
Beberapa hari kemudian, Pagi ini Risa sudah kembali masuk kuliah. seperti biasanya sebelum Denis berangkat ke kantor pasti Denis mengantar kuliah Risa lebih dulu.
"Sayang, Aku sudah terbebaskan dari hukuman main pengawal-pengawalankan?" tanya Risa sambil duduk menunggu Denis yang sedang memakai sepatunya.
"Sudah, tapi ingat jangan pernah melihat laki-laki brengsek itu lebih dari tiga detik." jawab Denis sambil memberikan peringatan kepada Risa.
"Iya iya, Aku tidak akan melihatnya." kata Risa.
"Kalau Aku tidak hilaf Den, kalau hilaf ya pasti Aku akan langsung melihatnya." gumam Risa.
Setelah selesai memakai sepatu, Denis langsung mengajak Risa berangkat ke kampusnya.
"Ayo berangkat! Oh iya kamu mau sarapan dulu tidak?" tanya Denis pada Risa.
"Dikampus saja nanti, Aku belum lapar." jawab Risa yang sudah bangun dari tempat duduknya.
Denis langsung pergi mengantar Risa ke kampusnya lebih dulu, setelah sampai dikampus Risa. seperti biasa Risa selalu melakukan ritual paginya pada suaminya.
"Sayang, Aku berangkat dulu ya." pamit Risa, sambil mencium punggung tangan Denis.
"Iya Kamu hati-hatilah!" jawab Denis.
"Ris, semangat pagi buatku belum dikasih." kata Denis dengan begitu manja.
Risa langsung mencium pipi Denis, lalu Denis mencium bibir Risa. setelah ritualnya selesei Risa langsung turun dari mobilnya lalu langsung menuju ke kampusnya. sedangkan Denis langsung melajukan mobilnya menuju kantornya.
Alan memberhentikan mobilnya ditepi jalan, kini sebelum berangkat ke kantor Alan menjemput Ayumi lebih dulu untuk mengantarkan ke kampusnya.
"Aku berangkat dulu ya." pamit Ayumi pada Alan.
"Iya Kamu hati-hatilah, ingat jangan ngelirik laki-laki lain, karena Aku punya cctv dimana-mana." kata Alan pada Ayumi.
Ayumi terdiam.
"Dimana saja Alan menaruhnya cctv nya?" gumam Ayumi sambil berpikir.
"Masuklah!" pinta Alan.
Dengan pikiran yang masih bingung, Ayumi langsung menuju kedalam kampus, melihat Risa sudah menunggu didepan gerbang. Ayumi langsung menghampirinya.
"Ris...a." panggil Ayumi.
"Ayumi, tumben datangnya lebih duluan Aku." tanya Risa, karena biasanya Ayumi datang lebih dulu daripada dirinya.
"Alan menjemputku sedikit terlambat tadi." jawab Ayumi.
Kini keduanya langsung masuk kedalam kampus, namun mereka pergi ke kantin lebih dulu karena mereka belum sarapan.
"Ayo ke kantin dulu." ajak Ayumi.
"Ayo Yum, kebetulan Aku belum sarapan." jawab Risa.
Sesampainya dikantin mereka langsung memesan makanan kesukaan mereka, setelah menunggu beberapa lama akhirnya makanan pesanan mereka datang.
Kini mereka menikmati makanannya tanpa bersuara, setelah selesai makan Risa dan Ayumi langsung masuk kedalam kelas karena Kelas akan segera dimulai dan Dosen juga sudah datang.
Ayumi dan Risa fokus memperhatikan mata pelajaran tanpa bersuara.
Dikantor Denis.
Denis sudah berada didalam ruangan kerjanya, Denis menekan tombol telpon yang ada diatas mejanya.
"Hallo..." sapa seorang dari sebrang sana.
"Al, keruanganku sekarang!" pinta Denis.
"Baik Tuan." jawab Alan yang langsung mematikan saluran teleponnya.
Alan bergegas menuju keruangan Denis.
