Perjodohan Karena Hutang

Perjodohan Karena Hutang
219.Hampir saja tertabrak.


"Ayumi awas........" Teriak Alan tiba-tiba yang langsung berlari dengan cepat dan membuat semuanya kaget.


"Ayumi...." Teriak Risa.


Alan berlari dan langsung mendorong Ayumi agar Ayumi tidak sampai tertabrak oleh mobil.


"Brukkkkk...." Anggap saja suara Alan terjatuh.


Alan terjatuh kepalanya terbentur batu yang ada dipinggiran jalan dan Ayumi jatuh tepat diatas tubuh Alan.


Panji terus melihat mobil yang hampir menabrak Ayumi barusan.


"Bukankah itu mobil milik Levin." Batin Panji dengan sorot mata yang terus memperhatikan mobil yang tadi hampir menabrak Ayumi.


Mobil warna berplat xxxx Panji kenal sekali itu adalah mobil milik Levin, Panji mengenali mobil Levin karena mobil itu adalah mobil yang sering dibawa Levin ke kampus.


Alan tersenyum dan terus memeluk tubuh Ayumi dengan erat.


"Kamu tidak apa-apa sayang?" Tanya Alan dengan suara lirih.


Belum sempat menjawab Denis dan Panji langsung menghampiri mereka untuk menolongnya.


"Kalian tidak apa-apa?" Tanya Denis dengan tatapan panik.


Panji membantu Ayumi bangun dari atas tubuh Alan, Denis juga membantu Alan bangun dan langsung mengecek kepala Alan yang tadi terbentur batu.


"Al, Ayo kita kerumah sakit kepalamu berdarah!" Ajak Denis tapi Alan menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak apa-apa Den." Jawab Alan agar Denis tidak menghawatirkannya.


Alan melihat kearah Ayumi, Ayumi berjalan menuju kearah Alan lalu menyentuh kedua pipi Alan.


"Kamu tidak apa-apa? Tapi kepala kamu berdarah ayo kita kerumah sakit!" Dengan perasaan kawatir Ayumi sampai meneteskan air matanya.


Alan dengan cepat menghapus air mata yang membasahi pipi mulus Ayumi.


"Aku tidak apa-apa, Aku tadi takut sekali waktu kamu hampir tertabrak." Alan berusaha membuat Ayumi agar tidak terlalu kawatir pada dirinya.


Panji tiba-tiba menarik tangan Alan membuat Alan terkejut.


"Ada apa Pan?" Tanya Alan bingung.


"Ayumi aku pinjam Kak Alan sebentar." Bukannya menjawab pertanyaan dari Alan, Kini Panji sudah menarik Alan agak jauh dari tempat Ayumi berdiri.


Alan terus menatap wajah Panji dengan tatapan bingung.


"Ada apasih Pan?" Tanya Alan.


"Itu tadi yang hampir menabrak Ayumi adalah mobil milik Levin." Jawab Panji dengan serius.


Alan terdiam mencerna kata-kata Panji.


"Mobil Levin? Aku yakin ini ada kaitannya dengan Syahfiya, Aku dulu diam saja waktu dia hampir menabrak Ayumi dan sekarang Dia kembali berulah lagi." Amarah Alan dalam hatinya.


Mengingat dulu Ayumi juga hampir tertabrak mobil waktu mereka pergi ke mall bersama, Alan langsung menyelidiki siapa yang hampir menabrak Ayumi pada saat itu dan ternyata Syahfiya, Alan sengaja diam saja karena tidak mau berurusan dengan Syahfiya tapi kali ini Alan tidak akan tinggal diam saja.


"Kamu tahu alamat rumah Levin?" Tanya Alan dengan tatapan penuh amarah.


"Redam amarahmu kak, Aku tahu kak ayo aku antar kesana buat memastikan semuanya." Jawab Panji yang berusaha menenangkan Alan agar amarahnya redah.


Alan berjalan menuju ke tempat Ayumi, Alya dan Risa berdiri Denis juga ada bersama mereka untuk menjaga ketiga wanita itu.


"Ayumi kamu tidak apa-apa? Tadi aku takut sekali." Tanya Risa yang langsung memeluk Ayumi.


Ayumi membalas pelukan Risa, Lalu melepaskannya.


"Aku tidak apa-apa, Untung tadi Alan menolongku." Jawab Ayumi dengan suara lirih.


"Syukurlah kalau kamu tidak apa-apa kak, Tadi Alya juga takut sekali kak." Sambung Alya yang juga sangat kawatir pada Ayumi.


"Den, Kamu ikut denganku bersama Panji." Pinta Alan tiba-tiba dengan sorot mata serius.


"Baiklah, Tapi bagaimana dengan mereka?" Jawab Denis sambil melihat ketiga wanita yang ada dihadapannya saat ini.


Alan mendekati Ayumi, Lalu memegang tangan Ayumi.


"Kamu pulang bersama Risa dan Alya!" Pinta Alan dengan lembut.


"Tapi kamu mau kemana?" Tanya Ayumi dengan sorot mata meminta penjelasan.


