Perjodohan Karena Hutang

Perjodohan Karena Hutang
Kebaya


Pernikahan hanya tinggal menunggu 3hari lagi , dan sekarang Anjeni sedang bersiap siap untuk ke butik untuk mencoba busana yang akan Anjeni pakai , Anjeni sedang menunggu kedatangan Maharani bersama Daniel ,untuk menjemputnya dan berangkat ke butik bersama sama .


Butik ini , butik kepercayaan Rani , ia sudah memesan 3 busana yang akan di pakai Anjeni , 1 saat akad memakai baju adat Jawa , dan 2 untuk resepsi saat malam nantinya , saat resepsi pun busananya yang satu kebaya , satunya lagi gaun modern , semua mengusung adat Jawa karena Nur yang meminta .


Mobil datang ke halaman rumah Anjeni , yang sudah pasti itu mobil Maharani , namun saat keluar ia hanya sendiri , sontak ini membuat banyak pertanyaan di kepala Nur dan Anjeni .


"Daniel kemana mbak?" Tanya Nur saat Maharani sudah turun dari mobil .


"Sudah aku ajak janjian dari semalam iya iya doang Nur dan sekarang malah di telfon gak diangkat angkat". Ucap Rani , kelihatan dari ekspresi wajahnya ia sedang marah .


"Yasudah gapapa , kita berangkat dulu ayuh". Kata Nur dan Anjeni , serta Rani masuk ke mobil untuk berangkat ke butik .


"Memang mas Daniel masih diluar mih?". kata Anjeni saat sedang di perjalanan.


"Mamih juga gak tau sayang , dia tuh sibuk banget kayanya". Kata Rani .


"Gapapa mbak Rani , biarin saja , kita tanya saja size baju dia apa , toh dia anaknya nurut toh?". Kata Nur .


"Iya sih , tapi gak zreg aja , dia yang nikah kok kita yang fitting , coba aku telpon lagi yah , dari tadi pagi aku telfon gak diangkat angkat". Ucap Rani. lalu Rani pun mengambil handphone nya dan menyentuh layar beberapa kali lalu menempelkan nya di telinga .


"Tuh kan gak diangkat lagi , kesel aku". Ucap Rani geregetan .


"Sekali lagi coba". Usul Nur , dan Maharani pun nurut .


Setelah lama di dering ke 6 ternyata di angkat , langsung saja Maharani memilih di loud speaker agar semua dengar .


"Eh , kamu lagi dimana? semalem kan mamih bilang , pulang kenapa kau tak pulang pulang? 3Hari lagi kamu nikah , ini mau fitting baju ? gimana si? kamu bikin mamih emosi saja ? anak macam apa kau ini? kamu mau nikah bukan mau pesta yang bisa di tinggal tinggal begini!!". Ucap Rani panjang lebar , sampai Anjeni yang duduk di belakang pun melongo .


'pantas saja mas Daniel sangat pusing kalau mamih marah marah, orang marah marahnya begini". Ucap Anjeni dalam hati .


"Mih , aku baru turun dari pesawat". Ucap Daniel di sebrang .


"Mau kesini?". Ucap Maharani girang .


"mau ke jerman, mau check alat alat berat".Ucap Daniel santai .


"Astaghfirullah, Daniel kamu mau nikah, kenapa masih kelayaban kesitu situ !". kata Maharani berapi api


"~" Daniel hanya diam .


"Terus ini gimana? kamu mau fitting baju? bagaimana kalau baju nya kebesaran atau kekecilan?". Tanya Maharani sambil nahan amarah .


"Pilihkan saja size XL". Kata Daniel santai


"Kamu gak mau milih gitu?". Kata Maharani masih kekeh agar Daniel mau pulang.


"Piliihkan saja mamih , mamih suka aku pasti suka". Ucap Daniel cuek.


"Kamu gak mau liat apa cantiknya calon istrimu fitting baju , kamu belum ketemu dia lagi loh , gak kangen apa?". Ledek Maharani sambil melirik Anjeni .


"Gak usah , nanti juga ketemu pas acara". Ucap Daniel masa bodo .


"Kamu normal gak si Niel , kamu mau nikah loh , santai banget si ah !!''.Ucap Rani kebawa emosi .


"Udah mih , aku mau ketemu orang proyek dulu" . Ucap Daniel dan langsung di matikan telepon nya .


"Kau lihat Anjeni , calon suami mu se santai ini, kamu harus kuat ya". Kata Maharani memelas .


"Iya mih". Jawab Anjeni apa adanya .