"Ada apa Denis memanggilku pagi-pagi sekali? bukankah hari ini tidak ada metting atau jadwal lainnya." gumam Alan sambil berjalan menuju keruangan Denis.
Sesampainya diruangan Denis, Alan langsung mengetuk pintu ruangan Denis.
"Tok..tok..." Alan mengetuk pintu.
"Masuklah!" jawab Denis dari dalam ruangan.
"Ceklek..." Alan membuka gagang pintu, lalu langsung masuk kedalam ruangan Denis.
Denis sudah duduk diatas sofa, sambil menunggu Alan.
"Duduklah, ada yang ingin Aku bicarakan padamu." kata Denis dengan tatapan mata yang begitu serius.
Alan duduk disamping Denis.
"Berasa mau sidang skripsi rasanya deg deggan sekali." gumam Alan yang melihat tatapan begitu serius dari mata Denis.
"Aku akan bicara sebagai sahabatmu bukan atasanmu jadi rilexlah." kata Denis sambil menepuk pundak Alan.
"Iya Den, katakan ada apa? Kamu pagi-pagi sekali menyuruhku datang keruangamu?" tanya Alan pada Denis.
"Al, Kamu serius kan menjalani hubungan dengan Ayumi?" tanya Denis.
"Serius Den, Aku tidak mau mempermainkan wanita." jawab Alan dengan tegas.
"Kapan Kamu akan menikahinya?" tanya Denis tanpa bertele-tele.
"Belum tahu Den, Aku saja belum bertemu dengan orangtua Ayumi." jawab Alan.
Tiba-tiba pintu Denis, kembali ada yang mengetuknya.
"Tok...tok..." suara ketukan pintu.
"Masuk." jawab Denis.
"Ceklek..." suara gagang pintu.
Denis kaget melihat ternyata kedua orangtuanya yang datang, kini Denis dan Alan langsung menyalami punggung tangan mereka.
"Paman, Bibi." sapa Alan yang langsung mencium punggung tangan Papa Andi dan Mama Rasti.
"Al, panggil Bibi dengan sebutan Mama saja! Kamu sudah seperti Anakku sendiri." kata Mama Rasti pada Alan.
"Iya Nak Alan, panggil Paman juga Papa saja." sambung Papa Andi.
Karena Alan seorang Anak yatim piatu dan kebetulan bertemu dengan Denis, akhirnya menjadikan mereka sahabat bahkan Alan sudah seperti saudara laki-laki sendiri bagi Denis. sampai akhirnya kedua orang Denis menganggap Alan sebagai Anaknya sendiri.
Mama Rasti dan Papa Andi, kini sudah duduk ditengah-tengah Alan dan Denis.
"Apa yang sedang kalian obrolkan?" tanya Mama pada Denis dan Alan.
"Kita sedang mengobrolkan tentang pernikahan Alan." jawab Denis.
"Nak Alan, Apa Kamu sudah punya kekasih?" tanya Papa Andi.
"Sudah Paman, ehh maksud Alan Papa." jawab Alan dengan kata terbata-bata.
Papa Andi melihat kearah Alan, lalu menepuk pundak Alan.
"Tidak usah gerogi Nak, karena Paman sudah menganggap Kamu sebagai Anak sendiri jadi biasakanlah panggil Paman dengan sebutan Papa!" kata Papa Andi.
"Iya Pa." jawab Alan yang masih canggung.
"Beruntung Aku bertemu dengan Denis dan kedua orangtua Denis, karena mereka sangat baik sekali padaku." gumam Alan.
"Ohh iya katakan siapa gadis yang ingin Kamu nikahi Nak?" tanya Mama Rasti.
"Ayumi Ma, tapi Dia masih kuliah." jawab Alan.
"Ayumi, nama itu sepertinya tidak asing Ma." kata Mama Rasti.
"Apa nama panjangnya Ayumi Larasati?" tanya Mama Rasti memastikan.
