
Malam semakin larut Panji dan Alya juga sudah tiba di Apartment pemberian dari Denis.
"Buka pintunya!" suruh Panji dengan nada lembut.
"Iya iya aku buka." jawab Alya dengan kesal, siapa yang tidak kesal Panji terus menatap Alya dengan tatapan mesum.
"Ceklek....." suara gagang pintu.
Setelah pintu terbuka Alya dan Panji masuk kedalam kamar bersamaan.
"Wangi sekali...." Alya terus mengendap-endap mengikuti aroma tersebut.
Alya terus berjalan seperti kucing sedangkan Panji berjalan santai dibelakang Alya.
"Dasar kucing betina, tapi ini wangi apa ya baunya wangi sekali." Batin Panji dalam hatinya.
Alya berhenti tepat di depan pintu kamar.
"Wanginya dari sini aku yakin." Alya berbicara sendiri dalam hati.
"Ceklek....." suara gagang pintu.
Alya membuka pintu kamar dan ternyata di dalam kamar itu sudah dihiasi dengan lilin-lilin kecil, bunga mawar merah juga bertaburan diatas ranjang tempat tidur.
Alya ternganga melihat apa yang ada dihadapannya.
"Apa ini semua Kak Denis yang menyiapkannya? Sungguh Kak Denis itu yang terbaik." Alya terus senyam-senyum dalam hatinya.
"Suamiku kemarilah!!" terbaik Alya yang membuat Panji langsung masuk kedalam kamar.
"Ada apa?" Tanya Panji kaget.
"Ini lihat aroma wangi yang aku cium ternyata dari kamar." jelas Alya sambil senyam-senyum membuat Panji semakin gemas.
Panji berjalan mendekati Alya lalu memeluk Alya dari belakang, membuat Alya bisa merasakan hembusan nafas Panji.
"Istriku apa kamu sudah siap untuk melakukannya?" Bisik Panji ditelinga Alya.
Jantung Alya berdetak lebih cepat dari biasanya, kali ini Alya harus merasa senang atau bagaimana Alya saja tidak tahu.
"Emm kita mandi dulu ya!" jawab Alya dengan wajah malu-malu.
"Haruskah kita mandi bersama?" goda Panji dengan manja.
"Aku tidak mau sampai masuk angin gara-gara mandi berdua denganmu." tolak Alya dengan tatapan kesal.
Pikiran Alya sudah traveling kemana-mana, jika dirinya sampai mandi bersama dengan laki-laki yang kini sudah sah menjadi suaminya pasti, di dalam kamar mandi bukan hanya sekedar mandi pasti akan ada ritual lainnya. Makanya Alya menolak untuk mandi berdua bersama sang suami.
"Dimalam pengantin kita, aku tidak akan membuatmu sampai masuk angin tapi aku akan membuatmu tidak bisa berjalan dan hanya akan berbaring diatas ranjang selama beberapa hari." bisik Panji ditelinga Alya sungguh Alya rasanya kesal sekali karena sang suami terus menggodanya.
Alya menginjak kaki Panji membuat Panji merintih kesakitan.
"Alya kamu nakal sekali!" omel Panji yang langsung melepaskan pelukannya dari Alya, kini Panji memegangi kakinya yang baru saja diinjak oleh wanita yang sudah sah menjadi istrinya.
"Aku mau mandi dulu!" Alya langsung berlalu pergi meninggalkan Panji yang masih sibuk dengan kakinya.
"Cuma diinjak saja manja." Batin Alya dalam hatinya.
Sebelum sampai kedalam kamar mandi, Alya menghentikan langkah kakinya.
"Suamiku bantu aku melepaskan gaun pengantin ini." pinta Alya yang masih memakai gaun pengantin.
Panji berdecak kesal tapi dengan cepat melaksanakan perintah dari sang istri. Panji langsung berjalan menghampiri Alya.
Panji membuka restselting gaun pengantin Alya. Melihat bagian punggung Alya terlihat membuat Panji menelan ludahnya dengan kasar.
"Aish kalau menunggu Alya selesei mandi pasti aku akan gagal melakukan malam pertama kita." Batin Panji dalam hatinya.
Panji membuka resleting gaun Alya lalu menjatuhkan gaun Alya dari tubuh mungil Alya. Membuat kini tubuh mulus Alya jelas terlihat.
"Panji kenapa dijatuhkan gaunnya?" Tanya Alya hendak membenarkan posisi gaunnya tapi tangan Panji menahannya.
