Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
98. Tidak Pantas


°°°


Tidak semuanya beruntung dalam mendapatkan pasangan. Misalnya saja Daren yang langsung melepaskan pelukannya saat lampu menyala karena wanita yang ia peluk bukanlah wanita yang ia harapkan. Seseorang yang tidak asing tapi tidak ia kenal.


"Kenapa itu kau, dimana Felice?" sentak Daren saat tak mendapati Felice dalam pelukannya.


"Apa maksud anda Tuan, anda sendiri yang menarik ku." Wanita itu adalah Lucy. Dia kesal saat sikap laki-laki di depannya tiba-tiba berubah setelah lampu menyala, padahal sebelumnya dia memeluk Lucy posesif. Lalu sekarang malah menyalahkannya.


Daren diam karena memang benar dia yang menarik wanita itu tadi. Jadi wanita itu memang tidak salah. Tapi itu kan karena jepit rambut yang ia berikan pada Felice malah dipakai wanita itu.


"Apa yang anda lakukan Tuan." Lucy mengaduh kesakitan karena rambutnya tak sengaja tertarik saat Daren mengambil paksa jepit rambut yang ia pakai.


"Tuan, kenapa kau mengambil nya. Kembalikan jepit rambut milikku Tuan." Lucy berusaha mengambil kembali jepitan itu tapi Daren mengangkatnya tinggi hingga Lucy tak bisa meraihnya.


"Benarkah ini milikmu? Apa kau tau berapa harganya jepit rambut ini. Kau tidak mungkin sanggup membelinya. Pasti kau mencurinya dari nona mu kan?" Daren menuding Lucy sebagai pencuri.


Mendengar keributan itupun membuat beberapa orang memandang mereka dan mendengar perkataan Daren tadi. Seketika Lucy mendapatkan tatapan tidak suka dari semua orang, seakan mereka takut kalau barang berharga mereka akan hilang.


"Saya tidak mencurinya Tuan, itu memang milikku. Nona Felice sendiri yang memberikannya padaku. Kau boleh bertanya kalau sendiri kalau tidak percaya." Mata Lucy sudah berkaca-kaca, dia merasa terhina oleh ucapan Daren barusan.


"Dan satu lagi Tuan, saya mungkin memang tidak akan sanggup membeli barang mahal seperti itu. Dan saya juga tidak pantas memakainya, tapi saya hanya menghormati nona Felice yang telah memberi jepit rambut itu. Maka saat dia memintaku untuk memakainya, aku akan memakai nya."


Setelah mengatakan hal itu Lucy pergi dari sana. Dia sangat malu dituduh mencuri, itulah kenapa dia selalu tidak mau bergaul dengan para orang kaya. Karena mereka suka meremehkan orang miskin sepertinya.


Mungkin saja dia sudah kebal dengan hal seperti itu. Atau hatinya masih rapuh seperti sekarang ini, tanpa terasa matanya sudah berembun pandangannya buram. Entah dia mau melangkahkan kakinya kemana, yang jelas dia ingin segera menjauh dari orang-orang kaya itu.


Flashback


"Lucy, ayo kemari sebentar lagi acaranya mau di mulai," ajak Felice. Gadis yang tampak selalu ceria yang tampak begitu cantik di mata Lucy.


"Sepertinya saya tidak jadi ikut non, saya tidak pantas." Tentu saja Lucy harus sadar diri kalau dirinya sangat tidak pantas ada di sana. Bagaimana kalau nanti yang menjadi pasangan dansanya kecewa karena dia hanyalah seorang pengasuh orang tua.


"Lucy, kau tidak boleh bicara seperti itu. Dad Alex tidak pernah membedakan status sosial siapapun. Kau bisa ikut bermain bersama, ini hanya permainan lucy. Kau tidak dengar tadi ada hadiah menarik katanya, aku ingin sekali mendapatkan tiket liburan ke luar negeri." Felice sangat lucu saat menginginkan sesuatu. Pasti banyak pria yang suka pada Felice, begitu pikir Lucy.


Iya juga, katanya ada hadiah uangnya juga. Kalau aku mendapatkan hadiah itu aku bisa membawa putraku berobat dengan layak. Aku dengar tuan Daniel adalah dokter bedah yang hebat, mungkinkah aku bisa membawa putraku berobat pada tuan Daniel.


