
°°°
Felice menyusul Lucy, dia mengkhawatirkan keadaan wanita itu saat ini.
Dimana Lucy, kenapa tidak ada.
Felice sudah mencari di taman yang ada di depan tapi tidak ada. Sekarang dia mencarinya ke belakang, dimana jauh lebih sepi di sana karena para tamu kebanyakan duduk di taman depan yang sudah dihiasi lampu-lampu yang indah.
Akhirnya aku menemukannya juga. Itu Lucy.
Semakin mempercepat langkahnya menghampiri sosok yang ia cari. Dibawah sinar bulan yang terang Lucy berdiam diri, duduk di ayunan panjang yang ada di taman.
"Lucy, kau disini rupanya." Felice duduk di samping Lucy.
"Nona, apa nyonya Emma butuh sesuatu. Maaf saya pergi begitu saja," ujar Lucy merasa bersalah sampai majikannya mencarinya kemari.
"Mamah tidak butuh siapa-siapa, ada papah di sana. Maafkan aku Lucy, karena aku kau jadi dipermalukan di depan banyak orang."
"Tidak Nona, anda tidak salah." Lucy cukup tau diri. Dirinya bukanlah siapa-siapa menerima perlakuan seperti itu sudah biasa.
"Lucy, kau tidak boleh membiarkan orang lain merendahkan mu lain kali. Pekerjaan mu bukanlah hal yang hina. Kau perempuan hebat Lucy, kau harus belajar seperti kakakku yang kuat dan tangguh." Felice selalu mengagumi kakaknya dan ia ingin Lucy bisa sekuat kakaknya. Kurang lebih nya dia tau kalau Lucy adalah ibu tunggal dari seorang putra. "Belajarlah menjadi kuat demi putramu, dia yang pasti akan selalu bangga padamu. Jangan biarkan air mata berharga mu jatuh lagi karena sesuatu yang tidak penting."
"Terimakasih Nona, Kau benar. Saya
akan berusaha menjadi wanita yang kuat demi putraku," ujar Lucy, dia menatap pantulan yang ada di kolam. Jika orang-orang suka melihat cahaya bulan di langit malam, Lucy justru lebih suka melihatnya dari pantulan air, lebih terasa dekat katanya.
"Ohh iya Nona, maaf... sepertinya saya sudah menghilang jepit rambut pemberian nona. Saya akan menggantinya nona, tapi kalau boleh saya akan membayarnya dengan cara dicicil." Lucy memainkan dress yang ia pakai, merematnya gugup. Entah berapa harga Bros itu.
"Kau tenang saja, jepit rambut itu sudah kembali pada pemiliknya yang asli," ujar Felice seraya menepuk pundak Lucy.
Lucy menaikkan alisnya, pemiliknya yang asli?
"Apa maksud nya jepit rambut itu bukan milik nona. Maafkan aku karena tidak menjaganya dengan baik." Semakin merasa bersalah.
"Kau tau pria tadi yang menuduhmu mencuri? Dia yang memberikannya padaku, awalnya aku tidak curiga dan memakainya. Tapi setelah melihat dia marah karena kau yang menjadi pasangannya karena dia salah mengira. Aku jadi tau kalau dia mau berbuat curang," jelas Felice.
"Ohh... pantas pria itu sangat marah dan kecewa saat melihat yang ada di depannya bukan nona. Sepertinya dia sangat menyukai Nona," kata Felice menerka.
"Ya dia pernah mengatakannya." Felice melemparkan batu kecil kedalam kolam. Hingga bayangan bulan yang ada disana terkoyak, tapi kemudian kembali lagi saat airnya kembali tenang.
"Apa anda juga menyukainya?" tanya Lucy.
"Sepertinya tidak, aku tidak merasakan apapun saat berada di dekatnya. Tidak ada perasaan berdebar dan tidak merasa nyaman."
"Anda jujur sekali Nona," seloroh Lucy.
Mereka pun tertawa bersama, setelah merasa lebih tenang barulah mereka kembali ke dalam tapi lebih memilih untuk duduk bersama mamah Emma dan papah Willy.
,,,
Saat ini para tamu yang sudah mendapatkan pasangan dipersilahkan untuk berdansa. Sementara banyak juga tamu yang tidak kebagian pasangan. Mereka tidak masalah walaupun aslinya ingin juga.
