
Dan malam ini Alya pulang ikut mobil Panji, Ntah apalagi yang akan terjadi di dalam mobil ketika dua sejoli hanya berduaan saja.
Hayo apa yang akan terjadi?
Didalam mobil.
Alya terus terdiam dan hanya menatap ke jendela sambil menikmati pemandangan malam yang begitu indah, Jalanan yang dihiasi lampu kelap-kelip, Rembulan yang begitu terang, Bintang-bintang yang begitu gemerlap membuat keindahannya semakin terlihat.
"Apa kamu tidak punya mulut?" Tanya Panji, Yang membuat Alya langsung membuyarkan pandangan matanya, Lalu Alya melihat kearah Panji.
"Apa kamu tidak bisa fokus menyetir saja?" Tanya Alya dengan sorot mata kesal.
"Aku mau nyetirin hati kamu saja, Biar berjalan kehati aku." Panji malah mengombali Alya.
Mendengar Panji mengombalinya membuat Alya akhirnya mengeluarkan tawanya, Melihat Alya tertawa lepas ntah mengapa Panji merasa begitu senang sekali.
"Teruslah tertawa," batin Panji.
"Kamu belajar mengombal dari siapa?" Tanya Alya yang diiringi dengan tawanya.
"Sama Papaku, Dia suka sekali gombalin Mama. Sampai kadang aku geli sendiri," jawab Panji yang membuat Alya semakin jadi mengeluarkan.
"Apanya yang lucu?" Tanya Panji kesal.
"Iya lucu saja, Kamu geli mendengar Papa gombalin Mama tapi kamu malah gombalin aku," protes Alya yang tanpa sadar menyebut orang tua Panji dengan sebutan mama dan papa.
"Ciee panggilnya mama,papa." Ledek Panji membuat Alya tersipu malu.
"Apaan sih, Aku tidak sengaja," elak Alya.
"Sengaja juga tidak apa-apa, Nanti kamu juga akan menjadi istriku, Terus aku mau buat anak yang banyak sama kamu." Kata Panji dengan tidak tahu malunya, Alya semakin tersipu malu kini dirinya benar-benar salah tingkah.
"Dasar aneh, Udah ngomongin anak lagi." Batin Alya dengan raut wajah yang sudah merah seperti kepiting rebus.
"Terimakasih ya buat semua ini," Alya tiba-tiba mengucapkan terimakasih pada Panji, Membuat Panji tidak percaya.
"Dia mengucapkan terimakasih padaku?" Batin Panji tidak percaya.
Iya selama ini Alya memang tidak mau mengucapkan terimakasih pada Panji, Padahal Panji sudah menyelamatkan nyawanya. Namun gara-gara Panji menjatuhkannya dengan alasan badan Alya berat membuat Alya kesal pada Panji dan tidak mau mengucapkan terimakasih pada Panji selama ini.
"Akhirnya sih gadis berat badan, Mengucapkan terimakasih pada pahlawan penyelamatnya." Ledek Panji yang membuat Alya semakin malu.
"Dasar reseh, Dia malah meledekku." Batin Alya merasa kesal.
Sesampainya didepan rumah Alya, Panji langsung memberhentikan mobilnya lalu Panji turun lebih dulu untuk membukakan pintu mobil buat Alya.
"Hati-hatilah!" pinta Panji yang sudah membuka pintu mobilnya.
Alya makin tersipu malu.
"Apa Panji sedang menunjukan sisi baiknya," batin Alya.
"Terimakasih," Alya kembali mengucapkan terimakasih pada Panji.
"Aduh gadis sombong ini, Kembali mengucapkan terimakasih pada pahlawannya, Takut nanti malam tidak bisa tidur aku," Panji kembali meledek Alya.
"Dasar kamu ini, Cepat ambilkan belanjaanku!" omel Alya karena merasa kesal.
Panji langsung mengambil belanjaan Alya, Yang Panji taruh dijok belakang. Lalu membawakan belanjaan tersebut sampai depan pintu.
"Ciee, Kalian serasi tahu." Ledek Risa.
"Serasi darimananya?" Sahut Denis.
"Apaan sih kalian Kakak-kakakku, Berhentilah meledekku!" kesal Alya yang sudah mengerutcutkan bibirnya.
Panji hanya senyam-senyum, Sambil mengedipkan satu matanya pada Risa, Risa langsung membalasnya dengan acungan jempol. Denis yang melihat kejadian tersebut langsung melirik Risa dengan tatapan tajam.
"Hanya memberikan semangat saja suamiku, Buat Panji lebih semangat memperjuangkan Alya," kata Risa dengan nada merayu.
"Lihat saja nanti diranjang, Aku akan membolak-balikanmu seperti gorengan!" bisik Denis, Yang membuat Risa langsung diam tanpa kata.
"Selalu saja mengancam, Apa suamiku ini sudah tidak waras cemburu dengan calon pacar Adeknya sendiri?" Batin Risa.
"Alya, Kamu jangan manyun terus seperti itu! Nanti aku cium loh." bisik Panji, Alya langsung menginjak kaki Panji, Hingga Panji merasa kesakitan "Dasar gadis galak," batin Panji.
Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, Panji langsung berpamitan pulang pada Risa, Denis dan Alya.
