
Alya langsung mendongkahkan kepalanya, Lalu langsung melihat kearah Panji.
"Apa Kamu bilang? Sama-sama menerima." Jawab Alya sambil balik bertanya pada Panji.
Panji langsung menganggukkan kepalanya, Sedangkan Alya menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Aku tidak mau menerima perjodohan ini." Tolak Alya dengan tegas.
"Alya, Jika Kita menolak perjodohan ini maka Kita akan dianggap menjadi Anak durhaka." Kata Panji yang sok bijak.
Alya langsung menghembuskan nafasnya dengan kasar, Kini Alya berdiri lalu berjalan meninggalkan Panji.
Namun dengan cepat Panji menarik tangan Alya, Hingga Alya tetap berada dipelukannya kini wajah mereka hanya berjarak beberapa centi saja.
"Aduh detak jantungku kok seperti mau copot." Gumam Panji yang berusaha menyembunyikan detak jantungnya.
Alya menatap Panji dengan tatapan penuh kesal, Lalu langsung mendorong tubuh Panji.
"Jangan pegang-pegang." Kesal Alya, Yang langsung mendorong Panji sampai Panji mau jatuh.
Panji langsung membenarkan posisinya, Lalu langsung berdecak kesal karena ulah Alya.
"Dasar, Jadi wanita tidak ada manis-manisnya sekali." Kata Panji sambil terus melihat kearah Alya.
"Pakein gula saja biar manis." Sambung Alya, Sambil menjulurkan lidahnya.
Melihat Alya menjulurkan lidahnya, Panji langsung menelan ludahnya dengan kasar.
"Panji berhentilah berpikiran mesum." Gumam Panji dalam hatinya.
"Berhentilah menatapku dengan tatapan menjijikkan seperti itu." Omel Alya pada Panji, Karena Panji menatap Alya dengan tatapan mesum.
Panji langsung berjalan menghampiri Alya, Lalu menarik tangan Alya.
"Berhentilah berpikiran mesum! Ayo Kita masuk atau Orangtuaku akan berpikir macam-macam." Pinta Panji yang sudah menggegam tangan Alya, Lalu langsung menarik Alya masuk ke dalam rumahnya.
Melihat Alya dan Panji saling bergandengan, Mama Anita dan Pandu merasa sangat bahagia, Dalam hati mereka yakin kalau perjodohan ini tidak akan gagal.
"Aduh kalian mesra sekali sih." Ledek Mama Anita sambil tersenyum.
"Iya Ma, Jadi ingat masa muda dulu." Sambung Papa Pandu.
Kini Alya hanya tersenyum pada kedua Orangtua Panji, Biar bagaimanapun Alya harus menghormati kedua orangtua Panji.
"Bibi dan Paman bisa saja." Jawab Alya malu-malu, Yang sebenernya Alya sudah merasa kesal dan ingin segera pulang kerumahnya.
"Kalian duduklah."Pinta Mama Anita.
"Eemmhh maaf Bi, Alya harus segera pulang karena takut kesorean." Jawab Alya dengan sopan.
Mama Anita langsung bangun dari tempat duduknya, Lalu langsung mengajak Alya untuk duduk.
"Tidak usah kawatir, Nanti Panji akan mengantarkanmu pulang." Kata Mama Anita sambil tersenyum pada Alya.
Alya hanya menganggukkan kepalanya.
"Aduh kenapa jadi rumit gini sih, Mama juga tidak pernah cerita sama Alya tentang perjodohan ini." Gumam Alya.
Panji juga sudah duduk, Kini Panji hanya terdiam sambil memperhatikan Mamanya dan Alya saling mengobrol.
"Apakah Mama sudah pingin banget punya menantu." Batin Panji, Sambil terus memperhatikan Alya.
"Oh ya Nak, Mama dan Papa Kamu kan diluar negeri, Terus Kamu tinggal disini dengan Siapa?" Tanya Mama Anita ingin tahu.
"Alya tinggal sama Mami disini Bi." Jawab Alya dengan sopan.
Mama Anita merasa bingung, Mendengar Alya menyebut nama Mami.
"Mami?" Tanya Mama Anita dengan raut wajah yang begitu bingung.
Alya yang tahu Mama Anita merasa bingung, Alya langsung menjelaskan pada Mama Anita.
"Maksud Alya, Mami itu Kakak Ipar nya Mama Bi, Alya biasa memanggilnya dengan sebutan Mami." Jelas Alya agar Mama Anita tidak merasa kebingungan lagi.
"Kirain tadi Orangtua Kamu sudah pulang dari luar negeri." Jawab Mama Anita yang diiringi dengan senyumnya.
"Bukan Bi, Oh iya Bi sudah jam tiga sore Alya pamit pulang dulu ya Bi." Jawab Alya, Sekalian berpamitan dengan Mamanya Panji.
Papa Pandu langsung melihat kearah Panji, Lalu berkata pada Panji.
"Antarkan Nak Alya pulang Pa." Papa Pandu menyuruh Panji mengantarkan Alya pulang.
"Iya Pa," Jawab Panji.
Alya langsung bangun dari tempat duduknya, Lalu segera berpakaian dengan kedua orangtua Panji. Alya mencium punggung tangan Mama Anita, Lalu mencium punggung tangan Papa Pandu juga.
"Pan, Ingat antarkan Alya dan jangan sampai ada yang lecet." Kata Mama Anita yang langsung disambut senyum senang oleh Alya.