"Biarkan seperti itu." Panji membenamkan wajahnya dileher jenjang Alya.
"Aku mau mandi dulu." tolak Alya disela-sela kesibukan Panji.
Panji tidak menghiraukan penolakan dari Alya, Panji terus memperdalam wajahnya dan kini dirinya sudah sibuk menelusuri setiap inchi tubuh mulus Alya.
Alya hanya diam dan hanya menikmati permainan suaminya.
"Apa kita tidak mandi dulu?" Tanya Alya disela-sela kesibukan Panji.
"Emm...." desah Panji lalu menghentikan kesibukannya.
Panji membalikkan tubuh Alya agar menghadap pada dirinya.
"Mandinya nanti saja setelah permainan kita selesei." jawab Panji sambil membelai wajah cantik Alya.
Alya hanya menganggukkan kepalanya pertanda mengerti.
Panji melanjutkan aksinya kembali, Panji Terus menciumi wajah Alya lalu ke bibir, Panji menurunkan wajahnya ke leher jenjang Alya.
"Cup...cup...." Panji terus memberikan kecupan demi kecupan disetiap inchi tubuh Alya.
"Emm..." desah Alya.
Panji langsung mengangkat tubuh Alya lalu menaruh Alya diatas ranjang tempat tidur. kini posisi Panji menindih tubuh mungil Alya.
Panji kembali melanjutkan aksinya, satu persatu Panji menanggalkan pakaian Alya lalu membuangnya kesembarang tempat.
Melihat dua gunung kembar Alya yang masih terlihat kencang membuat Panji menelan ludah dengan kasar.
"Aku yakin milik Alya pasti masih sangat rapat dan malam ini aku akan menjebolnya. Oh iya sesuatu dari Kak Denis." Gumam Panji dalam hatinya.
Panji bangun dari atas Alya, membuat Alya merasa bingung.
"Kenapa?" Tanya Alya pelan.
"Aku pergi sebentar!" Panji meninggal Alya yang sudah berbaring ditempat tidur.
"Mau kemana sih dia?" Alya mendengus kesal karena ditinggal begitu saja.
Alya tidak saja Panji mau mengasa senjatanya biar tahan lama, dan buat bisa nusuk berkali-kali.
Sesampainya di dapur Panji membuat sesuatu yang diberikan oleh Denis waktu dipesta tadi.
Panji langsung meminumnya dengan cepat lalu mengelus adik kecilnya dengan lembut.
"Mari kita bekerja sama untuk mengobrak-abrik milik istriku." tuturnya pada sang adik kecil.
Panji berjalan menuju ke kamarnya kembali malam ini dirinya siap untuk bertempur Sampai pagi.
Sesampainya dikamar Alya menatap Panji dengan tatapan kesal.
"Tidak usah kesal seperti itu! Malam ini aku akan membuatmu merasakan nikmat yang sesungguhnya." bisik Panji ditelinga Alya, tangan Panji sibuk mengelus sl*kangan Alya.
"Kamu sudah siap?" Tanya Panji dengan nada menggoda, Alya hanya membalas dengan anggukan kepalanya.
Panji mulai melepas CD Alya lalu menjatuhkannya ke lantai, kini dirinya sudah berdiri tegak sambil membuka semua pakaiannya.
Panji sudah polos tanpa sehelai benang, adik kecilnya juga sudah tegang dan siap diajak tempur.
Panji mengarahkan miliknya ke milik Alya, lalu mulai menggesek-gesekkan miliknya, membuat Alya mendesah penuh kenikmatan.
"Aku masukkan ya sayang!" Panji mulai berusaha memasukkan miliknya, Alya juga terus menggegam sprei dengan kedua tangannya.
"Ahhh...." desah Alya.
"Tahan sayang!" Panji terus berusaha menusuk-nusukkan miliknya hingga beberapa lama, akhirnya....
Jlebbbb....
"Ahhhcchhh..." teriak Alya dengan buliran air mata dipipi.
Panji membiarkan miliknya berkenalan dengan milik sang istri lebih dulu. Setelah Alya sudah bisa menerima Panji mulai menggoyangkan pinggulnya dengan pelan.
"Ahhh ahhhcchhh..." desahan demi desahan keluar dari mulut mereka.
Panji terus menggoyangkan pinggulnya, sampai beberapa lama akhirnya Panji mengeluarkan cairan hangatnya dalam rahim Alya.
"Ahhh... lega sekali." Panji mencabut miliknya dengan diiringi desahan.