"Lucy jangan banyak melamun, ayo cepat." Lucy pun mengikuti Felice, semua itu demi putranya.


"Kita disini saja, nanti setelah lampu mati kau pergilah ke depan. Aku juga akan mencari pangeran ku." Senyum imut.


"Pasti akan ada pangeran yang baik hati untuk Nona, seperti nona Mia yang menemukan pangerannya." Lucy berdoa untuk Felice.


"Untukmu juga Lucy, kau cantik pasti akan ada pangeran untukmu juga," ujar Felice berdoa yang sama.


Aku tidak pernah bermimpi setinggi itu nona. Mana mungkin ada yang mau dengan wanita miskin seperti ku. Terlebih lagi, aku sudah mempunyai seorang putra. Aku hanya mau hadiahnya kalau Tuhan mengijinkan, kalaupun tidak aku juga tidak apa-apa.


"Eh tunggu Lucy." Felice melepaskan jepit rambut yang ia kenakan. "Sepertinya ini cocok untukmu, sini aku pakaikan."


"Tidak Nona, ini milik nona. Bagaimana aku bisa memakainya." Lucy menolak dan menjauhkan kepalanya yang tadi akan dipasangkan jepit rambut.


"Sekarang ini jadi milikmu, lihatlah cantik sekali." Felice akui kalau Lucy sebenarnya cantik, terbukti saat ia melepaskan seragam perawat nya dan mengenakan gaun seperti malam ini.


"Tidak perlu, atau aku akan marah. Kau simpan saja untukmu."


"Terimakasih nona," ujar Lucy, ia merasa sangat beruntung karena mempunyai Majikan yang baik. Nyonya Emma yang ia rawat juga tidak pernah merepotkannya.


Flashback end.


Lucy teringat saat kejadian sebelum lampu dalam ruangan itu dimatikan. Seharusnya memang ia menolak menggunakan jepitan semahal itu, ia merasa sudah sangat tidak tau diri karena sempat berharap akan ada pangeran yang baik untuknya. Nyatanya tempat yang paling cocok untuknya hanyalah menjadi pesuruh.


Dan sekarang ia juga kehilangan jepit rambut pemberian nonanya. Dia tidak mungkin mengambil nya kembali dari tangan pria itu, tadi dia juga tidak jelas melihat siapa pria itu karena menggunakan topeng. Yang pasti, yang ditunggu pria itu adalah Felice.


Aku harus minta maaf pada nona Felice, aku akan menggantinya nanti. Aku punya sedikit tabungan, semoga saja cukup.


,,,


Di dalam pesta.


Felice yang sedang asyik memandangi kakak dan kakak iparnya juga mendengar keributan. Dilihatnya dari kejauhan, itu Lucy penjaga mamahnya sedang ribut dengan seorang pria.


Felice pun hendak menghampiri Lucy.


"Tunggu Nona, kau mau kemana? Bukankah pestanya belum selesai." Seseorang menghentikan langkah Felice dengan mencekal tangannya.


Aa... ya lupa pria itu adalah pasangan dansanya.


"Ehh... maaf Tuan, saya ada urusan sebentar. Bisakah anda menunggu disini, nanti aku akan kembali kalau urusanku sudah selesai."


"Bisakah saya percaya, bagaimana kalau kau tidak kembali dan aku menjadi pria yang tidak mempunyai pasangan dansa."


Apa-apaan pria ini. Felice mencari akal.


"Saya adalah orang yang selalu menepati janjinya Tuan, jadi saya pasti kembali." Felice berusaha meyakinkan pria yang tidak ia kenal itu.


"Bagaimana kalau kau berbohong dan kabur, siapa namamu?"


"Nama...?" Apa perlu memberitahu nama pada orang asing ini.


"Iya, sebutkan namamu maka aku akan melepaskan tangan mu."


Felice mendengar keributan yang terjadi dengan Felice dan pria yang ia duga itu Daren, ia melihat Lucy menangis. Ia harus segera pergi untuk meluruskan semuanya, Felice tidak akan membiarkan nama baik Lucy tercemar karenanya.


"Nama saya Felice, Tuan. Sekarang anda bisa melepaskan tangan ku kan."


Benar saja pria itu menepati janjinya dan Felice langsung pergi untuk menghampiri Lucy.


"Felice... nama yang lucu dan menggemaskan seperti orangnya."


to be continue...