Perjodohan Karena Hutang

Perjodohan Karena Hutang
182.Kesambet cinta Alya.


Panji masih berdiri diambang pintu, Kini pikirannya sedang memikirkan Alya.


"Alya nanti Aku mau menjengukmu, Siapa tahu kalau Kamu bertemu denganku pusing Kamu akan sembuh." Gumam Panji.


Sedang asik dengan pikirannya, Tiba-tiba dosen datang lalu berkata pada Panji.


"Jangan senyum-senyum sendiri." Kata Dosen, Yang membuat Panji kaget lalu tersenyum malu-malu.


"Maaf Pak, Biasa pikiran saya sedang traveling." Canda Panji, Sambil meminta maaf pada Dosen tersebut.


"Iya traveling mikirin Alya." Gumam Panji.


"Dasar, Masuklah! Kelas sudah mau dimulai." Omel Dosen tersebut pada Panji.


Dosen tersebut langsung masuk, Panji langsung mengikuti dibelakangnya, Kini Panji sudah duduk di bangku ditengah-tengah Risa dan Ayumi duduk.


"Pan, Kenapa sih Kamu harus duduk ditengah-tengah Kita." Omel Ayumi dengan wajah kesal, Sambil melihat Panji.


"Diamlah, Kelas sudah dimulai." Kata Risa dengan suara pelan.


"Yum, Mumpung Aku masih jomblo jadi biarkan Aku duduk ditengah-tengah kalian." Jawab Panji sambil tersenyum pada Ayumi.


Ayumi hanya menggelengkan kepalanya, Lalu langsung fokus mendengar mata kuliah hari ini, Risa menghela nafasnya dengan pelan.


Dikantor Denis.


Denis dan Alan sudah selesai meeting, Hari ini Denis mengajak Alan pergi untuk membeli baju daster untuk Risa.


Karena kehamilan Risa sudah memasuki 4 bulan, Dan perutnya juga sudah mulai membuncit, Makanya Denis berpikir untuk membelikan Risa beberapa baju hamil yang nyaman dipakai oleh Risa.


"Al, Temenin Aku ya!" Pinta Denis.


"Kemana?" Tanya Alan sambil merapikan kertas-kertas, Lalu memasukkannya ke dalam map.


"Membeli baju hamil untuk Risa." Jawab Denis, Yang diiringi dengan senyuman.


Alan hanya bisa menyembunyikan tawanya, Kini pikirannya sudah traveling kemana-mana membayangkan jika dirinya sudah menikah nanti, Pasti Alan juga akan menjadi gila seperti Denis.


"Kenapa Kamu tidak mengajak Risa saja sih Den, Biar lebih seru beli baju hamil berduaan gitu." Saran Alan kepada Denis.


Menurut Alan berbelanja baju hamil bersama istri pasti akan lebih bahagia, Namun Denis menolaknya karena tidak mau Risa sampai kecapean gara-gara muter-muter dipusat perbelanjaan.


"Aku sengaja, Karena Aku ingin menunjukkan perhatianku pada Risa, Aku juga takut Risa kecapean makanya Aku mengajakmu saja." Jawab Denis, Yang langsung beranjak dari tempat duduknya.


Alan hanya menghembuskan nafasnya dengan kesal.


"Dasar Denis ada-ada saja, Aku jadi pingin cepat-cepat nikah." Gumam Alan.


Denis dan Alan langsung keluar dari ruangan kerja Denis, Lalu mereka langsung menuju ke parkiran mobil.


Denis dan Alan langsung menuju ke sebuah pusat perbelanjaan, Untuk membeli baju hamil untuk Risa.


Sesampainya dipusat perbelanjaan, Denis dan Alan langsung menuju ke toko pakaian wanita hamil.


Kini Denis mulai memilih beberapa baju hamil untuk Risa yang menurut dirinya bagus dan cocok dipakai oleh Risa.


"Al, Ini bagus tidak?" Tanya Denis meminta pendapat Alan, Denis menujukan baju hamil warna kuning yang menurut Denis begitu lucu.


"Iya itu bagus, Yang ini juga bagus." Jawab Alan, Sambil membantu Denis memilih baju hamil untuk Risa.


Akhirnya Denis mengambil banyak baju yang menurut dirinya lucu kalau dipakai oleh Risa.


"Den, Ini berlebihan." Omel Alan, Yang melihat Denis mengambil baju hamil mungkin ada sekitar 20 stell baju.


