Perjodohan Karena Hutang

Perjodohan Karena Hutang
190.Terkurung dikamar.


Panji terus menatap wajah cantik Alya, Tanpa Sadar Panji mendekatkan wajahnya pada wajah Alya. Membuat Alya langsung memejamkan matanya.


"Apa yang mau Panji lakukan?" batin Alya.


Kini wajah mereka semakin dekat, Namun Panji tiba-tiba tertawa membuat Alya langsung menatapnya dengan kesal.


"Dasar otak mesum, Pasti kamu berpikir aku akan menciumukan?" Goda Panji dengan begitu jail pada Alya.


"Alya sebenarnya, Aku memang sangat gemas dengan bibir mungil itu." batin Panji.


"Jangan sembarangan," omel Alya.


"Panji kamu membuat jantungku berdetak dengan kencang," batin Alya.


Ayumi yang baru datang, Langsung berdehem agar Alya dan Panji berhenti berdebat.


"Ehem.. ehem apa kalian sudah selesai?" Tanya Ayumi dengan senyum manisnya.


"Selesai memangnya kita habis ngapain?" Tanya Panji, Yang membuat Ayumi langsung cengar-cengir.


"Habis main tatap-tatapan, Untung tidak ada orang ketiga." ledek Ayumi dengan jail.


Panji hanya tersenyum lalu berdecak kesal.


"Ayumi orang ketiganya itu kamu," batin Panji yang seenaknya menyalahkan Ayumi. Padahal Ayumi baru saja datang menghampiri mereka.


"Sudahlah kalian pacaran saja, Lalu nanti kita menikah bareng-bareng biar repsesinya sebelahan." saran Ayumi yang langsung ditatap tajam oleh Alya. "Kak Yumi benar-benar ya, Mulutnya ihh bikin aku gemas." batin Alya.


"Iya kak, Ntar kita gabungin saja acara pernikahan kita." jawab Alya dengan kesal.


"Katakan padaku, Kapan kamu siap menikah? Kalau aku sudah siap lahir batin." kata Panji yang langsung ditatap oleh Alya dan Ayumi secara bersamaan.


"Kalian jangan menatapku seperti itu,Itu membuatku takut!" pinta Panji yang melihat kedua wanita yang ada dihadapannya menatapnya dengan tatapan tajam.


Ayumi tersenyum, Lalu dengan jail menggoda Panji.


"Pan, Kalau Alya tidak mau denganmu kamu sama aku saja! Tapi kamu jadi yang kedua," Goda Ayumi yang langsung ditatap tajam oleh Alya, Membuat Ayumi terkekeh.


"Aku tahu Alya, Sebenarnya kamu itu cemburu tapi kamu masih malu-malu," batin Ayumi.


Bukannya membaca buku di perpustakaan, Mereka bertiga malah asik mengobrol dengan begitu asik, Panji juga selalu diam-diam memperhatikan Alya tanpa sepengetahuan dari Alya. Ayumi sadar Panji selalu curi-curi pandang pada Alya, Namun Ayumi hanya tersenyum saja tanpa mengatakan apapun.


"Dasar Panji, Diam-diam curi-curi pandang," batin Ayumi.


Beberapa bulan lagi mereka akan segera wisuda, Setelah lulus kuliah juga mereka sudah mempunyai rencana masing-masing.


"Aku duluan ya, Aku mau aku ada urusan." Pamit Ayumi yang langsung bangun dari tempat duduknya.


"Kak Ayumi, Mau kemana?" Tanya Alya.


"Aku mau pacaran, Daripada aku jadi obat nyamuk disini." jawab Ayumi yang membuat Alya langsung memayunkan bibirnya.


"Iya Yum, Kamu itu paling tahu belum diusir tapi sudah sadar diri," ledek Panji yang diiringi dengan tawanya. Lalu Ayumi hanya menjulurkan lidahnya dan langsung pergi meninggalkan Alya dan Panji.


Alya juga berniat pergi meninggalkan Panji, Namun dengan cepat Panji menarik tangan Alya.


"Lepaskan!" pinta Alya.


"Aku tidak mau, Aku mau kamu ikut denganku!" ajak Panji yang langsung menarik tangan Alya begitu saja.


Alya hanya mengikuti langkah kaki Panji, Ntah kemana Panji akan mengajak Alya pergi?.


Ayumi.


Ternyata Ayumi pergi ke kantor Alan, Ayumi sengaja datang ke kantor Alan untuk mengajak Alan makam siang bersama. Bahkan Ayumi sudah membawa makanan untuk mereka makan siang nanti.


Sesampainya dikantor, Alan sudah menyambut Ayumi di depan kantor. Karena sebelum datang ke kantor Ayumi sudah mengabari Alan lebih dulu.


Melihat Ayumi datang Alan langsung mengembangkan senyumnya.


"Calon istriku," batin Alan.


"Sini aku yang bawa, Nanti tangan kamu pegel." pinta Alan yang langsung mengambil alih tentengan yang ada ditangannya Ayumi.


Dengan senang hati Ayumi langsung memberikan tentengan tersebut pada Alan.


"Calon suami yang baik." Batin Ayumi.


Alan langsung mengandeng tangan Ayumi lalu mengajak Ayumi masuk kedalam ruangan kerjanya.


Sesampainya diruangan kerja Alan, Alan langsung membuka berbagai macam makanan yang Ayumi bawah.


"Sepertinya enak," kata Alan yang melihat makanan yang Ayumi bawa.


"Bukan, Aku tadi membeli. Aku tidak sempat masak soalnya aku baru kuliah langsung kesini," jelas Ayumi.


Alan hanya tersenyum, Lalu mengelus rambut panjang Ayumi.