"Baik semuanya, seperti yang saya katakan setelah Musik berhenti di mainkan kalian boleh membuka topeng. Nanti kita akan menyambut pengantin baru kita terlebih dahulu, pasti banyak yang belum tau kan." Pembawa acara menyuruh semua orang membuka topeng.
"Pemenang hadiah dengan pasangan dansa terbaik akan akan dikirimkan ke alamat kalian. Dan kabar baiknya semua tamu mendapatkan hadiah dari tuan Starles."
Semua orang bertepuk tangan.
"Baiklah, sekarang kita sambut pengantin baru kita tuan Daniel Starles dan nona Mia Khalisa," sambut pembawa acara mempersilahkan Mia dan Daniel untuk naik ke atas panggung.
"Apakah kita harus ke sana?"
"Sepertinya Daddy sudah menyiapkan sesuatu, ayo ke sana." Daniel mengulurkan tangannya dan mau tidak mau Mia memberikan tangannya.
Mereka mulai berjalan ke arah panggung dengan melewati beberapa orang yang sedang mencari-cari sosok pengantin baru nya. Karena memang di pesta malam itu tamunya berbeda dengan saat siang tadi, yang hanya kerabat dan teman dekat. Sementara malam ini hampir semua pengusaha diundang.
"Ternyata nama putra pemilik perusahaan star company bermana Daniel juga, mungkinkah mereka Daniel yang sama," tebak Vino.
"Haa...!" Jasmine sendiri masih syok mendengar nama itu tadi disebutkan tapi dengan nama belakang Starles. Sedangkan Daniel mantan pacarnya, dia sendiri tidak tau nama belakang nya.
Suara tepuk tangan menyadarkan Jasmine dari pikirannya. Dilihatnya sosok pria yang sangat ia kenal ada di atas panggung dengan seorang wanita di sampingnya.
"Itu Daniel teman kita sayang, apa mungkin seperti dugaan ku tadi."
Jasmine tidak bisa berkata apa-apa, jiwanya terguncang oleh kenyataan. Mungkinkah pria yang dulu ia sia-siakan adalah putra dari pengusaha hebat itu. Mana mungkin, pasti itu tidak benar. Pasti mereka orang yang berbeda kan. Jasmine berusaha melawan kenyataan yang ada. Dia hanya bisa mematung dengan beribu penyesalan yang menghantam. Kenyataan baru saja menamparnya.
Di panggung.
Sudah ada Dad Alex dan mom Tania juga disana. Mereka secara resmi mengenalkan putra dan menantu mereka.
"Putra ku ini memang sama sekali tidak tertarik dengan dunia bisnis, dia lebih memilih menjadi dokter seperti kakeknya. Walaupun awalnya sebagai orang tua saya punya harapan yang besar padanya tapi saya sadar kalau semuanya tidak bisa di paksakan." Dad Alex bercerita sedikit tentang putranya.
"Dia punya keinginan dan impiannya sendiri, bahkan saat saya tidak mendukung dan menarik semua fasilitas yang ia pakai. Dia tetap menggapai cita-cita nya dengan usahanya sendiri. Terkadang saya juga bertanya-tanya kenapa apa dia tidak menganggap ku sebagai ayah, karena dia jarang sekali menggunakan nama belakangnya." Dad Alex yang terlalu banyak minum baru berani mengungkapkan perasaannya di depan putranya.
"Sudah Dad, kau sudah mabuk." Mom Tania berusaha mengajak suami untuk turun.
"Sebentar sayang, aku belum selesai bicara pada putraku." Dad Alex menahan tangan istrinya. dia merasa saat ini adalah saat yang tepat, karena saat ia sudah sadar nanti dirinya terlalu gengsi untuk mengatakannya.
"Apa kau tidak ingin memeluk daddy mu, nak. Sudah sangat lama kau tidak memeluk daddy."
"Dad... aku rasa kau akan menyesal besok," ujar Daniel, dia berjalan menghampiri daddy nya. Memeluknya erat.
"Daddy dan mommy menyayangi mu nak, mungkin kau berpikir kalau Daddy jahat karena tidak pernah mendukung keinginanmu. Maafkan Daddy."
Tanpa terasa para tamu yang ada disana juga terbaru melihat Ayah dan anak itu.
to be continue...
°°°