Perjodohan Karena Hutang

Perjodohan Karena Hutang
109. Status jomblo miris.


Keesokan harinya, Risa bangun lebih dulu kini Risa turun dari ranjang tempat tidurnya lalu memunguti baju-baju yang berserakan karena ulah Suaminya semalam.


Risa langsung membawanya ke kamar mandi, untuk menaruh ditempat cucian kotor.


Risa juga mandi sekalian, setelah selesai mandi Risa langsung berganti pakaian dengan daster rumahan.


Kini Risa sedang berias didepan meja rias.


"Den, Kamu membuat badanku pegal semua." keluh Risa sambil memijat pundaknya.


Setelah selesai berias, Risa hanya duduk sambil melihat ponselnya.


"Inikan foto-foto waktu pergi bulan madu dengan Denis." kata Risa sambil melihat-lihat foto-foto tersebut.


Kini Risa senyam-senyum sendiri, sambil mengingat kenangan waktu itu bersama Denis.


Denis meraba-raba tempat tidurnya, namun sudah tidak ada tubuh Risa lagi disampingnya


"Risa kemana?" tanya Denis sambil perlahan-lahan membuka matanya.


"Sayang, Aku haus." rengkek Denis.


Risa melihat kearah Denis, lalu mengambil air putih yang berada digelas diatas nakas dekat tempat tidurnya, terus Risa memberikannya pada Denis.


"Ini minumlah." kata Risa.


Denis bangun dari tidurnya, lalu menyandarkan kepalanya diujung tempat tidur.


Setelah selesai minum Denis, memberikan gelasnya pada Risa.


"Bangunlah, ayo kita jalan-jalan." rengkek Risa.


"Aku lebih suka terkurung berdua denganmu didalam kamar sayang." kata Denis dengan tatapan mesumnya.


"Aku harus menghindari itu, karena Aku tidak mau jadi rempeyek nantinya." jawab Risa.


"Sayang, gantilah pakaianmu atau Aku akan kembali menggarapmu dipagi hari ini." kata Denis sambil menelan ludahnya dengan begitu kasar.


Iya biarpun Risa hanya memakai daster rumahan, tetap saja Denis itu pencandu jadi pasti akan muda tergoda dengan penampilan Istrinya yang sexy sedikit.


"Iya iya Aku ganti sekarang." jawab Risa.


Risa beranjak dari tempat duduknya, lalu menuju ke lemari untuk berganti pakaian.


"Apa-apaan Denis ini, orang pakai daster saja Dia nafsu." gumam Risa.


Risa mengganti pakaiannya dengan dress yang begitu cantik,


Denis beranjak dari tempat tidurnya, lalu menghampiri Risa kini Denis memeluk Risa dari belakang.


"Sayang, Kamu tidak masuk kuliah?" tanya Denis.


"Aku hari libur." jawab Risa.


"Ikut Aku ke kantor saja ya, Aku mau terus melihat wajah cantikmu hari ini." kata Denis, sambil membalikkan badannya Risa agar menghadap ke dirinya.


Kini Risa dan Denis sudah saling menatap, lalu Risa mengalungkan tangannya ke leher Denis.


"Baiklah, Aku akan ikut denganmu. cepatlah Kamu bersiap." jawab Risa.


"Cup..." satu ciuman mendarat dibibir Risa.


Denis langsung melepaskan Risa setelah menciumnya, kini Dia langsung pergi menuju ke kamar mandi.


Risa hanya menggelengkan kepalanya.


"Dasar, selalu saja mengambil kesempatan." gumam Risa.


Risa mengambilkan baju kerja Denis, lalu menaruhnya diatas ranjang tempat tidurnya. sebelum Risa turun keruang bawah Risa merapikan tempat tidurnya lebih dulu.


"Gara-gara ulah Denis, tempat tidur sampai acak kadul seperti ini." gumam Risa.


Setelah menyelesaikan membereskan tempat tidurnya, Risa berpamitan dengan Denis untuk pergi ke dapur.


"Den, baju sudah Aku siapkan diatas ranjang tempat tidur ya, Aku ke dapur dulu ya." pamit Risa dengan nada sedikit betriak.


"Iya sayang.." jawab Denis.


Risa berjalan menuju keluar dari kamarnya, lalu menuju ke dapur.


Didapur.


Hari ini Risa masak nasi goreng ati ampela dengan telur ceplok, setelah selesai masak Risa menyiapkan semuanya diatas meja makan.


Nasi goreng dua piring dan air putih dua gelas, kini sudah siap untuk sarapan mereka.


Denis baru turun dari kamarnya, lalu langsung menuju ketempat makan karena Risa sudah menunggunya.


Denis dan Risa menikmati sarapan pagi bersama, setelah sarapan Denis berangkat kerja hari ini Risa ikut dengan Denis.


Skip...


Denis dan Risa baru saja sampai kantor, kini Denis terus menggandeng tangan Risa.


"Cantik sekali Istrinya Tuan Denis."


"Itu Istrinya, sepertinya lebih muda dari Tuan Denis."


Risa berjalan melewati para pegawai dikantor Denis, Risa juga dengan begitu sopan menganggukan kepalanya pada semua pegawai yang menyapanya.


"Beda sekali dengan Nona Maya."


