
°°°
Saat Mia dan Daniel sudah duduk berhadapan di dalam ruangan Daniel. Keduanya diam dengan pikirannya masing-masing. Daniel bahkan memaku dengan pandangan yang tak lepas dari wanita di depannya.
Kenapa dia terus menatapku seperti itu. Apa ada yang aneh dengan ku.
Sementara Mia merasa tidak nyaman dengan tatapan itu, dia juga berusaha menghindari kontak mata langsung dengan putra atasannya itu.
Hemmm... Mia berdehem agar sang dokter berhenti menatapnya karena dia jadi merinding dan tidak karuan.
"Maaf Dok, apa boleh anda mengatakannya sekarang yang ingin anda bicarakan dengan saya," ujar Mia agar dia cepat bisa keluar dari sana. Hanya berdua di ruangan yang sama dengan pria itu membuat Mia sedikit takut.
Daniel pun berusaha menyadarkan dirinya yang sejak tadi menatap dalam pada wanita yang juga sekretaris daddy-nya. Entah kenapa dia begitu penasaran pada wanita itu karena terlihat biasa saja saat bertemu dengannya.
"Maaf, sebenarnya ada hal yang ingin aku bicarakan juga mengenai kita," ujar Daniel seraya menatap penuh arti.
Deg.
Jantung Mia rasanya mau lepas saat laki-laki itu mengatakan ingin membahas di antara mereka. Itu berarti dokter itu masih mengingat kejadian malam itu.
Tidak, aku tidak ingin mendengar apapun tentang malam itu.
"Boleh aku bertanya kenapa kamu langsung pergi pagi itu dan tidak menunggu ku bangun?" tanya Daniel dengan hati-hati karena sepertinya wanita itu tidak nyaman berada di sana.
"Maaf Dok, bisakah kita bicarakan mengenai penyakit mamah saya saja," pinta Mia yang tidak ingin membahas tentang malam itu sekarang. Yang penting saat ini ada keadaan mamahnya.
Apa sebenarnya mau wanita itu, kenapa dia harus menghindar dan membuat ku merasa bersalah. Pikir Daniel dalam hatinya.
Daniel lalu mulai menerangkan bagaimana keadaan mamah Emma. Dari mulai apa saja yang harus pasien jalani sebelum nantinya menjalankan operasi.
"Jadi setiap operasi pasti mungkin akan ada efek sampingnya dan kemungkinan terburuknya pasien bisa Kehilangan ingatannya selamanya atau tiba-tiba pendarahan di otak saat operasi," terang Daniel. Walaupun seberapa hebat kemampuannya tetap dia harus mengatakan segala kemungkinannya.
"Anda bisa melakukannya kan Dok, tolong selamatkan mamah saja Dok. Aku mohon...," mohon Mia dengan penuh harap.
"Aku mohon selamatkan mamah saya dan aku tidak akan menuntut apapun dari anda Dok. Aku akan menganggap malam itu tidak pernah terjadi apa-apa antara kita," ujar Mia dengan yakin. Karena ia sangat yakin kalau laki-laki dihadapannya itu pasti ingin membahas agar aku melupakannya dan sangat tidak mungkin untuk bertanggung jawab. Mia ikhlas kalau hal itu bisa ditukar dengan kesehatan mamahnya.
Deg.
Kini Daniel yang memaku mendengar perkataan wanita itu. Seakan dia mengatakannya tanpa beban sedangkan selama ini Daniel sudah sangat merasa bersalah.
"Apa kau yakin, kau sudah memikirkan kedepannya?" tanya Daniel dan Mia mengangguk tanpa ragu sedikitpun membuat Daniel kehabisan kata-kata.
Dia itu seorang wanita tapi kenapa sama sekali tidak ada rasa khawatir kalau nantinya dia akan hamil.
"Saya mohon Dok." Kini Mia mengatupkan kedua tangannya seraya memohon.
Sebenarnya tanpa diminta pun, sebagai dokter yang telah bersumpah. Dia tentu akan berusaha menyelamatkan pasiennya.
