Perjodohan Karena Hutang

Perjodohan Karena Hutang
225.Alya salah paham.


"Siapa wanita yang bersama Panji?" tanya Ayumi yang juga ikut melihat Panji sedang mengobrol dengan wanita.


"Kita kesana kak......!!" Alya berjalan dengan kasar menuju ketempat Panji berdiri dengan


wanita yang sedang mengobrol dengan dirinya.


"Panjiii......." panggil Alya.


Panji langsung menoleh ke sumber suara.


"Aish Alya pasti dia akan salah paham." Gumam Panji dalam hatinya.


Alya dan Ayumi berjalan menghampiri Panji, Ayumi melihat Panji tidak bersama Alan.


"Alan mana Pan?" tanya Ayumi.


"Kak Alan aku suruh mengantri dikasir Yum," jawab Panji yang merasa bersalah.


Ayumi menatap Panji sambil geleng-geleng kepala, Panji langsung menujukan dua jarinya membentuk pis pada Ayumi.


Ayumi melihat kearah Alya, Alya terus menatap Panji dengan tatapan sangit.


"Pasti mereka akan berperang." Batin Ayumi dalam hatinya.


"Alya, Panji, aku nyusul Alan dulu ya." pamit Ayumi dan langsung berlalu meninggalkan Panji dan Alya yang masih saling tatap menatap dengan sengit.


Ayumi menghampiri Alan yang sedang mengantri dikasir.


"Sayang..." panggil Ayumi dengan lembut.


"Loh kok kesini, Alya mana?" tanya Alan yang melihat Ayumi hanya sendirian.


"Itu mereka!" Ayumi menunjuk Panji dan Alya dengan jari telunjuknya.


"Sudahlah biarkan pasti Alya dan Panji akan perang nanti." Alan hanya geleng-geleng kepala melihat Panji dan Alya.


Alan tahu tadi Panji bertemu dengan teman sekolah dulu karena Panji bercerita pada dirinya dan Panji meminta tolong pada Alan untuk membawakan belanjaannya ke kasir Panji juga memberikan kartu ATM untuk membayar semua belanjaannya dan sekaligus belanjaan Alan dan Ayumi sebagai tanda terimakasih padanya.


"Siapa wanita ini?" tanya Alya dengan tatapan sengit pada Panji.


Wanita yang disamping Panji menatap Alya dengan tatapan kurang suka.


"Apa ini calon istri Panji?" pikir wanita itu.


Dari tadi sebelum Alya datang menghampiri mereka, Panji sedang menceritakan tentang calon istrinya pada teman wanitanya itu.


Panji memegang tangan Alya dengan lembut.


"Sayang dia hanya teman sekolahku dulu." jelas Panji agar Alya tidak salah paham.


"Iya aku hanya teman Panji waktu masih sekolah dulu. Tapi dulu kita juga pernah dekat sih tapi sayangnya tidak jodoh." sambung wanita itu yang langsung ditatap kesal oleh Alya.


Alya tersenyum simpul dengan tatapan tidak suka Alya terus menatap wanita yang ada disampingnya Panji.


"Ohh hanya teman, dekat doang tidak dinikahin buat apa dipamerin." jawab Alya yang langsung ditatap kesal oleh wanita itu.


"Dasar gadis sombong." Batin wanita itu dalam hatinya.


"Aku dong baru kenal belum lama dijadikan satu-satunya dihatinya dan kita akan menikah Minggu depan." dengan bangga Alya memamerkan hubungan pada wanita itu yang tidak Alya kenal sama sekali.


"Putri kamu kesini sama siapa?" Panji berusaha mengalihkan pembicaraan Alya dan Putri.


"Aku kesini dengan suami dan anakku, oh iya kamu tahu Pan anakku kembar tahu." jawab Putri dengan begitu antusias.


Ternyata Putri sudah menikah dia datang ke tempat ini bersama kedua anaknya dan suaminya.


"Kamu sudah menikah? Tapi kamu tidak mengundangku." Panji terkejut mendengar jawaban dari Putri.


"Aku menikah dikampung halaman suamiku jadi tidak ada yang aku undang." jelas Putri.


Alya menjadi malu-malu karena mengira Putri adalah wanita gatel yang ingin menggoda Panji.


"Oh iya kenalkan ini Alya calon istriku!" Panji memperkenalkan Alya pada Putri.


"Kenalkan aku Putri, Alya." Putri mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Alya.


Alya membalas uluran tangan Putri dengan senyuman penuh salah.


"Kenalkan aku Alya, maaf ya tadi aku sudah salah paham." dengan perasaan tidak enak Alya meminta maaf pada Putri.


