Perjodohan Karena Hutang

Perjodohan Karena Hutang
194.Saran dari papa mertua.


Denis dan Risa baru saja sampai dirumah orang tua Risa, Dengan perasaan yang begitu bahagia Risa langsung memeluk kedua orangtuaku. Denis melihat Risa kali ini benar-benar merasa bahagia.


"Maaf sayang, Aku baru sempat mengajakmu berkunjung ke tempat orang tuamu." Gumam Denis.


Mama Dina langsung mengajak anak dan menantunya masuk.


"Oh iya nak, Apa kehamilan Risa membuatmu repot?" Tanya Papa Risa pada Denis.


"Sama sekali tidak pa, Cuma ya ada beberapa ngidam aneh yang buat Denis kesal." jelas Denis pada sang papa mertua.


Iya kalau ingat ngidamnya Risa waktu minta disuapin sama Panji, Terus minta kentang punya Alan padahal suaminya juga sama-sama pesan kentang, Tapi tetap saja Risa maunya kentang pesanan Alan. Disitu Denis rasanya kesal sekali apalagi waktu itu Denis belum tahu kalau istrinya itu ngidam.


"Sabar ya nak, Maafin anak papa kalau buat kamu kerepotan!" Papa Risa meminta maaf pada Denis karena Risa sudah merepotknya.


Denis dan papa duduk diruang tamu sedangkan Risa dan sang mama langsung masuk kedalam kamar Risa, Biasalah sesama wanita mau ngehibah.


"Sama sekali tidak apa-apa Pa, Itu sudah tugas Denis sebagai suami. Lagian Denis juga sudah membuat Risa hamil Pa." jawab Denis yang diiringi dengan candaan, Membuat sang papa mertua tertawa.


"Dasar kamu ini nak, Oh iya nak Papa saranin sama kamu kalau punya anak jangan cuma satu saja ya, Usahakan punya anak yang banyak." Saran Papa mertua yang membuat Denis bingung.


Denis berpikir sejenak, Lalu bertanya pada sang Papa mertua.


"Memangnya kenapa Pa?" Tanya Denis dengan perasaan ingin tahu.


"Punya anak satu tidak enak nak, Apalagi kalau anak kita sudah menikah benar-benar sepi nak. Iya seperti sekarang Papa dan Mama setelah Risa menikah dirumah hanya berdua saja." jelas sang Papa mertua, Yang membuat Denis tersenyum.


"Papa benar aku harus punya banyak anak, Biar nanti masa tuaku juga tidak kesepian." Batin Denis. Sambil membayangkan jika dirinya punya banyak anak.


Mengingat Denis juga seorang anak tunggal dan dalam hidupnya selalu kesepian, Apalagi Orangtuanya sibuk dengan pekerjaan. Denis juga sering makan sendirian dimeja makan membuat dirinya kadang males makan.


Denis dan Papa mertuanya melanjutkan obrolan mereka, Dari yang serius Sampai yang membuat mereka saling mengeluarkan tawanya.


Papa juga bilang pada Denis, Kalau Papa ternyata tidak salah menjodohkan Denis dan Risa, Melihat rumah tangga Denis dan Risa yang begitu bahagia membuat sang papa merasa sangat bersyukur.


Dikamar Risa.


Mama dan Risa sedang asik mengobrol, Bahkan Risa terus tiduran dipangkuan sang Mama. Dengan penuh kasih sayang mama juga terus mengelus-elus rambut Risa.


"Ris, Bagaimana hubunganmu dengan suamimu?" Tanya Mama pada Risa.


Sebagai orang tua, Mama Dina juga ingin tahu perkembangan rumah tangga anaknya, Bukan bermaksud kepo atau ikut campur dengan urusan rumah tangga sang anak. Namun sebagai orang tua Mama Dina hanya ingin tahu saja.


"Baik-baik saja Ma, Semenjak aku hamil Denis juga semakin sayang dan sangat perhatian sama aku, Apapun yang aku minta juga diturutin Ma." jawab Risa dengan perasaan bahagia.


Iya semenjak Risa hamil Denis memang lebih sayang sama Risa, Bahkan apapun yang Risa mau pasti langsung diturutin oleh Denis, Meski kadang permintaan Risa aneh-aneh dan membuat Denis kesal. Namun Denis tetap menurutinya.


"Syukurlah nak, Ingat jadilah istri yang penurut dan jangan pernah membantah apa kata suamimu!" pinta Mama Dina dengan begitu lembut.


Mama dan Risa asik mengobrol, Tanpa terasa ternyata Risa sudah tidur dipangkuannya.