Panji menjatuhkan tubuhnya disamping Alya, malam ini bercak merah disprei menjadi saksi cinta mereka.
"Aku mencintaimu istriku." Panji mencium pipi Alya dengan lembut.
2 jam telah berlalu Panji memulai aksinya kembali. Dan malam ini Panji bermain sampai tiga ronde gara-gara sesuatu dari Denis waktu dipesta.
"Hebat resep Kak Denis, Alya sampai kelimpungan, mungkin besok dia tidak bisa jalan." Panji tertawa penuh kemenangan dalam hatinya.
Alan dan Ayumi...
Malam ini Alan dan Ayumi juga tidak kalah panas dari Alya dan Panji.
Sebelum melakukan ritual malam pertamanya Alan juga meminum sesuatu dari Denis waktu dipesta.
Alan dan Ayumi baru saja selesai mandi, kini Alan dengan jail menyuruh tangan Ayumi terus mengelus-elus adik kecilnya. Dan bibir Alan sibuk berciuman dengan bibir Ayumi.
"Emmhh.." desah Ayumi.
Tapi Alan tidak memperdulikan dan malah melepaskan kancing baju tidur Ayumi, pelan-pelan Alan menanggalkan pakaian Ayumi satu persatu pakaian Ayumi.
Ayumi menggigit bibir Alan, lalu Alan melepaskan ciumannya.
"Kenapa?" Tanya Alan.
"Aku takut." keluh Ayumi.
"Takut kenapa? Kalau sudah masuk juga nanti enak." jelas Alan dengan lembut.
"Punyaku sudah tegang." Alan mendorong tubuh Ayumi hingga Ayumi membaringkan tubuhnya.
Salah Alan langsung meminum sesuatu yang diberikan oleh Denis sebelum melakukan pemanasan, Al hasil milik Alan sudah sangat tegang dan ingin langsung dicelupkan.
"Hush ini tidak akan sakit." Alan sudah mengarahkan miliknya ke milik Ayumi.
"Sial aku meminumnya dari tadi, jadi sudah tegang sekali. Padahal belum puas pemanasannya." sesal Alan dalam hatinya.
Ayumi memegang sprei dengan kedua tangannya, Alan melebarkan sl*jangan Ayumi lalu dengan pelan Alan mulai memasukkan miliknya kedalam milik Ayumi.
"Ahh...." Ayumi mendesah.
"Pelan-pelan, lakukan dengan lembut!" pinta Ayumi dengan manja.
Alan terus berusaha memasukkan miliknya hingga beberapa lama akhirnya....
Jlebbbb.....
Air mata Ayumi mengalir begitu saja, darah suci milik Ayumi kini menjadi saksi cinta mereka.
"Emmhh ahh.." desahan keduanya.
Alan terus menggoyangkan pinggulnya membuat Ayumi kelimpungan. Setelah beberapa lama dan kedua sudah mencapai puncaknya akhirnya Alan mengeluarkan cairan hangatnya didalam rahim Ayumi.
"Ahh..... enak sekali." Alan mencabut miliknya dari dalam milik Ayumi.
Alan membaringkan tubuhnya tepat disamping Ayumi, Ayumi juga langsung memeluk tubuh kekar Alan.
"Terimakasih Istriku." Alan mencium kening Ayumi dengan penuh kasih sayang.
2 jam telah berlalu, milik Alan kembali tegang dan akhirnya Alan kembali melakukan aksinya. Malam ini Alan melakukan dengan Ayumi hingga beronde-ronde.
"Sial semua ini gara-gara sesuatu dari Denis, sungguh milikku tegang berulang kali." Gumam Alan dalam hatinya.
Malam ini gara-gara sesuatu dari Denis, Panji dan Alan dibuat main beronde-ronde dan istri-istri mereka dibuat kelimpungan gara-gara sesuatu dari Denis.
Dirumah Denis..
Denis masih terjaga karena dari tadi Risa mengeluh perutnya sakit. Jadi Denis terus mengelus-elus perut Risa agar mengurangi rasa sakitnya.
"Aku yakin kalian malam ini pasti tempur berkali-kali." Denis berbicara pada diri sendiri sambil mengelus-elus perut sang istri.
Malam ini Denis tertawa penuh kemenangan, karena ulahnya pada Alan dan Panji.
BERSAMBUNG π
Terimakasih para pembaca setia π
Maaf ya baru up, Author lagi sakit mata soalnya jadi nulisnya nyicil ππ