Perjodohan Karena Hutang

Perjodohan Karena Hutang
169.Dasar suami manja.


Dikamar Denis.


Denis mengambil bantal guling, lalu memeluknya.


"Malam ini Kamu temanin Aku tidur ya, soalnya guling bernyawaku sedang dipinjam sama Mama." gumam Denis sambil memeluk bantal guling.


Malam semakin larut, bahkan diluar juga turun hujan, angin begitu lebat, petir juga sesekali berbunyi dengan begitu keras.


Denis yang malam ini tidur sendirian, hanya bisa memeluk bantal guling dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal agar tidak merasa ke dinginan.


"Hujan begitu lebat, malam ini begitu dingin, tapi Risa tidak ada disampingku." keluh Denis.


Denis tidur dengan begitu gusar, bahkan Denis terus berguling-guling kesana kemari hingga dirinya terjatuh.


"Brukkk....." suara Denis terjatuh ke lantai tempat tidurnya.


"Auh..." rintih Denis sambil memegang pinggangnya.


"Ada-ada saja, pakai jatuh segala lagi! terus siapa yang bakal memijat pinggangku, ahh Mama Denis kesal sama Mama." berbagai perkataan terus keluar dari mulut Denis.


Pelan-pelan Denis bangun dari tempat dirinya terjatuh, sambil memegangi pinggangnya yang masih terasa sakit.


Denis duduk ditepi ranjang, sambil pelan-pelan memijat pinggangnya dengan tangannya sendiri.


"Apa nanti malam, Aku ke kamar Mama saja, Aku suruh Risa pindah ke kamarku?" pikir Denis dengan begitu licik.


Sambil menahan rasa sakitnya, Denis mesam-mesem sendiri karena pikiran liciknya.


"Tunggu sayang, nanti malam Aku akan menjemputmu!" kata Denis yang langsung mengembangkan senyum liciknya.


Denis merebahkan tubuhnya diatas tempat tidurnya, sambil game diponselnya.


"Mama cepat tidur, Denis sudah tahan tidur sendirian seperti ini." gumam Denis.


Jam menunjukkan pukul 10 malam, hujan diluar juga masih sangat deras, Denis langsung menyelimuti tubuh dengan selimut yang lumayan tebal.


"Aduh kenapa malam ini dingin sekali." keluh Denis yang merasakan dinginnya malam ini.


Denis tidak bisa tidur tanpa guling bernyawanya, biasanya tidur meluk Risa, olahraga malam dulu, ini mah cuma meluk guling.


Dikamar Mama Rasti.


Mama Rasti dan Risa masih sama-sama terjaga, kini mereka berdua sedang asik mengobrol.


"Risa, ceritakan pada Mama waktu awal Kamu menikah dengan Denis bagaimana?" tanya Mama Rasti dengan begitu antusias.


Risa terdiam, kali ini pikiran sedang diselimuti dengan perasaan bingung, haruskah Risa menceritakan yang sesungguhnya pada Mama Rasti tentang awal pernikahannya yang begitu pahit, namun Risa memilih berbohong pada Mama Rasti karena tidak ingin membuka aib rumah tangganya apalagi perlakuan suaminya pada dirinya awal mereka menikah, Denis yang begitu kejam, Denis yang berpacaran dengan Maya, bahkan Risa sering disuruh makan dibelakang, jika Risa menceritakan semuanya pasti Mama Rasti akan sangat marah pada Denis.


Namun sebagai Istri, Risa juga tidak mau membuka aib suaminya di depan mertuanya.


"Waktu awal Risa menikah dengan Denis ya begitu Ma, mungkin karena dijodohkan jadi ya agak kakuh Ma, tapi Denis laki-laki yang baik kok Ma, Dia juga sangat perhatian pada Risa." Risa menceritakan cerita singkat awal pernikahannya.


"Maaf Ma, Risa harus menutup aib rumah tangga Risa." batin Risa yang merasa bersalah pada Mama mertuanya.


"Mama kira Denis, memperlakukanmu dengan tidak baik, biar Mama jewer telinganya kalau perlu Mama bilang pada Papa biar Denis di hapus sebagai ahli waris keluarga Kusuma." sambung Mama Rasti dengan penuh ancaman untuk Denis.


Risa tersenyum, lalu memegang tangan Mama mertuanya.


"Mama tidak usah kawatir Denis tidak jahat kok sama Risa." Risa kembali berbohong pada Mama mertuanya karena ingin menutupi aib Suaminya dimasalalu.


Iya menurut Risa, itu hanya sebuah masalalu jadi Risa tidak perlu mengungkitnya juga, lagian sekarang kan Denis juga sudah sangat mencintai Risa.


"Kalau Denis macam-macam dibelakangmu atau Dia berbuat jahat padamu, Kamu harus bilang pada Mama!" tegas Mama Rasti yang begitu menyayangi Risa seperti putri kandungnya sendiri.