Setelah Panji pulang, Denis, Risa dan Alya langsung masuk kedalam rumah.
"Apa aku menghabiskan banyak uang laki-laki itu?" Tanya Alya sambil melihat barang belanjaannya lumayan banyak.
"Panji namanya Alya," cetus Risa.
"Sayang, Jangan lama-lama Aku tunggu dikamar!" kata Denis yang langsung berlalu.
Alya geleng-geleng kepala, Menurut Alya setelah menikah Denis banyak berubah sekarang lebih dewasa, Namun tetap saja manja sekali dengan sang istri.
"Kak, Alya salah tidak? Sudah menghabiskan banyak uang dia?" Tanya Alya pelan.
"Alya, Salah atau tidak nyatanya ini semua mau Panji. Kamu perlu tahu Panji itu laki-laki yang baik, Dia juga tidak pernah perhitungan kalau masalah uang, Dia juga sebenarnya sangat perhatian dan penyayang, Mungkin kamu belum merasakannya saja." Jawab Risa, Risa juga menceritakan sedikit tentang kebaikan Panji pada Alya.
Alya terdiam, Kini pikirannya mulai kacau.
"Bener kata Risa, Panji memang laki-laki baik tapi ntah mengapa aku sangat membencinya, Apa karena perjodohan ini?" Batin Alya.
"Kak Risa, Kamu begitu mengenal dirinya," jawab Alya yang seolah-olah menuntut penjelasan pada Risa.
"Karena aku mengenalnya sudah sejak lama, Jika kamu tidak percaya kamu boleh tanya sama Ayumi!" jawab Risa, Yang membuat Alya langsung tersipu malu.
"Kakak Ayumi?" Tanya Alya binggung.
"Iya Ayumi dan Aku berteman dengan Panji sudah lama," jelas Risa.
Alya menganggukkan kepalanya tandanya mengerti penjelasan dari Risa.
"Tidurlah, Aku mau ke kamar dulu takut singa jantanku ngamuk nanti aku tidak akan selamat," suruh Risa yang langsung berlalu dari hadapan Alya.
Alya hanya tersenyum.
"Kalau Kak Denis singa jantan, Berarti Panji macan jantan," batin Alya.
Alya langsung masuk kedalam kamarnya sambil membawa belanjaannya, Sesampainya dikamar Alya langsung menaruh semua belanjaannya disamping meja rias, Lalu dirinya langsung membanting tubuh ke kasur yang begitu empuk.
"Rasanya nyaman sekali, Apa pelukan Panji senyaman kasur ini ya?" Batin Alya sambil cengengesan tidak jelas.
Dikamar Denis dan Risa.
Denis sudah rapi dengan baju tidurnya, Bahkan Denis sudah memasang wajah crmburut karena menunggu Risa yang begitu lama mengobrol dengan Alya.
"Sebenernya apa yang mereka obrolkan," batin Denis.
"Ceklek," suara pintu kamar.
Risa kembali menutup pintu kamarnya, Lalu segera berjalan menuju ke kasur. Risa tersenyum lalu duduk ditepi ranjang, Risa memajukan sedikit duduknya hingga mendekat ke Denis.
"Apa singa jantanku sedang ngambek?" Tanya Risa sambil memegang dagu Denis dengan kedua tangannya.
"Kenapa kamu begitu lama?" Tanya Denis dengan kesal.
"Tunggulah, Aku mandi dulu!" pinta Risa dengan nada menggoda.
"Cepetan!!" rengkek Denis dengan manja.
Setelah beberapa lama akhirnya Risa keluar dari kamar mandi, Hanya mengunakan handuk melihat pemandangan itu Denis langsung menelan silvananya dengan kasar.
"Risa kamu membuat adik kecilku bangun," batin Denis.
Risa langsung berganti pakaian dengan baju tidur yang begitu sexy, Membuat Denis benar-benar tidak bisa menahan hasratnya.
Risa langsung duduk didekat Denis, Denis langsung memeluknya.
"Apa malam ini aku boleh melakukannya?" Tanya Denis dengan nada menggoda.
Risa diam sesaat, Kini pikirannya bingung karena kehamilan yang sudah semakin besar dan jika terus melakukannya, Risa takut menyakiti sang jabang bayi yang ada di dalam kandungannya.
"Tapi?" Kata-kata Risa terpotong.
"Tapi apa? Aku sudah menunggumu dari tadi," keluh Denis dengan wajah cemburut.
"Sayang, Kehamilanku semakin besar. Jadi jangan sering-sering melakukannya aku takut sih Ucil kenapa-kenapa," kata Risa yang berusaha memberikan pengertian pada Denis.
"Tapi ini sudah bangun," keluh Denis sambil menunjukkan adik kecilnya yang masih tertutup rapat.
"Kamu boleh melakukannya, Tapi setelah itu kamu seleseikan sendiri dikamar mandi." tegas Risa dengan terpaksa Denis setuju karena memang sudah tidak bisa menahannya hasratnya.
Akhirnya malam ini Denis dan Risa memandukan cinta mereka di dalam selimut, Namun akhirnya Denis harus berjuang sendirian di dalam kamar mandi.
Ntah apa yang Denis lakukan di dalam kamar mandi, Hanya Denis yang tahu.
Bersambung π
Terimakasih para pembaca setia π