
Risa terdiam memikirkan perkataan Denis.
"Ris, kenapa kamu diam saja?" tanya Denis, sambil menatap wajah Risa.
"Lalu kamu dengan Maya bagaimana?" tanya Risa memastikan, karena Risa tidak mau sampai kecewa kedua kalinya.
Denis menggegam tangan Risa dengan begitu erat.
"Aku akan ninggalin Maya, tapi Aku butuh waktu untuk membuktikan kebusukan dia selama ini" jawab Denis, dengan jujur.
Denis bangun dari pangkuan Risa, lalu duduk disamping Risa, kini Denis menarik kepala Risa agar bersandar di bahunya.
"Tapi Aku masih kuliah, tunggu sebentar lagi setelah Aku lulus kuliah" usul Risa pada Denis, yang kini sudah bersandar di bahu Denis.
Denis kembali memegang tangan Risa.
"Aku tidak mau menunggu terlalu lama Ris, kalau masalah kuliah kamu bisa cutti waktu Kamu hamil nanti" jawab Denis, yang tidak mau menunda untuk segera punya Anak.
Tiba-tiba ponsel Denis berdering dan ternyata itu telpon dari Alan.
Denis mengangkat telpon.
"Hallo, Tuan Denis..." sapa Alan.
"Katakan ada apa, Al?" tanya Denis tanpa bertele-tele.
"Tuan belum datang ke kantor, hari inikan ada metting dengan klien dari perusahaan xx" jawab Alan.
"Kamu yang urus saja Al, Aku sedang dirumah mertuaku soalnya" jawab Denis.
Alan yang sudah mengerti maksud perkataan Denis, akhirnya langsung mematikan saluran teleponnya.
Setelah menelpon Denis, Alan langsung pergi menuju ketempat metting, sesuai perintah Denis metting kali ini Alan yang mengurusnya.
Kembali ke Risa dan Denis.
"Siapa yang menelpon?" tanya Risa dengan nada pelan.
"Alan yang menelpon" jawab Denis jujur.
Ponsel Denis kembali berdering, kali ini telpon dari Maya.
Denis menghela nafasnya, lalu mengangkat telpon dari Maya dihadapan Risa.
"Ada apa May?" tanya Denis tanpa basa-basi.
"Sayang kamu dimana? ayo kita bertemu!" kata Maya, dengan nafas yang begitu manja.
"Maaf May, Aku sedang bersama dengan istriku jadi Aku tidak bisa menemuimu" jawab Denis, yang memang sebenarnya males untuk bertemu dengan Maya.
Tanpa mendengarkan jawaban dari Maya, Denis langsung mematikan saluran teleponnya.
"Dasar Denis sialan, bisa-bisanya sekarang kamu bersikap seperti ini padaku" kesal Maya, lalu langsung membanting ponselnya kelantai.
Kembali ke Denis dan Maya.
"Apa Maya yang menelpon?" tanya Risa dengan suara begitu males.
Denis langsung menarik Risa kedalam pelukannya, lalu mengusap rambut Risa dengan tangannya.
"Tidak usah kawatir, Aku tidak akan meninggalkanmu seperti malam itu" kata Denis, yang mengingat kejadian dimana Denis meninggalkan Risa karena mendapat telpon dari Maya.
"Jika itu sampai terjadi, Aku tidak mau bersamamu lagi" kata Risa, dengan tegas.
"Aku janji itu tidak akan terjadi, sekarang kamu adalah wanita satu-satunya dalam hidupku" jawab Denis, sambil mencium kening Risa.
Risa hanya duduk tenang sambil menyandarkan kepalanya di bahu Denis.
"Aku belum percaya, takutnya Kamu plin-plan lagi" kata Risa, sambil tersenyum pada Denis.
Risa beranjak dari tempat duduknya, lalu melangkahkan kakinya untuk menuju ke dalam kamarnya.
"Kamu mau kemana?" tanya Denis.
"Aku mau mandi dulu" jawab Risa.
Risa melangkahkan kakinya menuju kamarnya, Denis bangun dari tempat duduknya. lalu mengikuti Risa dibelakang Risa.
"Dasar kucing, suka banget mengekor" kata Risa, yang melihat Denis berjalan dibelakangnya.
