
Akhirnya ide Alan mengajak Denis ke tempat bermain game tidak sia-sia, Karena akhirnya mereka berbaikan.
Setelah dari tempat bermain game, Alan dan Ayumi langsung pulang karena Ayumi ada urusan jadi Alan langsung mengantarnya pulang.
"Aku duluan ya, Pan kamu jangan pacaran mulu!" Pamit Alan yang melihat Panji dan Alya begitu mesra, Karena dari tadi mereka main bisik-bisikan.
"Tahu bisik-bisikan mulu, Ntar jadi bisik-bisik tetangga loh," Sambung Ayumi dengan jail.
Panji dan Alya hanya saling melempar senyum satu sama lain, Sedangkan Denis hanya geleng-geleng kepala.
"Pan, Kalau cinta itu nyatain tidak usah main bisik-bisikan terus!" Ledek Risa yang langsung ditatap malu-malu oleh Alya.
"Aku tidak mau pacaran, Aku mau langsung menikah saja," Sambung Panji yang langsung diacungi dua jempol oleh Alan.
"Kak Alan, Aku padamu terimakasih kamu selalu mendukungku untuk bersama dengan Alya." Kata Panji yang langsung melirik kearah Denis, Namun Denis langsung menatap Panji dengan tatapan kesal.
"Alan mendukungmu, Tapi sayangnya aku menentangmu!" Cetus Denis yang membuat Panji kesal.
"Aku juga belum tentu menerimamu," Timpal Alya yang membuat Panji langsung memasang wajah memelasnya.
Kini Panji benar-benar dipojokan oleh kakak dan adik yang sama-sama somplak, Alya terus memperhatikan Panji dan ternyata Alya diam-diam tersenyum.
"Panji, Kasian sekali kamu sana-sini dibully," Batin Alya yang merasa kasian pada Panji.
Setelah capek dengan obrolan mereka yang tidak terlalu penting, Alan dan Ayumi langsung pergi meninggalkan Denis, Risa, Alya dan Panji.
Alan langsung melajukan mobilnya menuju kerumah Ayumi, Sedangkan Panji mengantar Alya pulang, Denis dan Risa juga ikut mobil Panji.
Panji yang menyetir, Alya duduk disebelah Panji sedangkan Denis dan Risa duduk di jok belakang.
Panji melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, Di dalam perjalanan juga mereka saling mengobrol.
"Ris, Kehamilanmu sudah berapa bulan?" Tanya Panji, Yang dilirik tajam oleh Denis.
"Buat apa dia menanyakan hal seperti itu?" Gumam Denis kesal.
"Sudah jalan 6 bulan, Tepat setelah wisuda itu tepat 7 bulan. Oh iya nanti kalau acara 7 bulanan kamu datang ya Pan!" Jelas Risa yang sekalian mengundang Panji untuk menghadiri acara 7 bulanannya nanti.
"Aku pasti datang, Sebentar lagi kitakan jadi saudara," Jawab Panji yang sudah yakin dirinya akan menjadikan Alya sebagai istri.
"Saudara apaan? Jangan mimpi deh!" Omel Denis yang sedang memainkan rambut Risa dengan jari-jarinya.
Denis memang belum menerima jika Panji sampai menjalin hubungan dengan Alya, Ntahlah mengapa yang jelas itu karena rasa cemburu Denis waktu dulu Panji pernah suka dengan istrinya.
"Denis sayang, Sudahlah restui saja hubungan mereka berdua! Panji itu laki-laki baik dan sangat perhatian, Jadi tidak ada salahnya jika mereka berdua bersama." Risa mencoba membujuk sang suami dengan begitu manis.
Denis malah main manja-manjaan, Kini dirinya sudah merebahkan kepalanya dipangkuan sang istri. Kali ini Denis benar-benar tidak mau mendengarkan perkataan dari sang istri.
"Aku tidak peduli, Biarkan saja Panji mencari gadis lain." Batin Denis, Risa terus mengelus-elus rambut suami dengan tangannya.
Alya hanya diam saja, Kini dirinya sedang memikirkan perkataan Risa barusan.
"Baik hati, Perhatian, Iya Panji memang seperti itu. Apa aku salah sudah terlalu jutek pada dirinya?" Gumam Alya yang hatinya sudah mulai goyah.
Biarpun Panji dan Alya sering sekali berdebat, Namun Panji tidak pernah lelah mengejar cinta Alya Adinda Putri.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, Akhirnya sampailah didepan rumah Denis.
Mereka langsung masuk kedalam rumah, Tapi Panji langsung pulang karena harus mengantar sang mama ke acara arisan sore ini.
Denis, Risa dan Alya langsung masuk kedalam rumah, Sedangkan Panji langsung menyalakan mesin mobilnya untuk segera menuju pulang kerumahnya.
