
"Aku takut bunyinya kedengaran sampai ruang keluarga." jawab Risa yang membuat Denis tertawa.
"Bunyi apa? kitakan cuma bermain sebentar." tanya Denis dengan tatapan mesum.
"Emmhh iya bunyi itu...."
"Bunyi apa?"
"Bunyi decitan permainan kamu sayang ih." dengan manja Risa merasa gemas pada suaminya.
Risa tahu Denis pasti tahu apa maksud Risa dengan bunyi itu, tapi Denis seolah-olah tidak tahu dan terus meledeknya.
"Kamar ini kedap suara dan kalau hanya bunyi decitan tidak akan terdengar, asal kamu jangan menjerit dengan lantang saja." jawab Denis yang kembali meledek sang istri.
Risa geleng-geleng kepala dengan tatapan kesal, tapi Denis malah senyam-senyum.
"Sudah ih sayang jangan godain terus." rengkek Risa dengan manja, Risa membaringkan kepalanya di atas pangkuan sang suami.
Denis mengusap rambut Risa menatap Risa dengan sorot mata penuh cinta.
"Istriku sebentar lagi kita akan punya anak aku akan menjadi seorang papa dan kamu akan jadi seorang mama," Denis terus mengusap-usap rambut Risa dengan penuh kasih sayang.
"Aku juga tidak sabar, kamu nanti tiap malam diganggu tangisan anak kita. awas saja jika anak kamu menangis kamu malah tidur pulas aku akan menjewer telingamu." anak belum lahir tapi Risa sudah memberikan ancaman buat Denis.
Biar bagaimanapun disini Denis yang ngebet banget pingin punya anak, kalau anaknya sudah lahir Denis tidak mau ikut membantu mengurus sih Ucil lihat saja apa yang akan Risa lakukan pada dirinya.
"Sayang jagain anak itu bagian seorang istri, kalau suami itu tugasnya menanam benih dan menyiraminya biar subur." jawab Denis yang langsung ditatap garang oleh Risa.
"Apa-apaan dia ini? jadi laki-laki maunya enaknya doang gitu." kesal Risa dalam hati.
"Ibaratnya petani kamu itu sawahnya lalu aku petaninya." sambung Denis dengan senyum penuh kemenangannya.
"Tidak ada seperti itu, dimana-mana merawat anak itu harus berang-berang." tegas Risa yang sudah merasa sangat kesal.
Denis terus menggodanya dari tadi membuat Risa kesal sekali pada dirinya.
"Risa-Risa untung istri cuma satu-satunya, tanpa kamu meminta aku membantu mengurus anak kita nanti, aku juga akan melakukannya apalagi aku sudah banyak belajar dari internet seperti cara mengganti pampers, memandikan bayi dan hal lainnya, aku akan selalu siap menjadi suami siaga untukmu istriku." batin Denis dalam hatinya.
Denis mengatakan tidak mau membantu merawat anaknya itu hanya candaannya agar Risa kesal pada dirinya. Ntahlah Denis suka sekali menggoda Risa membuat Risa kesal.
"Sudahlah kamu tidur jangan bawel atau aku akan memakanmu." omel Denis yang terus mengusap-usap rambut Risa.
"Orang masih siang bolong nyuruh aku tidur." Tolak Risa dengan manja.
"Sana lihat Panji dan Alya, mereka sedang ngapain!" Risa menyuruh Denis melihat dua sejoli yang ada diruang keluarga.
Denis memindahkan kepala Risa ke bantal lalu Denis beranjak dari tempat tidurnya, belum sempat berjalan menuju ke pintu tiba-tiba ada suara ketukan pintu.
"Tok...tok.. Kak Denis, Kak Risa." panggil Alya sambil mengetuk pintu.
"Sayang itu Alya, sana bukukan pintu!" Risa menyuruh Denis membukakan pintu.
"Untung saja Denis tidak jadi menyiram benih kalau jadi, ahh aku tidak tahu lagi apa jadinya? lagi enak-enak tiba-tiba ada yang mengetuk pintukan lucu." Risa bersyukur dalam hatinya.
Bayangkan saja jika Risa tadi mau diajak bermain kuda-kudaan oleh sang suami, pasti lagi enak-enak malah kesal karena suara ketukan pintu.
"Ceklek...." suara gagang pintu.
Denis berdiri diambang pintu dirinya menatap Alya dengan tatapan kesal.
"Dasar penganggu!" cetus Denis.
"Kak Denis saja yang salah orang siang bolong seperti ini malah berduaan di dalam kamar." Alya tidak terima dibilang penganggu oleh Denis.
"Sudah halal jadi di dalam kamar berduaan itu hal yang wajar." bela Denis yang juga tidak mau disalahkan oleh Diana.
"Satu minggu lagi aku juga halal, minggir aku mau bertemu dengan Kak Risa." Alya menjulurkan lidah dan menyingkirkan tubuh Denis yang berdiri di ambang pintu.
"Alya Panji mana?" tanya Denis.
"Ada diruang tengah, dia sedang makan mie instan." jawab Alya yang sudah duduk dihadapan Risa.
Alya sengaja meninggalkan Panji yang sedang makan mie instan diruang tengah sendirian. Karena Alya mau bertemu dengan Risa dan ada yang mau ditanyakan pada Risa.
