
Beberapa hari kemudian, Risa sudah pulang dari rumah sakit. Alya dan Panji juga sudah pulang dari liburan mereka.
Hari ini Panji dan Alya langsung berkunjung kerumah Denis untuk memberikan kado untuk sang ponakan yang baru saja lahir beberapa hari yang lalu.
"Tok..tok..." suara ketukan pintu.
Mendengar suara ketukan pintu Denis beranjak dari tempat duduknya untuk membukakan pintu rumahnya.
"Sebentar sayang aku buka pintu dulu." Denis langsung berlalu pergi dari hadapan Risa.
Risa sedang duduk di sofa sambil menyusui anaknya.
"Nak siapa yang datang ya?" Tanya Risa pada Danis yang belum mengerti apapun.
"Ceklek...." Denis membuka pintu rumahnya.
"Alya bawel sama suaminya, masuklah!" pinta Denis dengan tatapan agak jutek, yang membuat Alya langsung memanyunkan bibirnya.
Seperti inilah sikap mereka kalau bertemu tidak pernah bisa akur, padahal Denis sudah menjadi papa anak satu dan Alya juga sudah menikah tapi sikap ke kanak-kanakan mereka tidak bisa hilang dari diri mereka.
"Cie udah jadi papa muda." Goda Panji dengan begitu jail.
"Muda darimananya suamiku? Kak Denis itu sebentar lagi juga sudah menginjak kepala tiga." Bantah Alya yang tidak setuju dengan sang suami.
"Aish apa kalian ini sedang meldekku, kalian mau masuk atau pintunya akan aku tutup kembali," Denis menatap Alya dengan tatapan penuh kejailannya.
Alya dan Panji langsung masuk ke dalam rumah Denis, setelah Alya dan Panji masuk Denis menutup pintu rumahnya kembali.
"Suamiku aku rasa yang pantas disebut papa muda itu kamu, Kak Risa itu mama muda yang cantik." Alya tersenyum lalu langsung berlari menuju tempat Risa duduk, kini Alya langsung duduk disebelah Risa.
"Buat anaknya dulu, adonan saja belum jadi ini sudah mengecap suaminya sebagai papa muda." Bantah Denis yang tidak terima dengan apa yang dikatakan Alya.
Usia Risa dan Denis memang berbeda beberapa tahun.
Denis dan Panji kini mereka sudah duduk bersebelahan sambil memperhatikan istri-istri mereka yang sedang asik mengajak Danis bercanda, ntalah apa yang Risa dan Alya candakan pada bayi yang masih berumur beberapa hari itu.
"Kak aku bawakan kado buat sih tampan, oh iya kak namanya siapa?" Alya memberikan kado yang dibawanya pada Risa, Risa menerima kado dari Alya kemudian Risa menaruhnya disebelah Risa duduk.
"Terimakasih Tante Alya, namnya Danis." Jawab Risa dengan senyum tulusnya.
Risa membuka kado dari Alya dan isinya banyak sekali baju-baju bayi yang lucu.
"Lihat nak ini kado dari Tante Alya dan Om Panji," Risa melihat satu persatu baju-baju bayi dari Alya.
"Wahh ini lucu sekali." Risa tersenyum senang.
Alya tersenyum mendengar nama anak Risa, bukan karena apa-apa hanya saja Alya tidak percaya kakaknya memberikan nama pada anaknya yang hampir sama dengan dirinya.
"Danis ponakan tante, tante juga pingin cepat-cepat gendong bayi," Alya mengelus pipi Danis dengan tangannya.
"Kamu minta Panji buatkan satu untukmu!" Jawab Risa.
"Iya kak setiap malam kami membuatnya, apalagi liburan kemarin kita itu lebih sering ngabisin waktu dikamar," Alya cerita pada Risa dengan begitu polosnya.
Sungguh Risa ingin sekali tertawa, apalagi dirinya punya saudara sepolos Alya sampai masalah seperti itu saja Alya ceritakan kepada Risa.
"Pabrik kamu buka setiap hari dong Al, terus Panji juga pasti produksi mulu tiap malam." Risa senyam-senyum menggoda Alya.
"Ahh Kak Risa bisa saja." Alya tersenyum malu-malu.
Alya dan Risa berpindah ke kamar, karena Danis juga sudah tidur sedangkan Denis dan Panji mengobrol diruang tengah sambil menonton televisi.
"Pan, bagaimana?" Tanya Denis.
"Bagaimana apanya kak?" Panji balik bertanya.
"Sesuatu yang aku kasih waktu pesta pernikahan malam itu." Jelas Denis.
"Tahan lama doang kak tapi tidak topcer," Jawab Panji sambil geleng-geleng kepala.
Ternyata jawaban Alan dan Panji itu sama saja, sama-sama sesuatu yang diberikan oleh Denis itu hanya bersifat tahan lama saja.
"Tapi kak tenang saja, waktu liburan kemarin aku produksi setiap malam dengan Alya. aku sih berharap mudah-mudahan jadi kak." Cerita Panji kepada Denis.
Sungguh pasangan ini memang lucu Panji dan Alya itu sama-sama polosnya. Tadi Alya cerita pada Risa tentang produksinya, sekarang Panji juga bercerita pada Denis.
"Dasar kamu ini, ternyata getol juga buat anaknya." Denis tertawa sejadi-jadinya dihadapan Panji.