Setelah sampai di butik semua berjalan sesuai rencana , Anjeni tampil dengan 3 busana yang sudah di pilihkan Maharani , Anjeni suka dan saat di pakai pun sangat cocok . Pemilik butik menawarkan foto prewedding , namun Anjeni menolak , dan Daniel pun sudah pasti menolak , untuk fitting saja gak mau apa lagi prewedding .


Waktu sudah menunjukkan sore , akhirnya mereka pulang. Maharani mengantar Anjeni dan Nur pulang ,setelah sampai Maharani memutuskan untuk langsung pulang tak mampir. Mengingat hari H sebentar lagi , Nur sudah melarang Anjeni untuk pergi pergi an lagi , setiap hari pun slalu datang salon kecantikan ke rumah Jeni , untuk melakukan perawatan pada Anjeni . Teman teman dan sahabat Anjeni juga sudah silih berganti datang , untuk mengucapkan selamat dan sekedar main untuk melepas rindu .


Saat Anjeni membuka panggilan masuk disitu terdapat banyak sekali dari Davin, chat pun sangat banyak .


"Tadi ada yang nyariin kamu Anjeni". Kata Damar sambil bawa kopi dan duduk di sampingnya .


"siapa pak?". Kata Anjeni antusias.


"Siapa yah , cowo , pake motor merah besar , dia juga ganteng". Ucap Damar sambil mengingat ngingat.


Anjeni berdiam , masa ia Davin nekat kerumahnya.


"Dia 3x ada kali datang kesini , namun tak bapak bukain gerbang , tak seperti teman cewek cewekmu itu , ada atau gak nya kamu pasti bapak bukain gerbang dan suruh masuk". Kata Damar dan menyruput kopinya .


"Kalau kesini lagi jangan di ladenin ya pak". Kata Anjeni pelan .


"emang dia siapa ndok?". Kata Damar .


"Bukan siapa siapa kok , gak usah fikirkan pak". Kata Anjeni sambil nyeruput kopi nya Damar yang tergeletak di meja, songong memang .


Yang lagi di omongin ternyata menelpon , langsung Anjeni menutup layar handphone nya , dan berlalu ke kamar .


"Ada apa?". Kata Anjeni sewot .


"Aku mau ketemu". kata Davin di sebrang sana .


"Aku gak bisa , pulang lah!". Kata Anjeni memerintah.


"aku mohon , aku di depan rumahmu". Ucap Davin.


Anjeni melotot lalu membuka hordeng kamarnya. dan nampak Davin menunggu di atas motornya di depan gerbang .


"tak peduli seberapa lama aku pasti nunggu nyampe kamu keluar Jen, pliss sebentar aja".Kata Davin memohon .


"Ya , bentar". Ucap Anjeni ketus dan mematikan telpon , lalu mengambil jaketnya dan keluar , ia harus menemui nya agar davin tak datang lagi .


"Kenapa?". Ucap Anjeni setelah sampai di gerbang , Anjeni sengaja tak membuka gerbang nya, biar saja mereka berbicara di batasi gerbang .


"Aku kangen Jeni". Kata Davin memelas


"izt". Kata Anjeni malas dan membalikan badan mau masuk namun lengannya langsung di pegang oleh Davin .


"Kalau kesini cuma ngomong gak penting mending gak usah". Ucap Anjeni ketus .


"Aku tau aku salah , balik lagi ke kantor yah? jangan resign?". ucap Davin menatap Anjeni cermat


"Setidaknya setiap hari aku bisa melihatmu Anjeni".Ucap Davin selanjutnya .


Namun belum sempat Anjeni menjawab , dari arah belakang ada Damar menghampiri.


"Ehemmmm". dehem damar membunyarkan suasana , tangan Davin yang tadi Memey lengan Anjeni pun langsunh di lepas .


"Maaf mas , ini anak saya mau nikah , tolong jangan begini lagi, saya gak suka". Kata Damar tegas


"Maaf pak , sebenarnya saya ini.." Ucap Davin terpotong karena Anjeni .


"Dia mau pamit pulang kok pak , gada apa apa yaudah dav ati ati ya , aku ma bapak mau masuk dulu". Kata Anjeni sambil menggandeng tangan Damar agar mau masuk


"Jangan kesini lagi ya mas , cukup hari ini saja". Kata Damar tegas lalu masuk ke dalam , selama di jalan Anjeni sama sekali tak menengok ke belakang lagi .


Seketika Davin memegang dadanya , apa dia benar-benar kehilangan Anjeni , dan tak ada kesempatan untuk mendapatkan nya lagi .


Davin pun melanjutkan motornya lalu pergi dari pekarangan rumah Anjeni .