Perjodohan Karena Hutang

Perjodohan Karena Hutang
142. Rumah Alan.


Setelah selesai makan siang Alan langsung mengajak Ayumi ke suatu tempat, yaitu ke rumah tempat Alan tinggal.


Didalam mobil.


Alan tiba-tiba membuka pembicaraan lebih dulu.


"Yum, pasti orangtuamu mengharapkanmu untuk menikahi laki-laki Kaya atau seorang pengusaha muda yang sukses." kata Alan tiba-tiba.


Ayumi melihat kearah Alan, lalu tersenyum pada Alan.


"Kamu berpikir terlalu jauh Al, Orangtuaku tidak seperti itu. selagi laki-laki itu baik dan bertanggung jawab pasti mereka akan memberikan restunya." jawab Ayumi sambil menyunggingkan senyum manisnya.


"Apa Kamu mau bertemu dengan Orangtuaku?" tanya Ayumi tiba-tiba.


Alan terdiam, lagi-lagi Alan teringat akan masalalunya.


"Mudah-mudahan kejadian beberapa tahun yang lalu, tidak akan terulang kembali." gumam Alan.


"Sayang, Kenapa Kamu diam saja?" tanya Ayumi.


"Ehh maaf, Iya pasti Aku akan segera bertemu dengan Orangtuamu, tapi tidak sekarang sayang." jawab Alan sambil fokus menyetir.


"Baiklah, katakan kapan saja Kamu ingin bertemu dengan Orangtuaku! nanti Aku akan Atur semuanya." kata Ayumi dengan begitu semangat.


"Iya sayangku." jawab Alan.


Biarpun hubungan mereka terbilang belum ada seumur jagung, namun niat Alan menjalin hubungan dengan Ayumi yaitu untuk menjalin hubungan yang serius.


Alan memberhentikan mobilnya disebuah parkiran rumah milik Alan, Ayumi merasa bingung lalu Ayumi bertanya pada Alan.



Visual rumah Alan.


Ayumi dan Alan sudah turun mobilnya, Ayumi terus memandangi rumah minimalis yang begitu bagus.


"Al, ini rumah siapa?" tanya Ayumi.


"Ini rumahku, ini hasil kerja kerasku selama ini menjadi sekretaris Tuan Denis." jawab Alan dengan begitu jujur.


Alan mengajak Ayumi masuk kedalam rumahnya.



Visual ruang dalam rumah Alan.


"Maaf ya berantakan rumahnya." kata Alan pada Ayumi.


Ayumi melihat sekeliling rumah Alan.


"Rumah serapi ini dibilang berantakan." gumam Ayumi.


"Tidak apa-apa, Oh iya mana Orangtuamu." tanya Ayumi pada Alan.


Alan dan Ayumi duduk disofa, kini mereka duduk bersebelahan.


"Aku yatim piatu, kedua orangtuaku meninggal karena penyakit yang dideritanya." jawab Alan dengan mata yang berkaca-kaca.


"Maaf ya, Aku tidak tahu." kata Ayumi yang merasa tidak enak pada Alan.


"Tidak apa-apa, Kamu juga harus tahu tentangku." jawab Alan.


"Kenapa, Kamu mengajakku ke rumahmu?" tanya Ayumi dengan pikir yang tidak-tidak.


"Aku hanya ingin Kamu tahu tentang kehidupanku, tenang saja Aku tidak akan berbuat jahat padamu." jawab Alan sambil melihat kearah Ayumi.


Ayumi tersenyum malu-malu.


"Aduh kenapa? pikiranku mesum gini sih." gumam Ayumi.


"Kamu belum makankan? Aku masakan buatmu ya, lalu Kita makan berdua." kata Alan pada Ayumi.


"Apa Kamu bisa memasak?" tanya Ayumi dengan nada meledek.


"Apa Kamu sedang meremehkanku, kekasihku?" tanya Alan sambil mencubit hidung Ayumi.


"Alan sakit.." keluh Ayumi.


"Ayo, Aku tunjukkan keahlian memasak!" ajak Alan.


Akhirnya Alan mengajak Ayumi ke dapur, kini Alan sedang menujukan kelihaiannya dalam memasak.


Alan sedang memotong bawang dengan begitu cepat, Ayumi merasa kagum pada Alan.


"Aku saja yang seorang wanita, tidak selihai itu kalau dalam urusan memasak." kata Ayumi yang begitu kagum pada Alan.


"Mau Aku ajarin?" tanya Alan.


