
Malam menujukan pukul 7 malam.....
"Ayo kita mulai BBQ an!!!!"
Risa, Alya dan Ayumi langsung menuju ke dapur untuk mengambil semua bahan yang sudah dibelinya tadi di supermarket.
Sedangkan Denis, Alan dan Panji sudah menunggu diatap rumah Alan untuk menyiapkan alat-alat untuk mereka BBQ an malam ini.
Berbagai minuman kaleng, Air mineral dan cemilan lainnya sudah disiapkan untuk menemani mereka main bakar-bakaran malam ini.
"Pan, Kamu serius setelah lulus kuliah mau langsung menikah?" Tanya Denis dengan mode serius.
"Aku serius kak, Aku janji akan bahagiain Alya Kak Denis jangan kawatir."Jawab Panji yang berusaha meyakinkan Denis kalau dirinya akan membahagiakan Alya.
Alya, Risa dan Ayumi baru saja datang mereka sudah membawa semua bahan-bahan untuk mereka bakar-bakaran.
Denis beranjak dari tempat duduknya, Dan langsung berjalan menghampiri Risa.
"Sayang, Kenapa kamu membawa berat-berat seperti ini? Sini biar aku saja yang bawah kamu duduk saja jangan kecapean ya, Kasian nanti sih Ucil kita." Dengan begitu lebay Denis langsung mengambil nampan yang ada ditangannya Risa.
Alya menatap Denis dengan tatapan bingung, Kali ini dirinya benar-benar tidak mengerti lagi dengan sang yang begitu berlebihan pada Istrinya, Risa juga sebenarnya merasa kesal pada Denis karena dirinya sangat berlebihan padahal Risa hanya membawa penampan kosong saja.
"Berat darimananya? Kak Risa cuma membawa nampan kosong saja, Dasar Kak Denis selalu saja berlebihan." Alya ngedumel dalam hatinya.
Risa langsung menyerahkan penampan yang ada ditangannya pada Denis.
"Ini ambillah!" Pinta Risa yang langsung menyodorkan penampan kosong tersebut kepada Denis.
Panji dan Alan saling menatap satu sama lain, Dengan waktu bersamaan mereka sama geleng-geleng kepala.
"Lihatlah Denis, Dia menjadi b*doh kalau disamping istrinya." Kata Alan yang melihat kearah Denis.
"Iya kak, Apa aku nanti seperti itu? Aku akan menjadi b*doh kalau disamping Alya." Tanya Panji dengan raut wajah bingung.
"Kamu tidak boleh menjadi b*doh, Cukup kak Denis saja yang menjadi b*doh gara-gara Kak Risa." Timpal Alya yang sudah disamping Panji.
Panji tersenyum dan mengacak-acak rambut Alya dengan pelan.
"Kamu ini, Sudahlah jangan membuatnya kesal lagi atau hubungkan kita ini yang baru saja merintis akan hancur begitu saja gara-gara Kak Denis marah." Sambung Panji yang diiringi dengan candaan.
"Sudahlah, Panji, Alya kalian yang bakar ya! Aku mau pacaran dulu, Alan kamu juga tidak usah bantuin mereka kamu pacaran saja dengan Ayumi!" Denis sengaja mengerjai Panji dan Alya.
Rasanya Alya sudah sangat kesal dengan Denis, Alya juga sudah bangun dari tempat duduknya berniat menjambak rambut Denis, Namun dengan cepat Panji langsung menarik tangan Alya hingga Alya jatuh kedalam pengakuan membuat jantung Alya berdetak agak keras.
"Apa kamu deg-degan, Sudahlah aku tidak mau sampai hilaf dihadapan mereka." Bisik Panji ditelinga Alya, Membuat Alya tersenyum malu-malu dan langsung bangun dari pangkuan Panji.
Alya menganggukan kepalanya pertanda mengerti, Akhirnya Panji dan Alya yang membakar berbagai macam sea food yang sudah disiapkan.
Alan dan Ayumi mereka asik bercanda sambil memakan cemilan yang ada sedangkan Denis dan Risa asik mesra-mesraan diatas ayunan yang berada disitu.
"Lihat mereka malah enak-enakan pacaran, Kita yang baru jadian malah disuruh bakar ini semuanya." Alya ngedumel sambil memanyunkan bibirnya.
Panji hanya tersenyum, Lalu berkata pada Alya.
"Sayang, Ini juga lagi pacaran anggap saja mereka disini itu sebagai sarang nyamuk." Panji membujuk Alya agar tidak manyun lagi.
Alya tertawa dan langsung setuju dengan ide Panji, Akhirnya mereka membakar semuanya dengan penuh canda tawa dan saling mengobrol layaknya hanya berdua saja yang lain ngontrak.
