Perjodohan Karena Hutang

Perjodohan Karena Hutang
65. Terpaksa berbohong.


Satu minggu kemudian, Risa sudah mulai masuk kuliah tapi untuk kali ini Denis mengantar jemput Risa.


Risa baru keluar dari kamar mandi, Denis langsung menarik tangan Risa dan kini memepetkan tubuh Risa ketembok.


Denis mengunci tubuh Risa dengan tubuhnya.


"Den, kamu mau apa?" tanya Risa.


"Aku ingin kamu memberikan semangat pagi untukku!!" pinta Denis.


"Maksud kamu apa Den?" tanya Risa bingung.


Tanpa menjawab Denis langsung ******* bibir Risa dengan begitu nikmat.


"Eemmhh Denis" desah Risa, sambil memanggil nama Denis.


Setelah Denis puas, Denis langsung melepaskan ciumannya.


"Bibirmu sungguh membuatku kecanduan" bisik Denis, ditelinga Risa.


Tanpa pikir panjang Risa langsung menginjak kaki Denis dengan begitu keras.


"Aduh..!!" rintih Denis.


"Emang enak, minggir kamu" kesal Risa, sambil memeletkan lidahnya ke arah Denis.


Denis hanya terdiam.


"Ternyata Risa sangat lucu dan begitu mengemaskan" gumam Denis.


"Awas saja kamu!!" ancam Denis.


"Cepetlah, nanti Aku terlambat" kesal Risa, yang kini sudah berjalan menuju ruang bawah.


Denis, langsung berjalan mengikuti Risa dengan kaki yang masih kesakitan.


Didalam mobil.


Denis sudah menyalakan mesin mobilnya untuk menuju ke kampusnya Risa.


"Ris, mulai sekarang Aku akan antar jemput Kamu kuliah! jika Aku tidak menjemput atau mengantarmu maka Aku menyuruh supir untuk menjemput dan mengantarmu" jelas Denis, Denis sengaja melakukan ini karena tidak mau Risa sampai kejadian seperti waktu itu lagi waktu Risa jalan bareng Panji.


Risa menatap Denis dengan perasaan kesal.


"Hmm jika Denis melakukan itu, pasti sangat sulit untuk Aku bisa jalan dengan Panji"


"Tapi Den, Aku bisa sendiri, Aku bisa pulang pergi naik taksi" protes Risa, supaya Denis membatalkan niatnya.


"Tidak ada tapi-tapian!!" jawab Denis tegas.


"Ingat jangan sampai bertemu dengan laki-laki brengsek itu lagi!" Denis memperingatkan Risa.


"Jika kamu sampai bertemu dengan Panji, Maka Aku akan menghukummu lebih dari waktu itu" Ancam Denis, karena tidak mau Risa sampai macam-macam dibelakangnya.


"Selalu saja mengancam, tapi aku tidak peduli. Kamu saja tidak mau melepaskan Maya" gumam Risa, yang berniat untuk tidak menuruti ucapan Denis.


"Berhentilah mengancamku" kesal Risa.


"Apa kamu melawanku?" tanya Denis, dengan tatapan mata yang begitu tajam.


"Aku tidak melawanmu, Aku hanya memintamu untuk tidak mengancamku!" jawab Risa, dengan begitu entengnya.


Setelah menempuh jarak yang lumayan jauh, akhirnya Denis sampai dikampus Risa. tanpa menunggu Denis membukakan pintu Risa langsung turun dari mobil Denis.


Risa hendak melangkahkan kakinya menuju kedalam kampus, namun Denis berteriak memanggil nama Risa.


"Risaaaa...!!"


Risa menghentikan langkah kakinya.


"Sekarang apalagi?"


Akhirnya Risa membalikkan badannya.


"Iya apa?" tanya Risa kesal.


"Kemarilah" pinta Denis.


Risa kembali menghampiri Denis dan kini sudah ada didekat pintu mobil Denis, Denis langsung membuka jendela mobilnya.


"Apa kamu mau jadi istri yang tidak baik!" tanya Denis.


"Maksudnya apa? lalu apa dia suami yang baik?" gumam Risa.


"Katakan saja langsung" kesal Risa.


Denis mengeluarkan tangan kanannya keluar mobil.


"Ini!!" ucap Denis.


"Ini apa?" tanya Risa bingung.


Denis menghela nafasnya.


"Mengapa kamu begitu bodoh" kesal Denis.


"Kamu saja yang tidak jelas" elak Risa.


"Mulai sekarang cium tanganku, sebelum kamu pergi kemanapun!!" suruh Denis, dengan nada serius.


"Apa-apaan Dia?"


"Risa apa kamu tidak mau?" tanya Denis, dengan tatapan tajamnya.


Risa yang tidak ingin terlambat masuk kelas, akhirnya menuruti semua perintah dari Denis.


