
"Iya istriku." Jawab Denis.
"Sebenarnya apa yang terjadi tadi pagi waktu aku dikantor?" Tanya Denis penasaran.
"Aku...."
"Aku apa? katakan dengan jujur!" sambung Denis.
"Aku tadi pagi tidak sengaja terjatuh dan tiba-tiba aku merasakan sakit dibagian perut aku, jadi aku langsung menelponmu," jelas Risa dengan tatapan takut pada sang suami.
Denis rasanya ingin marah sekali pada Risa, tapi Denis tidak sampai hati apalagi Risa baru berjuang melahirkan putra pertama mereka. "pasti Risa tidak hati-hati sampai dia bisa terjatuh. Untungnya saja dia tidak kenapa-kenapa dan sih Ucil juga baik-baik saja." Batin Denis dalam hatinya.
"Lain kali hati-hati aku kan sudah sering bilang berbaring saja diatas ranjang, tapi kamu pasti bandel." Denis mencubit pipi Risa dengan lembut.
Mama Dina tersenyum bahagia melihat anak dan menantunya begitu mesra, Denis juga terlihat begitu menyayangi Risa.
"Lihat pa anak kita dan menantu kita." Mama Dina melihat Risa dan Denis.
"Sungguh mereka bahagia sekali dan sekarang keluarga kecil mereka sudah dihadirkan malaikat kecil," sang papa terus melihat Risa dan Denis yang sedang saling menunjukkan cinta mereka.
"Bahagia selalu ya anak papa." Doa papa dalam hatinya.
Tiba-tiba ada suara yang membuka pintu ternyata suster yang datang mengantarkan bayi Risa pada Risa.
"Nyonya Risa, ini anak anda dia sangat tampan sekali seperti papanya." Suster menyerahkan bayi yang ada di gendongannya pada Risa.
Dengan senyum yang terpancar di wajahnya sungguh Risa tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan saat ini.
Risa menerima anaknya lalu menggendongnya, Denis tersenyum melihat anaknya ada di gendonganan sang istri bahkan matanya sudah berkaca-kaca karena sangking bahagianya.
"Denis yang tidak pernah menangis hari ini akhirnya menangis karena kelahiran putra pertamanya," Alan tersenyum pada Ayumi.
"Kelak kamu juga pasti akan melakukan hal yang sama seperti Kak Denis," jawab Ayumi yang sekarang memanggil Denis dengan sebutan kakak.
"Saya pamit dulu ya Nyonya, Tuan." Pamit sang suster dan langsung pergi dari ruang rawat Risa.
Risa memainkan pipi anaknya dengan gemas, orang tua Risa, Ayumi dan Alan berjalan ke tempat Risa.
"Tampan sekali." Mama Diana mengusap kepala sih Ucil dengan lembut.
"Den, berikan nama!" Ucap Alan penuh dengan semangat.
"Iya sayang, siapa namanya?" Tanya Risa.
"Danis Putra Kusuma, Itu namanya." jawab Denis dengan begitu senang.
"Danis?" Tanya Risa.
"Iya Danis, dan papanya Denis." jawab Denis.
Denis sengaja memberikan nama putranya dengan nama yang agak mirip dengan dirinya, Denis berharap jika anaknya besar nanti akan tampan seperti dirinya.
Karena Bapaknya yang memberikan nama untuk anaknya jadi Risa menerima saja.
"Nak namamu memang hampir sama dengan papamu, tapi jangan seperti papamu ya nak suka cemburuan berlebihan." Harapan Risa dalam hatinya.
"Ris, mama pingin gendong cucu mama." Mama Dina mengambil Danis dari pangkuan Risa.
"Tok..tok..tok.." suara ketukan pintu.
"Masuk!!"
"Mama, papa..." sapa Risa dengan senyum bahagianya. Mama dan papa mertuanya langsung berjalan menuju ke tempat Risa berbaring lalu memeluknya.
"Selamat ya nak, akhirnya kamu sudah menjadi ibu." Mama Rasti merasa sangat bahagia sekali.
"Terimakasih mama."
Mama Rasti melepaskan pelukannya dari Risa, lalu segera melihat cucu pertama yang sedang digendong oleh Mama Dina.
Kini kedua mama-mama itu sedang sibuk dengan cucu pertamanya, kalau papa Andi dan papanya Risa sedang mengobrol.
"Sahabatku akhirnya sudah menjadi seorang Ibu." Ayumi memeluk Risa, Risa juga membalas pelukan Ayumi dengan bahagia.
"Kamu segeralah menyusulku!" bisik Risa disela-sela pelukannya.
Ayumi melepaskan Risa dari pelukannya, sebagai sahabat Ayumi juga ikut bahagia melihat sahabatnya bahagia.
"Al, bagaimana sesuatu yang aku kasih waktu itu kurang topcer ya?" Tanya Denis dengan suara pelan.
"Tahan lama doang, tapi belum ada hasilnya." Alan juga menjawabnya dengan suara pelan.
"Tapi enakan?" Denis mengedipkan satu matanya dengan genit, membuat Alan menatapnya dengan tatapan jijik.
"Apasih Den, jangan reseh deh itu anak kamu nangis." Alan mengalihkan pembicaraan.
"Owe...owek...." anggap saja suara tangisan bayi.
"Sepertinya Danis mau nyusu." Mama Dina langsung membawa Danis kepada Risa.
"Ris anakmu menangis, susui dulu." Mama Dina memberikan Danis pada Risa, Risa langsung membuka kancing bajunya lalu mulai menyusui anaknya.
Risa tersenyum melihat anaknya langsung berhenti menangis waktu disusui.
"Kamu haus ya anak mama." Tak henti-hentinya Risa terus tersenyum.