Iya diatap rumah Alan ada ayunan dan tempat untuk bersantai, Itu sengaja dibuat oleh Alan untuk menghabiskan waktu senggangnya Kalau sedang sendirian.
"Sayang, Kenapa kamu begitu patuh pada Kak Denis hari ini?" Tanya Alya yang melihat sendiri seharian ini sang kekasih sangat patuh pada Denis.
Mendengar jawaban dari Panji membuat Alya jadi senyam-senyum sendiri, Alya senang sekali karena Panji ternyata benar-benar mencintainya sampai-sampai dia rela disuruh ini dan itu oleh Denis, Bahkan puluhan juta Panji habis hanya untuk mendapatkan restu dari seorang Denis Kusuma.
Tapi biarpun Panji habis puluhan juta, Panji langsung mendapat gantinya karena biaya pernikahannya akan ditanggung oleh Denis, Dan mungkin acara repsesi pernikahan Alan dan Panji akan digelar menjadi satu.
"Kak Denis, Kak Alan, Sudah woy jangan pacaran mulu ini sudah matang!" Panggil Panji yang membuat Alan dan Denis langsung berjalan menuju ke tempat Panji dan Ayumi duduk.
Denis duduk disamping Alya, Risa juga ikut duduk Alan dan Ayumi juga sudah duduk.
Alan mengambil satu sate yang dibakar oleh Panji dan memperhatikannya.
"Pan, Kamu gosong banget bakarnya." Omel Alan sambil geleng-geleng kepala.
"Itu Alya dari tadi mengajak ngobrol mulu, Jadi gosongkan." Panji malah menyalahkan Alya membuat Alya kesal.
"Kamu kok nyalahin aku sih Pan, Kan dari tadi aku sudah membolak-balikkan dengan benar." Alya membela dirinya.
Panji tersenyum mengaruk kepala yang tidak gatal, Ntahlah dalam hal bakar membakar sebenarnya siapa yang salah dan hasilnya gosong semua.
"Yang bakar lagi patah hati kali." Ledek Denis.
"Wahh jangan-jangan, Alya tanya siapa tahu Panji punya wanita lain dibelakangmu dan dari tadi dia kepikiran tentangnya." Sambung Alan yang langsung menggompor-ngompori Alya.
Alya langsung menatap Panji dengan tatapan kesal, Tapi Panji langsung mencubit pipi Alya dengan pelan.
"Jangan percaya kata-kata Kak Alan, Aku tidak punya wanita lain, Aku hanya mencintai Alya Adinda Putri." Panji berusaha menyakinkan Alya.
"Jangan-jangan Kak Alan yang punya wanita lain dibelakangmu lagi Yum," Panji balik menjadi kompor untuk Alan dan Ayumi.
"Iya jangan-jangan kamu yang punya wanita lain ya sayang." Kata Ayumi pada Alan.
"Mana mungkin aku punya wanita lain, Pacarku saja sudah cantik seperti ini." Alan memberikan penegasan pada Ayumi, Sambil mengacak-acak rambut Ayumi dengan lembut.
Panji dan Alan saling mengompori satu sama lain beda dengan Denis dan Risa yang sedang mesra-mesraan tidak peduli gosong atau tidak, Buat Denis asalkan makannya sambil lihat wajah cantik istrinya pasti rasa gosong itu akan menjadi rasa manis.
Denis dan Risa malah asik mesra-mesraan, Mereka sedang suap-suapan tidak perduli itu makanan gosong atau tidak.
"Tinggal makan saja pada protes." Gumam Denis.
"Sudah-sudah Alan kamu makan sambil lihat wajah cantik Ayumi pasti rasa pahit itu akan jadi manis." Lerai Denis, Alan hanya mengangguk kepalanya.
Akhirnya mereka menikmati berbagai macam sate-sate yang gosong yang dibakar oleh Panji, Biarpun rasanya pahit tapi ya tidak apa-apa sudah terlanjur dibakar dan mau dibuang sayang dosa.
Akhirnya malam ini Denis, Alan dan Panji memakan sate-sate gosong itu sambil melihat wajah cantik wanita-wanita mereka, Kata Denis sih biar jadi manis biarpun rasanya masih tetap saja pahit.
"Mana Den rasanya tetap pahit." Protes Alan.
"Makan saja Al, Kasian Panji dan Alya sudah bakarin semua ini sampai mereka bau sate." jawab Denis dengan tawanya.
Panji tersenyum kali ini dirinya benar-benar merasa tidak enak karena semua makanan yang dibakar itu gosong.
"Gara-gara Alya mengajak ngobrol jadi semuanya gosong." Gumam Panji.
Malam semakin larut, Biarpun semuanya gosong tapi Denis dan Alan tetap menghabiskannya untuk menghargai usaha Panji dan Alya malam ini.
*BERSAMBUNG π
Terimakasih para pembaca setia π*