"Sayang, aku ke ruang tengah dulu ya." pamit Denis dan langsung berlalu dari ambang pintu kamarnya.
Alya duduk tepat dihadapan Risa, Risa menatap Alya penuh tanda tanya?
"Alya ada apa?" tanya Risa yang melihat wajah cantik Alya malu-malu.
"Sebentar kak, aku tutup pintu kamar kakak dulu ya biar tidak ada yang mendengar obrolan kita nanti." Alya beranjak dari tempat duduknya untuk menutup pintu kamar Risa.
"Apa yang sebenarnya Alya mau bicarakan?" pikir Risa dalam hatinya.
Alya kembali duduk dihadapan Risa kini dirinya kembali memasang wajah malu-malu, membuat Risa semakin bingung.
"Ada apa Alya?" tanya Risa untuk kedua kalinya.
"Kak Risa satu minggu lagikan aku akan menikah, Kak waktu pertama ehem-ehem itu rasanya bagaimana sih?" tanya Alya dengan senyum malu-malu disudut bibirnya.
Risa tertawa mendengar pertanyaan dari Alya. mendengar Risa tertawa Alya jadi semakin malu wajah Alya yang putih sekarang sudah berubah menjadi merah karena menahan rasa malunya.
"Maaf Kak Risa, aku sungguh kepikiran dengan malam pertama nanti, makanya aku bertanya pada dirimu." Alya bicara dalam hati.
"Alya...." panggil Risa dengan suara lembut.
"Iya kak?" sahut Alya dengan sopan.
"Alya takut kak untuk melakukan malam pertama nanti." kata Alya sambil menundukkan kepalanya dihadapan Risa.
"Katanya melakukan pertama kalinya itu akan sakit kak, apakah itu benar kak?" sambung Alya dengan malu-malu.
Risa tersenyum lalu mengangkat kepala Alya dengan pelan.
"Tidak usah takut hanya awalnya saja yang sakit tapi lama kelamaan enak kok." jawab Risa agar Alya tidak merasa takut lagi.
Awal Risa melakukannya Risa juga takut tapi Denis terus meyakinkannya, bahkan waktu itu Risa hanya bisa berbaring di atas ranjang tempat tidurnya, karena Denis membuatnya tidak bisa berjalan gara-gara permainannya yang begitu kuat diatas ranjang.
"Sungguh kak?" Alya memastikan.
"Sungguh, nanti kalau sudah terbiasa kamu malah kadang lebih manja dan bisa juga kamu yang bakal sering memintanya lebih dulu." jelas Risa dengan senyum manisnya.
Sekarang pikiran Alya sudah traveling kemana-mana Alya senyam-senyum sendiri, kini dirinya sedang membayangkan benda tumpul milik Panji masuk kedalam miliknya.
"Punya Panji kira-kira besar apa tidak ya?" pikiran mesum Alya.
"Hayo tuh senyam-senyum sendiri mikirin apaan?" ledek Risa membuat Alya tertawa.
"Kak Risa, aku hanya memikirkan itu." jawab Alya tanpa menjelaskan apa yang sedang dipikirkan oleh dirinya.
"Jangan dibayangkan, yang jelas rasanya nikmat." jawab Risa dengan tawa jailnya.
Alya dan Risa asik mengobrol berdua dikamar, banyak yang Alya tanyakan pada Risa tentang pernikahan Risa juga menjawabnya dengan senang hati.
Diruang tengah Panji sedang sibuk makan mie instan buatan Alya sedangkan Denis duduk disamping Panji.
"Pan, kamu mau bulan madu kemana?" tanya Denis yang membuat Panji hampir tersedak.
"Kak Denis mengagetkan saja." omel Panji dengan kesal.
Siapa yang tidak kesal sedang asik makan tiba-tiba ditanyakan hal seperti itu.
"Aku mau dikamar saja kak bikin anak sama Alya." jawab Panji yang sudah terlanjur kesal dengan Denis.
"Bagus itu Pan, nanti aku kasih resep agar tahan lama." Denis malah memberikan dukungan pada Panji.
Lagi-lagi Denis membuat Panji hampir tersedak lagi gara-gara perkataannya.
"Hadeh kak satu kali tancap Alya akan kuat atau tidak aku saja memikirkan kesitu, ini malah mau dikasih resep tahan lama." Batin Panji dalam hatinya.
"Jangan kak kasian Alya." Larang Panji yang memikirkan Alya.
"Aku mau main secara halus kak, biar bola aku masuknya bagus nanti." kata Panji sambil senyam-senyum sendiri.
Denis hanya geleng-geleng kepala melihat calon saudara iparnya berkata seperti itu.
"Kasih pelicin saja Pan biar masuknya lebih muda." gumam Denis.
"Tunggu satu minggu lagi, sudah jangan membayangkan yang tidak-tidak!" omel Denis pada Panji.
"Jadi tidak sabar kak nungguin satu minggu lagi." sambung Panji.
"Tidak sabar mau ngapain sih Pan?" tanya Alya tiba-tiba yang mengagetkan Panji dan Denis.
"Emmhh..."
"Emmmhh apa?" sambung Alya dengan tatapan bingung.
"Anak kecil tidak perlu tahu!" cetus Denis yang membuat Alya meliriknya dengan tajam.
BERSAMBUNG π
Terimakasih para pembaca setia π