"Anakku sekarang kamu sudah besar dan sudah punya suami, Kelak jadilah seorang ibu yang penyayang untuk anak-anakmu." Harapan Mama Dina yang terus mengelus-elus rambut Risa.


Denis berjalan menuju ke kamar Risa, Lalu mengetuk pintu kamar Risa.


"Tok...tok...tok.." Denis mengetuk pintu.


"Masuk pintunya tidak dikunci," sahut Mama Dina dari kamar, Mama Dina tidak membukakan pintu karena takut Risa yang sedang tidur dipangkuannya terbangun.


"Ceklek..." Denis membuka pintu.


Denis langsung menuju ke ranjang tempat tidur Risa, Lalu duduk ditepi ranjang.


"Dasar kebo." Batin Denis.


"Risa tidur nak," kata Mama Dina.


Denis mengangkat tubuh Risa, Lalu merebahkan diatas kasur pelan-pelan. Mama Dina langsung beranjak dari tempat duduknya lalu pergi meninggalkan Denis dan Risa berdua dikamar.


"Mudah-mudahan keluarga kecil kalian bahagia selalu." Doa Mama Dina.


Mama Dina keluar dari kamar Risa, Lalu kembali menutup pintu kamar Risa.


Denis merebahkan tubuhnya disamping istrinya tidur, Lalu membelai-belai pipi dengan lembut.


"Aku sudah tidak sabar menanti kelahiran anak kita sayang, Terus aku mau buat lagi biar mereka nanti gedenya bareng-bareng." kata Denis yang terus mebelai-belai pipi Risa dengan lembut.


Denis menatap wajah cantik istrinya yang sedang tidur, Lalu mencium pipinya.


"Dasar giliran ditempat mama malah tidur, Istriku kaya kebo tukang tidur." Canda Denis yang langsung mengeluarkan tawanya dengan pelan.


Karena sang istri sedang tidur, Akhirnya Denis mengambil ponselnya lalu main game.


Dikantor Denis.


Alan dan Ayumi akhirnya mereka baikan, Kini mereka sedang makan siang bersama dikantin kantor tempat Alan berkerja.


"Sayang, Setelah kamu lulus kuliah kamu sungguh sudah siap untuk menikah?" Tanya Alan untuk kesian kalinya.


Ayumi yang sedang mau menyuapkan makanan kedalam mulutnya, Akhirnya menaruh kembali makanan kepiring.


"Sudah berapa kali kamu bertanya tentang ini, Aku siap kekasihku. Yang penting setelah menikah kamu harus lebih sayang sama aku!" jawab Ayumi yang membuat Alan tersenyum.


Mendengar jawaban dari Ayumi, Alan langsung tersenyum pada Ayumi. Rasanya ingin sekali memeluk Ayumi namun karena banyak orang jadi Alan tidak melakukannya.


"Nanti aku bagi hatiku dengan wanita lain," ledek Alan yang langsung membuat Ayumi memayunkan bibirnya.


"Jika kamu melakukan itu, Jangan harap kamu bisa melihat anak-anakmu kelak!" Tegas Ayumi dengan sorot mata tajam.


Alan hanya tersenyum, Kini menurut Alan Ayumi begitu menggemaskan.


"Kalau kamu memberikanku ancaman seperti ini, Aku urungkan niatnya untuk membagi hatiku." Jawab Alan dengan senyum jailnya, Lalu Ayumi kembali memanyunkan bibirnya.


"Dasar Alan nyebelin." Batin Ayumi.


Panji dan Alya.


Panji sedang dirumah Alya, Kini mereka sedang sibuk dengan laptopnya. Iya hari ini mereka mengerjakan skripsi mereka bersama-sama.


Sambil mengerjakan skripsi, Mereka juga mengobrol.


"Gadis berat badan," Panggil Panji yang membuat Alya kesal.


"Hey dasar kambing jantan, Namaku Alya Adinda Putri." Kesal Alya yang memanggil Panji dengan sebutan kambing jantan.


Bukannya marah Panji malah tertawa mendengar Alya memanggilnya dengan sebutan panggil jantan.


"Nanti kamu jadi kambing betinanya ya." Panji membalas ledekan Alya.


"Terus nanti, Anak kita jadi anak kambing." Sambung Alya dan akhirnya keduanya sama-sama tertawa.


Bukannya fokus mengerjakan skripsi mereka, Mereka malah asik bercandaan.


Hari demi hari Alya dan Panji semakin dekat, Bahkan Alya sekarang tidak sejutek dulu. Dan Panji juga masih terus semangat mengejar cinta Alya.


Bersambung πŸ™


Terimakasih para pembaca setia 😊