
Sambil duduk Denis membayangkan, jika sampai ada Angel yang kedua pasti Risa tidak akan menerimanya.
"Pasti akan langsung dibasmi bibit cabe lainnya oleh Vania Clarissa." gumam Denis yang tahu istrinya seperti apa?
Jam menunjukkan pukul 1 siang, hari ini Risa pulang dijemput oleh supirnya Mama Rasti karena Denis masih ada kerjaan lain.
Risa, Ayumi dan Panji mereka baru saja keluar dari kampus, kini Risa dan Ayumi sedang menunggu supir mereka datang menjemputnya, Panji juga menemani mereka berdua.
"Kalian biar Aku antar pulang saja." Panji menawarkan mengantarkan pulang Risa dan Ayumi.
Risa dan Ayumi sama menggelengkan kepalanya, mereka tidak mau sampai suami dan pacar mereka cemburu lagi gara-gara Panji.
"Aku tidak mau, nanti Denis menghukumku lagi." tolak dengan nada lembut.
"Aku juga takut Alan cemburu berlebihan." sambung Ayumi sambil memasang wajah malasnya.
Panji hanya terdiam, Panji mengerti dan tahu seperti apa jika Denis dan Alan sudah marah.
"Ris, memangnya apasih hukuman yang diberikan oleh Denis padamu? sampai Kamu takut sekali." tanya Panji dengan wajah polosnya.
Risa bingung harus menjawab apa akan pertanyaan Panji, tidak mungkinkan Risa jawab hukumannya diatas ranjang pada Panji. lagian Panji juga masih jomblo ntar Panji ngiler lagi kalau sampai tahu hukumannya apa?
"Anak kecil sepertimu tidak boleh tahu." jawab Risa dengan raut wajah yang begitu menggemaskan.
"Dasar Kamu ini, Aku sama Kamu tuaan Kau ya Ris." omel Panji yang tidak mau mengalah.
"Makanya nikah Pan, biar tahu." cetus Ayumi.
"Haha memangnya, Kamu tahu Yum?" tanya Panji yang diiringi tawa kemenangannya.
Ayumi tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya.
"Aku juga tidak tahu Pan." jawab Ayumi dengan memasang wajah polosnya.
Risa hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu langsung berkata pada kedua sahabatnya.
"Ada baiknya, kalian cepat menikah jadi kalian akan tahu hukuman apa yang diberikan, Denis padaku." kata Risa pada Panji dan Ayumi.
Kini Risa langsung cengar-cengir sendiri, sedangkan Ayumi dan Panji saling menatap dengan tatapan bingung.
"Sepertinya Risa, sudah tidak waras." kata Panji sambil melihat Risa yang sedang cengar-cengir.
"Semenjak menikah, Risa memang otaknya rada geser Pan." sambung Ayumi sambil menggelengkan kepalanya.
Supir yang menjemput Risa sudah datang, kini Risa langsung berpamitan pada Ayumi dan Panji, untuk pulang duluan.
"Aku duluan ya, sudah jangan dipikirkan hukuman apa yang diberikan Denis padaku, karena kalian masih kecil." pamit Risa sambil meledek Panji dan Ayumi.
Risa langsung masuk kedalam mobilnya, padahal diantara yang lain Risa lah yang paling mudah diantara Panji dan Ayumi. biarpun lahir mereka hanya selisih bulan saja tetap saja Panji dan Ayumi jauh lebih tua dari Risa, namun karena status Risa yang sudah menikah makanya Risa menganggap Panji dan Ayumi sebagai Anak kecil.
Supir Ayumi juga sudah datang, kini Ayumi langsung pulang, begitu juga dengan Panji karena kedua sahabatnya sudah dijemput oleh supir-supir mereka, jadi ya Panji juga langsung pulang.
Sesampainya dirumah Risa, langsung masuk kedalam rumahnya, melihat rumahnya begitu sepi, bahkan Mama mertuanya juga tidak dirumah, Akhirnya Risa bertanya pada salah Art dirumah Mama mertuanya.
"Maaf Bi, Mama kemana?" tanya Risa sama Bibi Ijah, Bibi Ijah adalah salah Art dirumah Mama mertuanya.
"Nyonya, sedang pergi ke bandara Nona." jawab Bi Ijah dengan sopan.