"Alya, Apa kamu sudah ada rasa dengan Panji?" Tanya Denis yang sudah menjatuhkan dirinya di sofa.
Denis dan Risa bingung kini mereka saling menatap satu sama lain, Lalu mereka menatap Alya secara bersamaan.
"Iya kamu jujur akan hal apa?" Tanya Risa dan Denis secara bersamaan.
"Kalian kompak sekali, Sebenarnya aku dan Panji itu sudah dijodohkan oleh orang tuaku dan orang tua Panji." Alya memuji Denis dan Risa yang begitu kompak, Alya juga menceritakan tentang perjodohan dirinya dan Panji pada Denis dan Risa.
Denis dan Risa benar-benar saling menatap dengan tatapan begitu terkejut.
"Kalian sudah dijodohkan!" Cetus Denis dan Risa yang sama-sama tidak percaya dengan apa yang di dengarnya dari mulut Alya.
Alya menundukkan kepalanya, Lalu menganggukkan kepalanya.
"Alya selamat ya, Panji pasti akan membuatmu bahagia." Risa dengan cepat langsung mengucapkan selamat pada Alya.
"Alya, Jangan bersama Panji aku akan mencarikanmu laki-laki lain yang lebih cocok denganmu." Kata Denis yang masih belum setuju jika Alya dengan Panji.
Alya hanya terdiam, Kini dirinya benar-benar berpikir keras, Alya berpikir selama dirinya jalan bareng dengan Panji, Alya merasa nyaman bahkan diam-diam Alya juga sering memperhatikan Panji.
"Maaf Kak Denis, Tapi aku sudah terlanjur menyukainya, Mungkin awalnya aku sangat membencinya tapi makin kesini aku kenal dengannya,Benar kata Kak Risa Panji adalah laki-laki baik yang begitu perhatian, Kak Denis aku mohon biarkan aku bersama Panji ya." Alya mencoba mengeluarkan apa yang ada didalam hatinya saat ini pada Denis, Bahkan Alya juga jujur pada Denis kalau dirinya sudah telanjur menyukai Panji.
Denis hanya terdiam, Lalu Risa memegang kedua tangan suaminya, Dengan nada lembut Risa mencoba memberikan pengertian pada sang suami.
"Suamiku, Aku tahu kamu melarang Alya dengan Panji pasti karena alasan Panji pernah suka denganku, Tapi semua itu dulu dan sekarang aku sudah menjadi istrimu, Panji hanyalah sahabatku." Risa mencoba membujuk suaminya lagi.
Denis terdiam mencerna kata-kata Risa, Menurut Denis apa yang dikatakan Risa pada dirinya itu ada benarnya.
"Risa benar, Panji sekarang menyukai Alya dan tidak mungkin juga Panji akan menyukai Istriku lagi." Gumam Denis.
Mendengar kata-kata Risa, Alya langsung bertanya pada Risa.
"Kak Risa, Apa Panji pernah menyukaimu?" Tanya Alya ingin tahu.
"Dulu aku dan Panji sangat dekat, Panji pernah menyatakan perasaannya padaku, Tapi waktu itu Aku sudah menikah dengan Denis." Jelas Risa agar tidak ada kebohongan diantara mereka.
"Alya, Panji dan aku hanya bersahabat sampai kapanpun hanya akan jadi sahabat, Aku sudah punya suamiku yang begitu menyayangiku dan memberikan anak untukku." Kata Risa yang langsung mencium tangan Denis, Membuat Denis langsung menarik Risa kedalam pelukannya.
Alya tersenyum bahagia melihat Risa dan Denis begitu bahagia.
"Kapan aku bisa merasakan semua itu?" Batin Alya yang penuh harapan.
"Alya, Aku merestuimu dengan laki-laki br*ngsek itu!" Akhirnya Denis memberikan restu untuk hubungan Alya dan Panji.
"Laki-laki br*ngsek?" Alya mengulang kata-kata sang kakak.
"Panji maksudnya!" Cetus Risa yang kini tersenyum pada Alya.
Alya begitu senang sekali, Kini dia sedang senyam-senyum sendiri seperti orang yang tidak waras, Melihat hal itu Denis langsung mengangkat tubuh Risa lalu meninggalkan Alya sendirian diruang tengah.
"Alya sedang tidak waras, Jadi lebih baik aku menyiram benihku agar tumbuh subur." Kata Denis yang langsung mendaratkan bibirnya pada bibir Risa.
Kini Risa langsung mengalungkan tangannya ke leher Denis.
"Sayang, Aku mau lebih." Pinta Denis yang tentunya dengan pikirannya mesumnya.
"Akan aku kasih, Asalkan sisanya kamu urus sendiri dikamar mandi!" Jawab Risa yang mengedipkan satu matanya pada Denis.
BERSAMBUNG π
Terimakasih para pembaca setia π