Perjodohan Karena Hutang

Perjodohan Karena Hutang
63. Tertukar.


Denis menghentikan langkah kakinya dan langsung menghampiri Istrinya yang sedang berada di dapur.


Denis melangkahkan kakinya menuju ke dapur, Denis langsung memeluk Risa dari belakang.


"Risa, apa yang kamu masak?" tanya Denis, sambil memeluk Risa dari belakang.


Risa merasa kesal sekali.


"Sekarang apalagi yang Denis mau!!"


"Den, lepaskan Aku!!" bentak Risa.


Denis langsung mematikan kompor yang masih menyala.


"Kenapa dimatikan?" kesal Risa.


"Karena aku punya sesuatu untukmu" jawab Denis, yang langsung menarik Risa untuk duduk disalah satu kursi yang ada di dapur.


Denis memberikan paper bag yang dibawanya pada Risa.


"Ini apa?" tanya Risa.


"Bukalah!!" suruh Denis.


Risa membuka paper bag tersebut dan mengeluarkan isinya, betapa terkejutnya Risa ternyata isinya gaun tidur yang begitu sexy.


"Den, ini apa? dasar mesum!!" kesal Risa, Risa merasa kesal karena Denis memberikan gaun tidur yang begitu terbuka padanya.


"Ini apa? bukankah aku tadi memilih gaun yang begitu cantik?" gumam Denis, yang merasa bingung karena isinya berubah.


"Ris, ini salah paham!!" jelas Denis.


"Apa mungkin ini tertukar?"


Di mall tempat toko baju.


"Aduh, aku salah memberikan paper bagnya pada tuan yang tadi" keluh pelayan tersebut.


"Kamu kenapa?" tanya salah satu temannya.


"Aku membuat kesalahan paper bag tuan yang tadi, tertukar dengan paper bag nona itu" pelayan tersebut mengaduh pada temannya.


"Kamu bagaimana sih?" kesal temannya, karena takut atasannya marah.


Kemabli ke Denis dan Risa.


Risa menaruh kembali paper bag dan sekarang menatap kesal ke arah Denis.


"Sepertinya aku harus benar-benar meminum obat pencegah kehamilan, Aku takut Denis akan melakukan hal itu padaku, apalagi Aku dan Denis tidur satu kamar" gumam Risa.


Denis mengambil gaun tidur tersebut dan melihatnya.


"Betapa memalukan ini!!" gumam Denis, yang tidak tau mau menjelaskan apalagi pada Risa.


"Den, kamu berikan gaun tidur pada Maya saja!!" suruh Risa, yang kembali menyalahkan kompornya.


Denis terdiam.


"Untuk Maya? istri sahku itu kamu Risa! mungkin Aku berpacaran dengan Maya tapi aku tidak akan tidur dengannya apalagi sampai meniduri Maya" gumam Denis.


Mungkin Denis sering berciuman dengan Maya tapi Denis tidak pernah tidur dengan Maya apalagi sampai meniduri Maya.


"Tidak, kamu simpan saja gaun tidur itu suatu saat pasti kita membutuhkannya" goda Denis, dengan penuh kejailan seperti biasanya.


"Terserah kamu saja, aku lapar mau makan" kesal Risa, yang kini sudah membawa semangkok mie instan yang tadi dimasaknya.


Risa duduk dikursi meja makan, Denis mengikuti Risa. seperti biasa Denis mengekor di belakang Risa.


"Baunya enak sekali Ris, Aku mau dong" ucap Denis, yang sudah disebelah Risa.


Risa berniat membagi mie instan jadi dua bagian, namun Denis melarangnya.


"Tunggu, aku bagi jadi dua" ucap Risa.


"Tidak usah, Aku mau makan satu mangkok berdua" pinta Denis, yang sudah tersenyum penuh kemenangan.


Karena Risa sudah sangat lapar akhirnya Risa tidak melakukan protes, Risa dan Denis kini makan semangkok mie itu berdua.


Mereka menyendokkan mie ke mulut mereka secara bersamaan, sehingga ada satu mie yang sama masuk kedalam mulut mereka.


Kini mie itu berada dimulut Denis dan Risa, dengan cepat Denis langsung menyedot mie tersebut dan akhirnya bibir Denis menempel dibibir Risa.


Dengan senang hati Denis malah mencium bibir Risa dengan begitu dalam, Risa berusaha memberontak namun Denis malah menarik tekuk Risa agar ciuman lebih dalam lagi.


Setelah beberapa lama akhirnya Denis melepaskan ciumannya dari bibir Risa.


"Sungguh bibirmu membuatku tidak bisa menahan diri" Gumam Denis.