"Terimakasih Bi, Risa ke kamar dulu ya." pamit Risa sambil mengucapkan terimakasih pada Bi Risa.
Risa langsung berjalan menuju ke kamarnya.
"Mama ke bandara jemput siapa? mungkin Mama sedang menjemput Papa." gumam Risa.
Risa langsung pergi mandi, setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Risa langsung pergi menuju ke ruang makan.
Karena diruang makan tidak ada orang, Akhirnya Risa langsung menuju ke dapur, di dapur ada beberapa Art jadi lumayan rame.
Melihat Risa datang ke dapur, semua Art yang ada di dapur langsung menunduk sedikit kepalanya.
"Nona Risa ada yang bisa saya bantu?" tanya Bi Ijah pada Risa.
"Aku boleh ikut makan bareng dengan kalian?" tanya Risa sambil melihat makanan yang ada dimeja makan yang ada di dapur.
"Tapi.... Nona..." kata-kata Bijak Ijah terputus.
Melihat Risa sudah duduk disalah satu kursi meja makan, yang ada di dapur.
"Nona, kalau Nyonya atau Tuan Muda tau pasti mereka akan marah pada Kita." kata salah Art yang duduk dikursi meja makan.
"Tidak apa-apa, Mama dan Denis tidak akan marah, Aku jamin itu." jawab Risa yang berusaha menyakinkan semuanya.
"Aku tidak mau, makan sendirian dimeja makan sebesar itu." kata Risa sambil memasang raut wajah memelas.
Risa memang tidak suka makan sendirian diatas meja makan, jadi Risa memilih makan bergabung dengan para Art yang ada dirumah Denis, buat Risa makan bersama dengan para Art itu bukan masalah besar bagi Risa, karena bagi Risa mereka sama-sama manusia biasa, jadi Risa juga selalu menghormati para Art.
"Baiklah Nona, mari Kita makan bersama." ajak Bi Ijah.
Siang ini Risa makan siang bersama dengan semua para Art, yang ada dirumahnya Denis.
Setelah makan, Risa langsung kembali ke kamarnya.
"Semuanya, Risa ke kamar dulu ya." pamit Risa pada semuanya, yang langsung pergi menuju ke kamarnya.
Setelah selesai makan, Bi Ijah dan yang lainnya langsung membersihkan meja makan.
"Nona Risa, ternyata ramah sekali." salah satu Art memuji Risa.
"Iya, bahkan Nona Risa mau makan bersama dengan Kita." sambung Art lainnya.
"Hush, sudah lanjutkan pekerjaan kalian, jangan mengobrol terus!" pinta Bi Ijah.
Akhirnya mereka berhenti mengobrol, lalu mereka kembali melanjutkan pekerjaannya.
Dikamar
Risa hanya duduk sambil menunggu Denis pulang dari kantor.
"Kok Denis, lama sekali." gumam Risa.
Risa berjalan menuju ke dekat ranjangnya, lalu Risa duduk ditepi ranjang.
"Jam berapa sekarang?" tanya Risa sambil melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 3 sore.
Risa langsung mengembangkan senyumnya, karena merasa sangat senang sebentar lagi suaminya pulang.
Risa langsung membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur, karena merasa sangat lelah tanpa terasa Risa sudah memejamkan matanya.
"Bi, Mama dan Risa kemana?" tanya Denis pada Ijah.
"Nyonya sedang pergi ke bandara, kalau Nona Risa dikamarnya Tuan." jawab Bi Ijah.
"Terimakasih Bi." Denis mengucapkan terimakasih pada Bi Ijah.
Denis dengan cepat langsung melangkahkan kakinya, menuju ke kamarnya.
Melihat istrinya sedang tidur dengan begitu pulas, Denis langsung menghampirinya, kini dengan jailnya Denis meniup telinga Risa dengan sengaja.
Risa yang merasakan telinganya ada yang meniupnya, kini sambil memejamkan matanya Risa bergumam.
"Apa ada hantu?" gumam Risa.
Denis terus meniupi telinga Risa, dan sekali-kali menciumi wangi rambut Risa.
"Dasar kebo! digangguin saja tidak bangun." gumam Denis yang merasa kesal.
"Sayang, buka matamu!" pinta Denis dengan suara kesal.
Perlahan-lahan Risa, membuka matanya, melihat suaminya yang ada dihadapannya, Risa langsung tersenyum.