"Kamu kan ikannya, ya Aku kuncingnya" goda Denis, sambil mengedipkan satu matanya.
"Kamu tidak-tidak apa?" tanya Denis, yang merasa kawatir pada Risa.
Kini mata keduanya saling menatap penuh arti, mereka tidak bisa menyembunyikan bahwa mereka sudah saling menyukai terutama Denis yang sudah jatuh cinta lebih dulu pada Risa.
"Aku tidak apa-apa" jawab Risa, dengan nada yang begitu gugup.
Risa langsung membenarkan posisinya, kini Denis akhirnya mengangkat tubuh Risa masuk ke dalam kamarnya.
"Den, turunkan Aku! Aku bisa berjalan sendiri" kata Risa, yang kini sudah mengalungkan tangannya dileher Denis.
"Diamlah, Aku tidak mau kamu sampai terjatuh lagi untuk kedua kalinya" jawab Denis, sambil mengecup bibir Risa dengan lembut.
"Cup.." satu kecupan dibibir Risa.
"Denis, Kamu selalu mengambil keuntungan dariku" omel Risa, sambil memayunkan bibirnya.
Denis tersenyum pada Risa.
"Karena bibirmu, selalu membuatku ingin memakanmu" jawab Denis, yang lagi-lagi kembali mengecup bibir Risa dengan jail.
Kini bibir Risa itu sudah membuat Denis kecanduan dan selalu ingin melahapnya.
"Bibirmu membuatku kecanduan" goda Denis.
"Apa secandu itu, bukakan ciumanku terlalu payah menurutmu" tanya Risa, sambil menyunggingkan senyum menggoda pada Denis.
"Jangan terus menggodaku, atau Aku akan langsung memakanmu sekarang" jawab Denis, dengan tatapan mesumnya.
Setelah sampai dikamar Risa, Denis mendudukkan Risa ditepi ranjang, lalu Denis memegang kaki Risa dengan perlahan.
Risa yang tidak tau, sebenarnya Denis mau melakukan apa? akhirnya Risa bertanya pada Denis.
"Kamu mau apa?" tanya Risa.
"Apa Denis sungguh ingin memakanku?" pikiran mesum Risa.
"Diamlah, Aku mau mengecek kakimu terkilir atau tidak" jawab Denis, yang kini sudah duduk agak menunduk dihadapan Risa.
"Aku kira Kamu, akan makanku disiang bolong seperti ini" gumam Risa.
Denis memegang kaki Risa dengan pelan, lalu mengurutnya.
"Den, tidak apa-apa kaki Aku tidak sakit kok" kata Risa, yang kini malu karena pikiran mesum yang ada di otaknya saat ini.
Denis bangun dari dihadapan Risa, lalu duduk disamping Risa.
"Ris, kita bikin Dede Bayi ayo!" ajak Denis, dengan nada jail.
Risa mencubit lengan tangan Denis dengan tangannya.
"Ahhh sakit Risa..." rintih Denis, dengan nada menggoda.
"Ini masih siang, nanti malam saja Den" jawab Risa, sambil tersenyum malu.
"Aduh Den, Aku sebenarnya takut sama deg..deggan" gumam Risa dalam hatinya.
"Apa itu tandanya Kamu sudah setuju untuk punya Anak secepatnya?" tanya Denis, sambil memegang tangan Risa.
Kini wajah Denis, menghadap ke wajahnya Risa. Dengan raut wajah yang begitu senang.
"Apa nanti malam, Aku boleh melakukannya?" tanya Denis memastikan.
Risa tersenyum malu pada Denis.
"Tapi jangan buatku sakit ya" jawab Risa dengan raut wajah yang merah karena merasa malu saat ini.
Denis tersenyum, lalu mencium kening Risa.
"Hanya sakit sebentar, seterusnya akan enak nanti" jawab Denis, dengan senyum jailnya.
"Apa benar kata Denis?" pikir Risa.
"Aku mandi dulu ya" pamit Risa, yang langsung pergi menuju ke kamar mandi.
Didalam kamar mandi.
"Aku kepikiran nanti malam, Apa yang harus Aku lakukan nanti?" gumam Risa.
Bersambung