Penakluk Hati Nona

Penakluk Hati Nona
S2 Bab 38. Tidak Butuh Semua Itu


Daren terduduk di salas satu bangku yang ada di koridor rumah sakit. Dia merenung memikirkan langkah apa yang akan ia pikirkan selanjutnya. Dia tau kalau keputusan ayahnya tidak akan mungkin berubah hanya karena ia memohon. Apa dia sayang pada ayahnya? tentu saja sayang, selama di daerah selatan saja Daren selalu kepikiran ayahnya tapi siapa sangka kalau sang ayah sama sekali tidak peduli dengannya, jangankan bertanya kabar. Dia lebih meikirkan untuk kepentingannya sendiri.


"Ren... boleh aku duduk disini?"


Suara seseorang memaksa Daren mendongak dan melihat siapa yang sudah berani mengganggunya yang sedang banyak pikiran. "Kau? Untuk apa kesini?" ketus Daren tidak suka akan kedatangan makhluk itu.


"Apa aku boleh duduk? ada yang mau aku bicarakan denganmu." Wanita itu sudah duduk tanpa permisi.


"Untuk apa kau ijin kalau sudah lebih dulu duduk tanpa ku suruh, lagian ini bukan rumah sakitku jadi kau bebas duduk dimana saja." Daren berdiri, dia ingin sendiri saat ini tanpa gangguan dari siapapun.


"Tunggu Ren. Aku mohon dengarkan dulu apa yang mau aku bicarakan." Dokter Jane mencegah Daren dan memintanya untuk tetap tinggal.


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan, kita tidak punya urusan apapun." Daren menghepaskan tangan wanita itu begitu saja.


Wanita itu terlihat tertawa sinis, "Ini tentang ayahmu, paman Sam."


Daren menoleh lalu mendengus, "Kau kira aku akan tertarik kalau membicarakan pria tua itu. Dia sudah membuangku dan tidak menganggapku sebagai anak, jadi apapun yang berhubungan dengannya tidak ada urusannya lagi denganku."


"Ren, tapi aku bisa membuatmu berbaikan dengan paman Sam. Kasihan dia sudah semakin tua, apa kau tega membiarkannya sendirian. Aku juga bisa membantumu menjadi pemimpin rumah sakit ini." Dengan percaya diri dokter Jane berkata demikian.


"Aku tidak tertarik dengan semua itu, aku tidak ingin berbaikan dengan pria tua itu dan aku juga tidak ingin memimpin rumah sakit ini. Jadi sebaiknya berhenti mencoba mempengaruhiku. Rumah sakit ini milik Daneil jadi biarkan saja dia yang memimpin, dari pada dipimpim orang-orang serakah seperti kalian." Daren berlalu begitu saja meninggalkan dokter Jane yang wajahnya merah padam menahan marah.


Daren sudah menduga hal itu, kehadiran dokter Jane di ruangan ayahnya pasti ada maksud dan tujuan tertentu. Sekarang ia tau kalau sang ayah pasti mencoba menjodohkannya dengan wanita itu. Dia harus segera menyelesaikan semua itu, pertama dia akan pergi mencari sepupunya untuk menceritakan semuanya. Bukan karena dia sedang berselisih dengan ayahnya tapi Daren tidak mau sang ayah menjadi orang serakah jika terus dibiarkan. Lebih rumah skit ini jatuh ke tangan pemilik yang seharusnya dari pada jadi rebutan.


"Niel, tolong kau ambil alih rumah sakit ini dan semua bagian di rumah sakit ini harus melapor kepadamu. Aku merasa ada orang yang memanfaatkan kelengahanmu dan kau tau, ayahku sudah mulai terpengaruh oleh mereka. Aku tidak mau ayahku terperosok ke dalam jurang di usianya yang sekarang." Daren memohon pada Daniel.


"Nanti akan aku bicarakan pada ayah, cukup sulit juga kalau aku mau mengambil alih karena semua pemegang saham perpihak pada paman sedangkan saham milikku hanya tinggal 20% saja. Aku masih butuh 10% agar dapat bagian terbanyak." Daniel menjeda ucapannya. "Sebenarnya aku tidak masalah kalau rumah sakit ini diurus paman dan nantinya kau yang menggantikannya, selama aku di luar negeri juga tidak pernah ada masalah. Aku tidak tau kenapa paman bisa berubah seperti itu, bahkan harus menentang pernikahanmu dengan Lucy."


"Maaf, mungkin ini semua karena aku yang tidak perguna sehingga membuat ayah cemas dan berpikir agar aku bisa mendapatkan tempat yang baik di rumah sakit ini." Daren menyesali masa mudanya yang hanya terbuang sia-sia.


"Penyesalan memang selalu datang terlambat, tapi itu tidak masalah asal sekarang kau mau berubah dan menyadri kesalahanmu. Jadi apa rencanamu?"


"Sebelumnya, bisakah kau bertanya pada Felice tentang istri dan anakku? Aku sangat mengkhawatirkan mereka," ujar Daren dengan wajah yang sudah tidak menentu, baru sebentar saja berpisah dengan istri dan anaknya sudah membuatnya tidak karuan.


Daniel mengerti rasanya, dia hanya bisa membantu apa yang bisa ia lakukan.


"Hallo Fel. Apa Lucy dan putranya sudah sampai di sana? Mereka baik-baik saja kan?" tanya Daniel, dia menekan pengeras suara sehingga Daren pun bisa mendengarnya.


šŸ“ž"Iya kakak ipar, mereka ada disini sedang bermain dengan putramu."


"Apa Mia juga ada di sana?" tanya Daniel yang langsung mendapatkan lirikan tajam dari Daren, tidak bisakah nanti saja bermesraannya. "Hehehe... baiklah kalau begitu tolong jaga Lucy dan Zoro, hibur mereka juga karena ada sedikit masalah yang menimpa mereka dengan Daren."


Daren bergidik mendengarnya, dia sangat tau bagaimana kalau Felice sudah mengamuk.


"Tidak tidak, bukan itu tapi masalah yang lain. Kau tidak perlu tau, tugasmu cukup menjaga dan menghibur mereka."


šŸ“ž"Baiklah, ya sudah aku matikan."


"Tunggu... bisakah sampaikan salamku pada istriku."


šŸ“ž"Baiklah baiklah, apa ada lagi."


"Tidak."


"Kau dengar sendiri kan, mereka baik-baik saja di sana. Sekarang kau selesai masalah ayahmu dulu. Sementara istri dan anakmu di rumah Felice," ujar Daniel pada sepupunya setelah panggilan terputus.


Setidaknya Daren merasa sedikit lega mendengar istri dan anaknya baik-baik saja. Dan mereka juga di tempat yang tepat.


°°°


Hai semua sobat-sobat othor dari Sabang sampai Merauke. Salam hangat dari othor... šŸ¤—šŸ¤—šŸ¤—


Othor mau promosi novel baru nih.🤭


Barangkali ada yang mau mampir baca, kalau tidak juga tidak apa-apa. Othor mah nggak pernah maksa.šŸ™ˆ


Judulnya: Belaian Tante Jelita


Rate: 21+++


Seperti biasa, akan ada adegan mesyummm di dalam novel othor.



Tokoh tokoh nya ada Haris Djatmiko sama Tante Jelita tentunya.



...ini Haris Djatmiko šŸ˜šŸ‘†...