"Selalu saja menciumku, tanpa izin dariku!!" kesal Risa.


"Memangnya kenapa? aku ini suamimu" jawab Denis.


"Dengar ya Ris, Aku boleh melakukan lebih dan ingat sebagai seorang istri kamu tidak boleh menolakku" ucap Denis, penuh ancaman namun memang benar seorang istri itu tidak boleh menolak suami.


"Aku tau!!" jawab Risa singkat.


"Aku pasrah saja, lagian benar kata Denis istri itu tidak boleh menolak suami!!"


Setelah keduanya selesei makan seperti biasanya Risa langsung membereskan bekas makan mereka dan langsung mencucinya.


"Iya?" jawab Risa, yang baru saja selesai mencuci piring.


"Jangan pernah suka dengan laki-laki brengsek itu!!" pinta Denis, yang tidak sama sekali tidak mau menyebutkan nama Panji.


Apalagi Panji sudah memegang tangan Risa bahkan sudah memegang bibir Risa, itu membuat Denis merasa marah sekali.


"Siapa Panji?" tanya Risa.


"Jangan pernah menyebut namanya dihadapanku!!" bentak Denis, yang hatinya sudah mulai cemburu.


Risa terdiam.


"Apa mau Denis?"


"Tinggalkan Maya!!" pinta Risa, biar bagaimanapun Risa ini hanya seorang wanita yang tidak rela suaminya bersama wanita lain.


"Turuti apa kataku dan jangan balik menyuruhku!!" kesal Denis.


"Aku melakukannya nanti tapi tidak sekarang!!"


"Dasar egois!!" kesal Risa.


"Aku ini suamimu jadi Aku berhak mengaturmu!!" ucap Denis dengan penuh ke tegaskan.


Tiba-tiba telpon rumah berbunyi.


"Tunggu sebentar, Aku angkat telpon dulu!!" ucap Risa, yang berjalan menuju arah telpon rumah yang berada dimeja dekat ruang keluarga.


Risa mengangkat telpon.


Denis menghampiri Risa dan kini duduk disamping Risa.


"Hallo" sapa Risa.


"Risa sayang, ini Mama nak" jawab penelpon tersebut, yang tidak lain adalah Mama Rasti atau Mama nya Denis.


"Mama, apa kabar?" tanya Risa dengan begitu sopan.


"Baik nak, tadi Mama menelpon ke ponsel kamu dan Denis tapi tidak diangkat" jelas Mama Rasti.


"Maaf Ma, kita tadi meninggalkan ponsel kita dikamar" jelas Risa.


"Nak, katakan pada Mama apa sudah ada kabar baik?" tanya Mama Rasti.


Risa berdiam.


"Kabar baik apa maksud Mama" Gumam Risa.


"Maksud Mama kabar baik apa?" tanya Risa yang merasa bingung.


"Apakah belum ada Dede bayi diperutmu?" jelas Mama Rasti.


"Belum Mama" jawab Risa jujur.


"Risa, berikan telponnya pada suamimu!!" pinta Mama Rasti.


"Sayang, Mama ingin bicara padamu" ucap Risa, yang langsung memberikan telponnya pada Denis.


"Denisss!!" teriak Mama Rasti.


"Mama, pelankan suara Mama!!" pinta Denis.


"Kamu itu bagaimana? kenapa belum buat Risa hamil juga?" kesal Mama Rasti.


Denis terdiam.


"Aku aja belum melakukannya Mama bagaimana Risa bisa hamil" gumam Denis.


"Mama sabarlah, aku sedang berusaha!" ucap Denis, yang terpaksa harus berbohong dengan Mamanya.


"Segeralah buat istrimu hamil, Mama tidak mau tau!!" kesal Mama Rasti, yang langsung mematikan saluran teleponnya.


Risa bertanya pada Denis.


"Apa yang Mama bicarakan?" tanya Risa.


"Mama nyuruh Aku, buat kamu cepat hamil!!" jawab Denis, dengan begitu jujur.


Risa kembali terdiam.


"Apa aku harus meminum obat pencegah kehamilan itu?"


"Kenapa kamu diam?" tanya Denis.


"Memikirkan omongan Mama" jawab Risa.


"Apa kamu mau punya anak dariku?" tanya Denis, dengan nada begitu serius.


"Untuk saat ini aku tidak tau" jawab Risa.


Risa merasa bingung, apalagi satu tahun setelah pernikahannya Denis dan Risa akan bercerai ntah bagaimana nasib anak Risa jika dia sampai hamil.


Itulah yang ada dipikiran Risa saat ini.


Bersambung πŸ™