"Kamu tidak usah masak sayang, Atau aku akan kembali memakan masakan rasa garam lagi seperti waktu itu." batin Alan yang tidak berani berkata jujur pada Ayumi.


Mengingat dulu pertama kali memakan masakan Ayumi rasanya asin sekali, Membuat Alan taruama. Namun Alan juga tidak menyia-nyiakan usaha Ayumi yang sudah memasakkan untuk dirinya, Jadi Alan tetap mengabiskannya.


"Kamu tidak usah masak, Biar aku saja yang memasak untuk dirimu nanti. Kamu hanya perlu melayani aku dengan baik saja kalau urusan memasak serahkan padaku," kata Alan yang jelas dengan diiringi dengan otak mesumnya.


"Baiklah," jawab Ayumi singkat.


Siang ini Ayumi dan Alan menikmati makan siang bersama dikantor Alan dengan begitu bahagia dan romantis, Bahkan sesekali mereka juga main suap-suapan membuat mereka terlihat begitu menggemaskan.


"Oh iya Risa tadi tidak berangkat ke kampus, Apa dia sakit?" Tanya Ayumi pada Alan.


"Tidak, Denis juga tidak masuk kantor paling mereka sedang main pengantin-pengantinan baru." jawab Alan, Yang membuat Ayumi langsung mengeluarkan tawanya.


"Dasar kamu ini," omel Ayumi.


"Denis pasti akan mengurung Risa dikamar seharian, Dia kalau sudah disamping istrinya otaknya diluar batas normal." kata Alan sambil geleng-geleng kepala.


Alan tahu sekali seperti apa Denis itu, Jadi ya pasti pikiran Alan tidak akan salah.


Denis dan Risa.


Denis benar-benar mengurung Risa di dalam kamar, Bahkan Denis tidak membiarkan Risa terlepas dari pelukannya.


"Sayang, Ayo bangun aku lapar!" ajak Risa.


Denis membuka matanya, Lalu bangun dari tidurnya. Kini posisi Denis sudah duduk, Denis juga sudah melepaskan Risa dari pelukannya.


"Tunggu, Aku ambilkan kamu makanan dulu!" pinta Denis, Denis langsung memakai bajunya lalu langsung pergi menuju ke dapur untuk mengambilkan makanan buat sang istri.


Sesampainya di dapur, Denis langsung menuju ke meja makan. Lalu mengambil nasi dan bermacam-macam lauk.


Setelah beberapa lama Denis kembali ke kamarnya, Lalu menyuapi Risa makan.


"Hari ini kamu jadi ratunya dan biarkan pangeran tampan ini, Melayani ratunya." canda Denis yang membuat Risa tertawa.


Dengan begitu sabar Denis menyuapi Risa, Denis juga menyuapi dirinya sendiri dan tanpa sadar Denis menghabiskan nasi yang ada dipiring tersebut.


"Kok sudah habis?" Tanya Denis yang baru sadar nasi yang ada dipiring tersebut sudah habis.


"Kamu yang menghabiskannya, Katanya mau nyuapin aku?" Risa ngambek pada Denis.


"Maaf sayang, Aku tidak sadar ternyata nasinya sudah habis." Denis langsung meminta maaf pada Risa.


"Sayang Papa jahat sama mama," Risa mengaduh pada anak yang masih ada di dalam perutnya.


Denis tersenyum, Lalu langsung mencium perut Risa dengan begitu lembut.


"Maafkan papa nak, Papa tidak sadar ternyata Papa menghabiskan makanan yang papa ambil buat mama," kata Denis. Risa mengusap-usap rambut sang suami, Lalu Risa bertanya pada Denis.


"Kalau anak kita lahir, Kamu mau memberikan nama siapa?" Tanya Risa dengan pelan.


"Aku belum tahu, Tapi aku sudah memikirkannya." jawab Denis yang akhirnya merebahkan kepalanya dipangkuan Risa.


Denis merasa sangat bahagia, Sebentar lagi dirinya akan dipanggil papa. Bahkan setelah anaknya lahir Denis ingin segera produksi lagi biar anaknya cepat banyak. Namun Risa pasti akan menolak hal ini.


"Sayang, Bayangkan saja jika nanti Ayumi menikah dengan sekertaris Alan dan Alya menikah dengan Panji, Pasti mereka akan terlihat lucu." kata Risa sambil membayangkan jika mereka-mereka itu menikah.


Bayangkan saja jika semuanya menikah dan punya anak, Pasti semuanya akan hidup bahagia. Tapi ntah seperti apa ke depannya hanya Author yang tahu.


"Sudah jangan banyak berhayal! Kamu cukup menjadi istri Denis Kusuma saja!" jawab Denis, Yang membuat Risa memanyunkan bibirnya.


Denis bangun dari pangkuan Risa,Lalu langsung mendaratkan bibirnya ke bibir mungil Risa.


"Kamu membuatku ingin kembali memakanmu," kata Denis yang kembali mencium bibir Risa.


Hari ini Risa benar-benar tidak terlepas dari singa jantannya, Karena Denis benar-benar membuatnya lemas, Biarpun akhirnya Denis harus menyelesaikan sendirian dikamar mandi karena Risa melarangnya mengeluarkan cairan hangatnya didalam rahim Risa, Itu tidak masalah bagi Denis.


"Risa semenjak hamil, Sering sekali membuatku berkerja keras sendirian," kata Denis yang kembali sibuk dikamar mandi.


Pokoknya hari ini Denis dan Risa seperti pengantin baru yang hanya dikamar saja, Sebenarnya Risa malas tapi semua ini mau sang suami jadi Risa hanya menurut saja.


"Daripada suamiku jajan diluar," batin Risa.


BERSAMBUNG πŸ™


Terimakasih para pembaca setia.