
"Ada apa dengan mereka?" Tanya Ayumi penasaran.
Risa dan Ayumi hanya mengawasi Panji dan Alya dari kejauhan.
Alya menatap Panji dengan tatapan kesal, Sedangkan Panji menatap Alya dengan tatapan bingung.
"Kenapa semalam telpon dariku tidak diangkat?" Tanya Panji dengan tatapan tegas.
"Tidak penting jadi aku tidak mengangkatnya." Jawab Alya yang membuat Panji semakin bingung pada Alya.
"Alya itu kenapa sih?" Batin Panji.
"Sudahlah aku mau ke kantin dulu, Aku lapar!!" Alya langsung pergi meninggalkan Panji begitu saja, Dengan cepat Panji mengejar Alya lalu menarik tangan Alya hingga masuk kedalam pelukannya.
Alya terdiam dan membiarkan tubuh mungilnya itu berada dalam pelukan Panji.
"Rasanya nyaman sekali." Batin Alya.
"Katakan padaku, Kamu kenapa?" Tanya Panji dengan lembut.
"Masih bertanya kenapa? Apa dia itu pura-pura bodoh setelah berfoto sok akrab dengan seorang gadis, Bahkan dia mengupdate foto itu beberapa kali." Gumam Alya.
Alya tahu Panji tidak pernah membuat status macam-macam, Bahkan ketika Panji dekat dengan dirinya Panji juga hampir tidak pernah mengupdate foto kebersamaan mereka. Melihat Panji tiba-tiba mengupdate foto dengan gadis lain, Membuat hati Alya begitu cemburu dibuatnya.
Alya mengambil ponselnya dari dalam tas, Lalu menggeser layar ponselnya, Alya menunjukkan status yang dirinya secrenshoot untuk menjadi bukti kenakalan Panji kemarin.
Karena Alya tahu dalam 24 jam status itu akan hilang, Jadi Alya berinsiatif secrenshoot status-status Panji kemarin dengan gadis lain.
"Ini siapa?" Dengan tatapan serius Alya bertanya pada Panji.
Panji langsung mengambil ponsel Alya dari tangan Alya, Lalu mengamati foto tersebut.
"Haahh bukannya ini aku dengan Sisil, Aku tidak membuat foto ini menjadi status, Aku yakin ini ulah Sisil. Waktu aku ke kamar mandi kan aku ninggalin ponsel, Dan pasti dia yang menbuat semua status ini." Gumam Panji dengan rasa kesalnya.
"Alya aku bisa jelasin semua ini, Ini adalah Anaknya temannya mamaku, Aku juga tidak membuat status itu!" Panji berusaha menjelaskan pada Alya, Namun Alya tidak mau mendengarkannya.
Alya malah menutup telinganya dengan kedua tangannya, Membuat Panji semakin kesal padanya, Panji memegang kedua tangan Alya dengan lembut lalu menurunkan dari kedua telinganya Alya.
"Alya aku sungguh tidak membuat status itu!" Panji menjelaskan pada Alya dengan nada lembut dan menatap mata Alya dengan tatapan yang begitu tulus.
Panji sadar yang membuat status itu Sisil anak dari teman mamanya, Panji pada saat itu sedang pergi ke kamar mandi dan meninggalkan ponselnya dipinjam oleh Sisil Karena masih digunakan untuk berfoto-foto dan salahnya Panji tidak memberikan kata sandi pada ponselnya jadi semua orang bisa membuka apa saja yang ada di dalamnya.
Dan pada saat itu Sisil mengupdate fotonya bersama Panji diponsel Panji, Setelah keluar dari kamar mandi Panji benar-benar tidak mengecek ponselnya lagi, Jadi Panji juga tidak tahu ternyata Sisil mengupdate foto-foto mereka.
"Tapi itu diponsel milikmu, Lalu kamu mau mengelak!!" Cetus Alya yang hatinya dikuasai oleh rasa cemburunya.
"Apa kamu sedang cemburu?" Tanya Panji dengan senyum manisnya.
"Aku yakin Alya pasti cemburu, Iyalah fotonya begitu akrab." Gumam Panji senang.
Alya langsung mengalihkan wajahnya, Kini Alya benar-benar malu karena tebakan Panji itu benar kalau dirinya sedang cemburu gara-gara status.
"Tidak!" Jawab Alya yang tidak berani menatap wajah tampan Panji, Alya juga tidak berani menatap sorot mata Panji.
"Iya sudah kalau kamu tidak cemburu, Terus untuk apa kamu permasalahan semua ini, Lagiankan kita juga tidak ada hubungan apa-apa kita juga tidak pacaran." Jelas Panji dengan tatapan datarnya, Membuat Alya merasa sangat geram.
"Kamu bilang kita tidak ada hubungan apa-apa? Jelas-jelas kita sudah dijodohkan." Kesal Alya dalam hatinya, Dalam hati Alya ingin rasanya berteriak.
"Baiklah kita tidak ada hubungan apa-apa, Ya sudah biarkan aku pergi!!" Alya langsung melepaskan dirinya dari pelukan Panji.