"Ada urusan yang harus aku urus, Risa, Alya aku pinjam Denis dan Panji ya, Aku juga titip Ayumi." Dengan nada lembut Alan meminta izin pada Risa dan Alya.


"Iya kalian hati-hatilah, Ayo kita pulang naik taksi." Jawab Risa dengan lembut.


"Kita mau kemana?" Tanya Denis yang memang tidak tahu apa rencana Panji dan Alan.


"Kita kerumah Levin, Aku mau mastikan apa Syahfiya yang tadi berniat menabrak Ayumi." Jelas Alan dengan sorot mata merah tajam.


"Syahfiya?" Denis ternganga bingung.


"Syahfiya mantannya Alan, Heran sekali dia terus saja menganggu Alan." Batin Denis dalam hatinya.


"Tadi mobil itu milik Levin kak, Tapi aku yakin Biarpun Levin itu br*ngsek tapi Levin tidak sejahat itu." Jelas Panji yang menjawab rasa bingung pada diri Denis.


Levin memang br*ngsek kalau dalam urusan wanita, Tapi Levin juga bukan laki-laki yang kejam jadi Panji yakin sekali kalau bukan Levin tadi yang hampir menabrak Ayumi.


Denis mengangguk mengerti, Sedangkan Panji terus menyetir mobilnya dengan laju kecepatan agak tinggi.


Sesampainya dirumah Levin, Mobil warna merah berplat xxxx sudah terparkir rapi di garasi depan rumah minimalis milik Levin.


"Iya bener kata Panji, Aku juga lihat sekilas tadi yang hampir menabrak Ayumi adalah mobil ini." Batin Alan dengan yakin.


Tringg 1 pesan masuk di ponsel Panji.


Ini foto yang tadi hampir menabrak Kak Ayumi.


Alya mengirim foto mobil yang ternyata tadi diambilnya secara diam-diam.


Panji membuka pesan dari Alya dan langsung mengembangkan senyumnya.


"Alya ternyata kamu jauh lebih pintar dari aku." Dalam hati Panji terus memuji Alya.


"Kak Alan sekarang kita punya bukti yang kuat, Dan Alya sudah mengirimkannya." Kata Panji sambil menunjukkan foto mobil yang Alya kirim barusan.


"Alya pintar juga, Benar Al ini adalah mobil yang tadi hampir menabrak Ayumi aku yakin pasti ini ada sangkut pautnya dengan mantan kekasihmu itu." Denis memuji Alya, Denis juga berpikiran sama seperti Alan ini pasti ada kaitannya dengan Syahfiya.


Panji yang tidak tahu menahu tentang Syahfiya kini dirinya merasa bingung.


"Sangkut pautnya dengan mantan." Batin Panji bertanya-tanya.


Alan berjalan menuju ke pintu lalu mengetuk pintu rumah Levin.


"Tok....tok.....tok....." Alan mengetuk pintu dengan agak kasar.


Dengan perasaan kesal bercampur amarah yang sudah ingin Alan lampiaskan, Alan sungguh tidak peduli dengan luka di kepalanya. Kali ini pikiran Alan hanya ingin menyelesaikan semua agar Syahfiya tidak terus menganggu Ayumi.


"Fiya bukakan pintu itu ada tamu!" Suruh Levin yang sedang sibuk memasang lampu.


"Iya.... Aku bukakan." Jawab Syahfiya dan langsung berjalan menuju ke depan untuk membukakan pintu rumahnya.


Dengan hati-hati Syahfiya membukakan pintu rumahnya.


"Siapa sih mengentuk pintu begitu kasar." Gerutu Syahfiya sambil berjalan.


"Ceklek...." Syahfiya membuka pintu.


Betapa terkejutnya ternyata Alan yang datang.


"Mau apa dia? Apa jangan-jangan dia tahu aku yang hampir menabrak kekasihnya tadi?" Hati Syahfiya bertanya-tanya.


"Kenapa? Terkejut aku yang datang." Cetus Alan membuyarkan lamunan Syahfiya karena terkejut.


"Emm ah tidak, Ayo silahkan masuk!" Dengan glalapan Syahfiya menyuruh Alan untuk masuk kedalam rumahnya.


"Fiya siapa yang datang?" Tanya Levin sambil berjalan menuju ke tempat Syahfiya berdiri.


Syahfiya merasa katakutan, Alan terus menatap Syahfiya dengan sorot mata membunuh.


"Em mmhh ini ada Alan." Jawab Syahfiya dengan nada terbata-bata.


Levin terus berjalan menuju ke pintu depan.


"Dia bilang ada Alan, Bukankah Alan itu adalah kekasihnya Ayumi?" Tanya Levin pada dirinya sendiri.


"Tapi untuk apa dia datang kerumahku?" Pikir Levin dengan perasaan bingung.


Kira-kira apa yang akan terjadi?


BERSAMBUNG πŸ™


Terimakasih para pembaca setia 😊


Baca juga ya karya teman Author 😘