Panji merasa kesal pada Denis.
"Apa-apaan Kak Denis malah menertawakanku, mentang-mentang benih dia sudah jadi." Gumam Panji.
"Getol kak biar cepat jadi." Panji memasang wajah membanggakan dirinya sendiri.
Jam menunjukkan pukul 12 siang, Panji dan Alya pamitan untuk segera pulang dari rumah Denis.
Setelah Alya dan Panji pulang Denis masuk kedalam kamarnya.
Risa sedang berbaring diatas tempat tidurnya sambil menemani anaknya yang sedang tertidur pulas.
"Sayang apa sih Danis doang yang kamu kelonin setiap hari, terus Danis juga yang nyusu setiap hari, aku juga mau sayang." Denis tiduran dibelakang Risa sambil memainkan rambut panjang Risa.
Melihat sikap sang suami yang seolah-olah merasa iri dengan anaknya membuat Risa ingin sekali menjewer telinganya.
"Dasar Denis siapa dulu yang ngebet banget pingin punya anak, sekarang giliran sudah punya anak malah seperti anak kecil seperti itu." Batin Risa dalam hatinya.
"Suamiku nanti tunggu Danis tidur nyenyak, baru aku urusin kamu." Jawab Risa dengan nada lembut.
"Tidur nyenyak? Orang Danis setiap malam terus menangis." Denis memeluk Risa dari belakang, tapi Risa membiarkannya saja.
Benar kata Denis setiap malam anaknya itu menangis, bahkan Denis juga ikut bergadang jagain sang anak dan nanti kalau dikantor Denis tidur di ruangnya gara-gara mengantuk jagain anaknya yang nangis terus tiap malam.
"Namanya juga bayi ya bisanya nangis suamiku," Risa berusaha memberikan pengertian pada sang suami.
15 menit telah berlalu suara Denis sudah tidak terdengar, Risa membenarkan posisi tidurnya menjadi duduk dan melihat Denis ternyata sudah terlelap tidur.
"Pantesan tidak bawel ternyata dia tertidur," Risa memperhatikan wajah lelah suaminya.
"Suamiku, maafkan aku kalau akhir-akhir ini aku sibuk mengurus anak kita," Risa membelai pipi suaminya lalu mencium pipinya dengan lembut.
Kini sorot mata Risa tertujuh pada kedua laki-laki yang sekarang sudah menjadi bagian dalam hidupnya, iya mereka adalah anak dan suaminya.
"Kalian adalah orang-orang yang aku sayang." Mata Risa berkaca-kaca hampir saja meneteskan air matanya, tapi Risa langsung menyekanya.
"Owe....owek" anggap saja suara tangisan bayi.
Mendengar anaknya menangis Denis hanya bergulat dan kembali tertidur lagi, Risa hanya bisa geleng-geleng kepalanya.
"Dasar kebo anaknya nangis saja malah tidur lagi." Gumam Risa.
Risa mengambil anaknya yang menangis lalu mengecek pampersnya.
"Pantes nangis ternyata kamu pup ya anak Mama." Risa tersenyum simpul.
Risa kembali membaringkan Danis ke kasur, kemudian Risa bergegas mengambil perlengkapan bayi dan pampres untuk segera mengantikan pampers Danis.
"Owe...owek...." suara tangisan Danis.
"Sayang, ini Danis nangis terus." Denis masih terus tertidur bukannya bantuin Risa.
"Suamiku bangunlah jaga anakmu dulu, kalau kamu tidur terus dan tidak mau ikut menjaga Danis, maka aku akan pulang ke rumah mama saja." Kata Risa yang sedang sibuk mengambil perlengkapan bayi.
Mendengar kata-kata Risa, dengan cepat Denis langsung bangun dari tidurnya.
"Tidak kalian tidak boleh kemana-mana," Denis langsung menggendong anaknya.
Setelah mengambil perlengkapan bayi, Risa berjalan sambil tersenyum.
"Giliran diancam langsung deh dia bangun," Risa senyam-senyum dalam hatinya.
Risa duduk ditepi ranjang, kini dia mau menganti pampers sang anak tapi dengan cepat Denis mencegahnya.
"Biar aku saja sayang!" Pinta Denis dengan lembut.
"Memangnya kamu bisa?" Risa memastikan.
"Bisa, aku sudah banyak belajar dari internet." Jawab Denis penuh keyakinan.
Denis kembali membaringkan anaknya dikasur, lalu langsung menujukan aksinya menganti pampers.
Risa senyam-senyum memperhatikan sang suami yang sedang sibuk menganti pampers sang anak.
"Selesai...." Denis sudah selesai menganti pampers sang anak.
"Jangan tinggal dirumah mama, pokoknya aku akan menjadi papa siaga." Denis meyakinkan Risa sambil mengedipkan satu matanya.
"Iya awas saja jika kamu bohong." Risa menatap Denis dengan sorot mata mengancam.
Setelah kelahiran Danis keluarga kecil Risa terlihat lebih lengkap dan tambah bahagia, biarpun akhir-akhir ini Risa sering berdebat dengan suaminya gara-gara masalah anak. Apalagi kalau suaminya sedang menujukan rasa irinya rasanya Risa sangat gemas sekali.
"Sayang buat anak lagi yuk!!"
BERSAMBUNG π
Terimakasih para pembaca setia π