"Tidak apa-apa, wajar jika kamu salah paham apalagi tadi aku bilang aku dan Panji pernah dekat." jawab Putri dengan senyuman disudut bibirnya.


"Alya, Panji, aku duluan ya!" Pamit Putri yang langsung berlalu pergi dari hadapan Panji dan Alya.


Setelah Putri pergi, Panji mengajak Alya untuk menyusul Alan dan Ayumi yang sedang mengantri dikasir.


"Kak Alan sudah selesai?" tanya Panji.


"Sudah ini ATM mu. Terimakasih ya aku sudah dibayarin." Alan memberikan kartu ATM milik Panji pada Panji, Alan juga mengucapkan terimakasih pada Panji.


"Sama-sama kak anggap saja itu hadiah pernikahan buat kakak." jawab Panji dengan penuh ketulusan.


"Dasar kamu ini, Oh iya aku pulang duluan ya!" Pamit Alan sambil menepuk bahu Panji.


"Iya kak hati-hati ya." jawab Panji.


Sebelum Alan pergi Alan memberikan belanjaan Panji pada Panji. Dan Alan langsung mengandeng tangan Ayumi lalu berlalu pergi dari hadapan Panji dan Alya.


Panji tersenyum pada Alya, Alya menatap Panji dengan tatapan malu-malu.


"Jangan terus melihatku dengan tatapan seperti itu." Pinta Alya malu-malu.


"Dasar gadis cemburuan, aku yakin tadi pasti kamu sudah berpikir macam-macamkan." Ledek Panji dengan begitu jail.


"Sayang ih..." rengkek Alya.


Panji terus senyam-senyum, hari ini rasanya senang sekali apalagi melihat Alya begitu cemburu tadi waktu melihat Putri.


Panji mengandeng tangan Alya lalu bergegas keluar dari mall dan segera pulang menuju ke rumahnya.


Dirumah Risa dan Denis.


Risa dan Denis sedang berada diruang makan, kini mereka sedang makan berdua diruang makan.


"Sayang ayo kita pergi ke mall, kita cari baju untuk acara pernikahan Alya dan Panji dan Sekertaris Alan dan Ayumi." Ajak Risa sambil menyuapkan makanan kedalam mulut.


"Boleh nanti malam ya kita pergi!" jawab Denis dengan senang hati.


Risa terus menyuapkan makanan kedalam mulutnya, Denis melihat Risa makan dengan begitu lahap merasa sangat senang.


"Apa nafsu makanmu sekarang bertambah Istriku?" tanya Denis yang terus memperhatikan Risa yang sedang menikmati makanannya dengan lahap.


"Iya sekarang aku sering lapar." Jawab Risa.


"Makanlah yang banyak, katakan jika kamu mau makan sesuatu aku pasti akan membelikan apapun yang kamu mau." Kata Denis sambil mengusap-usap rambut Risa dengan penuh kasih sayang.


Risa terus bersyukur dalam hatinya apalagi punya suami seperti Denis yang begitu sayang pada dirinya dan sangat perhatian pada dirinya. Biarpun Denis dulu pernah melakukan kesalahan di masalalunya tapi Risa sudah memaafkan Denis dengan tulus dan iklhas.


Setelah selesai makan Denis dan Risa duduk diruang tengah, Denis duduk sambil terus mengelus-elus perut buncit Risa.


"Perut kamu sudah gede banget ya sayang." Kata Denis yang merasa kagum pada perut buncit Risa.


"Iya aku berharap anak kita kembar." Jawab Risa penuh harap.


"Kita cek saja ke Dokter!" Ajak Denis.


Risa menggelengkan kepalanya, lalu ikut mengelus perutnya dengan tangannya.


"Aku tidak mau sayang, aku mau semuanya menjadi kejutan." Tolak Risa dengan halus.


Risa merebahkan kepalanya di bahu Denis dengan manja.


Setengah jam telah berlalu, tiba-tiba Risa merengek minta makan lagi.


"Sayang aku lapar lagi!" Rengkek Risa dengan manja.


"Baru makan tadi." jawab Denis lembut.


"Sayang, ini sih Ucil yang mau loh." Risa bersikap manja pada Denis.


Lagi-lagi sih Ucil yang buat alasan, akhirnya Denis dengan cepat membuatkan makanan untuk Risa.


"Sebentar nak, papa buatkan makanan buat kamu dulu." Denis mengelus perut Risa lalu menciumnya.


Denis pergi menuju ke dapur, ntah apa yang akan Denis buat untuk istrinya?


BERSAMBUNG πŸ™


Terimakasih para pembaca setia 😊


Maaf ya Authornya baru up dari tadi sibuk banget πŸ™πŸ™