"Siap Ma, nanti Mama jewer Denis ya kalau Denis bandel." pinta Risa dengan begitu manja pada Mama mertuanya.


Mama Rasti langsung memeluk Risa, lalu mencium kening Risa.


"Kamu adalah gadis yang baik sayang." batin Mama Rasti penuh rasa syukur.


Dalam hal memilikkan jodoh untuk putra satu-satunya, Mama Rasti tidak salah sudah memilih Risa untuk menjadi Istri Denis.


Mama Rasti melepaskan Risa dari pelukannya, lalu berkata pada Risa.


"Nak, Kamu harus jaga kandunganmu dengan baik ya, pokoknya ngidam apapun Kamu harus bilang pada suamimu!" pesan Mama Rasti pada Risa.


"Iya Ma, pasti! lagian inikan yang membuat Denis jadi ya Dia harus bertanggungjawab Ma, mau ngidam sesulit apapun Denis harus menurutinya." jawab Risa yang diiringi dengan senyum liciknya.


Lagian tanpa Mama mertuanya menyuruh, Risa sering kok membuat Denis kuwalahan dengan ngidam-ngidamnya Risa.


Malam semakin larut, jam menunjukkan pukul 11 tidak terasa Risa dan Mama Rasti mengobrol sudah satu jam lamanya, hujan juga masih belum berhenti.


Mama Rasti mulai memejamkan matanya untuk segera tidur, tiba-tiba ponsel Risa berbunyi.


Tring... 1 pesan masuk dari Denis.


"Sayang Mama sudah tidur?"


Risa membalas pesan dari Denis.


"Baru saja tidur, Kamu kenapa belum tidur?"


Denis membalas pesan Risa.


"Aku tidak bisa tidur tanpamu."


Risa menghela nafasnya, lalu menghembuskan dengan pelan.


"Dasar suami manja." gumam Risa.


Risa mengabaikan pesan dari Denis begitu saja, melihat Mama mertuanya sudah tidur begitu lelap. Risa juga ikut memejamkan matanya.


Denis sedang menunggu balasan pesan dari Risa, karena Risa tak kunjung membalas pesan dari dirinya, akhirnya Denis langsung berjalan menuju ke kamar Mamanya.


Sesampainya di depan Kamar Mamanya, Denis langsung mengetuk pintunya dengan begitu pelan.


"Tok.. tok.." suara ketukan pintu.


Risa yang baru saja memejamkan matanya, langsung membuka matanya kembali. Risa langsung berjalan untuk membukakan pintu kamar Mama mertuanya.


"Ceklek..." Risa membuka gagang pintu dengan begitu pelan, karena takut mengusik Mama mertuanya yang sedang tidur.


Melihat wajah cantik Risa, Denis langsung mengembangkan senyumnya.


"Kenapa? Apa Kamu mau tidur dikamar Mama juga?" tanya Risa dengan raut wajah begitu bingung.


"Tidak, Aku akan membawamu ke kamarku." jawab Denis.


"Tapi Mama..." kata-kata Denis.


"Mama sudah tidur, jadi biarkan saja!" sambung Denis.


Denis langsung menarik tangan Risa, Risa juga langsung menutup pintu kamar Mama Rasti dengan begitu hati-hati.


Mama Rasti, yang ternyata mendengar suara pintu, ternyata sudah membuka matanya dari tadi.


"Sekarang ditinggal Risa tidur sama Mama belum ada beberapa jam saja, Risa nya langsung diculik."


"Dasar Denis ini, makanya tidak usah nolak-nolakkan segala, jadi kuwalatkan."


Berbagai ocehan keluar dari mulut Mama Rasti, mengingat Denis sangat menentang perjodohannya dengan Risa, ehh sekarang malah jadi BUCIN seperti itu.


Mama Rasti menggelengkan kepalanya, lalu kembali memejamkan matanya.


Sesampainya didepan kamarnya, Denis lagsung membuka pintu kamarnya.


"Ceklek..." suara gagang pintu kamar Denis.


Denis kembali menutup pintu kamarnya, lalu langsung mengangkat tubuh Risa ke atas ranjang.


"Hujan-hujan tuh gini sayang, boboknya berdua biar ada yang dipeluk." kata Denis yang langsung mengembangkan senyum kemenangan.


"Dasar suami manja." omel Risa.


Denis langsung membaringkan Risa diatas tempat tidurnya, lalu Denis membaringkan dirinya disamping Risa.


"Aku tidak tidur tanpamu." keluh Denis dengan manja sambil memainkan hidung Risa.


Posisi Denis tidur miring sambil menyangga kepalanya dengan satu tangannya, sedangkan Risa tiduran dihadapan Denis.