"Bagaimana kalau kau hamil?"
Deg.
Mia mematung, dia tidak berpikir sejauh itu dan lagipula dia juga sudah meminum pil kontrasepsi.
"Apa kau yakin kita hanya melakukannya sekali malam itu dan perlu kamu ketahui kalau pil kontrasepsi tidak akan berfungsi kalau kau minum setelah berhubungan badan, karena seharusnya diminum sebelum kita melakukannya."
Mia terdiam dan tidak bisa menjawab pertanyaan itu karena dia juga tidak yakin kalau malam itu mereka hanya melakukannya sekali. Yang ia ingat hanya setiap sentuhan Daniel dan paginya ia begitu tak bertenaga.
Ya ampun, kenapa aku malah memikirkan hal itu.
Rona merah menyembul di pipi Mia.
"Apapun yang terjadi nanti, aku akan tetap diam seperti tidak terjadi apapun Tuan. Anda tenang saja kalaupun aku hamil, aku juga tidak akan meminta anda bertanggung jawab," kekeh Mia dengan pikirannya.
"Apa kau sadar dengan apa yang kamu katakan?" tanya Daniel yang semakin bingung.
"Saya sadar Tuan, anda tetap bisa bersama orang yang anda cintai nanti. Aku tidak akan pernah mengusik hidup anda." Kenapa rasanya begitu menyakitkan mengatakan hal itu, seharusnya aku bangga karena aku lebih dulu menolak sebelum dia mengusirku. Aku cukup tau diri, siapa aku dan siapa dia.
Daniel yang mau bersuara lagi berusaha menahannya agar tidak terbawa emosi.
Seburuk itukah aku di pikirannya.
"Dengarkan aku nona sekretaris, mengenai mamah anda, aku akan berusaha melakukan yang terbaik tanpa anda minta karena itu sudah tugasku. Lalu mengenai kita, aku akan bertanggungjawab karena aku bukan laki-laki yang suka memanfaatkan keadaan." Daniel berkata dengan serius, ya dia yakin akan bertanggung jawab dengan apa yang sudah ia lakukan.
Apa maksudnya bertanggung jawab, apa dia mau menikahi ku atau dengar cara yang lain.
"Menikahlah denganku, aku akan bertanggung jawab," ajak Daniel.
Deg.
Mia tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Apa benar kalau pria itu sedang melamarnya saat ini.
Sadarlah Mia, kau tidak boleh senang dulu. Dia mengatakan itu hanya karena terpaksa ingin bertanggung jawab.
"Tidak perlu Tuan, kita sama-sama sudah dewasa dan hal itu sudah biasa terjadi pada orang dewasa. Mari lupakan semuanya dan anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa," tegas Mia. Dia tidak mau kalau harus terjebak dengan pernikahan tanpa cinta atau sebatas rasa tanggung jawab semata. Mau dibawa kemana nantinya hubungan pernikahan seperti itu.
"Kenapa kau tidak mau menikah denganku, aku sudah berbaik hati mau bertanggung jawab tapi kau menolak. Jangan salahkan aku kalau nanti kau hamil," kesal Daniel yang ditolak mentah-mentah oleh wanita yang jauh lebih tua darinya itu. Apa kurangnya Daniel, dia tampan, kaya dan putra dari pemilik perusahaan ternama.
Mia bangkit dari duduknya lalu membungkukkan tubuhnya.
"Terimakasih karena anda mau menolong mamah saya. Saya juga tidak akan menyesal dengan keputusan yang saya ambil. Saya tidak ingin mempermainkan pernikahan, kalau anda hanya ingin tanggung jawab tidak perlu dengan pernikahan yang nantinya hanya akan menyiksa kita berdua karena dilakukan tanpa cinta."
"Saya rasa kita tidak perlu lagi membahas hal itu kedepannya. Saya permisi," pamit Mia, lalu dia pergi dari ruangan itu. Meninggalkan Daniel dengan pikiran yang berkecamuk.
to be continue...
°°°
Terimakasih yang sudah mampir.
Like komen dan bintang lima 😍
Gomawo.