Disaat Risa sedang tersenyum, Denis langsung mengecup bibir Risa.
"Cup.." satu kecupan dibibir Risa.
"Eeemm.. Kamu ih, orang bangun tidur juga, awas Aku mau gosok gigi dulu!" omel Risa dengan raut wajah yang masih mengantuk.
Risa langsung bangun dari tidur, lalu Risa langsung pergi menuju ke kamar mandi, sedangkan Denis hanya tersenyum penuh kemenangan.
"Dari tadi tidur mulu, giliran dapat kecupan dari suami baru gosok gigi." gumam Denis sambil berdecak kesal.
Setelah beberapa lama, Risa akhirnya keluar dari kamar mandi.
"Sudah selesai?" tanya Denis.
"Sudah, Kamu mandilah! Aku buatkan teh untukmu dulu." suruh Risa dengan nada lembut.
Denis langsung melepaskan jas nya, lalu mengambil handuk untuk segara mandi, sedangkan Risa langsung menuju ke dapur untuk segera membuatkan teh buat Denis.
Setelah selesai membuat teh untuk Denis, Risa langsung kembali menuju ke kamarnya.
Kini Denis sedang duduk ditepi ranjang dan hanya memakai handuk saja.
"Ceklek.." Risa membuka pintu Denis.
Risa langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya, melihat Denis masih memakai handuk saja.
Risa langsung menghela nafasnya dengan kasar.
"Pakailah bajumu, terus ayo makan!" suruh Risa sambil menaruh gelas teh diatas nakas dekat tempat tidurnya.
"Iya Iya.. Aku ganti baju sebentar, Kamu sudah makan?" jawab Denis, sambil bertanya balik pada Risa.
"Sudah." jawab Risa yang langsung duduk, dikursi meja rias.
Denis langsung beranjak dari tempat duduknya, lalu Denis langsung berganti pakaian.
Setelah berganti pakaian, Denis langsung menikmati teh buatan Risa.
"Teh kok pahit sayang." protes Denis yang merasakan tehnya pahit.
"Aku sengaja tidak memberinya gula, Aku takut Kamu diabetes." jelas Risa.
Denis hanya diam sambil menahan rasa kesalnya.
"Dasar Risa!" omel Denis dalam hatinya.
"Tapi ini sangat pahit." keluh Denis.
Risa langsung berjalan menuju kearah Denis, lalu dengan begitu jailnya Risa mengombali Denis.
"Suamiku, Kamu minum tehnya sambil lihat Aku ya! pasti rasanya manis." Risa mengombali Denis.
Denis hanya menggelengkan kepalanya.
"Aku lapar, ayo makan! sebelum Aku memakanmu." kata Denis sambil menggoda Risa.
"Aku bukan makanan." protes Risa.
Kini Denis langsung menarik tangan Risa, untuk segera menuju ke ruang makan.
Denis dan Risa melangkahkan kakinya, menuju ke ruang makan, ternyata diruang makan sudah ada Mama Rasti dan seorang gadis yang usainya mungkin setara dengan usia Risa.
Melihat gadis yang duduk disampingnya, Denis langsung memelototkan matanya.
"Apa Aku tidak salah lihat, untuk apa Dia kesini." gumam Denis.
Risa menatap suaminya dengan tatapan bingung.
"Kenapa Denis menatap gadis itu, dengan tatapan seperti itu." kesal Risa dalam hatinya.
Kini hati Risa sudah mulai bertanya-tanya, bahkan pikirannya sudah macam-macam.
melihat Denis gadis itu tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya, lalu berlari untuk memeluk Denis.
"Aku sudah sangat merindukanmu." kata gadis itu yang terus memeluk Denis tanpa memperdulikan keberadaan Risa disampingnya.
Risa hanya diam, kini Risa langsung berjalan menuju ke meja makan.
"Enak sekali Dia, memeluk suami orang dihadapan Istrinya." kesal Risa dalam hatinya.
"Lepaskan Aku!!" omel Denis pada gadis itu.
"Masih saja galak, seperti dulu." kata gadis itu sambil memanyunkan bibirnya.
Risa hanya diam.
"Siapa sebenarnya gadis itu?" Gumam Risa.
Bersambung π
Terimakasih para pembaca setia π