"Biar Risa sehari bisa ganti tiga kali." Jawab Denis yang tidak mempedulikan omelan Alan.


"Sudah seperti orang minum obat saja Den." Sambung Alan, Sambil menggelengkan kepalanya.


Alan hanya menggelengkan kepalanya.


"Dasar Denis ini benar-benar b*doh. Belanja baju hamil saja berlebihan seperti itu." Kesal Alan dalam hatinya.


Denis memang bisa b*doh gara-gara Risa, Waktu itu beli pembalut semua merk dibeli, Waktu itu beli testpack juga semua merk dibeli sekarang beli baju hamil saja berlebihan seperti itu sekali beli.


Setelah selesai memilih beberapa banyak baju, Denis langsung membawanya ke kasir.


Melihat banyak wanita bahkan ibu-ibu melihat Dirinya dan Alan, hanya tersenyum dengan malu-malu.


"Aku yakin pasti mereka sedang ngibahin Aku dan Denis." Batin Alan.


Para wanita yang melihat Denis dan Alan masuk ke dalam toko tersebut, Lalu memilih baju hamil, Mereka semuanya langsung mengeluarkan berbagai kata-kata dari mulut mereka.


"Lihat dua laki-laki muda itu, Pasti mereka sayang sekali sama Istri-istri mereka."


"Iya, Mereka pasti sedang mencari baju hamil untuk istrinya."


"Suamiku mana mau seperti itu."


"Apalagi suamiku, Disuruh ngaterin aja langsung marah-marah."


"Pasti wanita-wanita yang menjadi Istri-istri mereka sangat bahagia."


"Mereka wanita yang beruntung."


Ibu-ibu yang melihat Denis dan Alan juga saling mengeluarkan berbagai macam perkataan dari mulut mereka.


Setelah selesai membayar belanjaannya, Denis dan Alan langsung pulang kerumah Denis.


Risa, Panji dan Ayumi, Kini sedang dalam perjalanan menuju Kerumah Risa, Karena Panji ingin menjenguk Alya.


Panji memberhentikan mobilnya disebuah supermarket, Untuk membeli buah-buahan untuk Alya yang sedang sakit.


Setelah selesai membeli buah-buahan, Panji kembali ke mobilnya, Lalu langsung melajukan mobilnya menuju kerumah Risa.


"Kamu membeli banyak buah-buahan sebanyak ini." Kata Risa sambil melihat berbagai macam buah-buahan yang Panji beli untuk Alya.


"Iya itu semuanya untuk Alya, Biar Dia cepat sembuh." Jawab Panji sambil fokus menyetir.


Ayumi hanya diam saja.


Sesampainya dirumah Risa, Mereka semuanya langsung turun dari mobil, Lalu masuk ke dalam rumah Risa.


"Ris, Apa Kamu pindah rumah?" Tanya Ayumi, Karena Alamat yang di datangi beda dengan rumah Risa yang dulu.


"Tidak Yum, Ini rumah mertuaku." Jawab Risa.


Panji tidak bertanya, Karena sebelum Panji pernah datang kerumah itu waktu mengantar Alya pulang dari rumahnya.


Melihat Ayumi dan Risa malah asik mengobrol sambil cengengesan, Membuat Panji langsung merasa kesal pada mereka.


"Ayolah, Ngobrolnya lanjutin di dalam saja!" Pinta Panji, Dengan raut wajah yang kesal.


"Katanya tidak pacaran tapi tidak sabaran." Omel Ayumi, Sambil melirik kearah Panji.


"Tahu dasar aneh Kamu Pan." Sambung Risa.


Akhirnya mereka bertiga langsung masuk ke dalam rumah Risa.


"Kan saat ini belum pacaran, Siapa tahu nanti bisa lebih dari pacar ya misalnya calon suami gitu." Jawab Panji, Sambil cengar-cengir.


Ayumi dan Risa, Langsung meninggalkan Panji gini mereka masuk ke dalam rumah terlebih dahulu sedangkan Panji sambil berjalan sambil cengar-cengir tidak jelas.


"Setelah Aku menjengukmu, Pasti Kamu langsung sembuh." Batin Panji.


"Ceklek....." Risa membuka pintu rumahnya, Karena memang tidak dikunci juga.


"Kok sepi Ris?" Tanya Ayumi.


"Suamiku masih dikantor, Mama mungkin pergi kalau Alya mungkin dikamarnya." Jelas Risa.