"Iya Nona Maya mag dulu sombong banget, apa-apa serba mengacam mau dipecat."


"Mereka sangat cocok."


Alan yang melihat kedatangan Denis dan Risa langsung menyapa.


"Nona Risa, tumben ikut dengan Tuan Denis." tanya Alan pada Risa.


Setiap kali ada dikantor Alan selalu menyebut Risa dengan sebutan Nona Risa, tapi jika sudah diluar kantor Alan hanya memanggil namanya saja.


"Iya, kata Denis, Dia mau terus melihat wajah cantikku hari ini." jawab Risa dengan begitu jujur pada Alan


Kini Alan melihat kearah Denis, lalu tertawa sambil menggelengkan kepalanya.


"Ternyata Denis lebih bodoh gara-gara Risa." gumam Alan.


"Kenapa tertawa, dasar jomblo yang miris, tidak pernah merasakan jatuh cinta." omel Denis melihat Alan menertawakan dirinya.


"Hanya lucu saja." jawab Alan apa adanya.


"Ikutlah, keruanganku sekarang!" pinta Denis.


Kini mereka bertiga langsung menuju keruangannya Denis.


Diruangan Denis.


Risa duduk disofa, Alan juga duduk disofa, sedangkan Denis duduk dikursi kerjanya.


"Nona Risa, Apa sahabat Nona itu sudah punya kekasih?" tanya Alan tiba-tiba dengan nada ragu.


Risa melihat kearah wajah Alan, lalu menjawab pertanyaan Alan.


"Belum, sekretaris Alan." jawab Risa.


"Apa sekertaris Alan, berniat menjadikan Ayumi itu sebagai kekasihmu." tanya Risa tanpa bertele-tele.


Denis yang melihat Risa terus melihat kearah wajah Alan akhirnya bedehem.


"Ehem..ehem.. Risa jaga matamu disini ada Suamimu, jangan berani menatap Alan lebih dari tiga detik." kata Denis yang diiringi dengan deheman.


Risa melihat kearah Denis, lalu melakukan protes.


"Hey, Apa itu juga berlaku untuk sekertaris Alan?" protes Risa dengan sorot matanya yang begitu kesal.


"Tentu, sekertaris Alan kan juga laki-laki apalagi Dia masih berstatus jomblo miris untuk saat ini." jawab Denis, sambil berjalan menuju ketempat Risa duduk.


Kini Denis duduk disamping Risa.


"Cukup lihat Suamimu, yang tampan saja Istriku!" kata Denis, sambil mencium pipi Risa.


Risa hanya menggelengkan kepalanya.


"Jangan bersikap seperti ini, tidak enak disini ada sekertaris Alan." omel Risa pada Denis.


"Tidak apa-apa, anggap saja Dia mahluk halus yang tidak terlihat." jawab Denis sambil melihat kearah Alan.


Risa mencubit pinggang Denis.


"Ahh sakit sayang." rintih Denis dengan begitu manja.


Alan yang melihat pemandangan didepannya, hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil bergumam.


"Rasanya pingin kabur dari ruangan ini, atau jiwa jombloku akan meronta-ronta." gumam Alan.


Risa kembali bertanya pada Alan.


"Sekertaris Alan, kok tidak dijawab pertanyaanku?" tanya Risa kali ini tanpa melihat kearah Alan.


"Iya Nona, Aku hanya ingin lebih mengenalnya saja seperti gadis itu asik kalau diajak berteman." jawab Alan.


"Lebih dari teman tidak apa-apa, kaliankan masih sama-sama berstatus jomblo miris." ledek Denis yang diiringi dengan tawanya.


"Denis, berhentilah meledek sekretaris Alan." Risa kembali mengomeli Denis.


Alan tertawa penuh kemenangan, karena Denis kena omel dari Istrinya.


"Gini-gini saya jomblo terhormat Tuan Denis." Alan membanggakan dirinya.


"Sudahlah, pergi dari ruanganku sana! Aku mau berduaan saja dengan Istriku." Denis mengusir Alan dengan tawa jailnya.


"Dasar bodoh, tidak cukup hanya dirumah saja apa dikantor seperti ini Kamu juga akan menggarap Istrimu." omel Alan sebagai sahabat Denis.


Denis hanya tertawa mendengar Omelan dari Alan.


"Sana cari kekasih, udah sah mau digarap dimana saja itu yang penting halal." jawab Denis dengan tawa penuh kemenangan.


Risa hanya memasang raut wajah yang begitu kesal.


"Dasar Denis, membicarakan hal seperti ini didepan sekertaris Alan, membuatku malu saja." gumam Risa.


"Den, berhentilah berdebat." lerai Risa.


"Omelin saja Nona Dia." kata Alan.


Alan pergi meninggalkan ruangan Denis, sedangkan Denis bukannya kembali bekerja kini malah tidur dipangkuan Risa dengan begitu manja.


"Cepatlah seleseikan pekerjaanmu!" Pinta Risa.


"Nanti, Aku hanya ingin terus menatapmu saja hari ini." jawab Denis sambil melihat wajah cantik Risa.


"Aturan Aku tidak usah ikut ke kantor tadi." sesal Risa dalam hatinya.


Bersambung πŸ™


Jangan lupa like, komen, vote, dan rate, ya


biar authornya makin semangat nulisnya 😊.