
Mereka sama-sama berbondong-bondong mencari rekan mereka yang diperkirakan masih di dalam hutan. Daniel senang melihat kekompakan mereka dan kepedulian mereka, musibah itu seperti memberikan banyak pelajaran dan pengalaman yang tidak akan mudah dilupakan, bisa diceritan anak cucu mereka esok hari.
Mereka terbagi menjadi dua kelompak agar memperluas tempat pencarian. Pesan Daniel pada mereka agar tetap waspada dan juga pengalaman Daniel beberapa kali saat berhadapan binatang buas pun ia bagi untuk jadi pegangan. Saat di luar negeri Daniel memang sering jadi relawan di pedalaman.
"Ingat, kalian harus tenang saat bertemu mereka. Usahakan jangan menimbulkan gerakan yang mengancam."
Mereka paham dan mulai berpisah di tengah-tengah jalan.
Mereka juga membawa barang yang bisa digunakan sebagai tanda agar mereka tidak tersesat saat kembali. Namun ada satu hal yang mereka lupa. Saat semua orang pergi justru gerombolan binatang buas itu datang mendekat ke tenda, mengendap-endap tanpa suara. Gigi-giginya yang tajam menggerat, air liur pun menetes sampai ke rahang mereka;
,,,
Di tempat lain.
Hari-hari Mia terasa sangat hampa, kabar kabar tentang suaminya yang selalu dinanti pun nihil hasilnya. Jiwanya seolah ikut pergi, raganya terasa mati rasa dan sudah tak memilki gai-rah hidup lagi.
Dengan hati dan perasaan yang rapuh Mia tetap ke kantor menggantikan sementara ayah mertuannya yang tidak ada di tempat. Raut wajahnya sangat datar dan begitu dingin saat bertemu orang lain, matanya menyimpan kesedihan yang mendalam. Di rumah pun sama, dia sampai lupa kapan terakhir dia tersenyum.
Sementara kondisi tubuhnya sudah lebih baik karena dia selalu makan meski sebenarnya sama sekali tidak berselera. Itu semua ia lakukan demi calon anaknya yang berhak lahir ke dunia ini dengan selamat.
Duduk di kursi kebesaran milik ayah mertuanya. Mia fokus pada pekerjaannya, tapi sesekali tersenyum sendiri saat mengingat kenangan manis saat bersama suaminya. Senyum yang perlahan berubah menjadi tangis dan isakkan melilukan. Kalau ada yang meliat mungkin akan menganggap Mia mulai gilaa karena ditinggal suaminya.
Untung ada Catty yang mengerti dan selalu membantu dan berusaha menghiburnya.
"Mia, sayang..." lirih Catty saat masuk ke ruangan itu lalu melihat temannya sedang menangis tersedu sambil tertawa.
"Cat... Daniel masih hidup Cat, aku sangat yakin kalau dia masih hidup." Selalu itu yang ia teriakkan saat sedang seperti itu.
"Iya Mia, suamimu pasti masih hidup. Jadi jangan menangis lagi ya..." Di usapnya air mata yang membasasi pipi yang terlihat tirus sekarang.
"Kau percaya padaku Cat?" tanya Mia.
"Oh tentu sayang, kalian punya ikatan. Anak di dalam perutmu juga, jadi firasatmu pasti ada alasannya."
"Tapi kenapa mereka belum juga menemukan Daniel. Bagaimana kalau Daniel tidak bisa bertahan lebih lama lagi," gundah Mia dengan pikirannya sendiri.
"Huusstt.... kau tidak boleh berbicara hal buruk atau kau mau itu menjadi kenyataan?" ujar Catty.
"Tidak." Mia menggeleng.
"Kalau begitu kau harus yakin, jika saat ini suamimu masih hidup dan daddy mertuamu akan membawanya pulang."
Kondisi perusahaan sendiri keadaannya baik-baik saja, meski ada masalah pun Mia bisa mengatasinya. Pernah kemarin dia sempat kewalahan menghadapi para pemegang saham yang protes karena tidak terima dirinya yang meminpin. Tapi semua itu akhinya bisa diiatasi karena daddy Alex sudah mempersiapkannya dengan matang sebelum pergi bahkan jauh-jauh hari. Sebenarnya kalau semua orang tau di sedang mengandung keturunan starles pasti tidak ada yang berani mengusiknya karena sudah pasti anaknya adalah sang pewaris dari keluarga starles.
"Aku bawakan makanan, sebaiknya kamu makan dulu." Serelah Mia cukup tenang, Catty pun mulai menata makanan yang tadi ia bawa.
"Tidak ada rasanya," komen Mia setiap kali makanan apapun memasuki mulutnya. Terasa hambar seperti makanan mentah.
"Kau ingin makan apa? Nanti aku belikan," ujar Catty.
"Ini saja, makan apapun rasanya sama. Hambar..." desis Mia.
Selesai makan Mia kembali bekerja, tapi tiba-tiba bayangan Daniel kembali terngiang di pikirannya. Saat pria sedang mencu-mbunya terasa begitu hangat, menci-umi setiap lekuk tubuhnya yang selalu ia kagumi. Mia memejamkan matanya, Daniel seperti hadir di dekatnya.
"Kaukah itu Niel?" tanyanya pada banyangan itu.
"Iya sayang, ini aku. Aku sangat merindukanmu." Bayangan itu mendekat.
"Kalau rindu kenapa lama sekali pulangnya, jangan pergi lagi Niel," rengek Mia manja.
"Aku tidak akan pernah pergi lagi meninggalkanmu sayang, aku mencintaimu." Mengecup bibir sek-si Mia sekilas.
"Aku juga mencintaimu, Niel. Jangan pernah lagi membuat ku cemas."
Mereka seling menatap dalam, bayangan Daniel terus tersenyum. Tiba-tiba saja tubuh Daniel penuh luka, darah mengalir dari luka-luka itu. Sebagian tubuhnya bahkan terkoyak dan terpisah dari bagian tubuh yang lain.
"Tolooongg....."
"Daniel apa yang terjadi denganmu?" Mia tentu terkejut, tubuh suaminya yang tadi baik-baik saja kenapa mendadak seperti itu. "Niel, kau kenapa?!"
"Toloong aku, sayang. Sakit sekalli..." rintih Daniel.
"Niel....!! " bibir Mia terus meneriakan nama suaminya, pakaian dan tubuhnya bahkan ikut bersimba darah.
"Mia bangun Mia!! Mia sadarlah!" merndengar teriakkan Mia, Catty segera mendekat. Dilihatnya mia yang teritidur dengan menunduk di meja sambil beteriak.
Mia tersadar, melihat sekeliling dan tidak ada apa-apa di sana. Daniel dan darah itu tidak nyata tapi mungkinkah itu pertanda buruk.
"Daniel dalam bahaya Cat, aku harus menghubungi daddy agar mempercepat pencarian," ujarnya.