"Iya Ma, kok Mama tahu?" tanya Alan dengan rasa penasaran.
Mama Rasti melempar senyum pada Alan, lalu menjawab pertanyaan dari Alan.
"Mama hanya kenal nama saja Nak, waktu itu Nyonya Renita tidak sengaja mengajak Ayumi ke pesta terus mengenalkan Ayumi pada Mama." jawab Mama Rasti.
"Menurut Mama Ayumi bagaimana?" tanya Alan pada Mama Rasti.
"Dia gadis yang baik, bahkan sangat ramah dan begitu santun Nak." jawab Mama Rasti.
Flashback.
Waktu itu tidak sengaja Mama Rasti menghadiri acara pesta pernikahan salah satu temannya dan kebetulan Mama Rasti bertemu dengan Mama Renita, atau Mamanya Ayumi.
"Nyonya Rasti." sapa Nyonya Renita.
"Nyonya Renita." jawab Nyonya Rasti.
"Sendirian saja Nyonya Rasti?" tanya Nyonya Renita.
"Iya kebetulan Anak dan suamiku sedang sibuk kerja Nyonya, oh iya siapa gadis cantik ini." jawab Nyonya Rasti, lalu bertanya siapa gadis yang bersama Nyonya Anita.
"Kenalkan Bi, saya Ayumi Larasati." Ayumi memperkenalkan dirinya dengan begitu sopan pada Mama Rasti.
"Iya Nak, kenalkan Bibi Rasti." jawab Mama Rasti.
Setelah berbincang-bincang mereka bertiga duduk dimeja yang sama, sambil menikmati makanannya.
Jadi Mama Rasti tidak sengaja bertemu dengan Ayumi disalah satu pesta pernikahan Anak dari teman Mama Rasti.
Off flashback.
"Jadi seperti itu Nak ceritanya." kata Mama Rasti pada Alan.
"Katakan saja, kapan Kamu ingin melamar Ayumi! nanti Mama akan segera melamarkan untukmu Nak." kata Mama Rasti dengan senyum bahagianya.
Alan tersenyum bahagia mendengar perkataan dari Mama Rasti.
"Terimakasih Ma, nanti Aku akan pikirkan dulu." jawab Alan.
"Al, tidak usah banyak berpikir untuk masalah pernikahan termasuk biaya Aku yang akan mengurus semuanya." kata Denis pada Alan.
"Den, terima...." kata-kata Alan terpotong.
"Tidak usah mengucapkan terimakasih, Aku melakukan semua ini untuk saudara laki-lakiku." sambung Denis.
Mama Rasti dan Papa Andi saling melempar senyum, lalu mereka berpamitan pada Denis dan Alan.
"Kalian lanjutkanlah pekerjaan kalian! Mama dan Papa pamit dulu." kata Papa Andi.
"Den, jika Risa sudah hamil segera kabari Mama ya!" pinta Mama.
"Iya Mama dan Papa hati-hati ya." jawab Denis dan Alan.
"Pasti Ma." jawab Denis.
Mama Rasti dan Papa Andi langsung pergi meninggalkan ruangan Denis. sedangkan Denis dan Alan kembali keruangan kerja masing-masing.
Jam menunjukkan pukul 5 sore, hari ini Denis tidak menjemput Risa karena Risa sudah dijemput oleh supirnya. jadi dari kantor Denis langsung pulang kerumahnya.
Alan juga sudah pulang dari tadi, tiba-tiba Alan memberhentikan mobilnya lalu Alan terus melihat perempuan yang sedang berdiri didepan gerbang rumahnya.
Alan terus melihat perempuan itu.
"Sepertinya tidak asing." gumam Alan yang terus melihat wanita yang berdiri didepan gerbang rumahnya.
Pelan-pelan Alan menjalankan, mobilnya lalu memberhentikannya tepat didepan gerbang.
"Siapa wanita itu?" tanya Alan yang langsung turun dari mobilnya.
Bersambung π
Terimakasih para pembaca setia π