
°°°
š"Hallo, apa kau sedang sibuk?"
"Iya, sekarang di jam kerja tentu aku sedang sibuk bekerja," jawab Mia, dengan tangan satunya masih bergerak di atas keyboard.
š"Baiklah sebaiknya nanti aku telepon lagi saat jam makan siang saja."
Mia seperti pernah mengenal suara itu, suaranya tak asing dan iya kenal. Dia pun melihat layar ponselnya dan terkejut saat mengetahui kalau yang sedang berbicara padanya ada Daniel.
"Eh Maaf, tadi aku tidak melihat namamu dan aku kira hanya sales rumah biasanya. Ada apa? Apa terjadi sesuatu pada mamah?" tanya Mia berbasa-basi.
š"Tidak aku hanya ingin memberitahu jika, Daddy dan Mommy ingin bertemu dengan mamahmu. Apa tidak apa-apa?"
"Iya aku sudah tau, tadi tuan Alex juga sudah mengatakannya padaku," ujar Rara. Berarti bukan dia sengaja tapi memang ada niatan untuk memberitahu.
š"Lalu bagaimana dengan kamu, apa tidak apa-apa? Kalau kau masih kurang nyaman kau bisa menolaknya kalau kau memang belum siap."
"Tidak apa-apa, atau anda mungkin yang menyesal Tuan. Kalau ia anda boleh membatalkan sekarang," ujar Mia, entah kenapa tiba-tiba ia jadi sensitif seperti itu pada Daniel.
š"Bukan begitu, justru aku yang takut kalau kau jadi bagaimana nantinya karena terlalu cepat. Kalau aku justru tidak masalah, bukannya dari awal aku yang mengajakmu menikah."
Blush... Mia tersenyum tipis tapi pipinya merona.
Kenapa dia jadi seperti ABG sekarang. Mungkin itu wajar bagi seseorang yang sedang dilanda asmara. Tapi apa mungkin secepat itu hadir di hatinya. Apakah Daniel sudah berhasil menyusup ke dalam sana.
"Hmmm... ohh. Maaf ada yang harus aku kerjakan. Kalau begitu aku tutup dulu teleponnya." Mia mematikan sambungan telepon dari Daniel, rasanya aneh bila berlama-lama berbicara dengan pria itu. Buru-buru ia menormalkan ekspresi nya sebelum ada yang melihatnya senyum-senyum sendiri.
,,,
Malamnya.
Mia sudah memberitahu mamahnya kalau orang tua Daniel akan datang untuk berkunjung. Walaupun awalnya sang mamah terkejut tapi ia senang karena itu berarti orang tua Daniel menerima Mia dengan baik. Sebagai orang tua, tentu ia khawatir kalau putrinya akan dianggap remeh karena dari kalangan orang biasa seperti mereka.
Ya sosok Daniel yang begitu sempurna dengan latar belakang yang juga tidak biasa. Pastinya mereka biasanya akan mencari jodoh yang sama kayanya dengan mereka. Dari kalangan pengusaha atau pejabat biasanya. Dan itulah yang Emma cemaskan sejak kemarin saat ia tau kalau dokter Daniel adalah putra tunggal dari atasan Mia.
"Mamah tenang saja ya, tuan Alex itu baik orangnya. Dia juga ramah, walaupun kadang galak dan tegas bada bawahannya." Mia berusaha untuk menghilangkan kekhawatiran di hati mamahnya.
"Apa nanti mereka akan mengusir kita dan menyuruh kita pergi lalu memberikan kita uang yang banyak," celetuk Felice, pikirannya sama seperti Catty tadi. Apa mungkin mereka menonton drama yang sama.
Tuk.
"Kau itu lihat adegan seperti itu di mana kali ini, Catty juga bicara seperti itu tadi di kantor." Mia menegur adiknya.
"Hehehe... memang seperti itu kan biasanya orang kaya. Pasti maunya anaknya berpasangan dengan yang sepadan agar perusahaan mereka semakin maju, apa ya namanya. Pernikahan bisnis... iya seperti itu," ujar Felice lagi.
"Sudah tidak usah berpikir macam-macam, kita lihat saja nanti dramanya seperti apa. Apa ada adegan yang seperti kau sebutkan?" tantang Mia pada adiknya.
"Ok... aku pasti menang." Felice tak mau kalah.