Ayumi melihat pemandangan dihadapannya, sungguh dirinya juga sangat ingin punya anak sekali.
"Kapan aku hamil ?" Batin Ayumi dalam hatinya.
"Ayumi..." panggil Risa yang melihat Ayumi bengong.
"Kok bengong kenapa?" Tanya Risa.
"Melihat kamu menyusui anak kamu, aku jadi pingin cepat-cepat punya anak Ris." Jawab Ayumi dengan jujur.
Risa tersenyum pada Ayumi.
"Buat lebih giat lagi bersama suamimu!" pinta Risa sambil senyam-senyum.
Ayumi terus tersenyum malu-malu.
Jam menunjukkan pukul 7 malam, Ayumi dan Alan berpamitan untuk segera pulang pada Denis dan Risa. Setelah Alan dan Ayumi pulang kedua orang tua dan kedua orang tua Denis juga berpamitan untuk pulang.
Malam yang semakin larut dan begitu sunyi Denis hanya sendirian menjaga anak dan istrinya dirumah sakit.
"Istirahatlah aku akan menjagamu!" Denis terus mengusap-usap rambut Risa agar tertidur.
Danis juga sudah dipindahkan ke ruang bayi. Jadi malam ini Denis dan Risa hanya berduaan saja.
Risa memejamkan Denis juga ikut memejamkan matanya dirinya tidur sambil duduk dan merebahkan kepalanya disamping Risa berbaring. Denis memegang tangan Risa terus tanpa mau melepaskannya, bagi Denis Risa adalah wanita hebat yang sudah melahirkan keturunannya.
Dirumah Alan dan Ayumi.
Malam semakin larut, tapi Alan dan Ayumi masih terjaga Alan sedang menonton televisi sedangkan Ayumi sedang di dapur mengambil air minum untuk mereka.
"Istriku....." panggil Alan dengan suara agak keras, karena biar Ayumi mendengarnya.
"Iya kenapa?" sahut Ayumi yang sedang membuka pintu kulkas.
Ayumi mengeluarkan 1 botol air dingin. Lalu membawanya ke ruang tengah.
"Kamu mau minum?" Tanya Ayumi.
"Aku tidak haus, tapi aku lapar." Jawab Alan.
"Aku buatkan makanan dulu ya," Ayumi hendak kembali ke dapur. Tapi dengan cepat Alan menarik tangan Ayumi membuat Ayumi menatapnya dengan tatapan bingung.
"Ada apa?" Tanya Ayumi ragu-ragu.
"Aku lapar pingin makan kamu." Goda Alan dengan manja.
Ayumi geleng-geleng kepala mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya, Ayumi tersenyum malu-malu.
"Aku bukan makanan." Jawab Ayumi.
Alan menarik Ayumi hingga Ayumi terjatuh tepat dipangkuannya. Kini mata mereka saling tatap-tatapan membuat wajah Ayumi memerah karena malu.
"Apa semalu itu pada suamimu sendiri?" Tanya Alan dengan nada menggoda.
"Sudahlah berhenti menggodaku!" Ayumi mengalungkan tangannya, lalu dengan manja menghujani wajah tampan sang suami dengan banyak ciuman.
"Apa kamu sedang menggodaku? Alan mengendong Ayumi membawa Ayumi ke dalam kamar.
"Kita lanjutkan dikamar sayang!" bisik Alan dengan nada menggoda.
Ayumi hanya tersenyum malu-malu, sesampainya dikamar Alan langsung membuka pintu kamarnya lalu kembali menutup pintu kamarnya.
Alan membaringkan tubuh Ayumi diatas ranjang, lalu menindihnya.
"Kamu apa suamiku?" Tanya Ayumi pura-pura tidak tahu.
"Aku mau memakanmu sayang." Alan langsung mendaratkan bibirnya dibibir Ayumi.
Kini mereka saling berciuman, tangan Alan mulai melepaskan kancing baju Ayumi satu persatu, tangan Ayumi juga membuka kancing baju Alan.
Kini keduanya sama-sama melepaskan bajunya, lalu membuangnya kesembarang tempat.
Tubuh mulus mereka sekarang sudah polos tanpa sehelai benang apapun.
Pergulatan demi pergulatan terus mereka lakukan, desahan erangan mereka keluarkan dengan penuh nikmat.
Milik Alan yang sudah sangat tegang, dia langsung menancapkan miliknya kedalam milik Ayumi.
"Ahhhkkk...." desah Ayumi penuh kenikmatan.
Alan mulai menggoyangkan pinggulnya, dia mulai mengeluar masukan miliknya membuat Ayumi semakin kelimpungan dibuatnya.
"Ahhhkkk....ahhh." desah demi desahan keluar dari mulut keduanya.
"Emmhh.... sayang tahan aku akan mengeluarkan cairan hangatku!!"
Alan menggoyangkan miliknya semakin cepat dan akhirnya cairan hangat miliknya membasahi rahim sang istri.
Alan membiarkan miliknya terdiam, setelah beberapa lama dia mencabut miliknya dan langsung menjatuhkan tubuhnya disamping sang istri.
Jam menunjukkan pukul 2 malam, Alan memulai aksinya kembali. Alan berharap sang istri cepat hamil jadi Alan melakukannya lebih dari sekali.
Malam ini Ayumi sungguh dibuat lelah dan kelimpungan oleh sang suami.
"Cepat hamil istriku!" Alan mencium kening Ayumi dengan penuh kehangatan, lalu menarik Ayumi ke dalam pelukannya.
BERSAMBUNG π
Terimakasih para pembaca setia π
Kakak-kakak yang baik hati, bantu naikin rate karya baru Author dong ππ, banyak banget tangan jail padahal Authornya gak pernah jailin karya orang ππ