuh tanya dimata mereka.
"Apa ada kaitannya dengan Maya lagi?" tanya Denis, yang kini matanya sudah melihat kearah Alan.
"Tentu saja tidak, Maya kan sudah kita basmi" jawab Alan.
"Lalu?" tanya Risa.
Alan tersenyum pada Risa.
"Lalu kalian ikutlah denganku! Aku akan memberikan kejutan yang sesungguhnya untuk kalian berdua" kata Alan.
Alan berjalan menuju keluar dari kamar hotel, lalu Risa dan Denis mengikuti langkahnya Alan dibelakang Alan.
"Alan mau membawa Kita kemana?" tanya Risa, yang terus mengandeng tangan Denis.
"Aku juga tidak tau" jawab Denis.
"Diamlah jangan berisik kalian" omel Alan, yang mendengar Risa dan Denis bicara.
"Nanti kalian juga akan tau" kata Alan.
Skip.
Kini mereka sudah berada didalam mobil, Alan langsung melajukan mobilnya ketempat kejutan yang sesungguhnya.
Bersambung π