"Sudah-sudah... kalian ini apa tidak bisa akur sebentar saja. Kau juga Fel, seharusnya kau berdoa agar kakak mu tidak mengalami hal seperti itu. Dan kau Mia, sana kau siapkan teh untuk tamu nanti."
"Iya mah," jawab mereka berdua bersamaan.
Tapi dibalik itu semua, Emma menikmati pemandangan pertengkaran kecil seperti itu. Saat dirinya dibawa masuk ke ruang operasi bahkan selalu membayangkan kakak adik yang selalu mewarnai hidup nya dan berharap masih bisa melihat anak-anaknya seperti itu lagi.
Tak lama kemudian.
"Selamat malam... Tuan, Nyonya," sapa Mia yang menyambut kedatangan mereka.
"Bukankah sudah aku bilang untuk tidak memanggil Tuan, ini bukan di kantor nak." Alex mengingatkan pembicaraannya tadi siang.
"Selamat malam Dad... mom...," sapa Mia lagi dengan bibir yang masih terasa kaku.
"Seperti itu kedengaran lebih baik," ujar Alex.
Mia menunduk malu, dia tidak sanggup untuk mengangkat wajahnya. Apalagi dia tau kalau nyonya Tania masih belum bisa menerima nya, entah apa tanggapan nya kalau ia memanggil wanita itu mommy.
"Silahkan masuk," ujarnya lagi.
Alex pun masuk lebih dulu disusul istrinya yang berhenti sejenak saat melewati Mia.
"Nanti kau akan terbiasa dengan panggilan itu," katanya lalu mengikuti suaminya.
Entah apa maksud perkataan Tania barusan, tapi hal itu membuat Mia lega. Mungkin terbiasa dengan panggilan mommy dan Daddy pikirnya.
"Selamat malam nyonya Emma, maaf kami baru bisa datang. Maklum anak-anak terlalu lama mengambil keputusan jadi kami baru bisa datang berkunjung." Alex begitu ramah pada Emma.
"Saya bawakan beberapa tanaman herbal, semoga nyonya suka." Sambung Tania yang juga begitu ramah.
Tiba-tiba beberapa orang datang membawakan apa yang Tania katakan tadi. Selain itu ada beberapa barang lainnya juga untuk Mia.
"Terimakasih Tuan, Nyonya. Kenapa kalian harus repot-repot seperti ini," ujar Emma yang merasa tak enak.
"Tidak apa-apa Nyonya, anggaplah sebagai salam perkenalan kita. Kedepannya kita akan menjadi kerabat jadi tidak perlu sungkan pada kami."
Obrolan mereka terasa begitu hangat dan kecanggungan yang ada dalam hati Emma pun perlahan menghilang karena keramahan Alex dan istrinya.
Mereka berbicara banyak tentang anak-anak mereka, ditemani teh buatan Mia yang langsung disukai oleh calon mertuanya.
"jadi bagaimana kalau pernikahannya diadakan seminggu lagi?" tanya Alex meminta pendapat calon besannya.
"Kalau saya terserah anak-anak saja Tuan." Mamah Emma melirik putrinya yang sejak tadi tersipu.
"Kalau Daniel sudah pasti mau kapan saja, bagaimana dengan mu Mia?" kini Mia yang harus menjawab pertanyaan yang cukup sulit itu.
"Maaf saya terlambat," ujar seseorang yang baru saja datang.
"Kau bahkan sangat terlambat, sudah Daddy bilang kan jadi dokter itu susah punya waktu. Lalu bagaimana kau akan membagi waktu untuk istrimu nanti," cecar Alex pada putranya.
"Sudahlah dad, kasihan dia pasti lelah," seperti biasa mom Tania pasti akan membela putranya.
"Aku hanya kasihan pada Mia nanti kalau ditinggal terus oleh putramu."
"Aku pasti bisa membagi waktu ku Dad," ujar Daniel yakin.
"Duduklah nak Daniel," ujar Emma. Dia tidak tega melihat Daniel dipojokkan seperti itu.
"Menjadi dokter mungkin melelahkan dan hanya punya sedikit waktu untuk keluarga. Tapi lelahnya sudah memberikan senyuman pada banyak orang, tidak hanya pasien tapi juga keluarganya." Mamah Emma paham bagaimana situasi itu .
to be continue...