"Tidak mau, Aku hanya ingin melihatnya saja." jawab Ayumi yang terus melihat kearah Alan.


"Bayangkan saja jika Kita sudah menikah." kata Ayumi yang sibuk dengan bayangannya.


"Pasti Kita akan hidup bahagia." sambung Alan.


Setelah selesai makan, Alan langsung mengantar Ayumi pulang kerumahnya.


Dirumah Denis.


Setelah selesai mandi, makan, kini Risa hanya menunggu Denis diatas ranjang tanpa berkutik.


"Denis lama sekali pulangnya, biasanya jam segini udah pulang." kata Risa sambil melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 5 sore.


Denis baru saja turun dari mobilnya, lalu Denis langsung masuk kedalam rumahnya. dengan perasaan yang begitu senang, Denis langsung menuju ke kamarnya.


"Sayang, Aku pulang." kata Denis sambil membuka pintu kamarnya.


Melihat Risa masih tetap diatas ranjang, Denis langsung memeluknya.


"Istriku yang begitu patuh." kata Denis sambil memeluk Risa.


"Kamu sudah makan?" tanya Denis.


"Sudah, Kamu sendiri sudah makan?" Risa balik bertanya pada Denis.


"Belum, Aku mandi dulu ya." jawab Denis.


Setelah selesai mandi dan ganti baju, Risa dan Denis langsung turun kebawah.


"Kamu mau makan apa?" tanya Risa.


"Bikin mie instan dong sayang!" rengkek Denis.


Akhirnya Risa menuju ke dapur, lalu membuat dua mangkok mie instan untuk dirinya dan juga Suaminya.


Setelah mie instannya matang, Risa langsung membawanya ke meja makan.


"Kenapa Kamu mau mie instan, tidak biasanya." kata Risa sambil memakan mie buatannya.


"Ntahlah, Aku hanya sedang pingin makan mie instan saja." jawab Denis yang langsung memakan mie buatan Risa.


Setelah selesai makan mie instan, Denis dan Risa duduk diruang keluarga sambil mengobrol.


"Sayang, Kamu tahu sekarang Alan mulai jadi BUCIN." kata Denis pada Risa.


"Sungguh, pasti akan lucu." sambung Risa.


"Tadi saja Alan izin pulang cepat katanya mau menjemput Ayumi ke kampusnya." kata Denis.


Denis merebahkan kepalanya dipangkuan Risa, sambil memainkan jari-jari tangan Risa.


"Mudah-mudahan, Ayumi dan Sekertaris Alan segera menikah." doa Risa.


"Sayang, boleh Aku meminta izin padamu." kata Denis tiba-tiba.


"Katakan saja!" jawab Risa.


"Jika nanti, Alan menikah Aku boleh membiayai semua pernikahan Alan untuk membalas budiku pada Alan, karena kebaikannya selama ini." kata Denis pada Risa.


"Suamiku tentu saja Aku akan mengizinkanmu." jawab Risa.


"Terimakasih Istriku, Alan itu sudah seperti saudara laki-laki untukku." kata Denis.


Risa tersenyum karena merasa bahagia.


"Laki-laki yang dulu begitu kejam dan angkuh, ternyata Dia mempunyai sisi yang begitu baik." gumam Risa.


"Sama-sama, Alan beruntung mendapatkan Ayumi Dia adalah gadis yang sangat baik." kata Risa pada Denis.


"Ayumi, juga pasti beruntung mendapatkan cinta dari Alan, karena Dia adalah laki-laki yang begitu setia." jawab Denis.


"Iya tidak seperti Denis Kusuma, Dia adalah laki-laki plin-plan yang tega menyakiti hati istrinya." Risa meledek Denis.


Denis langsung beranjak dari pangkuan Risa, lalu menghadapkan wajahnya pada wajah Risa.


"Vania Clarissa Istriku, itu semua dulu! sekarang Suamimu sudah berubah dan hanya ada satu wanita didalam hatinya yaitu Vania Clarissa." kata Denis sambil menatap Risa dengan tatapan begitu tajam.


Risa hanya diam tanpa berkutik.


"Jika ada Maya kedua, maka Aku akan menyiramnya dengan air bekas rebusan cabe nanti." batin Risa dalam hatinya.


Melihat istrinya hanya diam saja, Denis langsung mendaratkan bibirnya ke bibir mungil Risa.


Kini mereka berdua saling berciuman dengan penuh kebahagiaan.


Bersambung πŸ™


Terimakasih para pembaca setia 😊