Risa berniat masuk ke dalam kamar Alya, Namun ternyata Alya sedang asik nonton film drama, Sambil menangis.


Risa yang melihat Alya sedang menangis gara-gara adegan filmnya sedih, Membuat Risa hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Sepertinya Alya pura-pura sakit." Batin Risa.


"Alya." Panggil Panji dengan suara lembut.


Alya langsung menoleh kearah suara tersebut, Lalu Alya melihat sosok Panji.


"Apa Dia terus menghantuiku? Sudah tahu Aku tidak masuk kuliah karena tidak mau bertemu dengan." Gumam Alya kesal.


"Alya.......!!" Panggil Panji yang menaikan suaranya lebih keras.


Alya langsung mencubit pipinya.


"Ternyata ini nyata, Ini bukan hantunya Panji." Gumam Alya, Yang terus melihat Panji.


Ayumi dan Risa langsung tersenyum pada Alya, Lalu ikut bergabung duduk di sofa tempat Alya duduk.


"Hay Alya." Sapa Ayumi dengan manis.


"Kak Yumi." Jawab Alya dengan wajah kaget.


Panji langsung berjalan menuju ke tempat Alya duduk, Lalu menaruh tentengan plastik yang berisi buah-buahan diatas meja.


"Panji, Untuk apa Kamu kesini?" Tanya Alya dengan tatapan wajah tidak suka.


"Kata Risa, Kamu sakit jadi Aku menjengukmu. Siapa tahu kalau udah dijenguk Aku, Kamu langsung sembuh." Kata Panji, Yang langsung duduk disamping Alya.


Alya hanya bisa menghembuskan nafas kesalnya, Karena rencananya menghindari Panji ini malah sekarang ada dihadapannya.


"Niat mau ngindarin pahlawan s*alan, Ini malah sekarang ada di depan mata." Gumam Alya.


"Memangnya Kamu Dokter, Yang ada Kamu datang kesini itu membuatku semakin sakit kepala." Kesal Alya dengan tatapan tidak suka pada Panji.


"Apa Kamu sakit kepala gara-gara masalah Kita?" Tanya Panji, Sambil mengupaskan jeruk untuk Alya.


"Sudahlah, Jangan dibahas." Sambung Alya.


"Makanlah!" Panji menyuapkan jeruk yang sudah dikupas kemulut Alya.


Alya juga langsung membuka mulutnya, Lalu menerima suapan dari tangan Panji.


"Ternyata Dia bisa bersikap romantis seperti ini." Batin Alya, Sambil menahan senyumnya dalam hatinya.


"Apa kalian berdua sudah mulai ada benih-benih cinta." Kata Ayumi tiba-tiba.


Membuat Alya tersedak, Lalu dengan cepat Panji langsung mengambil gelas yang berisi air putih yang ada diatas meja.


"Minumlah." Kata Panji dengan lembut. Alya langsung meminum air putih tersebut, Setelah selesei meminumnya. Alya langsung memberikan kembali gelas itu pada Panji.


Risa hanya diam, Namun matanya menatap Alya dan Panji penuh tanya.


"Apa mungkin sebenernya diantara mereka, Ada hubungan yang kita semua tidak tahu?" Batin Risa.


"Kak Yumi, Benih-benih cinta apaan? Yang ada Aku tambah sakit kepala karena dirinya." Bantah Alya dengan begitu serius.


"Sudahlah Yum, Mungkin mereka belum mau mengakuinya." Sambung Risa.


"Iya lagian, Mereka sama-sama jomblo ini kalau adanya benih-benih cinta diantara mereka ya itu bagus." Jawab Ayumi, Yang diiringi dengan senyuman.


Alya hanya menatap Risa dan Risa dengan tatapan kesal, Sedangkan Panji malah senyum-senyum penuh arti.


"Kalian tidak tahu saja, Aku dan Alya sudah dijodohkan." Gumam Panji.


Dalam perjodohan ini Panji memang tidak menolak sedangkan Alya masih belum menerima perjodohan ini.


Apalagi kedua orangtua Alya belum membahas masalah perjodohannya dengan Panji.


Sedang asik mengobrol tiba-tiba, Ada yang membuka pintu rumah. Karena memang pintunya tidak dikunci.


Ntah siapa yang datang, Tanpa mengetuk pintu lebih dulu?


Bersambung πŸ™


Terimakasih para pembaca setia 😊