"Lecet memangnya tembok Ma." Canda Panji dengan tawanya.
Panji dan Alya langsung pergi meninggalkan Mama Anita dan Papa Pandu, Setelah Panji dan Alya pergi, Kini Mama Anita dan Papa Pandu saling melempar senyum bahagia mereka.
"Sebentar lagi Kita akan punya menantu." Kata Mama Anita dengan begitu senang.
Panji adalah anak satu-satunya, Jadi wajar saja jika kedua orangtuanya ingin Panji segera cepat menikah.
Panji langsung memberhentikan mobilnya, Di depan rumah Alya, Lalu Panji langsung turun untuk membukakan pintu mobil untuk Alya.
"Turunlah hati-hati!" Pinta Panji yang sudah membukakan pintu mobilnya.
Alya langsung turun dari mobil Panji, Setelah Alya turun Panji langsung kembali menutup pintu mobilnya.
Panji langsung mengantarkan Alya, Kini Panji langsung mengetuk pintu rumah Alya.
"Tok..tok...tok.." Suara ketukan pintu.
Denis yang mendengar suara ketukan pintu, Langsung cepat-cepat keluar untuk membukakan pintu.
Melihat Denis yang membukakan pintu, Panji merasa sangat kaget karena tidak tahu ternyata Alya tinggal dirumah Orangtuanya Denis.
"Kita tidak salah rumah?" Tanya Panji pada Alya, Karena melihat Denis yang membukakan pintu rumahnya.
"Tidak,"Jawab Alya, Sambil menggelengang kepalanya.
"Masuklah!!" Denis menyuruh Alya dan Panji untuk masuk kedalam rumahnya.
Kini mereka bertiga langsung menuju keruang keluarga, Lalu langsung duduk di sofa, Sebelum Panji duduk Denis langsung mengusir Panji secara halus.
"Alya kan sudah selamat sampai tujuan, Jadi Kamu pulang saja!" Denis mengusir Panji secara halus.
Panji tidak jadi duduk, Gini tatapan Panji merasa kesal pada Denis.
"Dasar tukang ngusirin." Gumam Panji.
Panji langsung berpamitan dengan Alya dan Risa, Tapi Panji tidak berpamitan dengan Denis.
Setelah Panji pergi, Denis terus mengamati Alya dengan begitu teliti, Membuat Alya merasa risih karena tatapan Denis.
"Kak berhentilah melihatku seperti itu!" Pinta Alya dengan tatapan mata yang begitu kesal.
Risa hanya diam sambil menikmati cemilan yang ada dihadapannya.
"Bukannya Kamu tadi pamit dengan Kakak, Kamu mau pergi ke toko buku? Lalu mana buku yang Kamu beli?" Tanya Denis dengan tatapan mata menyebalkan.
Dalam hati Alya, Langsung mengutuki diri sendiri, Bisa-bisanya Alya tidak membawa buka baru, Alya hanya membawa tas kecil yang berisi ponsel saja.
"S*al Aku lupa sekali tidak mampir membeli buku untuk bukti, Dasar Alya bodoh." Gumam Alya sambil mengutuki diri sendiri.
"Suamiku, Mungkin mereka lupa gara-gara sangking asiknya PDKT." Sambung Risa tiba-tiba, Membuat Alya langsung melihat kearah Risa namun Risa hanya mengabaikannya saja.
Alya merasa bingung mau menjawab apa? Dan tanpa sengaja Alya keceplosan begitu saja.
"Ketinggalan dirumah Panji, Eemmh iya ketinggalan." Jawab Alya dengan begitu gugup.
Risa hanya menahan tawanya.
"Aku tahu kalian pasti tidak pergi ke toko buku." Gumam Risa.
"Pasti Kamu dari rumah Panji ya." Tanya Denis dengan penuh jailan.
Alya tidak menjawab kini Alya langsung pergi meninggalkan Denis dan Risa masuk kedalam kamarnya.
"Lihat sayang, Alya mengabaikanku!" Kesal Denis sambil melihat Alya berjalan menuju ke kamarnya.
"Sudahlah, Lagian Panji laki-laki baik." Kata Risa pada Denis.
"Terus saja memujinya!" Omel Denis dengan wajah kesalnya.
Risa hanya menggelengkan kepalanya, Lalu melanjutkan menikmati cemilannya dan mengabaikan Denis yang masih menggerutu sendirian tidak jelas.
Dikamar Alya.
Alya hanya diam, Kini dirinya langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur yang begitu empuk.
"Baru sebentar dikota kelahiran, Semuanya berubah dalam sekejap." Gumam Alya.
"Dijodohkan!"
"Menikah, Lalu punya Anak."
"Ahhh Aku kesal sama Mama sama Papa!!!" Kesal Alya, Sambil terus memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
Iya mungkin Alya galau, Apalagi baru beberapa hari pulang ke kota kelahirannya Kini ada-ada saja, Tiba-tiba dijodohkan tanpa sepengetahuan Alya.
Diperjalanan menuju kerumahnya.
Panji menyetir sambil membayangkan wajah cantik Alya.
"Tidak ada salahnya, Aku menerima perjodohan ini lagian Alya juga cantik." Gumam Panji sambil senyam-senyum tidak jelas.
Ntahlah Panji kesambet dedemit mana, Sampai-sampai Panji mulai tergila-gila dengan Alya tanpa dirinya sadari.
Bersambung π
Terimakasih para pembaca setia π