Alya langsung berjalan dengan pelan, Namun dengan cepat Panji kembali menarik tangan Alya, Membuat Alya langsung menoleh kehadapan Panji.
"Apalagi?" Bentak Alya yang merasa sangat kesal.
Alya kesal karena Panji bilang diantara mereka tidak ada hubungan apa-apa, Jelas-jelas mereka sudah dijodohkan oleh orangtua mereka.
"Alya, Kita memang tidak pacaran, Kita juga tidak punya hubungan apa-apa, Tapi kamu adalah wanita yang ada di dalam hatiku, Alya jadilah istriku! Aku mau kamu menikah denganku dan menjadikan perjodohan ini menjadi nyata." Tanpa bertele-tele Panji langsung meminta Alya menjadi istrinya, Bahkan Panji mengatakan semuanya dengan lantang membuat Ayumi dan Risa mendengarnya.
Alya terdiam Panji langsung berjongkok lalu mengambil kotak kecil dari dalam tas nya, Ayumi dan Risa langsung berjalan menuju ketempat Alya dan Panji berdiri untuk memberikan dukungan buat Panji.
"Alya jadilah istriku!" Pinta Panji yang langsung membuka kotak kecil yang berisi cincin berlian yang begitu indah.
Mata Alya tidak percaya melihatnya, Ayumi dan Risa langsung bersorak-sorak.
"Terima...terima...terima!!" Ayumi dan Risa bersorak dengan kompak, Alya tersenyum malu-malu.
"Alan aku juga mau," Ucap Ayumi yang penuh harapan.
Alya melihat kearah Risa untuk meminta persetujuan dari Risa, Risa tersenyum lalu dengan cepat menganggukan kepalanya, Alya tersenyum lalu langsung menatap mata Panji dengan tulus.
"Karena kita sudah dijodohkan jadi aku mau menjadi calon istrimu." Alya menerima Panji, Panji langsung berdiri dengan penuh semangat Panji memeluk Alya.
"Terimakasih Alya," Panji mengucapkan terimakasih pada Alya.
"Pasangkan dulu cincinnya." Alya merajuk.
"Tapi tunggu cincin ini begitu indah, Apa kamu yang memilihnya?" Tanya Alya sebelum Panji memasangkan cincin tersebut dijari manisnya.
"Tidak, Ini adalah peninggalan dari nenekku." Jawab Panji dengan senyum manisnya.
"Aku berharap cintaku dan Alya akan seperti nenek dan kakekku, Hanya maut yang akan memisahkan." Doa Panji dalam hatinya.
Alya tersenyum bahagia, Kini wajah yang tadinya kesal gara-gara cemburu sekarang sudah menjadi begitu bahagia.
Panji langsung memasangkan cincin berlian tersebut ke jari manis Alya, Lalu mencium tangan Alya penuh cinta.
Ayumi dan Risa mereka saling berpelukan bahagia rasanya menyaksikan kebahagiaan Alya dan Panji.
Akhirnya perjuangan Panji membuahkan hasil yang indah, Hari ini Panji meminta Alya bukan sebagai pacarnya tapi sebagai calon istrinya.
Setelah selesai menyatakan perasaannya Panji mengajak Alya, Risa dan Ayumi untuk makan dikantin.
Bahkan untuk merayakan hari bahagianya Panji metlaktir semua teman kampusnya yang ada dikantin.
Dikantor Denis.
Denis dan Alan sedang memperdebatkan nama anak Denis nanti.
"Al, Berikan saran padaku jika anakku kembar nanti bagusnya dikasih nama apa?" Tanya Denis yang sudah duduk disamping Alan.
Alan yang sedang sibuk dengan laptopnya akhirnya menyingkirkan laptopnya.
"Den, Memangnya anak kamu sudah pasti kembar?" Alan berbalik bertanya pada Denis.
"Aku juga tidak tahu, Risa tidak pernah mau memeriksakan apa jenis kelamin juga." Jawab Denis dengan raut wajah bingung.
"Dasar b*doh belum tahu jenis kelaminnya tapi sudah memastikan bayinya kembar." Gumam Alan dengan perasaan kesal.
"Bagaimana jika aku kasih nama Hana dan Hani atau Syahikila dan Syahira itu jika anakku kembar perempuan semua," Kata Denis yang membuat Alan hanya geleng-geleng kepala.
"Den, Kan kamu belum tahu anak kamu kembar atau tidak, Cewek atau cewok juga belum tahu, Lalu bagaimana mau mencari nama yang cocok?." Jelas Alan pada Denis.
"Kamu berikan saran padaku, Kenapa malah menceramahiku?" Omel Denis pada Alan.
"Aku bingung Den, Nanti aku pikirkan kalau sudah dirumah!" Kata Alan yang pusing harus memikirkan nama bayi padahal Denis belum tahu anaknya kembar atau tidak, Cewek atau cowok.
Akhirnya mereka berdua terus memperdebatkan masalah nama anak Denis nanti.
BERSAMBUNG π
Terimakasih para pembaca setia π
Baca juga ya karya baru Author π