"Tidurlah, sudah malam!" pinta Risa yang langsung merubah posisi tidurnya.


Kini Risa langsung membenamkan wajahnya ke dada bidang Denis, Denis memainkan rambut Risa dengan tangannya.


"Sayang, setelah lulus kuliah Kamu tidak usah kerja ya." kata Denis tiba-tiba.


"Iya, Aku akan mengurus Anak kita nanti." jawab Risa.


Denis langsung mencium kening Risa, lalu langsung membenarkan posisinya, kini Denis tidur sambil memeluk Risa.


"Nah tidur ini gini, ada yang dipeluk jadikan nyenyak tidurnya." batin Denis dengan penuh kebanggaan.


"Sayang hujan-hujan gini, Kamu tidak mau Aku hangatkan?" goda Denis dengan jail.


Risa hanya terus memejamkan matanya, lalu dengan mata yang terpejam Risa menyambungi godaan dari Suaminya.


"Ini sudah hangat, tidur sambil dipeluk Kamu." sambung Risa.


"Bukan dihanggatkan ini." protes Denis.


"Ini dirumah Mama, Aku takut Mama mendengar permainan Kita." jawab Risa yang akhirnya membuka matanya.


"Denis, berhentilah menggodaku, jika tiba-tiba Mama datang mengetuk pintu bagaimana?" kesal Risa dalam hatinya.


"Mama kan sudah tidur." Denis terus menggoda Risa.


"Cup..." Risa langsung mendaratkan bibirnya mungilnya ke bibir Denis.


Denis yang berniat memulai permainannya, dengan cepat Risa mengigit bibir Denis.


"Aah..., kenapa?" rintih Denis sambil bertanya.


"Tunggu, kalau Kita sudah dirumah saja!" omel Risa pada Denis.


Kadang Denis itu menyebalkan, sudah tahu ini dirumah Orangtua masih saja mengajak Istrinya untuk olahraga malam.


"Lama..." Denis kembali melakukan protes.


"Aku pindah nih ke kamar Mama." Ancam Risa pada Denis.


Denis langsung terdiam, lalu memeluk Risa dengan begitu erat.


"Jangan." Denis melarang Risa kembali ke kamar Mamanya.


"Mending Aku urungkan niatku daripada Aku tidur harus memeluk guling semalaman." gumam Denis.


Risa hanya menahan tawanya dalam hatinya, menurut Risa suaminya malam ini berprilaku dengan begitu lucu.


"Makanya tidur, jangan rewel." Risa kembali mengomeli Denis.


Akhirnya mau tidak mau Denis langsung memejamkan matanya, Risa juga langsung memejamkan matanya.


Akhirnya malam ini Denis tidak jadi tidur sendirian, kini Denis tidur sambil terus memeluk bantal guling bernyawa miliknya.


Keesokan harinya, Mama Rasti sudah bangun lebih dulu kini Mama Rasti sudah duduk di meja makan, sambil menunggu Anak dan menantunya.


Denis dan Risa yang baru saja keluar dari Kamarnya, langsung menghampiri Mama Rasti dimeja makan.


"Selamat pagi Ma." sapa Denis dengan senyum manisnya.


"Pagi juga Nak, sarapanlah!" jawab Mama Rasti sambil menyuruh Denis dan Risa untuk sarapan.


Kini Denis dan Risa, langsung duduk dikursi meja makan, Denis lagsung menarik satu kursi untuk Risa, lalu Risa langsung duduk dikursi tersebut.


Pagi ini Mama Rasti, Denis dan Risa, menikmati sarapan pagi bersama.


"Apa semalam Kamu berhasil menculik Risa dari Kamar Mama?" tanya Mama Rasti dengan sengaja.


Mama Rasti, tersenyum jail pada Denis, sedangkan Risa langsung menahan rasa malunya.


"Itukan gara-gara Denis, Mama bertanya seperti itu." kesal Risa dalam hatinya.


Denis hanya cengar-cengir, lalu menjawab pertanyaan dari Mama Rasti.


"Berhasil Ma, Denis tidak bisa tidur sendirian soalnya Ma." jawab Denis dengan jujur.


"Dasar.. dulu saja tidak mau Mama jodohkan dengan Risa." omel Mama Rasti pada Denis.


Kini Denis hanya bisa tersenyum, sambil melihat kearah Risa, Risa juga ikut tersenyum.


"Mama tidak tahu, kalau dulu Risa juga menolak untuk dijodohkan dengan Denis." gumam Risa yang diiringi dengan tawanya.


Mama Rasti hanya menggelengkan kepalanya, melihat Anak dan menantunya saling melempar senyum.


"Rasanya bahagia sekali." gumam Mama Rasti melihat Anak dan menantunya begitu bahagia.


Bersambung 😊


Terimakasih para pembaca setiaπŸ™


Baca juga ya karya-karya teman Asti 😊