"Baiklah, Aku berangkat kuliah dulu ya" pamit Risa, sambil mencium punggung tangan Denis.


"Hati-hatilah, jangan pulang dulu sebelum Aku menjemputmu" jawab Denis, sambil mengacak-acak rambut Risa dengan tangannya.


Setelah Risa masuk kedalam kampus, Denis langsung melajukan mobilnya menuju ke kantornya.


Setelah menelusuri perjalanan yang tidak begitu macet, Akhirnya Denis sampai dikantor.


Dikantor.


Denis berjalan menuju ruangannya, semua pegawai Denis melihat Denis berbagai pujian terlontar dari mulut mereka.


"Tampan sekali!!"


"Aku mau jadi istrinya!!"


"Tuan Denis, tidak mau denganmu"


"Sudahlah jangan berkhayal"


Denis menghentikan langkahnya.


"Alan Mahendra..! panggil Denis.


"Tuan Denis?"


Alan langsung menghampiri Denis.


"Sepertinya tuan Denis, sangat bahagia sekali pagi ini?" tanya Alan, yang melihat wajah Denis penuh dengan senyuman.


"Aku sedang bahagia" jawab Denis, sambil merangkul Alan masuk kedalam ruangan Rama.


Denis dan Alan itu sudah kenal sejak mereka sekolah SMA, kebetulan mereka sahabat dekat namun Alan dari keluarga biasa, Akhirnya Denis meminta Alan untuk kerja dikantornya. jadi jangan kaget jika Denis dan Alan terlihat begitu akrab.


"Apa Nona muda, sudah hamil?" tanya Alan, yang membuat Denis langsung menghentikan langkahnya.


"Pertanyaan macam apa ini? Aku saja tidak pernah melakukan hubungan suami istri dengan Risa" kesal Denis dalam hati.


"Bukan itu" jawab Denis singkat.


"Sepertinya Tuan Denis sudah mulai gila gara-gara Nona muda" gamam Alan.


"Tuan, saya pamit dulu ya! ada urusan yang harus saya urus" pamit Alan, yang memang ada pekerjaan yang harus diselesaikan.


"Baiklah hati-hati" jawab Denis.


Denis langsung masuk ke ruangannya sedangkan Alan langsung pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.


Dikampus Risa.


Kelas baru saja selesai sekarang Risa sedang duduk dikursi taman yang dikampusnya, Ayumi menghampiri Risa yang sedang duduk sendirian.


"Risa..!" panggil Ayumi.


"Yumi, duduklah!" pinta Risa.


Yumi duduk disebelah Risa.


"Ris, siapa laki-laki yang mengantarmu pagi-pagi tadi?" tanya Ayumi, yang ternyata melihat Risa diantar oleh Denis.


"Aku tidak mungkin jujur dengan Ayumi, maaf Yumi aku harus berbohong" sesal Risa dalam hatinya.


"Oh itu supir baruku, Yum" jawab Risa berbohong.


"Tampan sekali" Ayumi memuji ketampanan Denis.


"Berani sekali kamu memuji suamiku" kesal Risa dalam hatinya.


"Tapikan ini juga salahku tidak jujur dengan Ayumi" gumam Risa yang merasa bersalah.


"Iya memang dia sangat tampan" saut Risa.


"Risa, Ayumi..!" panggil Panji.


"Panji...!" gumam Risa.


Panji menghampiri Risa dan Ayumi yang sedang duduk.


"Ris, kenapa kamu tidak masuk selama satu minggu ini?" tanya Panji, dengan nada ingin tau.


"Alasan apa yang harus aku berikan pada Panji, Aku tidak mungkin bilangkan semua ini gara-gara suamiku?"


Risa terdiam.


"Risa, Aku pamit dulu ya" pamit Ayumi.


"Kamu mau kemana?" tanya Risa.


"Aku ada urusan" jawab Ayumi, yang sebenarnya ingin Risa dan Panji hanya mengobrol berdua saja.


"Baiklah, hati-hati" jawab Risa.


Ayumi meninggalkan Risa dan kini Risa hanya duduk berdua dengan Panji.


"Ris, kamu belum menjawab pertanyaanku" ucap Panji lagi.


"Ehh maaf, iya Pan kemarin Aku agak kurang enak badan jadi Aku istirahat dirumah" Alasan Risa yang penuh dengan kebohongan.


"Maaf Pan, Aku terpaksa berbohong padamu" gumam Risa.


"Oh iya, maaf ya untuk kejadian waktu itu" ucap Risa, yang merasa bersalah.


"Iya tidak apa-apa, tapi boleh Aku siapa-siapa laki-laki yang waktu itu?" tanya Panji, yang sebenarnya sangat penasaran.


Risa kembali terdiam.


"Hmm, laki-laki itu adalah....." jawab Risa yang mengatung karena bingung mau memberikan jawaban Apa pada Panji.


Bersambung.